NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan ke Bali

Hari masih gelap dan dingin ketika Aiena menyeret kopernya melewati halaman rumah. Di depan, Shane sudah menunggu bersama sopir keluarga yang akan mengantarkan mereka ke bandara.

“Biar saja bantu.” Pak sopir mengambil alih koper dan tas Aiena, memasukkannya ke bagasi mobil yang sudah terbuka.

“Nggak ada yang ketinggalan lagi, Na? Sunscreen sudah? Sepatu? Cincinnya jangan lupa,” Shane mengingatkan dari dalam mobil yang pintunya juga dibuka, menyambut sang tunangan.

“Aman, Shane. Sudah ada semua. Cincin aku pakai terus kok.”

Aiena masuk ke dalam mobil, duduk di bangku belakang bersama Shane. 

“Belom sarapan, kan? Ini dimakan dulu.” Shane menyodorkan kotak makan berisi dua potong sandwich dan sebotol susu pisang pada Aiena.

“Tau aja, hehehe… Makasih ya.” Aiena menerimanya. Ia tersenyum lebar hingga menampilkan kedua lesung pipinya.

“Sama-sama, Sayang.”

“Ha? Apa?”

“Boleh nggak panggil ‘Sayang’?”

Aiena mengangguk kecil. Entah mengapa wajahnya memerah hanya karena panggilan ‘Sayang’ dari tunangannya itu. 

“Boleh kok.”

“Kamu nggak mau manggil aku apa gitu yang romantis?” godanya, mengabaikan sopir yang sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.

“Apa? Mau dipanggil apa?”

“Ya apa gitu.”

“Nggak ah.” Aiena merasa makin malu. 

Bukannya tidak bisa memikirkan panggilan spesial, tapi rasanya masih malu sekali untuk memanggil Shane selain dengan nama atau ‘Pak’. Meski nyaman, namun Aiena masih belum terbiasa. Mungkin perlu sedikit waktu lagi.

***

Pesawat telah mencapai ketinggian jelajah, membelah awan putih yang membentang di bawah langit biru cerah menuju Pulau Dewata. Aiena menyandarkan kepalanya di bahu Shane, merasakan kehangatan dari tubuh pria itu. 

Suasana di kabin kelas bisnis sangat tenang, hanya ada deru mesin pesawat yang konstan, memberikan ruang bagi keduanya untuk berbicara lebih intim. 

“Kamu biasanya kalau ke Bali kemana aja, Na?” tanya Shane lembut sambil menggenggam jemari Aiena yang kini dihiasi cincin pertunangan mereka.

Aiena menghela napas panjang, menatap keluar jendela kecil pesawat. “Ini baru kali kedua, Shane. Sebelumnya waktu SMA, study tour. Perjalanan darat pakai bus. Yang aku ingat ke pantai, pura, nonton tari tradisional, ketemu monyet, ya hanya itu sepertinya.”

Shane sedikit menaikkan alisnya, tatapannya tetap tenang namun penuh selidik. “Waktu SMA? Itu berarti... kamu pergi sama Haze juga?”

Mendengar nama itu disebut, raut wajah Aiena yang semula cerah seketika berubah sendu. Ingatannya terseret mundur ke masa-masa remaja yang penuh kenaifan. Ia mengangguk pelan, tatapannya kosong menembus gumpalan awan. “Iya. Dia kan satu sekolah sama aku. Study tour buat dua angkatan kebetulan, jadi ya bareng.”

Keheningan sesaat menyelimuti mereka. Aiena merasakan dadanya sedikit sesak karena memori yang selama ini ia kunci rapat-rapat mendadak terbuka. “Bali waktu itu menjadi tempat dimana segalanya berubah buat kami, Shane. Di sanalah, di masa remaja yang impulsif dan rasa percaya yang buta, aku dan Haze pertama kalinya tidur bersama.”

Bayangan masa lalu itu terasa seperti kabut kelam yang berusaha menutupi kebahagiaannya saat ini. Aiena teringat bagaimana ia dulu menganggap momen itu sebagai bukti cinta yang abadi, tanpa menyadari bahwa itu adalah awal dari hubungan posesif yang akan menjeratnya selama bertahun-tahun. Ia merasa malu, sekaligus sedih meratapi betapa hancurnya ia di masa lalu sebelum Shane datang membawa cahaya baru dalam hidupnya.

Shane tidak melepaskan genggaman tangannya. Alih-alih merasa cemburu atau menghakimi, ia justru menarik Aiena lebih dekat ke dalam pelukannya. Ia memahami bahwa Aiena membawa beban sejarah yang berat, sebuah narasi yang jauh lebih kompleks daripada naskah novel atau podcast yang biasa gadis itu tulis.

“Na, dengerin,” bisik Shane di dekat telinga Aiena. “Masa lalu itu bagian dari perjalanan yang bentuk kamu jadi wanita hebat seperti sekarang. Tapi Bali kali ini akan punya cerita yang berbeda. Kita pergi kesana bukan buat mengenang luka, tapi untuk memulai cerita cinta yang baru.”

“Maafin aku, Shane.”

“Nggak perlu minta maaf, Na.” Shane mengulurkan tangannya untuk merangkul pundak tunangannya itu. “Semua sudah jalannya, Na.”

Aiena memejamkan mata, membiarkan ketulusan Shane meresap ke dalam hatinya yang sempat goyah. Ia sadar bahwa hal yang paling berharga adalah keberadaan Shane yang selalu melindunginya dari bayang-bayang masa lalu. 

Kesenduan di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh rasa syukur karena ia tidak lagi pergi sebagai gadis remaja yang tersesat, melainkan sebagai calon istri dari pria yang benar-benar menghargainya.

“Makasih, Shane… Makasih udah nerima aku, dengan segala kekuranganku,” bisik Aiena lirih.

“Aku juga nggak sempurna, Na. Setiap orang pasti punya kekurangan, aku juga. Tapi aku cinta kamu, Na. Beneran cinta.”

“Aku juga, Shane…”

***

1
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
Quoari
Iya, udah berapa kali
Wid Sity
lama juga menghilangnya, untung gak dipecat
Quoari: Sembuhnya lama. Ga dipecat karena shane
total 1 replies
Wid Sity
hey, sadar Na. Kamu kesakitan kan gara2 Haze. Jangan luluh
Wid Sity
harusnya kamu minta maaf utk hal lain sat. Gak sadar diri salahnya apa
Quoari: Emang gitu dia. Pinter manipulasi perasaannya aiena
total 1 replies
Wid Sity
tapi kalo kamu meninggal duluan gara2 melakukan hal aneh2. Ortumu lebih terpukul lagi, Na
Quoari: Untungnya nggak terjadi
total 1 replies
Wid Sity
kok Aiena gak mau cerita ya? Kalo cerita kan bisa dibantu. Kalo dipendem sendiri, selamanya akan terjerat dengan Haze dong
Quoari: Percuma, haze yang dibela
total 1 replies
Wid Sity
Haze tu tampang malaikat tapi berhati iblis
Quoari: Betul
total 1 replies
Wid Sity
Haze gila ya, cemburu sama darah daging sendiri. Enggak mau ada anak. Kalo gak mau ada anak, harusnya jangan kawin, sat. Doyan kawin doang, gak mau anaknya
Quoari: Emang egois dan posesif
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!