NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Manifest yang Tersembunyi

Aurelia dan Elara berpisah di koridor utama setelah memastikan tidak ada penjaga yang melihat mereka keluar dari perpustakaan. Malam itu, Aurelia tidak bisa memejamkan mata. Kata-kata Elara tentang racun inhalasi dan serbuk perak itu terus berputar, menciptakan kepingan teka-teki yang mengerikan.

Ia menyadari satu hal: jika tanaman itu tidak bisa tumbuh di tanah mereka, maka tanaman itu harus didatangkan. Dan satu-satunya cara sesuatu masuk ke istana ini adalah melalui gerbang logistik.

Pagi harinya, suasana istana tampak lebih sibuk dari biasanya. Kabar mengenai pengetatan patroli oleh Raja Valerius mulai menyebar di kalangan pelayan. Raja yang biasanya hanya menghabiskan waktu di ruang kerja, kini dikabarkan sering memantau gerbang utama secara langsung.

Aurelia melangkah menuju area gudang logistik dengan alasan ingin memeriksa kiriman kain sutra baru untuk acara perjamuan bulan depan. Ia harus berhati-hati agar kehadirannya tidak terlihat mencurigakan bagi Lucas.

Meskipun Lucas membantunya semalam, Aurelia tetap pada pendiriannya: ia tidak akan melibatkan siapa pun dalam risiko ini. Baginya, bantuan Lucas semalam hanyalah kebetulan seorang petugas yang ingin menghindari masalah dengan pengawal.

"Tuan Putri! Pagi-pagi begini sudah di sini lagi?" seru Lucas dari atas tumpukan peti. Ia tampak sibuk memandu para kuli yang menurunkan barang dari kereta kuda. "Sutra pesananmu ada di gudang C, tapi kurasa warnanya sedikit terlalu terang untuk seleramu."

Aurelia memaksakan senyum tipis. "Aku hanya ingin memastikan teksturnya, Lucas. Apakah ada kiriman lain hari ini?"

"Hanya barang pecah belah dari pesisir dan beberapa peti porselen pesanan lama," jawab Lucas tanpa curiga. Ia menyodorkan selembar papan kayu berisi daftar barang sementara. "Lihatlah sendiri jika kau tidak percaya. Logistik sedang kacau karena pemeriksaan ganda di gerbang depan."

Aurelia mengambil papan itu. Matanya bergerak cepat menelusuri daftar barang. *Porselen, gandum, minyak lampu, anggur...* Semuanya tampak normal. Namun, ia teringat bisikan halus semalam—atau mungkin hanya instingnya—bahwa barang sensitif sering kali disembunyikan di balik jerami peti porselen.

"Aku akan melihat-lihat sebentar," ujar Aurelia pelan.

Saat Lucas sibuk memaki salah satu kuli yang menjatuhkan karung gandum, Aurelia menyelinap ke sudut gudang tempat peti-peti porselen besar diletakkan. Peti-peti itu kayu tebal, tertutup rapat dengan paku. Ia menemukan sebuah peti yang baru saja diturunkan, masih terasa dingin, seolah-olah baru saja melewati perjalanan malam yang panjang.

Aurelia meraba sisi peti itu. Tidak ada label pengirim yang jelas, hanya simbol lingkaran kecil berwarna biru. Dengan sebilah pisau kecil yang selalu ia sembunyikan di balik korsetnya, ia mencoba mencongkel sedikit bagian kayu yang agak renggang.

Harum itu kembali. Manis, namun tajam hingga membuat hidungnya gatal.

Di sela-sela jerami yang berfungsi sebagai pelindung porselen, ia melihat sesuatu yang bukan bagian dari keramik. Itu adalah gumpalan lumut lembap yang membungkus sebuah kotak perak kecil berlubang. Saat Aurelia hendak meraihnya, suara langkah kaki berat dari arah pintu gudang membuatnya mematung.

"Tuan Putri Aurelia?"

Aurelia segera menarik tangannya dan berdiri tegak, menyembunyikan pisau kecilnya di balik lipatan gaun. Itu bukan Lucas. Itu adalah salah satu pengawal pribadi Raja, yang biasanya hanya bertugas di menara pengawas.

"Sedang apa Anda di bagian gudang yang kotor ini? Baginda Raja menanyakan keberadaan Anda untuk sarapan pagi," ucap pengawal itu dengan nada datar, namun matanya yang tajam sempat melirik ke arah peti porselen yang sedikit terbuka di depan Aurelia.

"Aku hanya... tersesat mencari Lucas," dusta Aurelia, suaranya tetap tenang meski jantungnya berpacu. "Aku akan segera ke ruang makan."

Pengawal itu mengangguk kaku dan memberi jalan. Aurelia melangkah pergi dengan tangan yang terasa dingin. Ia gagal mengambil kotak itu, tapi ia tahu sekarang: tanaman itu ada di sini, masuk di bawah hidung mereka semua.

---

Sore harinya, saat Aurelia sedang duduk sendirian di balkon kamarnya, sebuah bayangan panjang jatuh menutupi meja kecilnya. Ia menoleh dan menemukan Pangeran Theo berdiri di sana. Kedatangannya tidak diumumkan, dan wajahnya tampak lebih serius daripada biasanya.

Theo menatap Aurelia cukup lama, seolah-olah sedang mencari jawaban di wajah gadis itu. "Kau terlihat pucat, Aurelia. Apakah berjalan-jalan di Paviliun Cendana dan menyelinap ke perpustakaan malam-malam tidak memberikanmu ketenangan yang kau cari?"

Aurelia tertegun. Jadi benar, bayangan di menara semalam adalah Theo.

"Aku tidak tahu apa maksudmu, Pangeran," jawab Aurelia dingin.

Theo melangkah mendekat, suaranya merendah hingga hampir menyerupai bisikan. "Jangan bermain-main dengan api jika kau tidak tahu seberapa besar kebakaran yang bisa ditimbulkannya. Aku melihatmu, Aurelia. Dan aku tahu apa yang kau simpan di sakumu."

Ia terdiam sejenak, menatap ke arah perbatasan utara. "Jika kau ingin tahu kenapa mawar-mawar itu dikirimkan ke istana ini, berhentilah mencari di gudang. Carilah di buku pengeluaran pribadi orang-orang terdekat ayahmu. Sesuatu yang dikirim secara rutin pasti dibayar dengan sesuatu yang rutin pula."

Sebelum Aurelia sempat bertanya lebih jauh, Theo sudah berbalik. "Aku akan datang berkunjung lagi secara resmi besok. Pastikan kau masih ada di sini untuk menyambutku, dan pastikan kau belum menghirup aroma yang salah."

Aurelia menatap punggung Theo yang menjauh. Pangeran dari Valeront itu tahu lebih banyak daripada yang ia duga, tapi ia juga tampak seperti sedang menjaga jarak—antara ingin membantu atau sekadar memperingatkan agar Aurelia tidak menggali lubang kuburnya sendiri.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!