Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Wajah Kakek Faris yang tadinya pucat dan keriput, perlahan mulai berubah menjadi lebih segar dan sedikit kemerahan.
Napasnya yang tadinya berat dan sesak, kini menjadi jauh lebih tenang.
Dan yang paling ajaib...
Tubuhnya yang tadinya lemas tak berdaya, kini perlahan terlihat lebih bertenaga.
"Alger... tolong bangunkan Kakek..." suara Kakek Faris terdengar lebih segar dan tidak lagi serak.
"Kakek mau bangun? Bisa nggak Kek?" tanya Alger kaget.
"Bisa dong! Badan Kakek terasa enteng sekali! Seperti muda lagi 10 tahun!" jawab sang kakek.
Dengan bantuan Alger, Kakek Faris perlahan bangun dan duduk di tepi ranjang. Bahkan ia mencoba menggerakkan kakinya turun ke lantai.
Alger ternganga tak percaya! Mulutnya terbuka lebar melihat keajaiban di depan matanya sendiri.
"Duh Kakek... hati-hati ya! Jangan memaksakan diri!" kata Alger panik tapi tangannya sigap menopang tubuh sang kakek.
"Tidak perlu ditopang Alger! Kakek sudah kuat!" jawab Kakek Faris sambil tersenyum.
Kakek Faris melangkah turun dari ranjang. Kakinya yang tadinya tak berdaya, kini bisa berdiri stab.
Ia melangkah satu langkah, dua langkah... lalu ia melepaskan pegangan tangan Alger!
Kakek Faris berjalan mondar-mandir di ruangan itu! Ia mengayun-ayunkan tangannya, memutar pinggangnya, dan menepuk-nepuk kakinya sendiri dengan wajah tak percaya.
Alger ternganga! Mata bulatnya tak bisa berkedip melihat kakeknya bisa bergerak bebas di depannya.
"Oh Tuhan... sungguh keajaiban! Dulu aku mau pindah ke kursi saja butuh didorong, sekarang... sekarang rasanya badan ini enteng banget! Seperti dipulihkan kembali!" kata Kakek Faris haru.
Ia lalu menatap Ghaizka
"Nona... Nona Ghaizka... Kamu bukan tabib biasa... kamu ini penyelamat nyawa! Terima kasih... terima kasih banyak sudah mengembalikan kenyamanan hidup Kakek," kata Kak Ega Faris tersenyum haru dan rasa Terima kasih.
Ghaizka hanya tersenyum tipis dan mengangguk sopan. "Sama-sama Kakek, berarti obat dan energinya bekerja dengan baik. Kakek harus istirahat cukup dan makan makanan bergizi ya."
Alger berdiri mematung. Ia melihat bukan hanya kesembuhan kakeknya, tapi ia melihat betapa hebat, luar biasa, dan sempurnanya wanita di hadapannya itu.
Gadis dingin yang cuek itu, namun memiliki tangan yang bisa menyembuhkan penyakit yang tidak mungkin.
"Ghaizka... Kamu benar-benar wanita yang paling hebat yang pernah aku temui. Kecantikanmu, kepintaranmu, keahlianmu... semuanya sungguh luar biasa," batinnya kagum.
Alger melangkah maju, lalu membungkuk di hadapan Ghaizka, menunjukkan rasa hormat yang paling tinggi.
"Nona Ghaizka... Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Anda telah melakukan hal yang mustahil. Keluarga kami berhutang budi yang sangat besar pada Anda," kata Alger penuh rasa Terima kasih.
Ia lalu mengangkat wajahnya, menatap mata Ghaizka dengan tatapan yang sangat hormat.
"Dan mulai detik ini... saya berjanji. Saya akan menjadi orang yang akan selalu melindungi Anda, mendukung Anda, dan memastikan tidak ada satu pun orang yang berani menyakiti atau melakukan kejahatan pada Anda," katanya sungguh-sungguh.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Anda, tapi saya bisa jaga diri saya sendiri," kata Ghaizka menolaknya dengan sopan.
Alger langsung tertegun dengan ucapan Ghaizka.
****
Waktu pun menunjukkan siang hari. Pengobatan sudah selesai, kondisi Kakek Faris sudah jauh lebih baik dan bugar.
"Baiklah Tuan Alger, Kakek Faris... karena kondisi Kakek sudah stabil dan jauh lebih sehat, saya pamit pulang dulu ya," kata Ghaizka sambil merapikan tas obatnya.
"Wah, sudah mau pulang saja? Padahal rasanya baru sebentar, dan kami belum sempat membalas kebaikanmu," kata Kakek Faris tampak sangat keberatan melihat Ghaizka hendak pergi.
"Sudah kewajiban saya Kek," jawab Ghaizka tersenyum sopan.
"Tidak bisa begitu! Alger, ambilkan dokumen," titah Kakek Faris.
"Siap Kek," jawab Alger sigap lalu pergi mengambil sebuah map tebal berwarna cokelat.
Kakek Faris menerima map itu lalu menyerahkannya ke depan Ghaizka dengan kedua tangan.
"Nak Ghaizka, terimalah ini sebagai tanda terima kasih dari kami," kata Kakek Faris tersenyum tulus.
Ghaizka mengernyitkan dahi lalu membuka map itu. Matanya sedikit membelalak. Di dalamnya terdapat Sertifikat Kepemilikan Gedung!
"Ini... ini apa Kek?" tanya Ghaizka bingung.
"Itu adalah Gedung milik keluaga kami yang terletak di pusat kota. Lokasinya strategis, bangunannya bagus dan luas. Mulai sekarang, gedung itu resmi milikmu. Jadikan tempat untuk Klinik Herbal yang lebih besar dan megah," jelas Kakek Faris.
Ghaizka langsung menggeleng cepat lalu mengembalikan map itu.
"Maaf Kakek, saya tidak bisa menerimanya! Terlalu berharga! Saya hanya menolong, cukup bayar yang sewajarnya saja seperti pasien lain," tolak Ghaizka tegas.
Ia memang tidak mau berhutang budi atau menerima hadiah berlebihan.
Melihat Ghaizka menolak, Kakek Faris justru tertawa kecil.
"Hehehe... dasar anak baik dan jujur. Tapi dengarkan aku dulu Nak. Sebelum bertemu kamu, aku sudah berobat ke mana-mana. Dokter spesialis, rumah sakit kelas atas, tabib terkenal... aku sudah habis ratusan juta rupiah!"kata Kakek Faris lembut.