Reina Wulandari,seorang gadis yang terpaksa harus menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sang nenek. Dia anak yang pintar namun sayang kepintarannya tidak dia manfaatkan dengan baik dan justru harus terjerumus ke dalam hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Bagaimana kisahnya mari ikuti ceritanya.
( Hanya cerita fiktif belaka jadi tolong jangan hina karyaku ya 🙏 tolong komentar dengan bijak dan ambil hal yang baik saja ).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KheyraPutri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Cerai
" Mama nggak pingin pisah dari dulu karena mama nggak mau nyusahin kamu nak." Ucap Rita yang kembali terisak.
" Mama tanggung jawab Bram jangan mikir mama bikin Bran susah...lebih baik mama lepaskan papa dari pada mama menderita." Ucap Bramasta yang juga ikut meneteskan air matanya.
Rita mengurai pelukannya dan melihat anaknya yang juga menangis. Ia menghapus air matanya Bramasta dengan tersenyum.
" Kalau begitu mama nurut apa kata kamu nak,mama sayang sama kamu mama nggak mau kamu ikut sedih." Ucap Rita lembut.
" Secepatnya mama minta cerai sama papa terus kita tinggal di sini aja biarin aja papa ambil rumah itu, Bram juga sudah punya perusahaan kecil-kecilan." Ucap Bramasta. " Kita obati dulu ya luka mama." Bramasta beranjak pergi mengambil kotak obat lalu membuka kotak obat untuk membersihkan luka ibunya lalu memberikan salep.
" Makasih sayang." Ucap Rita setelah Bramasta selesai membersihkan lukanya dan membereskan kotak obatnya.
" Mama mau makan apa biar Bram pesankan makan." Tanya Bramasta.
" Terserah kamu aja nak,di sini nggak ada bahan makanan memangnya?" Tanya Rita.
" Nggak ada ma,kan Bram sudah lama nggak tinggal di sini." Jawab Bramasta yang berlalu mengambil ponselnya yang berada di dalam jas kerjanya.
" Oh iya mama lupa,mama tidur di mana nak nanti?" Tanya Rita berdiri sambil mengelilingi apartemen anaknya karena Rita baru kali ini melihat dalam apartemen Bramasta. Ia cuma tau anaknya tinggal di sini dan belum pernah ke sini.
" Di kamar tamu ,di kamar Bram juga boleh ma biar Bram tidur di kamar tamu." Jawab Bramasta setelah kembali habis memesan makanan lewat ponselnya.
" Kalau gitu Bram mandi dulu ya ma,kalau mama mau istirahat terserah mama mau di mana." Ucapnya lalu pergi masuk ke kamarnya.
***
Di toko bunga Reina sedang mengobrol dengan pemilik toko yang kebetulan sedang ikut berjaga di toko.
" Jadi kamu masih sekolah ?" Tanya pemilik toko.
" Iya buk, kalau boleh saya ingin melamar kerja part time Bu" Jawab Reina sopan.
" Tapi saya mau cari yang bisa full kerja di sini." Ucap pemilik toko bingung.
" Saya mohon Bu,saya butuh banget pekerjaan Bu...nenek saya sedang koma di rumah sakit saya butuh biaya untuk melunasi hutang saya." Ucap Reina sangat memohon dengan mata yang berkaca-kaca karena ingat dengan neneknya.
" Ya sudah, berhubung pekerja saya yang bagian kirim-kirim sedang pulang dan toko ramai kamu boleh kerja di sini mulai besok." Ucap pemilik toko setelah berpikir-pikir.
" Ini beneran Bu ?" Tanya Reina memastikan.
" Iya besok habis pulang sekolah kamu langsung ke sini ya." Ucap pemilik toko itu tersenyum.
" Ya Allah makasih banyak ya buk, makasih... Reina akan bekerja giat besok buk." Ucap Reina bersemangat.
" Iya..." Pemilik toko itu tersenyum melihat Reina yang begitu antusias.
" Kalau begitu saya pulang ya buk,besok saya akan ke sini sehabis pulang sekolah." Reina yang berdiri dan berpamitan ke pemilik toko bunga." Makasih buk, saya pamit pulang." Ucap Reina menyalami tangan pemilik toko.
" Iya hati-hati di jalan ya." Ucap pemilik toko mengantarkan Reina sampai teras rumah.
Reina pun langsung pulang ke rumah setelah melamar pekerjaan tadi. Sepanjang perjalanan senyuman Reina terus terukir di bibir.
" Semoga pekerjaan ini bisa menyicil hutangku ke kak Bram ya Allah... aku nggak mau kerja kotor lagi." Di perjalanan Reina bermonolog sendiri.
Sesampainya di rumah Reina pun langsung membersihkan dirinya terlebih dahulu dan menuju dapur untuk memanasi sup yang tadi siang dari bi Sumi.
Sesudah memanasi sup Reina pun memasak nasi untuk makan malam nanti. Hari ini ia sendirian karena tadi Shasa sudah bilang tidak bisa menemani nanti malam.
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu di ketuk. Reina langsung menuju ke teras depan dan membuka pintu ada seorang kurir membawa kotak tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
" Iya cari siapa pak ?" Tanya Reina sopan.
" Apa benar ini rumah Reina ?" Tanya kurir itu ramah.
" Iya benar,ada apa pak ?" Tanya Reina yang bingung karena dia tidak memesan online.
" Ini ada kiriman dari mas Ryan." Jawab kurir itu memberi tau.
" Ryan ?" Gumam Reina lirih namun menerima kotak itu dari tukang kurir. " Makasih pak." Ucap Reina setelah menandatangani surat terima.
" Sama-sama,Kalau begitu saya permisi" Ucap kurir itu berlalu pergi meninggalkan pelataran rumah Reina.
Dengan bingung dan penasaran apa isi kotak itu Reina masuk lagi ke dalam rumah dengan membawa kotak itu.
Sampai di meja makan Reina menaruh kotak itu dan membukanya.
Sebuah Hoodie warna biru muda. Ada secarik kertas di dalamnya. ' Belum waktunya ultah tapi aku nggak mau lupa terus jadi yang terakhir. Happy birthday Reina...semoga harimu selalu cerah seperti awan biru. Maaf aku bingung mau ngasih kamu apa hanya terpikirkan itu di otakku karena kamu paling suka pakai Hoodie. Semangat terus ya'. Begitu isi dari kertas itu.
Reina tersenyum membaca surat itu. Ia pun meneteskan air matanya terharu karena Ryan tidak pernah lupa dengan ultahnya.
Ryan tetap baik dan perhatian terhadapnya padahal sudah berkali-kali dia menolaknya. Reina menganggap Ryan sebagai kakaknya sendiri. Karena hubungan pertemanannya cukup lama hampir 6 tahun karena mereka bareng sejak SMP.
Reina mengambil ponselnya lalu mengirim pesan ke Ryan.
[ Reina : Makasih ya kak...aku suka hadiahnya,selalu jadi yang pertama ingat dan ngucapin ] . Isi pesan Reina dengan emoticon tertawa.
Tidak lama Ryan pun membalas pesan dari Reina. Entah memang menunggu atau sedang memegang ponsel.
[ Ryan : iya sama-sama...hehe aku nggak mau kalah cepat Re,harus paling utama ]. Balas Ryan dengan emoticon tertawa juga.
[ Reina : Iya deh...itu harus ya karena sudah dari dulu seperti itu ].
[ Ryan : Iya dong... Udah makan malam belum ? ].
[ Reina : Bentar lagi kak nungguin nasinya matang ].
[ Ryan : Mau aku kirim makanan aja ? Tadi belum sama kuenya. Besok nyusul ya ]. Balas Ryan dengan emoticon meringis.
[ Reina : Nggak usah kak udah mateng ni...ya Allah nggak ada kue juga nggak papa kak aku juga nggak minta. Lagian nggak ada temennya makan kayak tahun lalu kak ].
Reina menaruh ponselnya di meja. Ia pun memindai setiap sisi rumah yang begitu sepi. Biasanya selalu rame bercanda dengan neneknya. Tak terasa air mata Reina luruh begitu saja. Ia begitu rindu dengan neneknya.
Dengan langkah pelan Reina masuk ke kamar neneknya dan duduk di pinggir ranjang. Dia mengusap bantal milik neneknya. Di meja dekat ranjang ada sajadah,mukena dan tasbih. Reina mengambil mukena neneknya dan memeluknya.
Ia menangis sesenggukan mengingat keadaan neneknya. Mengingat masa-masa bersama neneknya. Reina tidur di pinggir ranjang neneknya sambil memeluk mukena neneknya dan masih menangis tersedu-sedu. Saking lamanya ia menangis dia pun terlelap di kamar neneknya.
--->>>