Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*GIOK DI TENGAH TULANG*
Yin Qi di dasar jurang terasa pekat, menyerupai ribuan jarum es yang menusuk pori-pori. Ling Fan membuka matanya dengan susah payah, mencium bau anyir darah dan tulang lapuk yang menghantam hidungnya. Ia terbaring di atas tumpukan kerangka dengan jubah yang sudah robek dan berlumuran darah hitam miliknya sendiri.
Tulang rusuknya remuk, bahunya patah, dan setiap napas yang ia ambil terasa seperti belati yang diputar di paru-parunya.
“Paman... Paman jangan mati dulu,” bisik suara kecil di kepalanya dengan nada bergetar.
“Diamlah, Keponakan. Aku sedang mencoba bernapas,” sahut Ling Fan dalam hati sambil memuntahkan darah hitam.
“Dengar, anjing Klan Ling! Aku akan turun dan membakar mayatmu menjadi abu!” Suara Luo Feng menggema dari atas tebing, memantul di dinding jurang yang sempit.
Ling Fan mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun Tubuh Penelan Langit-nya berputar sangat lemah. Ia mencoba menelan Yin Qi di sekitarnya, tapi energi kematian itu justru merobek pembuluh darahnya dari dalam.
“Sakit... ini benar-benar batasnya,” keluh Ling Fan sambil terbatuk.
Tiba-tiba, cahaya biru pucat menyala tiga langkah darinya, membentuk lingkaran rumit di udara yang memancarkan hawa dingin giok. Seorang wanita berusia sekitar 19 tahun dengan rambut putih perak melangkah keluar dari kegelapan. Matanya biru es, wajahnya pucat, dan ada bekas darah di sudut bibirnya.
“Kau masih bernapas?” tanya wanita itu dengan suara pelan seperti salju yang jatuh.
“Siapa kau?” tanya Ling Fan waspada sambil menahan sakit di dadanya.
“Namaku Yue Lian. Aku mencari Jantung Yin Sepuluh Ribu Tahun di sini, bukan menyelamatkanmu,” jawabnya tanpa menoleh.
“Baguslah. Aku tidak suka berutang budi pada orang asing,” timpal Ling Fan dingin.
Tiba-tiba, sebuah batu besar jatuh dari atas diikuti oleh lompatan Luo Feng. Pria itu mendarat dengan aura Inti Emas yang meledak, menghalau sebagian kabut Yin.
“Masih hidup, sampah? Dan kau... Yue Lian dari Lembah Giok Beku?” tanya Luo Feng sambil menyeringai tajam. “Klanmu sudah musnah, masih berani kau menghalangi Klan Luo?”
“Klan Luo membunuh guruku tiga tahun lalu. Utang itu belum lunas, Luo Feng,” jawab Yue Lian sambil membentuk segel tangan.
“Bagus! Hari ini aku bunuh dua sampah sekaligus!” teriak Luo Feng sambil melesat maju.
Pedang Inti Emas milik Luo Feng menebas ke arah kubah formasi yang melindungi mereka. Yue Lian tidak lari, ia justru melangkah maju tepat di depan Ling Fan dengan rantai es biru yang keluar dari telapak tangannya.
“Formasi Giok Beku: Kurungan Tiga Lapis!” seru Yue Lian.
Dentrang logam keras terdengar saat tebasan Luo Feng menghantam rantai es itu hingga hancur berkeping-keping. Dampaknya membuat Yue Lian terpental dan menghantam dinding jurang dengan keras hingga memuntahkan darah segar.
“Kenapa kau melindungiku?” tanya Ling Fan serak, melihat wanita itu berdiri dengan goyah.
“Musuh dari musuhku... mungkin bisa jadi teman,” bisik Yue Lian yang hanya bisa didengar oleh Ling Fan. “Lagipula, aku benci melihat orang mati sendirian di tempat ini.”
Luo Feng mendekat dengan pedang terangkat tinggi, mengincar leher Yue Lian. Namun, sebelum pedang itu turun, Ling Fan merangkak keluar dari sisa formasi dan menarik pergelangan kaki Yue Lian ke belakang tubuhnya.
“Lindungi dia? Sampah melindungi sampah?” ejek Luo Feng tertegun.
“Jangan... sentuh dia,” desis Ling Fan dengan mata yang menyala penuh amarah.
Dug...
Telur Hitam di dadanya berdenyut sangat keras hingga cahaya perak menyembur keluar, membentuk lingkaran pelindung tipis. Yin Qi di seluruh jurang tiba-tiba tersedot ke arah telur tersebut, memberikan sedikit energi murni yang menambal luka dalam Ling Fan.
“Itu... Telur Dewa Penghancur? Kenapa ada padamu?” tanya Yue Lian dengan tangan gemetar.
“Hanya telur yang lapar. Jangan banyak tanya dulu,” jawab Ling Fan pendek.
Tiba-tiba, tanah di dasar jurang bergetar hebat saat sesosok kera tulang setinggi tiga meter bangkit dari tumpukan kerangka. Di dadanya tertanam jantung hitam yang berdenyut kencang—Jantung Yin Sepuluh Ribu Tahun. Binatang Mayat tingkat Inti Emas Puncak itu terbangun karena bau darah mereka.
“Binatang Mayat Raja Jurang?” seru Luo Feng sambil melangkah mundur dengan wajah pucat.
Yue Lian segera mencengkeram bahu Ling Fan yang patah, napasnya memburu cepat. “Dengar, kita berdua sekarat. Kalau lari, dia lebih cepat dari kita.”
“Lalu apa maumu?” tanya Ling Fan sambil menatap cakar tulang raksasa yang mulai bergerak.
“Kerja sama. Kau tahan dia tiga napas, aku pasang Formasi Pembelah Jiwa. Kita butuh darahmu dan darahku untuk merebut Jantung Yin itu. Setuju?”
“Tiga napas melawan monster itu dengan tubuh remuk? Kau bercanda?” tanya Ling Fan sarkastis.
“Hanya itu satu-satunya cara kita bisa keluar hidup-hidup dari sini.”
Ling Fan menatap Binatang Mayat itu, lalu melirik Luo Feng yang tampak ingin menonton mereka mati. Ia kemudian menatap mata biru es Yue Lian yang menunjukkan keyakinan.
“Setuju. Tapi kalau aku mati... bakar mayatku. Jangan biarkan aku jadi bagian dari tumpukan tulang ini,” ucap Ling Fan sambil memuntahkan darah ke tangannya sendiri.
“Jika aku yang mati duluan, ambil Jantung Yin itu. Jangan sia-siakan nyawaku,” balas Yue Lian sambil menggigit jarinya hingga darah biru menetes.
Di atas mereka, tawa Luo Feng kembali menggema. “Dua sampah sekarat mau lawan Raja Jurang? Benar-benar pertunjukan yang lucu!”
Binatang Mayat itu meraung keras, mengayunkan cakarnya yang sebesar pohon ke arah kepala Ling Fan dan Yue Lian. Ling Fan menarik napas panjang, memaksakan Tubuh Penelan Langitnya bekerja hingga titik penghabisan.
“Sekarang, Paman! Makan energinya!” teriak telur hitam menyemangati.
“Aku tahu! Mari kita lihat siapa yang lebih lapar, monster ini atau kita!” teriak Ling Fan sambil melesat maju menghadapi cakar maut tersebut.