Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Lulu berjalan melewati lorong sekolah dengan bahu yang merosot. Kacamata tebalnya terasa jauh lebih berat hari ini, seolah menanggung beban kegagalannya yang baru saja diumumkan secara resmi di papan mading. Di sana, namanya telah dicoret dengan garis merah tebal, digantikan oleh nama siswa lain yang selama ini berada di bawah peringkatnya.
Bagi dunia, Lulu adalah siswa yang tidak bertanggung jawab. Bagi para guru, Lulu adalah kekecewaan. Namun bagi Lulu, ia adalah sebuah kehampaan.
"Lu," sebuah suara lembut memanggilnya.
Lulu mendongak dan menemukan Arlan berdiri di dekat loker. Arlan tidak membawa tas, hanya kunci mobil yang ia putar-putar di jarinya. Wajahnya tampak sangat prihatin, sebuah akting yang telah ia latih dengan sempurna di depan cermin sebelum berangkat sekolah.
"Aku denger soal olimpiade itu. Aku bener-bener minta maaf ya, Lu. Aku nggak nyangka Pak Guru bakal sekejam itu cuma karena kamu nemenin aku semalam," ucap Arlan sambil membawa Lulu ke area belakang gedung sekolah yang sepi.
Lulu menggeleng lemah, air matanya mulai menetes lagi. "Bukan salah kamu, Arlan. Aku yang nggak bisa bagi waktu."
Arlan tersenyum di dalam hati. Bagus, pikirnya. Teruslah menyalahkan dirimu sendiri.
"Sebenernya ada bagusnya juga kamu keluar dari tim itu, Lu," Arlan mengusap air mata Lulu dengan ibu jarinya. "Kamu tahu nggak? Di kelas dua belas, anak-anak olimpiade itu sering dijuluki 'robot'. Mereka nggak punya kehidupan, nggak punya temen, dan biasanya bakal dibuang sama lingkungan karena terlalu sombong sama kepinteran mereka. Aku nggak mau kamu berakhir kayak gitu."
Lulu menatap Arlan bingung. "Tapi aku suka belajar, Arlan..."
"Belajar itu boleh, tapi jangan jadi obsesi yang bikin kamu kelihatan... aneh," Arlan sengaja menekankan kata 'aneh'. "Kamu liat Sisil? Dia pinter, tapi dia sendirian kan? Dia nggak punya siapa-siapa. Aku nggak mau kamu jadi 'Sisil kedua'. Aku mau kamu jadi pacar Arlan Wiraguna yang asyik, yang bisa diajak nongkrong, bukan yang cuma bahas pembelahan sel tiap hari."
Arlan kemudian mengeluarkan sebuah kertas dari sakunya. "Nih, buat hiburan. Malam ini geng aku mau ngerayain kemenangan Reno di pertandingan basket kemarin. Kita bakal kumpul di clubhouse perumahan aku. Kamu harus dateng."
"Malam ini? Tapi aku ada tugas—"
"Tugas lagi? Lu, kamu baru aja kehilangan olimpiade karena terlalu 'sibuk', masa kamu mau kehilangan momen sama aku juga?" suara Arlan mendadak dingin, memberikan tekanan psikologis yang sudah Lulu kenali. "Atau kamu emang lebih suka sendirian di kamar ngerjain soal-soal yang udah nggak guna itu?"
Lulu menelan ludah. Rasa takut akan kehilangan Arlan jauh lebih besar daripada rasa lelahnya. "Iya, aku dateng, Arlan."
Malam itu, di clubhouse mewah yang bising dengan musik EDM, Lulu merasa seperti alien. Ia memakai baju paling bagus yang ia punya—sebuah terusan sederhana yang menurutnya sopan—namun di mata geng Arlan, ia terlihat seperti anak kecil yang tersesat di pesta orang dewasa.
Arlan duduk di sofa utama, dikelilingi oleh Reno, Gani, dan Shinta. Saat Lulu masuk, Shinta langsung tertawa tertahan sambil membisikkan sesuatu ke telinga Reno.
"Eh, sang juara kita dateng!" seru Reno dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Gimana, Lu? Rasanya jadi orang biasa setelah dicoret dari daftar jenius?"
Lulu hanya tersenyum kaku, ia duduk di kursi kecil di pojokan, tidak berani mendekat ke sofa utama. Namun Arlan menarik tangannya, memaksa Lulu duduk di sampingnya, tepat di tengah kerumunan mereka.
"Jangan di situ, Sayang. Kamu kan 'ratu' aku malam ini," ucap Arlan manis. Ia kemudian menoleh ke teman-temannya. "Eh, kalian tahu nggak? Biarpun dia udah nggak ikut olimpiade, otaknya masih encer banget lho. Tadi siang dia ngerjain tugas Fisika gue cuma dalam lima belas menit."
"Ah masa? Coba buktiin," tantang Gani. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dan membuka sebuah aplikasi kuis logika yang sedang tren. "Coba lo kerjain ini, Lu. Kalau lo beneran jenius, lo pasti bisa selesain dalam dua menit."
Lulu menerima ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia mencoba fokus, namun lampu yang berkedip-kedip dan suara musik yang memekakkan telinga membuatnya sulit berpikir. Kepalanya mulai berdenyut sakit.
"Ayo, Lu! Jangan malu-maluin Arlan," desak Shinta sambil menyalakan stopwatch di ponselnya.
Lulu berusaha keras, namun matanya yang lelah karena menangis seharian membuat angka-angka di layar tampak kabur di balik kacamata tebalnya. Waktu terus berjalan.
"Sepuluh detik lagi... lima... empat... tiga... dua... satu! Habis!" teriak Reno.
Lulu gagal menyelesaikan kuis itu tepat waktu. Hening sejenak, lalu tawa meledak di ruangan itu.
"Yah! Katanya jenius? Ternyata kalau nggak ada buku di depan mata, otaknya lemot juga ya," ejek Gani sambil mengambil kembali ponselnya.
Arlan tidak membela. Ia justru tertawa paling keras, namun sambil merangkul bahu Lulu. "Tuh kan! Aku bilang juga apa, kamu itu jangan terlalu maksa jadi pinter. Liat, sekarang kamu malah kelihatan bego di depan temen-temen aku. Makanya, mending kamu biasa-biasa aja, biar nggak sakit hati kalau gagal."
Lulu merasa hatinya seperti diiris sembilu. Arlan menjadikannya tontonan, merendahkan kepintarannya di depan orang lain, namun tetap berakting seolah dia sedang "memberi nasihat". Lulu merasa dirinya benar-benar tidak punya apa-apa lagi. Kepintarannya ternyata hanyalah lelucon, dan Arlan adalah satu-satunya orang yang masih mau menerimanya meskipun dia "bego".
Setelah pesta selesai, Arlan mengantar Lulu pulang. Di dalam mobil, suasana hening. Lulu menatap keluar jendela, air mata mengalir tanpa suara di balik kacamatanya.
"Lu, kamu jangan masukin ke hati omongan Reno tadi ya," ucap Arlan sambil tetap fokus menyetir. "Mereka cuma bercanda. Tapi kamu harus sadar satu hal, kepintaran kamu itu nggak ada artinya di dunia luar kalau kamu nggak punya relasi. Makanya, dengerin apa kata aku. Mulai besok, kurangi waktu belajar kamu. Fokus buat tampil lebih 'nyambung' sama aku."
"Tapi Arlan... belajar itu satu-satunya hal yang aku bisa..."
"Enggak, Lu. Satu-satunya hal yang kamu punya itu aku," Arlan menghentikan mobil di depan rumah Lulu, ia menatap Lulu dengan intensitas yang menakutkan. "Hanya aku yang mau nemenin kamu pas kamu gagal tadi. Hanya aku yang nggak malu bawa kamu ke pesta meskipun kamu nggak bisa jawab kuis simpel tadi. Kamu harusnya bersyukur, bukan malah nangis."
Lulu mengangguk pelan, ia merasa sangat kecil di bawah tatapan Arlan. "Makasih, Arlan. Maafin aku ya karena udah bikin kamu malu tadi."
"Ya udah, masuk sana. Besok aku jemput jam tujuh. Dan inget, jangan bawa buku paket lagi ke mobil aku. Aku nggak suka bau kertas lama di mobil aku," perintah Arlan dingin.
Lulu turun dari mobil dengan langkah gontai. Ia masuk ke kamarnya yang gelap dan melihat tumpukan buku biologinya yang kini terasa seperti sampah. Ia teringat Sisil. Sisil pasti akan marah jika melihat Lulu diperlakukan seperti itu. Tapi Sisil sudah tidak ada. Arlan benar-benar telah membangun tembok yang sempurna.
Di sisi lain, Arlan yang sudah kembali ke jalan raya, segera menelepon Reno lewat speaker mobilnya.
"Gila, Lan! Muka dia pas gagal kuis tadi bener-bener kocak parah! Gue hampir nggak tahan pengen ketawa lebih keras," seru Reno dari seberang telepon.
Arlan menyeringai puas, tangannya mengetuk-ngetuk setir mobil mewah itu mengikuti irama musik. "Gue sengaja bikin dia ngerasa otaknya tumpul. Biar dia nggak punya rasa percaya diri lagi. Kalau dia ngerasa dirinya bodoh, dia nggak akan pernah berani ninggalin gue, segila apa pun gue perlakuin dia."
"Lo bener-bener iblis, Lan. Terus rencana besok apa?"
"Besok gue bakal bikin dia benci sama pelajarannya sendiri. Gue bakal bikin dia ngerasa kalau buku-buku itu adalah penyebab semua masalah di hidupnya. Target penghancuran mental: 70 persen selesai."
Arlan mematikan telepon dengan perasaan menang yang mutlak. Ia tidak hanya mencuri masa depan Lulu, ia sedang mencuri identitas gadis itu. Ia sedang mengubah seorang jenius berusia 15 tahun menjadi seorang budak emosional yang tidak berdaya, semuanya demi sebuah taruhan