NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guling Hidup Dan Ciuman Dari Istri

Suara ketikan keyboard laptop yang ritmis memecah kesunyian kamar malam itu. Cahaya putih dari layar monitor memantul di kacamata anti-radiasi yang dikenakan Shakira, kontras dengan temaramnya lampu tidur di sudut ruangan. Di sekelilingnya, tumpukan buku referensi, jurnal ilmiah tentang teknik pengolahan pangan, dan draf bab satu yang penuh coretan merah tersebar tak beraturan di atas meja kerja.

Pikiran Shakira sedang berlarian, berusaha merangkai kalimat demi kalimat untuk menuntaskan bab dua skripsinya. Baginya, setiap paragraf adalah pertaruhan masa depan. Ia begitu larut dalam dunianya sampai tidak menyadari sosok pria yang berbaring di ranjang, sejak tadi terus melirik ke arah jam dinding lalu ke arah punggungnya.

Zidan menghela napas panjang. Ia meletakkan ponselnya di nakas, lalu mengubah posisi duduknya menjadi bersandar pada headboard. Matanya menatap Shakira yang masih tampak ambisius di depan layar.

"Sayang, ini udah malem loh. Kamu nggak tidur?" tanya Zidan dengan nada yang diusahakan tetap tenang, meski ada gurat cemas di wajahnya.

Shakira tidak menoleh. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard. "Bentar lagi, Dan. Aku mau selesain bab dua ini. Tinggal dikit lagi bagian metode penelitiannya."

"Tinggal dikit itu versimu dari jam sembilan tadi, Ra," Zidan melirik jam dinding lagi. "Ini udah jam setengah sebelas. Besok pagi kamu ada bimbingan kan? Kalau kurang tidur, nanti otak kamu nggak sinkron sama revisian dosen."

"Iya, nanti kalau udah selesai aku tidur. Bawel banget sih, kayak Mama aja," sahut Shakira ketus, masih tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

Zidan memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam. Ia tahu kalau Shakira sudah masuk mode "ambis", ia tidak akan mempan hanya dengan bujukan kata-kata.

"Shakira Naomi!" Suara Zidan kini terdengar lebih berat dan tegas, nada bicara yang jarang ia gunakan kecuali jika sedang benar-benar serius.

"Apa sih?" Shakira akhirnya menoleh dengan wajah gusar. Namun, sebelum ia sempat memprotes lebih jauh, Zidan sudah beranjak dari tempat tidur.

Tanpa aba-aba dan tanpa peringatan, Zidan melangkah lebar mendekat ke arah meja kerja. Dengan gerakan yang sangat tangkas—gerakan yang biasa ia gunakan untuk mengangkat mesin motor yang berat—ia menyisipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Shakira. Dalam sekejap, tubuh mungil Shakira sudah melayang di udara, digendong secara bridal style.

"Zidan! Turunin nggak! Aku belum simpen file-nya!" pekik Shakira panik, tangannya memukul-mukul pundak Zidan yang keras.

"Udah otomatis ke-simpen, Ra. Laptop kamu biar aku yang matiin nanti," ujar Zidan tenang. Ia tidak mempedulikan protes Shakira dan terus melangkah menuju ranjang.

Zidan meletakkan Shakira di atas kasur dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang menaruh barang pecah belah yang paling berharga. Dengan gerakan cepat, ia menarik selimut tebal sampai ke batas leher istrinya, memastikan Shakira terbungkus rapat.

"Zidan, bener-bener ya kamu! Skripsi aku kalau hilang gimana?" Shakira masih berusaha untuk bangkit, namun tangan Zidan menahan pundaknya lembut.

"Tidur, Sayang. Udah malem. Mata kamu udah merah gitu masih mau dipaksa," Zidan kemudian berbalik, mematikan lampu kamar melalui saklar di dekat pintu, menyisakan kegelapan yang hanya ditembus cahaya rembulan dari celah gorden.

Zidan kemudian naik ke sisi ranjangnya sendiri. Seperti biasanya, ia mengambil guling "Garis Khatulistiwa" dan meletakkannya tepat di tengah-tengah sebagai pembatas. Ia merebahkan tubuhnya, memunggungi Shakira dengan jarak yang cukup jauh.

"Selamat tidur, Ra. Istirahat. Otak kamu butuh libur," gumam Zidan lirih sebelum memejamkan mata.

Suasana menjadi hening. Shakira terdiam dalam kegelapan, menatap punggung tegap Zidan yang tertutup selimut. Rasa kesal yang tadi meluap perlahan menguap, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa yang baru ia rasakan sekarang. Ia tersadar bahwa pundaknya terasa sangat kaku dan kepalanya berdenyut ringan karena terlalu lama menatap layar.

Ternyata, paksaan Zidan adalah hal yang sebenarnya ia butuhkan.

Namun, tidur dalam posisi saling menjauh dengan guling di tengah terasa... asing malam ini. Shakira melirik guling itu. Ia teringat betapa Zidan seharian ini bekerja keras di bengkel, menahan kantuk hanya untuk menunggunya selesai mengerjakan skripsi, lalu masih memikirkan kesehatannya.

Tanpa Zidan sadari, Shakira bergerak pelan di bawah selimut. Dengan gerakan yang sangat halus agar tidak menimbulkan bunyi, ia menarik guling pembatas itu dan membuangnya begitu saja ke lantai. Bugh. Suara jatuhnya guling itu teredam karpet.

Shakira kemudian bergeser mendekat. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Zidan, memeluk punggung suaminya dari belakang dengan erat. Ia menyandarkan wajahnya di antara belikat Zidan yang kokoh, menghirup aroma sabun mandi yang masih tersisa di kulit pria itu.

Zidan tersentak kecil. Ia merasa tubuhnya menegang saat merasakan pelukan hangat yang tiba-tiba itu. Ia hampir saja berbalik karena kaget, namun suara Shakira yang berbisik lirih menghentikannya.

"Diem. Aku cuman mau tidur tenang. Soalnya besok harus ngerjain skripsi lagi," bisik Shakira, suaranya terdengar sangat lelah namun penuh kedamaian.

Zidan tersenyum dalam kegelapan. Ia tidak berbalik, karena ia tahu Shakira sedang dalam mode "gengsi tapi butuh". Ia hanya meraih tangan Shakira yang melingkar di pinggangnya, menggenggam jemari mungil itu dengan erat, lalu mengelusnya lembut menggunakan ibu jari.

"Iya, tidurlah. Aku di sini," sahut Zidan lembut.

"Jangan bergerak, Zidan. Nanti aku nggak bisa tidur," ancam Shakira dengan nada manja yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Iya, Sayang. Aku jadi guling hidup kamu malam ini. Nggak bakal bergerak satu inci pun."

Keheningan malam itu terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tanpa "Garis Khatulistiwa", dinginnya AC tidak lagi terasa menusuk karena ada kehangatan yang mengalir di antara mereka. Shakira perlahan-lahan mulai terlelap, napasnya menjadi teratur di punggung Zidan.

Zidan sendiri masih terjaga sejenak, menikmati momen langka di mana istrinya yang keras kepala itu akhirnya luluh dalam dekapannya. Ia menyadari bahwa skripsi mungkin penting, bengkel mungkin sibuk, tapi momen-momen tenang seperti inilah yang membuat semua kerja keras mereka terasa bermakna.

"Besok aku anter ke kampus lagi ya, Ra. Jangan telat bangunnya," bisik Zidan sangat pelan, memastikan Shakira tidak terbangun.

Tidak ada jawaban, hanya remasan kecil di bajunya dari tangan Shakira yang mulai terlelap. Zidan pun akhirnya ikut memejamkan mata, membiarkan kantuk membawanya pergi dalam pelukan erat sang istri yang malam ini memutuskan untuk melupakan sejenak aturan pembatas di antara mereka.

***

Sinar matahari pagi di awal April menyapa gerbang kampus dengan hangat. Deru motor besar Zidan berhenti tepat di depan trotoar fakultas. Seperti ritual yang kini sudah menjadi kebiasaan, Zidan mematikan mesin, menurunkan standar motor, dan dengan sigap jemarinya bergerak membuka pengait helm Shakira. Gerakannya halus, seolah sedang membuka kado yang sangat berharga.

Shakira turun dari motor, merapikan sedikit blus pastelnya yang tertiup angin. Di tangannya, ia memegang map besar berisi draf skripsi yang semalam ia kerjakan hingga larut. Wajahnya tampak sedikit tegang, matanya sesekali melirik ke arah lobi gedung tempat Nina sudah melambai-lambai dari kejauhan.

"Aku masuk dulu, ya. Udah ditunggu Nina," ujar Shakira singkat.

"Iya. Inget pesen aku, jangan panik pas depan dosen. Kalau buntu, bayangin muka ganteng aku aja biar rileks," goda Zidan dengan kedipan mata yang biasanya dibalas dengan decakan sebal.

Shakira baru saja berbalik badan, hendak melangkah menuju tangga fakultas. Namun, setelah tiga langkah, ia tiba-tiba berhenti. Gadis itu terdiam sejenak, bahunya tampak naik turun seperti sedang mengambil napas panjang. Ia menatap ujung sepatunya, lalu perlahan memutar tubuh dan kembali menatap Zidan yang masih duduk di atas motor.

"Kenapa? Ada yang ketinggalan? Dompet? HP?" tanya Zidan dengan kening berkerut, tangannya sudah siap meraba tas kecil yang biasanya ia gantung di stang.

"Enggak. Cuma...."

Shakira tidak melanjutkan ucapannya. Dengan langkah kecil yang pasti, ia mendekat kembali ke arah Zidan. Sebelum Zidan sempat bertanya lagi, Shakira meraih tangan kanan suaminya yang masih bertengger di stang motor. Ia menarik tangan yang sedikit kasar karena kerja keras di bengkel itu, lalu dengan gerakan cepat namun takzim, ia mencium punggung tangan Zidan.

Cup.

Zidan mematung. Napasnya seolah berhenti di tenggorokan.

"Doain ya semoga lancar dan nggak perlu revisi. Bye!" seru Shakira cepat.

Tanpa menunggu respon, tanpa berani menatap mata Zidan yang sedang melotot tak percaya, Shakira langsung berbalik dan berlari kencang menuju lobi kampus. Langkahnya seribu satu, rambutnya yang tergerai bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya yang panik karena malu.

Zidan masih mematung di atas motornya. Matanya menatap tangannya sendiri yang baru saja dicium oleh istrinya. Selama beberapa detik, suara klakson kendaraan di belakangnya pun terasa senyap.

"Tadi... barusan itu apaan? Gue nggak mimpi kan?" gumam Zidan pada dirinya sendiri. Ia mencubit pipinya keras-keras. "Aduh! Sakit. Berarti nyata."

Senyum yang semula hanya tipis, kini merekah lebar hingga memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Ia mengepalkan tangan yang tadi dicium Shakira, seolah ingin menyimpan bekas ciuman itu agar tidak menguap terkena angin.

"Oke, fiks. Gue dapet super recharge hari ini," gumamnya dengan binar mata yang sangat cerah. Ia menghidupkan mesin motornya dengan semangat baru, lalu melesat pergi menuju bengkel dengan kecepatan yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, sambil bersiul riang sepanjang jalan.

Sesampainya di bengkel "Ardiansyah Motor", Zidan memarkirkan motornya dengan gaya yang sangat energik. Ia melompat turun, melepas helmnya, dan masuk ke dalam area kerja dengan langkah yang dibuat-buat gagah.

"PAGI DUNIA! PAGI BOBBY! PAGI INDRA!" teriak Zidan menggelegar, mengalahkan suara mesin bubut yang sedang dinyalakan Indra.

Bobby yang sedang memegang botol oli hampir saja menjatuhkannya karena kaget. "Woy! Santai dong! Baru dateng udah kayak abis menang lotre."

Indra keluar dari bawah mobil sambil mengelap wajahnya yang penuh keringat. "Kenapa lo, Dan? Kesambet setan parkiran kampus lagi?"

Zidan tidak menjawab. Ia malah duduk di kursi panjang, lalu mengangkat tangan kanannya ke udara dengan wajah penuh kemenangan. "Liat tangan ini, Bob. Liat!"

Bobby mendekat, menatap tangan Zidan dengan kening berkerut. "Kenapa? Kena paku? Atau kegores kunci pas?"

"Bukan, bego!" Zidan memutar matanya. "Tangan ini... baru aja dicium sama bidadari paling judes se-kecamatan. Tangan ini baru saja mendapatkan penghormatan tertinggi dari Nyonya Shakira."

Bobby dan Indra terdiam sejenak, lalu mereka saling pandang.

"Demi apa lo, Dan?" tanya Indra, matanya membelalak. "Si Shakira salim sama lo? Di kampus? Di depan orang banyak?"

"Iya dong! Tanpa gue minta! Dia balik lagi, terus cup, dia cium tangan gue sambil minta doa. Habis itu dia lari kayak dikejar satpol pp karena malu," cerita Zidan dengan nada yang sangat dramatis, lengkap dengan gerakan tangan yang melebih-lebihkan.

"Gila... rekor baru ini," gumam Bobby sambil geleng-geleng kepala. "Kemarin pelukan lima menit, sekarang udah salim. Kayaknya bentar lagi 'Garis Khatulistiwa' di kamar lo bakal jadi museum sejarah doang, Dan."

"Itu tujuannya, Bob! Itu target utama!" Zidan bangkit berdiri dengan semangat yang meluap-luap. Ia menyambar kunci inggris paling besar yang ada di meja alat. "Gue ngerasa kuat banget hari ini. Mana motor yang perlu turun mesin? Mana mobil yang perlu ganti gardan? Sini gue selesain semuanya sebelum jam makan siang!"

"Tenang, Dan, tenang. Jangan sampe baut orang lo patahin gara-gara lo terlalu bersemangat," tegur Indra sambil tertawa.

Zidan mulai bekerja dengan kecepatan dua kali lipat. Ia membongkar mesin, membersihkan karburator, dan menyetel rantai dengan ketelitian yang luar biasa sambil sesekali bersenandung lagu romantis yang liriknya ia karang sendiri tentang "kecupan di pagi hari".

"Indra," bisik Bobby sambil memperhatikan Zidan yang sedang bekerja sambil senyum-senyum sendiri.

"Apa?"

"Gue rasa, kita harus sering-sering nyuruh Shakira salim sama dia. Bengkel kita jadi produktif banget kalau bosnya lagi fase bucin maksimal begini."

"Bener. Biasanya dia males kalau dapet borongan servis berat. Sekarang, liat tuh, motor matic aja dibongkar sampe ke jeroannya sambil nyanyi. Horor juga lama-lama liatnya," sahut Indra sambil terkekeh.

Zidan tidak mempedulikan ocehan karyawannya. Pikirannya masih melayang di lobi kampus, membayangkan wajah merah padam Shakira setelah mencium tangannya. Baginya, itu adalah bukti bahwa benteng pertahanan istrinya sudah mulai retak, dan ia tidak akan berhenti sampai benteng itu benar-benar runtuh dan digantikan oleh cinta yang utuh.

1
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
Rita Rita
🤣🤣🤣 si mas Zidan udah terinfeksi rabies bucin, makanya senyum sendiri luar kendali 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!