NovelToon NovelToon
THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

THE UNOFFICIAL HOUSEMATE

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33. Pecahan Kaca

Lobi apartemen itu seharusnya menjadi saksi bisu rencana manis tentang martabak manis dan obrolan tak bermutu tentang "Iron Man" emas. Namun, dalam sekejap mata, atmosfernya berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Nala melangkah keluar dari lift di lantai unit mereka dengan kaki yang terasa seperti dipasung timah. Setiap langkahnya menggema di lorong sunyi, seirama dengan detak jantungnya yang nyeri.

Di dalam unit 402, Nala tidak menyalakan lampu. Ia membiarkan kegelapan menelan tubuhnya. Ia duduk di lantai ruang tamu, bersandar pada sofa mahal yang dulu pernah mereka pilih bersama dengan penuh perdebatan sengit. Keheningan apartemen ini biasanya terasa menenangkan, tapi malam ini, kesunyian itu terasa seperti ejekan.

"Goblok, Nala. Goblok banget," umpatnya pada diri sendiri.

Suaranya pecah. Air mata yang sejak tadi ia bendung di lobi kini luruh tanpa permisi. Ia teringat bagaimana beberapa jam lalu di Dago, ia merasa seperti ratu. Ia teringat tatapan Saga yang melunak, genggaman tangannya yang hangat, dan janji-janji tak terucap yang ia baca di mata pria itu. Ternyata, semua itu hanyalah lapisan gula di atas racun yang sangat pahit.

Baginya, pelukan Sarah tadi bukan sekadar pelukan biasa. Itu adalah deklarasi kepemilikan. Sarah tidak perlu bicara; bahasa tubuhnya sudah cukup untuk mengatakan bahwa ia punya tempat yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh gadis "keripik micin" seperti Nala.

Di bawah, di lobi yang masih mencekam, Saga berdiri kaku seperti patung. Ia baru saja melepaskan cengkeraman Sarah dengan kasar hingga wanita itu terhuyung.

"Pergi, Sarah," desis Saga. Suaranya rendah, berbahaya, dan penuh dengan kebencian yang selama ini ia pendam. "Jangan pernah lagi menginjakkan kaki di area pribadiku. Kehancuran rumah tanggamu bukan tanggung jawabku."

"Saga, kamu berubah!" Sarah berteriak, suaranya melengking di lobi yang sepi. "Kamu bukan Saga yang dulu selalu menjagaku! Kamu sudah terpengaruh oleh gadis kampung itu, kan? Dia tidak level denganmu, Saga! Dia hanya benalu!"

Saga tertawa sinis, tawa yang tidak sampai ke mata. "Dia mungkin makan keripik micin dan bicara sembarangan, tapi dia punya satu hal yang tidak pernah kamu miliki, Sarah. Dia punya ketulusan. Sekarang pergi, sebelum aku benar-benar memanggil polisi untuk menyeretmu."

Tanpa menoleh lagi, Saga berlari menuju lift. Pikirannya hanya satu: Nala. Ia tahu Nala adalah tipe gadis yang lebih memilih lari daripada harus terlihat lemah. Dan ia tidak boleh membiarkan itu terjadi.

Begitu pintu unit 402 terbuka, Saga disambut oleh kegelapan yang pekat. Hidungnya menangkap aroma parfum Nala yang masih tertinggal, bercampur dengan udara dingin AC. Ia melihat bayangan tubuh Nala yang meringkuk di lantai dekat sofa.

"Nala..." panggilnya lirih.

Nala tidak bergerak. "Mas keluar aja. Urusin Sarah. Dia lagi butuh Mas, kan? Dia cinta pertama Mas, kan?"

Saga mendekat, berlutut di depan Nala. Ia ingin menyentuh bahu gadis itu, tapi Nala menepisnya dengan kasar.

"Jangan sentuh aku pakai tangan yang tadi meluk dia, Mas! Bau parfumnya masih nempel di jas Mas!" teriak Nala. Kali ini ia mendongak, menunjukkan wajahnya yang sembap dan berantakan. "Tadi di Dago, aku pikir kita punya harapan. Aku pikir H-7 ini bakal jadi beneran. Tapi aku lupa, aku ini cuma pemeran pengganti yang Mas sewa buat bikin Papa Mas seneng."

"Nala, dengar saya dulu—"

"Dengar apa? Dengar kalau Mas sebenernya masih sayang sama dia? Dengar kalau Mas kasihan liat dia nangis? Mas, aku mungkin nggak berkelas kayak dia, tapi aku punya harga diri! Aku nggak mau jadi pelampiasan atau sekadar tameng buat Mas sembunyi dari masa lalu!"

Saga terdiam. Kata-kata Nala menghantamnya tepat di ulu hati. Memang benar, awalnya ia menggunakan Nala sebagai tameng. Tapi sekarang? Segalanya sudah berubah. Namun, bagaimana ia bisa meyakinkan Nala di saat bayangan pelukan tadi masih begitu segar?

"Tangan saya tadi naik bukan karena saya masih sayang padanya," suara Saga bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi. "Itu adalah refleks dari sisa-sisa rasa bersalah karena saya membiarkannya pergi dulu. Tapi saat saya menyentuhnya, saya sadar... saya tidak merasakan apa-apa, Nal. Kosong. Justru saat itu, yang ada di kepala saya adalah kamu. Saya takut kamu terluka, dan ternyata ketakutan saya jadi kenyataan."

Nala tertawa getir. "Basi, Mas. Teori itu basi banget."

Nala berdiri dengan susah payah, berjalan menuju kamarnya. Ia menarik koper dari bawah lemari dengan gerakan kasar. Suara seretan koper itu terdengar seperti suara petir di telinga Saga.

"Kamu mau ke mana?" tanya Saga, suaranya meninggi karena panik.

"Pulang. Ke tempat asalku. Ke tempat di mana nggak ada drama mantan istri orang, nggak ada jas emas, dan nggak ada Mas Saga yang membingungkan," Nala mulai memasukkan baju-bajunya secara acak. Ia tidak peduli jika baju-baju itu kusut. Hatinya sudah jauh lebih kusut.

Saga menahan tangan Nala, menghentikan gerakannya. "Kamu tidak bisa pergi begitu saja. Kita punya kontrak. Kita punya janji pada orang tua kita!"

"Persetan sama kontrak itu! Mas bisa bayar aku buat batalin semuanya, kan? Mas kaya, Mas punya segalanya!" Nala meronta, mencoba melepaskan tangannya. "Lepasin, Mas! Sakit!"

"Saya tidak akan lepasin!" Saga balik membentak, membuat Nala terdiam karena terkejut. "Kamu pikir saya cuma peduli soal kontrak? Kamu pikir saya cuma peduli soal apa kata Papa? Nala, saya nggak pernah membiarkan perempuan manapun masuk ke unit ini, apalagi tinggal di sini selama berbulan-bulan, kalau saya tidak... kalau saya tidak membiarkan kamu masuk ke hidup saya!"

Nala menatap mata Saga. Di sana, ia melihat kemarahan, tapi juga ada kerapuhan yang mendalam. Saga, pria yang selalu terlihat sempurna dan tak tersentuh, kini tampak seperti seorang anak kecil yang takut kehilangan mainan paling berharganya.

"Mas... Mas bilang apa tadi?" bisik Nala.

Saga menghela napas panjang, melepaskan tangan Nala dan justru menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Kali ini, ia tidak ragu. Ia memeluk Nala begitu erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, Nala akan menguap menjadi asap.

"Saya mencintai kamu, Nala. Dengan segala keripik micinmu, dengan segala suara berisikmu saat makan seblak, dan dengan segala ketidakteraturanmu yang merusak hidup saya yang membosankan," ucap Saga tepat di telinga Nala. "Sarah itu masa lalu yang menyakitkan, tapi kamu... kamu adalah masa kini yang ingin saya perjuangkan sampai besok, lusa, dan selamanya."

Nala terpaku. Jantungnya berdegup kencang, kali ini bukan karena amarah, melainkan karena pengakuan yang tidak pernah ia sangka akan keluar dari mulut seorang Saga yang kaku. Ia ingin percaya, sungguh ingin percaya. Tapi rasa perih di hatinya belum sepenuhnya hilang.

Nala melepaskan diri dari pelukan Saga perlahan. Ia menatap wajah pria itu lama. "H-7, Mas. Dalam tujuh hari, kita bakal beneran terikat. Mas yakin nggak bakal nyesel kalau suatu saat Sarah datang lagi dengan tangisan yang lebih hebat?"

Saga mengambil tangan Nala, mencium telapak tangannya dengan lembut. "Tujuh hari atau tujuh puluh tahun, pilihan saya tetap kamu. Dan kalau dia datang lagi, saya pastikan dia tidak akan bisa melewati pintu lobi, karena hidup saya sudah penuh sesak oleh kamu."

Nala menunduk, menatap kopernya yang terbuka separuh. Ia lalu menendang koper itu hingga tertutup kembali. "Oke. Tapi Mas harus beli martabak manisnya dua porsi sekarang juga. Aku butuh asupan gula buat netralin racun di hati aku."

Saga tersenyum, senyum tulus yang benar-benar sampai ke matanya. "Apapun untuk calon istri saya."

Namun, di saat suasana mulai mencair, ponsel Saga yang tergeletak di lantai bergetar lagi. Sebuah panggilan dari nomor tak dikenal. Begitu Saga mengangkatnya, suara di seberang sana membuat wajahnya kembali memucat.

"Saga... ini Ibu Sarah. Sarah... dia mencoba mengakhiri hidupnya setelah pulang dari tempatmu. Dia sekarang di UGD."

Dinamit itu tidak meledak di unit 402. Ia meledak di tempat lain, namun serpihannya tetap menghujam tepat ke jantung hubungan Saga dan Nala yang baru saja mencoba sembuh.

Nala melihat perubahan ekspresi Saga dan tahu bahwa ketenangan ini hanya berlangsung selama lima menit. Badai yang lebih besar baru saja dimulai.

1
Calisa
alurnya berubah drastis banget ya untuk bab ini. tiba2 muncul papanya saga yg dari awal bab nggak pernah dibahas. ibu Sofia sama eyang Utari malah hilang
Calisa
sweet banget sagaaa 🤧♥️
Calisa
agak aneh ya. tadi kan Nala udah ngobrol sama saga di dapur, kenapa jadi baru keluar kamar
Calisa: oohh gitu ya kak. pantes ceritanya agak2 gak sinkron antara 1 adegan sama yg lain..
semangat ya kaa. aku suka sama tulisanmu, gaya bahasanya. sayang banget cerita ini belum banyak yg baca. padahal dari segi penulisan, beda sama yg lain.
total 2 replies
Calisa
loh bukannya eyang Utari udah pernah ketemu Nala ya pas makan di rumah saga?
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.
Senja_Puan: terima kasih banyak kakak sayang... Auto langsung revisi
total 1 replies
Calisa
wkwkwk.. pengangguran nya harus elit dong mas 🤣🤣
Calisa
nah bener ini. jadi diri sendiri aja.. good Nala
Calisa
kalau bohongnya totalitas begini pas ketahuan malu banget
Calisa
walah walaah.. jangan2 ibunya saga nih
Calisa
😂😂😂
Calisa
wkwk.. pertemuan pertamanya epic banget ya 🤣
Calisa
bisa langsung switch mode 😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!