NovelToon NovelToon
Possessive CEO: Sweet Obsession

Possessive CEO: Sweet Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:19k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Tania Santoso adalah gadis polos yang hidupnya sederhana—hingga ia masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan. Dunia milik Hans Lesmana.
Di mata publik, Hans dikenal sebagai “Dewa Es” Jakarta—pria dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tidak ada yang berani mendekat, apalagi melawan.
Namun bagi Tania, ia adalah badai yang memenjarakannya—lembut sekaligus berbahaya, dingin namun membakar.
“Dek… tarik napas dulu,” bisiknya rendah di telinga Tania, suaranya serak menahan sesuatu yang lebih gelap.
“Kamu terlalu manis… sampai aku tidak bisa berhenti.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Kecupan Lembut di Pergelangan Tangan

​"Tangan mana yang menyentuhnya?" Suara Hans terdengar tenang tanpa riak, namun membawa ancaman yang begitu dingin hingga menusuk ke tulang.

​Adrian tidak lagi memiliki sisa-sisa kesombongan. Tubuhnya gemetar hebat seperti sedang menggigil, air mata dan ingus mengalir di wajahnya saat ia memohon ampun:

​"Saya salah! Saya benar-benar salah! Saya tidak mengenali siapa Tuan! Tolong, ampuni saya, lepaskan saya kali ini saja! Saya tidak akan berani melakukannya lagi!"

​Melihat Adrian tidak memberikan jawaban langsung, kesabaran Hans habis. Ia berkata dingin kepada kepala pengawal di sampingnya, "Kedua tangannya, buat cacat."

​"Baik, Tuan Hans."

​Adrian membelalakkan mata karena ngeri, mengeluarkan jeritan melengking seperti babi yang hendak disembelih: "Tidak! Jangan! Ayahku adalah..."

​Kata-katanya terputus.

​Kepala pengawal itu berjalan perlahan menghampirinya, mengangkat kaki, dan menginjak dengan keras lengan yang tadi mencengkeram Tania.

​"Krak!" Suara patahan tulang yang renyah terdengar sangat jelas di tengah bisingnya musik latar klub, bahkan menelan suara musik itu selama sepersekian detik.

​Adrian mengeluarkan teriakan memilukan yang tidak lagi terdengar seperti suara manusia, tubuhnya mengejang hebat. Sang pengawal tetap tanpa ekspresi, mengangkat kakinya lagi, beralih ke lengan satunya yang masih utuh, dan menghentaknya sekali lagi.

​"Krak!" Suara kedua terdengar.

​Adrian langsung pingsan karena rasa sakit yang luar biasa. Rekan-rekan preman lainnya sudah sangat ketakutan hingga ada yang mengompol di celana, bersujud sambil memohon ampun hingga bau pesing yang menyengat mulai memenuhi udara.

​"Bersihkan ini," perintah Hans acuh tak acuh, suaranya diwarnai sedikit rasa muak.

​"Siap!" Kepala pengawal melambaikan tangan, dan beberapa anak buahnya segera menyeret Adrian yang setengah mati beserta rekan-rekannya keluar seperti menyeret bangkai anjing.

​Mereka mengira ini adalah akhir dari penderitaan fisik mereka, namun mereka tidak tahu bahwa siksaan yang sesungguhnya—yang jauh lebih buruk daripada kematian—baru saja dimulai. Di dalam 'Heaven on Earth', tidak ada yang berani menyentuh orang-orang Hans; jika mereka nekat melakukannya, mereka harus membayar harganya seratus atau seribu kali lipat.

​Kerumunan orang sudah bubar, namun Hans masih memeluk Tania dengan erat. Sosoknya yang tinggi besar benar-benar menyelimuti gadis itu. Aura kekerasan yang mengerikan tadi telah lenyap, menyisakan hanya rasa kasih sayang yang mendalam terhadap orang di dekapannya.

​Hans menundukkan kepala, bibirnya yang hangat mendarat lembut di puncak rambut Tania, dipenuhi rasa iba dan kelembutan yang tak berujung. Suaranya serak dan penuh penyesalan:

​"Ini salahku. Seharusnya aku menjemputmu lebih cepat. Aku tidak seharusnya membiarkanmu mengalami ketakutan seperti ini."

​Dadanya naik turun sedikit saat ia berusaha menekan emosinya. Ia mempererat pelukannya, seolah ingin menyatukan Tania ke dalam tulang dan darahnya sendiri. Tangannya yang lain terus menepuk punggung tipis Tania dengan lembut, memberikan kenyamanan dan kekuatan tanpa suara.

​Ia bisa merasakan ujung jarinya sedikit bergetar—sisa-sisa dari kemarahan yang ekstrim, yang kini sepenuhnya berubah menjadi rasa peduli.

​Pelukan Hans terasa kokoh dan hangat. Aroma kayu cendana yang akrab dan segar darinya perlahan menenangkan Tania, meresap ke dalam inderanya sedikit demi sedikit dan mengusir sisa ketakutan di hatinya. Tania membenamkan wajahnya di dada pria itu, menyerap aroma yang membawa ketenangan ini hingga sarafnya yang tegang perlahan mulai rileks. Pemandangan mengerikan tadi seolah tertutup rapat oleh dekapan ini.

​Setelah beberapa saat, Tania akhirnya sedikit merenggangkan pelukan dan menengadah menatap Hans. Matanya masih kemerahan, suaranya sedikit serak, namun ia berusaha keras menarik sudut bibirnya untuk tersenyum:

​"Hans... aku sudah tidak apa-apa sekarang, jangan khawatir."

​Hans akhirnya sedikit melonggarkan pelukannya, namun tangannya tetap berada di bahu Tania. Tatapannya memindai wajah gadis itu dengan dalam dan teliti untuk memastikan bahwa dia benar-benar tidak terluka.

​Ia mengangkat pergelangan tangan Tania yang tadi dicengkeram kasar. Di pergelangan tangan yang ramping dan pucat itu, bekas memar kemerahan terlihat sangat jelas. Mata Hans tiba-tiba menajam, dan aura di sekelilingnya kembali mendingin. Bekas merah itu terasa sangat menyakitkan di matanya, membuat hatinya terasa diremas.

​Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menundukkan kepala dan memberikan kecupan lembut satu per satu di atas bekas merah itu. Gerakannya sangat penuh pemujaan dan hati-hati, seolah-olah sedang menyentuh permata yang rapuh.

​Tania terpaku menatap dahi dan mata Hans yang sedang menunduk, bulu matanya yang panjang memberikan bayangan kecil di bawah kelopak matanya.

​Kecupan-kecupan itu terasa sangat ringan. Sentuhan lembut itu mendarat tepat di relung hati Tania, membuat rasa sakit di pergelangan tangannya seolah benar-benar berkurang drastis. Sebagai gantinya, ada sensasi geli dan hangat yang menjalar cepat dari pergelangan tangan ke seluruh tubuhnya, bahkan membuat pipinya mulai terasa panas.

​Pria itu akhirnya mendongak, matanya yang hitam legam menatap langsung ke arah Tania: "Masih sakit?" suaranya membawa nada tegang yang samar.

​Tania secara tidak sadar menggelengkan kepala, suaranya lirih: "Enggak, sudah tidak begitu sakit lagi." Ia bisa merasakan jantungnya berdetak kencang tak terkendali, takut pria itu bisa mendengarnya.

​"Orang-orang itu," ujung jari Hans mengusap lembut bekas merah di pergelangan tangan Tania, nadanya tenang namun membawa hawa dingin yang tak terbantahkan. "Aku akan membiarkan mereka tahu apa akibatnya karena telah menyentuh orangku."

​Tania tidak berusaha membela orang-orang itu. Ia bukan gadis yang naif; orang-orang itu mendapatkan apa yang pantas mereka terima. Jika Hans tidak datang tepat waktu, dialah yang sekarang akan berada dalam posisi terhina.

​Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan sisa guncangan hatinya, lalu tiba-tiba teringat tujuan awal mereka. "Oya, kita kan datang untuk acara kumpul-kumpulnya Yohan." Ia menatap Hans dengan nada ragu. "Apa... apa kita sudah terlalu lama di sini? Bagaimana kalau kita cari mereka?"

​Hans memperhatikan Tania, dan setelah melihat bahwa emosinya memang sudah jauh lebih tenang, ia mengangguk pelan. Ia tidak bicara, hanya mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Tania yang tidak terluka.

​Telapak tangannya luas dan hangat, membawa kekuatan yang menenangkan. Ia membungkus tangan mungil Tania di dalam telapak tangannya, erat namun penuh kasih sayang. Kemudian, jari-jarinya yang panjang menyusup di sela-sela jari Tania, saling bertautan. Keintiman yang tiba-tiba ini membuat jantung Tania mencelos.

​"Ayo jalan." Suara Hans masih terdengar berat, namun tidak lagi setegang sebelumnya.

​Ia membimbing Tania berjalan menuju area ruang VIP mewah di ujung lorong. Cahaya klub yang remang-remang memantul di profil wajah Hans yang tegas. Tania menyadari bahwa langkah kaki Hans sangat lambat; setiap langkahnya seolah disesuaikan dengan langkah Tania agar gadis itu bisa berjalan dengan lebih santai.

​Beberapa pelayan atau tamu lain sesekali berpapasan di lorong. Saat melihat Hans, mereka semua menyingkir dengan hormat dengan tatapan penuh segan. Saat melihat Tania di sampingnya, tatapan mereka jauh lebih kompleks—penuh rasa ingin tahu, spekulasi, dan bahkan beberapa jejak kecemburuan yang samar.

​Tania sedikit mengangkat kepalanya, diam-diam memperhatikan pria di sampingnya. Hans sangat tinggi; Tania perlu mendongak cukup jauh untuk bisa melihat garis rahangnya. Dari sudut ini, bibir tipis pria itu yang terkatup rapat tampak dingin dan keras, namun tangan yang menggenggamnya selalu menyalurkan kehangatan yang nyata.

1
Mxxx
up oi👍
QueenV
suka.. cerita nya bagus
QueenV
suka.. cerita nya bagus
Yunita Linggi Allo
bagus n suka ceritax
Mxxx
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!