“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”
Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.
Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.
Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keintiman yang Tertunda di Pelukan Senja
Waktu Isya telah usai. Tamu yang ditunggu, yang seluruhnya adalah laki-laki, para rekan Pak Wijaya yang tak sempat datang, akhirnya tiba dan kini telah berkumpul di ruang tamu. Kinanti ikut serta membantu di dapur sejenak sebelum meminta izin untuk kembali ke kamarnya.
CEKLEK!
"Mas?" panggil Kinanti saat memasuki kamar.
Aditya tampak berdiri di depan cermin full body di kamar Kinanti. Gadis cantik yang kini mengenakan gamis itu terdiam, terpesona melihat betapa tampannya sang suami.
"Ya, Sayang," jawab Aditya, menolehkan wajahnya. Ia tersenyum lembut menatap sang istri yang terpaku di ambang pintu.
"Kenapa diam di situ? Sini, masuk," ucap Aditya.
Kinanti yang tadinya bengong jadi salah tingkah. Dengan perlahan, ia masuk ke dalam kamarnya tanpa menutup pintu sepenuhnya.
"Sudah siap, ya? Kukira Mas masih bersiap-siap," ucap Kinanti.
Suara lembut istrinya terasa begitu candu bagi Aditya. Ia sudah siap, mengenakan pakaian yang sudah disiapkan sang istri membuatnya tampak semakin gagah. Kinanti mendongak, menatap pahatan rupawan itu.
Kini, sepasang pengantin baru itu mengenakan pakaian yang serasi Kinanti dengan gamis biru muda lengkap dengan hijab warna senada, dan Aditya dengan kemeja lengan panjang berwarna senada dipadukan celana kain hitam, tampak pas membalut tubuh tinggi kekarnya. Karena tamu kali ini rekan Pak Wijaya, sepasang pengantin baru memilih pakaian yang lebih sopan.
"Tamu sudah pada hadir. Yuk, kita keluar," ajak Kinanti.
Aditya mengangguk. Kinanti hendak berbalik, namun urung ketika pinggangnya ditahan. Tubuhnya ditarik dan berbalik menghadap Aditya.
CUP!
Bibir Kinanti yang sudah dipoles riasan tipis dan lip balm tampak ranum dan lembap, sangat menggoda untuk dikecup Aditya.
"Mas?" panggil Kinanti, menahan.
"Sebentar saja," pinta Aditya.
"Nanti riasanku belepotan," cegah Kinanti, takut Aditya kebablasan. Ia menatap sang suami yang masih menatapnya lekat. Tak tega, Kinanti mencium sekilas lebih dulu bibir seksi suaminya.
"Masih ingat janjiku nanti malam?" tanya Kinanti, mengingatkan.
Wajah Aditya yang tadinya mendung sontak berganti cerah seketika. Seulas senyum pun terbit di bibirnya.
"Hampir saja lupa. Iya, baiklah, Mas coba sabar sampai nanti acara selesai," ucap Aditya. Kinanti ikut tersenyum.
"Janji, tahan dulu, ya," ucap Kinanti.
"Iya, Sayang," balas Aditya lembut dan mesra.
"Tapi, cium pipi boleh, dong?" pinta Aditya.
"Mas..." lirih Kinanti.
CUP!
Aditya sudah mengecup lama pipinya, membuat Kinanti pasrah. Lengan kekar itu masih mendekap mesra. Tanpa diketahui oleh keduanya, Bu Sarasvati diam-diam mengintip dari balik celah pintu yang terbuka sedikit. Beliau tersenyum geli melihat kemesraan sepasang pengantin baru itu. Ia jadi gemas sendiri.
"Bahagia terus, Nak. Berkah selalu pernikahan kalian," ucap Bu Sarasvati tulus dalam hati.
━═━═━═━═━═━ ❦ ━═━═━═━═━═━
🏠 Kepergian dan Malam yang Ditunggu
Para tamu akhirnya benar-benar pulang tepat pukul 22.00 malam. Bu Sarasvati, Pak Wijaya, dan juga Abyan sudah bersiap akan kembali ke rumah mereka.
"Bu, kenapa tidak menginap saja? Sudah malam sekali ini," cegah Kinanti lembut.
Bu Sarasvati tersenyum lembut. Menantunya ini memiliki pembawaan yang kalem sekali.
"Besok Abyan masih harus sekolah. Belum lagi kami harus menyiapkan acara ngunduh mantu minggu depan. Jadi, kami tetap pulang malam ini. Tidak apa-apa ya, Nak?" ucap Bu Sarasvati, memeluk hangat menantunya.
"Wisnu, saya beserta istri dan putra bungsu pamit. Besok kami mampir lagi ke sini," ucap Pak Wijaya.
"Iya, Juragan. Terima kasih sudah ikut membantu di sini dari pagi. Maaf jadi merepotkan," ujar Pak Wisnu, merasa segan.
Meskipun mereka sudah berbesan, rasa segan Pak Wisnu tetap ada. Bagaimanapun, lelaki paruh baya di depannya ini adalah juragannya.
"Jangan sungkan. Kita berbesan sekarang," ucap Pak Wijaya, tersenyum kecil. Ia menepuk pundak Pak Wisnu layaknya keluarga sendiri.
Pak Wisnu tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. Ia tak pernah menyangka akan berbesan dengan juragannya, dan sama sekali tak menyangka akan ada takdir yang mengejutkan ini. Namun, di satu sisi, Pak Wisnu lega. Ia tak salah melepas Kinanti dengan pria sebaik Aditya. Pak Wisnu bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa besar perjuangan Aditya, dan bagaimana pria itu sangat menjaga juga memanjakan putri semata wayangnya.
Mobil Pak Wijaya berlalu meninggalkan pekarangan rumah sederhana Pak Wisnu. Kinanti melambaikan tangan, setelah itu Pak Wisnu menyuruh pengantin baru itu segera masuk dan beristirahat. Mereka pasti lelah setelah acara seharian tadi, meski tidak besar, tapi cukup melelahkan.
"Kalau butuh apa-apa, panggil Bapak, ya. Bapak di kamar sebelah," ucap Pak Wisnu.
Rumah benar-benar sepi. Para kerabat pun sudah pulang semua. Kini hanya tinggal Kinanti, Aditya, dan Pak Wisnu.
"Iya, Pak," sahut Aditya sopan. Kinanti mengangguk mengiyakan.
CEKLEK!
Pintu kamar Pak Wisnu tertutup rapat. Aditya dan Kinanti, yang kini berdiri di depan kamar tidur mereka, saling berpandangan mesra.
"Ayo," kode Aditya, tersenyum nakal dan penuh maksud.
Kinanti mengulum senyum geli. *Masih ingat saja ternyata,* batin Kinanti.
"Aku ke kamar mandi dulu. Aku harus buang air kecil, Mas," ujarnya.
Aditya melihat sang istri yang ingin berlalu. Dengan sigap, ia menahan lengan Kinanti. Kinanti menoleh ke sang suami.
"Tidak ada alasan lagi, Sayang. Malam ini..." ucapnya menggantung.
Kepala gadis itu menggeleng, berpura-pura tidak menyangka.
"Aku tidak lupa, Mas. Ini benar-benar harus buang air kecil. Sebentar, ya," ucap Kinanti, melepaskan cekalan di tangannya. Kinanti bergegas masuk ke dalam, menuju kamar mandi. Panggilan alam sudah tidak tertahankan.
Aditya menatap sang istri dengan penuh perhatian. Ia bahkan tak masuk ke kamar, memilih menunggu istrinya di depan kamar saja. Lima belas menit kemudian, Kinanti kembali dari kamar mandi. Gadis cantik itu sudah melepaskan kerudungnya. Ia memandang sang suami yang menunggunya di depan kamar.
"Kenapa tidak masuk kamar, Mas?" tanya Kinanti lembut.
"Sudah selesai buang airnya?" tanya Aditya balik.
Kinanti mengangguk. Aditya pun menggiring sang istri masuk ke dalam kamar.
CEKLEK!
Pintu kamar Kinanti akhirnya tertutup dan terkunci rapat. Aditya membalikkan badannya, tepat di belakangnya Kinanti sudah tersenyum.
"Sayang," panggil Aditya.
Pria tampan itu mulai mendekat.
"Ya, Mas?" sahut Kinanti pelan.
"Sekarang, ya," ucap Aditya. Sepasang tangan kekar sudah mendekap pinggang Kinanti.
"Mas, memangnya tidak capek?" Kinanti, dengan mata indahnya, menatap lekat suami tampannya itu.
"Tidak ada kata capek kalau sama kamu," balas Aditya berbisik lirih. Ia takut-takut jika sang mertua mendengar, karena kamar Pak Wisnu tepat di samping kamar Kinanti.
Sang istri terkekeh kecil mendengarnya.
"Tapi di kamar sebelah ada Bapak, Mas. Tidak malu kalau misal kedengaran?" tanya Kinanti, lagi-lagi menggoda.
*Benar juga,* batin Aditya, tampak menimbang-nimbang.
"Tapi aku ingin, Sayang," ungkapnya tanpa basa-basi.
Wajah Aditya memelas, membuat Kinanti jadi gemas. Manik indah Kinanti mulai mengerling nakal. Kedua lengannya terangkat guna membelai lembut rahang sang suami.
"Kalau misal menyusu saja, bagaimana?" ucap Kinanti.
Aditya dibuat terpaku dengan perkataan Kinanti barusan.
*Apa tadi? Bagaimana?!* batin Aditya, terkejut.
"Sayang..." ucap Aditya tertahan.
Kinanti menyergap, memotong keterkejutan suaminya, "Karena setelah kita pindah rumah baru, baru kita lakukan seutuhnya. Aku sedang datang bulan, Mas."
DWAR!!!
"Kamu..." ucap Aditya, kembali terpotong.
"Setelah kita pindah, kita lakukan sepuas Mas Adi. Aku pasrah," Kinanti membelai dada bidang Aditya. Senyum penuh goda kini terpatri di bibir Kinanti.
Aditya mengerjap-ngerjap. "Kamu serius, Sayang?" tanyanya.
Kinanti mengangguk mantap.
"Bagaimana, mau tidak?" tawar Kinanti lagi untuk memastikan.
"Ya sudah, deh. Mau bagaimana lagi," sahut Aditya, langsung menyetujui tanpa pikir panjang. Walau hanya itu, sudah cukup membuatnya senang sekaligus lega, meski belum puas sepenuhnya.
"Sekarang ini, ya?" tanya Aditya lagi.
"Baiklah, sesuai janjiku tadi sore, Mas," ucap Kinanti, membuat Aditya tersenyum senang.
"Ya sudah, ayo, Sayang," ajak Aditya.
"Tidak sabaran, ih! Ganti baju dulu," ucap Kinanti, terkekeh.
HAP!
Selepas keduanya berganti baju, Kinanti langsung menghambur ke pelukan Aditya. Dengan sigap, pria tampan itu pun menangkap sang istri.
"Kamu tidak capek, Sayang?" tanya Aditya memastikan.
"Tidak, Mas. Ayo," ucap Kinanti. Aditya pun membawa sang istri menuju kasur.
━═━═━═━═━═━ ❦ ━═━═━═━═━═━
🚗 Keluarga Wijaya dan Penyesalan Lidia
Sementara itu, di tempat lain...
Sebuah mobil putih sudah tiba di pekarangan rumah mewah keluarga Wijaya.
"Sudah sampai, ayo, Nak, turun," ucap Pak Wijaya.
Abyan yang duduk di belakang tampak bad mood.
"Kenapa anak bungsumu, Bu?" tanya Pak Wijaya.
Bu Sarasvati yang mendengar kode dari suaminya pun menoleh dan mengecek wajah cemberut putra bungsunya.
"Abyan kenapa, Nak?" tanya Bu Sarasvati.
Kepala Abyan menoleh menatap ibunya.
"Kenapa anak ganteng Ibu ini?" tanya Bu Sarasvati lagi.
Pak Wijaya tidak jadi keluar lebih dulu, beliau ikut menyaksikan putra bungsunya yang cemberut.
"Byan merasa aneh, Bu. Kenapa Mbak Kinanti harus menikah sama Bang Adi? Padahal Abang sudah tua, tidak cocok sama Mbak Kinanti yang cantik," ucap Abyan, mengadu ke sang ibu.
Bu Sarasvati tampak sekuat tenaga menahan tawanya mendengar ucapan polos Abyan.
"Bagaimana ini, Yah? Anakmu mengamuk," Bu Sarasvati terkekeh-kekeh. Pak Wijaya menggeleng tak habis pikir.
"Sudah, sudah. Jangan cemberut, Nak. Anak laki-laki kok cemberut terus, nanti mulutnya seperti ikan. Mbak Kinanti kan sudah menikah dengan abangmu," ucap Pak Wijaya.
"Dihh, Ayah tega banget! Kasihan, tahu, Mbak Kinanti harus menikah sama Abang yang sudah om-om! Apalagi Mbak Kinanti masih cantik. Coba saja dia menunggu Abyan lulus sekolah dulu," suara kekesalan Abyan sayup-sayup terdengar. Remaja tampan itu bergegas masuk ke dalam rumah.
Bu Sarasvati hanya bisa tertawa kecil, berjalan di belakang suaminya.
"Abangnya dikatain om-om, bagaimana ini, Yah? Anakmu bungsu. Kinanti sudah jadi jodoh abangmu, Nak. Walaupun kamu merengek-rengek begitu, ya tetap saja tidak bisa mengubah takdir," ucap Bu Sarasvati sambil melihat sang anak bungsu cemberut memasuki rumah. Pak Wijaya hanya tertawa, berjalan menyusul anaknya bersama sang istri.
━═━═━═━═━═━ ❦ ━═━═━═━═━═━
💔 Lidia dan Orang Tuanya
Sedangkan di tempat Lidia...
"Pa,"
"Ada apa, Ma?"
"Em... kapan kita ke rumah Jaya?" tanya sang istri, membuat sang suami menoleh.
"Mama sudah tidak keberatan kita ke rumah Jaya untuk meminta maaf?" ucap sang suami.
Istrinya menjawab dengan menggeleng pelan. "Hanya putri kita saja yang murung terus."
Pria paruh baya itu menghela napas panjang mendengarnya. "Sudah tidak ada harapan lagi untuk putri kita, Ma. Adi sudah menikah," ucap sang suami.
Sang istri diam-diam menghela napas kecewa. Ia tahu mereka pun juga diundang untuk datang, namun sepertinya mereka tidak akan pernah bisa datang karena malu.
"Iya, Mama tahu. Terus, bagaimana, Pa?" tanya sang istri.
"Secepatnya kita bertiga datang ke rumah Jaya. Hari ini akad nikah Adi pasti masih sibuk mengurus acara ngunduh mantu-nya. Setelah acara itu selesai, mungkin Jaya sudah senggang," ucap pria paruh baya itu, bangkit dari duduknya. Istrinya mengangguk mengiyakan.
"Memang tidak jodoh, mau bagaimana lagi?" ucap sang suami.
"Iya, Pa," jawab sang istri.
"Tidak apa-apa. Nanti kan masih bisa kita kenalkan ke pria lain. Laki-laki tidak hanya Adi saja, Ma. Biarkan Lidia fokus kuliah dulu. Masalah calon sudah ada yang mengatur, katakan itu pada Lidia," ucap sang suami.
━═━═━═━═━═━ ❦ ━═━═━═━═━═━
🤫 Perjanjian Bulan Madu
Di sebuah kamar yang didesain dengan hiasan bunga-bunga ala kamar pengantin. Lampu temaram di atas nakas menjadi satu-satunya penerangan. Suara desahan lirih sesekali terdengar dari mulut sang istri. Sebuah punggung telanjang, lebar nan kekar, tampak gagah mengurung tubuh molek seorang gadis cantik di bawahnya. Selimut putih menutupi batas pinggang mereka.
"Ahh..." Desahan lirih sang perempuan terdengar sangat menikmati, begitu pun sang suami yang sibuk menyusu ke istrinya.
"Sayang, kamu libur tamu bulanan berapa lama?" tanya Aditya.
Wajah cantik sang istri sudah memerah menahan desahan yang ingin keluar.
"Mas, pelan-pelan. Mas, aah... tidak ada yang menyuruh secepat itu," ucap Kinanti diselingi desahan.
Senyum menyeringai terbit di bibir suaminya. Wajah tampannya diangkat. Dua pasang mata mereka saling beradu pandang. Sorot sayu sang istri padanya membuat ia semakin bergairah.
"Jawab, Sayang," ucap Aditya penuh hasrat.
"Seminggu biasanya," sahutnya berbisik, putus-putus disela desahan.
"Kok lama, Sayang," rengek Aditya.
Kinanti terkekeh melihat sang suami seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
"Iya, memang segitu biasanya. Sudah, ditunggu saja, Mas. Sekarang tidur, sudah malam," ucap Kinanti.
Aditya menatap lekat sang istri. Lalu bibir mereka pun saling memagut, bergelut lidah. Decakan gairah cinta mereka sudah meletup, ingin benar-benar melakukan hubungan suami istri, tetapi keduanya takut kedengaran oleh Pak Wisnu.
Aditya harus menahan keinginan karena rasa sungkan pada mertua, ditambah lagi harus menunggu seminggu karena sang istri sedang datang bulan.
MUACH!
Aditya menatap wajah Kinanti yang memerah. Bibir ranum itu digigit sang istri guna menahan desahan, dan genggaman tangan yang memegang erat lengan kekarnya yang mengurung tubuh molek sang istri.
"Sayang," panggil Aditya.
"Hmm?"
Tubuh Kinanti yang setengah telanjang dan terlihat menggoda membuat Aditya tak tahan lagi. Ia kecup mesra pipi sang istri.
"Setelah pindahan ke rumah kita nanti..."
Kinanti balik menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sangat seksi.
"Mas tidak akan menahan diri lagi. Mas garap kamu sampai subuh, Sayang..." bisiknya di sela geraman.
Meski tubuhnya berguncang cepat karena gejolak, Kinanti masih bisa tersenyum manis. Sebelah tangannya terangkat mengelus rahang tegas Aditya.
"Sabar, ya. Begini dulu, ya. Nanti kalau tamu bulanan sudah selesai, kita bisa sepuasnya," ucap Kinanti.
Mendengar persetujuan dari sang istri, Aditya kembali melanjutkan kegiatannya, hingga membuat Kinanti mendesah karena kelakuan jahil sang suami.
"Jangan kuat-kuat, Sayang, nanti kedengaran Bapak," bisik Aditya.
Kinanti merem melek dibuatnya. "Emmhhh..." lenguh Kinanti.
Dan akhirnya, keduanya pun tertidur lelap, menyelam ke mimpi indahnya masing-masing.
Bersambung__
_____
STYLE MAS ADI DAN MBAK KINAN SERASI GAK?