Alya Maheswari, gadis sederhana dengan masa lalu kelam, dipaksa menikah dengan Arkan Virello, seorang mafia dingin dan kejam yang tak percaya cinta.
Pernikahan mereka bukan tentang cinta, melainkan perjanjian darah. Namun di balik sikap dingin Arkan, tersembunyi obsesi berbahaya. Dan di balik kepasrahan Alya, tersimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta mulai tumbuh di antara ancaman, pengkhianatan, dan dendam lama, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan saling menyelamatkan, atau justru saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji yang Mengikat
Mobil hitam itu akhirnya berhenti, hujan masih turun meski tak sederas tadi. Tapi cukup untuk membuat suasa malam, terasa lebih sunyi dan mencekam.
Alya menatap keluar jendela, sebuah mansion besar berdiri megah di hadapannya. Gelap, elegan, dan terasa tidak ramah.
Lampu-lampu taman menyala redup, menyoroti bangunan tinggi dengan arsitektur klasik, yang terlihat mahal sekaligus dingin.
Tempat ini bukan rumah, lebih seperti sebuah benteng. Atau mungkin sangkar emas.
“Keluar. Apa kamu akan tetap berada di dalam mobil?”
Suara Arkan langsung memecah lamunan Alya. Tanpa melihat ke arahnya, Alya menarik napas pelan, lalu membuka pintu.
Angin malam langsung menyambutnya, dingin menusuk kulit. Seorang pria berjas hitam, segera membuka payung di atas kepala Alya.
Seorang pelayan, atau mungkin pengawal. Alya tidak tahu, dan itu membuatnya semakin tidak nyaman.
Langkah kakinya terasa berat saat memasuki mansion itu. Pintu besar terbuka, interior di dalamnya luar biasa. Marmer putih mengkilap, lampu gantung kristal besar. Tangga melengkung yang menjulang elegan ke atas, semua terlihat sempurna.
Mewah.
Namun tidak ada kehangatan, seolah tempat ini hanya dihuni oleh bayangan.
“Selamat datang, Tuan.”
Beberapa orang berbaris rapi, mereka membungkuk. Alya merasa terkejut, sedangkan Arkan hanya berjalan melewati mereka tanpa menoleh.
Seolah ia adalah raja, dan semua orang di sini hanya pelayan. Tak lama Alya mengikuti dari belakang.
“Mulai hari ini, dia adalah Nyonya Virello.”
Langkah Alya terhenti, Arkan berbicara tanpa menoleh. Namun semua orang langsung menunduk lebih dalam.
“Hormati dia, sama seperti kalian menghormatiku,” ucap Arkan.
Tidak ada yang berani menjawab, hanya ada anggukan patuh. Alya menatap punggung Arkan, kata-katanya terdengar seperti perlindungan. Tapi entah kenapa, Alya tidak merasa aman.
“Kemarilah,” ucapnya pelan.
Arkan melangkah menuju sebuah ruangan besar, dan Alya mengikutinya. Jantungnya kembali berdegup tidak tenang, saat pintu terbuka, sebuah ruang kerja yang di dominasi warna hitam dan cokelat gelap.
Rak buku tinggi, meja besar, dan suasana yang menekan. Arkan berjalan menuju meja, ia mengambil sesuatu lalu melemparkannya ke atas permukaan meja.
“Mendekatlah, dan buka ini.”
Alya mendekat perlahan, matanya langsung tertuju pada sebuah map hitam. Ia terlihat ragu, tapi tatapan Arkan yang dingin, membuatnya tak punya pilihan.
Alya membuka map itu, dan detik berikutnya, napasnya tertahan.
“A-apa ini?”tanyanya pelan, hampir berbisik.
“Sebuah kontrak.”
Jawaban Arkan singkat, seperti biasa. Alya menatap lembar demi lembar isi dokumen itu. Matanya bergerak cepat, tapi setiap kalimat yang ia baca, membuat dadanya semakin sesak.
Perjanjian Pernikahan Virello.
Poin-poinnya tertulis dengan begitu jelas, seperti dibuat bukan untuk manusia, tapi untuk sebuah benda.
• Alya wajib tinggal di mansion, dan tidak boleh pergi tanpa izin.
• Alya harus menjalankan peran sebagai seorang istri, di depan publik.
• Tidak boleh menghubungi pihak luar, tanpa pengawasan.
• Tidak boleh menolak perintah Arkan.
• Rahasia keluarga Virello, adalah mutlak dan tidak boleh dibocorkan.
• Pelanggaran akan berakibat konsekuensi yang serius.
Tangan Alya mulai bergetar, ini bukan pernikahan. Tapi ini sebuah penjara.
“Aku tidak...”
“Baca sampai selesai,” potong Arkan cepat.
Alya menggigit bibirnya, namun tetap membaca. Dan di halaman terakhir, ada satu kalimat yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
“Perasaan tidak termasuk dalam perjanjian ini.”
Alya terdiam beberapa detik, lalu perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Arkan.
“Apa maksudnya ini?” tanya Alya.
Arkan bersandar santai di kursinya, ia menatap Alya dengan wajah datar. “Kamu cukup pintar untuk mengerti semuanya.”
Alya mengepalkan tangan, “I-ini bukan pernikahan.”
“Memang bukan.”
Jawaban itu datang tanpa ada keraguan, ataupun penyesalan. Seolah itu fakta yang sederhana.
“Tapi ini sebuah kesepakatan,” lanjutnya.
Kata itu menggema di kepala Alya, jadi benar, ia tidak lebih dari bagian transaksi.
“Dan aku?” suara Alya bergetar, namun ia berusaha tetap kuat. “Bagimu, aku ini apa?”
Arkan tidak langsung menjawab, ia berdiri melangkah mendekat secara perlahan. Setiap langkahnya terasa menekan, Alya menahan napas sampai akhirnya Arkan berdiri tepat di depannya.
“Bagiku, kamu tidak lebih dari sebuah aset.”
Alya membeku, matanya langsung berkaca-kaca. Namun ia menahannya, Alya tidak mau terlihat lemah. Tidak di depan pria ini.
“Kalau begitu...” Alya menarik napas dalam. “Kenapa harus aku yang kamu jadikan sebuah aset?”
Arkan menatapnya dalam, seolah sedang mencari sesuatu di wajah Alya. Atau mungkin, memastikan sesuatu.
“Itu bukan hal yang perlu kamu tahu,” jawabnya lagi.
Alya tertawa kecil, “Tentu saja kamu pasti akan berkata seperti itu.”
Ia menutup map itu, lebih keras dari yang seharusnya. “Aku hanya perlu patuh, kan?”
Arkan tidak menjawab, tapi tatapannya seketika langsung berubah menjadi lebih tajam dan gelap.
“Aku tidak akan menandatangani ini.”
Alya meletakkan map itu kembali ke atas meja, keputusan pertama yang ia ambil sejak semua ini dimulai.
Seketika udara terasa menegang, Arkan tidak bergerak, tidak juga marah atau terkejut.
“Ulangi apa yang kamu bilang barusan,” ucap Arkan dengan suara yang pelan.
“Aku tidak akan menandatanganinya,” ulangnya dengan menatap langsung pada mata Arkan.
Untuk pertama kalinya, Alya melihat langsung pada matanya. Dan itu sebuah ke salam. Dalam satu gerakan cepat, Arkan mencengkram pergelangan tangan Alya.
Alya tersentak kaget, “Lepaskan.”
Tapi Arkan malah menariknya lebih dekat, sampai hampir menabrak tubuhnya.
“Dengarkan aku baik-baik,” suara Arkan terdengar pelan. “Ini bukan permintaan, tapi ini sebuah perintah untukmu.”
Genggamannya semakin erat, Alya menahan rasa sakit. Tapi ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
“Tapi aku bukan boneka.”
Suara yang penuh dengan keberanian, sesuatu yang jarang ua tunjukkan. Dan itu membuat Arkan diam sejenak.
Tatapan mereka bertemu. Dua dunia yang berbeda, dua kekuatan yang saling menekan.
Lalu setelahnya Arkan tersenyum tipis, “Bagus, setidaknya kamu tidak sepenuhnya lemah.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian, tapi nadanya lebih seperti penilaian. Arkan melepaskan tangannya, dan Alya langsung mundur satu langkah. Pergelangan tangannya masih terasa sakit.
“Tapi sayangnya...” Arkan mengambil sebuah pena, dan meletakkannya di depan Alya. “Kamu harus tetap menandatangani kontrak ini.”
Alya menatap pena itu, lalu beralih menatap pada Arkan. “Dan jika aku tetap tidak mau?”
Suasana seketika berubah sunyi, beberapa detik yang terasa panjang. Lalu Arkan menjawab dengan suara, yang lebih pelan dari sebelumnya.
“Aku akan memastikan, bahwa kamu tidak punya pilihan lain.”
Deg.
Jantung Alya berdegup kencang, ada sesuatu dalam cara dia mengatakan itu. Bukan sekedar ancaman kosong, tapi janji yang bisa menjadi kenyataan.
Pikiran Alya kacau, ia tahu dan benar-benar tahu. Pria ini mampu melakukan apa pun, dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Tangannya perlahan mengambil pena, ia menatap kertas itu. Lalu menutup mata sejenak, dalam diam satu air mata akhirnya jatuh tanpa bisa di tahan lagi.
Garis tinta itu akhirnya tercetak, satu goresan yang telah mengikat hidupnya selamanya.
Alya menjatuhkan pena itu, tangannya terasa lemas. Semua sudah selesai, atau baru saja dimulai. Arkan mengambil dokumen itu, dan melihatnya sekilas. Lalu menutupnya kembali, seolah itu hanya urusan kecil, padahal bagi Alya itu adalah segalanya.
“Bagus, kamu melakukannya dengan cepat,” katanya dingin. “Mulai malam ini, kamu resmi menjadi bagian dari duniaku,” ucapnya yang sambil berjalan melewati Alya.
Arkan berhenti sejenak tanpa menoleh, “Dan percayalah, kamu akan berharap bahwa kamu tidak pernah menandatangani dokumen ini.”
Setelah berkata seperti itu, Arkan pergi meninggalkan Alya sendirian di ruangan itu. Suasana langsung terasa sunyi, hanya ada suara jam yang berdetak pelan.
Alya berdiam diri, tidak bergerak, tidak juga berbicara. Tatapannya kosong, tapi air mata perlahan mulai jatuh. Seperti hujan di luar sana, terlihat diam, tapi menyakitkan.
Di tangannya terdapat cincin yang berkilau, terlihat indah tapi terasa seperti sebuah rantai. Dan di dalam hatinya, satu kesadaran akhirnya benar-benar terbentuk.
Alya tidak menikah dengan seorang pria, tapi ia menikah dengan seorang monster.
Dan yang lebih buruknya lagi, ia baru saja menyerahkan dirinya sendiri ke dalam kegelapan itu.