kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang dunia lain
BAB 5: GERBANG DUNIA LAIN
Pandangan mereka kini terpaku lurus ke depan, tertuju pada bangunan tua itu yang masih tampak kokoh berdiri tegak, seolah menantang waktu. Di balik anyaman dinding bambunya, cahaya redup lampu minyak memantul, menciptakan siluet-siluet gelap yang tampak berkejaran di celah-celah serat kayunya. Kilau itulah yang sedari tadi mereka ikuti; ternyata benar-benar bersumber dari tempat ini.
Di bagian depan, sebuah bale-bale berukuran sekitar tiga meter persegi tampak menonjol, seolah mengundang siapa saja yang datang.
Kini mereka sadar sepenuhnya, bahwa titik terang misterius yang menyesatkan langkah mereka sepanjang malam itu, memang berasal dari rumah tua yang berdiri hening di hadapan mereka.
Perlahan, kaki mereka melangkah mendekat. Langkah kaki itu terhenti tepat di depan pagar bambu yang sudah usang, hampir roboh dimakan usia dan dimakan rayap. Namun, baru dua langkah mereka melewati gerbang reyot itu, kejanggalan itu langsung menyergap hebat.
Sekilas, rasanya seperti mereka terlempar ke dimensi lain, terperangkap dalam ruang hampa di mana waktu seakan berhenti berputar. Udara yang tadinya dingin, basah, dan menusuk tulang, mendadak berubah menjadi pengap, berat, dan menekan dada. Ada aura mistis yang pekat, seolah hawa hitam yang menguar keluar dari dalam rumah tua itu.
Keanehan itu makin menjadi-jadi saat mata mereka menangkap fakta yang mengerikan: tanah dan hamparan dedaunan di kaki mereka sama sekali kering. Rintik hujan lebat dan angin kencang yang baru saja menyiksa mereka berjam-jam lamanya, seolah tak mampu menembus batas pagar bambu sederhana itu. Seperti ada tembok tak kasat mata yang tebal, memisahkan tempat terkutuk ini dari dunia luar.
Pikiran Agus berkecamuk hebat. Sebenarnya ia ingin berteriak, ingin memberitahu Indra tentang segala hal ganjil yang dirasakannya. Namun, rasa gengsi menguasai hatinya. Ia takut jika bicara, Indra malah akan mencemoohnya lagi, atau bahkan menganggapnya pengecut yang berhalusinasi. Akhirnya, gengsi itu memenangkan pertempuran batinnya; Agus memutuskan untuk diam saja, mengurungkan niatnya untuk bicara, meski rasa ngeri perlahan merayap naik ke tengkuknya.
Saat mereka masih terpaku, merasakan hawa aneh yang menyelimuti, tiba-tiba sebuah sosok manusia muncul tegak di ambang pintu utama. Muncul begitu saja, tanpa suara, seolah baru saja menembus dinding kayu itu.
“Sedang ngapain kalian berdiri diam di situ?”
Suara berat itu terdengar dalam, berwibawa, dan menggema di udara pengap, seakan setiap kata yang keluar adalah perintah mutlak yang tak boleh dibantah.
Hal itu sontak membuat mereka berdua kaget bukan main. Jantung serasa berhenti berdetak seketika, keringat dingin langsung membasahi telapak tangan meski udara di sini tak lagi sedingin tadi.
“Astaghfirullah…” desis mereka berbarengan, suara mereka nyaris tak terdengar karena tertahan rasa takut yang mencekik. Mereka mundur selangkah, saling berpegangan erat, mata mereka tak berkedip menatap sosok yang baru saja muncul begitu tiba-tiba itu.
Lelaki tua itu berdiri tegak, memancarkan aura kekuatan yang tak terdefinisi. Meski sudah berusia lanjut, posturnya tetap bugar dan kokoh. Ia mengenakan jubah longgar serba hitam yang ujungnya hampir menyapu lantai tanah. Rambut panjangnya yang memutih terurai jatuh, menutupi sebagian bahu dan wajahnya yang penuh guratan kerut zaman, seolah setiap garis di kulitnya menyimpan kisah masa lalu yang kelam.
Di jari-jemari kurusnya yang berurat tebal, terpasang cincin-cincin batu akik berwarna gelap yang memantulkan kilat samar, sementara seutas kalung tasbih melingkar erat di lehernya. Butiran-butiran tasbih itu tampak sangat tua, mengkilap dan halus, seolah sudah terpegang ribuan kali selama bertahun-tahun, diputar berulang kali dalam doa-doa yang entah ditujukan kepada siapa.
Seluruh penampilan itu menambah kesan misterius yang begitu kental. Ia tampak bukan sekadar manusia biasa yang tinggal di hutan, melainkan penjaga wilayah terkutuk ini, sosok yang menyimpan ribuan rahasia kelam di balik tatapan matanya yang tajam, dingin, dan menusuk sampai ke tulang sumsum.
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁