"Dia hanya memiliki aku, Maya. Sedangkan kau? Kau punya segalanya. Berhentilah bersikap menjijikkan dengan menuduhnya yang bukan-bukan!"
Kata-kata itu menjadi cambuk harian bagi Maya. Di rumah itu, dia adalah orang asing di tengah keluarga yang "sempurna". Arlan, suaminya, telah memindahkan seluruh pusat dunianya kepada Sarah dan anak almarhum adiknya.
Setiap kali Maya mencoba membela diri dari fitnah halus yang disebarkan Sarah, Arlan akan menatapnya dengan kebencian murni. Bagi Arlan, Maya adalah beban, sedangkan Sarah adalah amanah suci. Ketidakadilan itu semakin kelam ketika Arlan mulai memperlakukan Sarah layaknya seorang istri, dan membuang Maya ke sudut tergelap dalam hidupnya.
Ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengabdian yang salah arah dan kehancuran seorang istri yang dipaksa menyaksikan suaminya mencintai bayangan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Maya terpekur di ambang pintu, menatap amplop cokelat di tangannya seolah itu adalah bongkahan bara api. Uang itu menyelamatkan nyawa ibunya, tetapi membunuh jiwanya. Ia bisa mendengar suara tawa kecil Dion dari kamar sebelah, disusul gumaman rendah Arlan yang terdengar begitu protektif.
Kehangatan yang seharusnya milik Maya, kini telah berpindah tangan sepenuhnya.
Malam itu, Maya tidak bisa memejamkan mata. Kamar tamu yang sempit ini terasa mencekik. Sekitar pukul dua dini hari, ia melangkah keluar menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu kamar utama yang sedikit terbuka.
"Terima kasih, Kak Arlan," suara Sarah terdengar lembut, hampir seperti bisikan manja. "Aku tidak tahu apa jadinya aku dan Dion tanpa Kakak. Mbak Maya... dia pasti sangat membenciku sekarang."
"Jangan pikirkan dia," jawab Arlan. Suaranya terdengar letih namun lembut. "Tidurlah. Besok aku akan mengantarmu kontrol ke dokter. Aku tidak ingin migrainmu kambuh lagi."
"Tapi... apakah tidak apa-apa jika Kakak terus mengabaikan Mbak Maya? Aku merasa menjadi orang ketiga di sini."
"Dia yang membuat dirinya menjadi orang asing, Sarah. Sejak kau datang, dia menunjukkan sifat aslinya yang dengki. Aku hanya melakukan apa yang benar untuk keluarga adikku."
Maya mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih. Keluarga adikku. Kalimat itu seolah menegaskan bahwa Maya tidak pernah dianggap sebagai bagian dari keluarga Arlan.
Pagi menyapa dengan mendung yang menggelayut. Maya sudah berada di dapur sejak pukul lima, menyiapkan sarapan seperti yang diperintahkan Arlan. Ia menggoreng nasi dan membuat omelet, mencoba tetap tidak terlihat.
Saat Arlan turun dengan setelan jas hitamnya, Sarah menyusul di belakang, mengenakan salah satu daster sutra milik Maya yang entah kapan diambilnya dari lemari kamar utama.
"Mbak Maya, maaf... aku tadi kedinginan jadi aku meminjam ini. Mbak tidak marah, kan?" tanya Sarah dengan mata bulat yang tampak polos.
Maya menatap dasternya, lalu menatap Arlan yang sedang merapikan jam tangannya. Arlan hanya melirik sekilas, tak ada pembelaan.
"Pakai saja, Sarah. Itu hanya sepotong kain," sahut Arlan dingin. Ia kemudian menoleh ke arah Maya. "Mana kopi saya?"
Maya menyodorkan cangkir kopi ke meja. "Ini mas. Dan... aku butuh izin untuk ke rumah sakit menjenguk Ibu setelah ini."
Arlan menyeruput kopinya tanpa melihat Maya. "Boleh. Tapi bersihkan dulu seluruh lantai atas. Sarah bilang debunya membuat Dion bersin-bersin semalaman. Selesaikan itu, baru kau boleh pergi."
"Tapi operasi Ibu jam sepuluh, Mas! Aku harus di sana sebelum itu."
"Kalau begitu, bekerjalah lebih cepat," balas Arlan datar. Ia berdiri, mengambil tas kantornya, dan menoleh pada Sarah. "Ayo, Sarah. Aku antar kau dan Dion dulu sebelum ke kantor."
Dengan hati yang hancur, Maya mengerjakan tugasnya. Ia menggosok lantai atas dengan tenaga yang tersisa, mengabaikan rasa lapar yang melilit. Saat ia sedang merapikan area di dekat tangga, ia melihat Sarah berdiri di sana, mengamati dengan tangan bersedekap. Tak ada lagi wajah memelas atau suara lembut.
"Kau tahu, Mbak?" Sarah melangkah mendekat, suaranya kini tajam dan penuh kemenangan. "Arlan itu pria yang sangat bertanggung jawab. Dia merasa bersalah karena membiarkan adiknya pergi sendirian malam itu. Dan aku? Aku adalah pengingat hidup atas rasa bersalahnya. Selama aku ada di sini, kau tidak akan pernah punya ruang di hatinya."
"Apa maumu, Sarah? Kau sudah mendapatkan suamiku, kau sudah mendapatkan rumah ini. Kenapa kau masih menggangguku?"
Sarah tertawa kecil. "Aku ingin kau pergi. Tapi aku ingin kau pergi dengan status sebagai wanita paling hina di mata Arlan. Agar dia tidak pernah menyesali keputusannya."
Tiba-tiba, Sarah meraih vas bunga keramik di meja dekat tangga dan menjatuhkannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Sebelum Maya sempat bereaksi, Sarah menyambar tangan Maya dan menggoreskan pecahan keramik itu ke lengannya sendiri hingga berdarah.
"Aakh! Mbak Maya, jangan!" teriak Sarah histeris.
Detik itu juga, pintu depan terbuka. Arlan yang ternyata tertinggal ponselnya kembali masuk ke rumah dan berlari menaiki tangga.
Ia terpaku melihat Sarah yang memegangi lengannya yang berdarah, dan Maya yang berdiri memegang kain pel dengan wajah pucat pasi di depan pecahan keramik.
"Apa yang kau lakukan lagi, Maya?!" raung Arlan. Suaranya menggelegar, mengguncang seluruh isi rumah.
"Bukan aku, Mas! Dia melakukannya sendiri!"
Arlan tidak mendengarkan. Ia menyambar lengan Sarah yang terluka, menatapnya dengan kekhawatiran yang luar biasa, lalu berbalik menatap Maya dengan kilat mata yang menjanjikan kehancuran.
"Kau benar-benar monster," desis Arlan. "Keluar dari rumah ini. Sekarang."
Mas, dengarkan aku dulu! Dia yang menggores lengannya sendiri!" Maya mencoba menggapai lengan Arlan, namun pria itu menyentak tangannya seolah kulit Maya adalah racun yang menjijikkan.
"Cukup, Maya! Mataku tidak buta!" Arlan membentak, suaranya menggelegar di lorong lantai atas. Ia segera membopong Sarah yang terus merintih pelan. "Kau selalu cemburu pada Sarah, tapi aku tidak menyangka kau akan bertindak sekeji ini. Menggunakan pecahan keramik untuk melukainya? Kau benar-benar sudah hilang akal!"
"Kak Arlan... perih sekali..." isak Sarah, menyembunyikan wajahnya di dada Arlan. Matanya yang sembab sempat melirik ke arah Maya melalui celah jemarinya sebuah tatapan dingin yang penuh kemenangan. "Mbak Maya tadi bilang kalau aku tidak pantas ada di rumah ini..."
"Aku tidak pernah bilang begitu!" teriak Maya frustrasi. Air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Mas, dia memanipulasimu! Lihat aku! Apakah aku terlihat seperti orang yang sanggup melakukan itu?"
Arlan berhenti di puncak tangga, menoleh sedikit dengan tatapan yang lebih tajam dari sembilu. "Yang aku lihat adalah istriku yang penuh kebencian dan seorang janda malang yang terluka. Mulai detik ini, hakmu di rumah ini dicabut. Jangan harap kau bisa melihat uang sepeser pun dariku lagi."
"Tapi Ibu harus operasi hari ini, Mas! Kau sudah berjanji!"
"Urusan ibumu bukan tanggung jawabku lagi jika kau bertingkah seperti binatang!" Arlan melangkah turun dengan cepat, membawa Sarah menuju mobil untuk mendapatkan pertolongan medis.
Maya jatuh terduduk di lantai yang masih basah oleh bekas pelnya. Pecahan vas bunga yang berserakan di sekitarnya seolah mencerminkan hidupnya yang hancur berkeping-keping. Ia melirik jam di dinding. Pukul 09.15. Operasi ibunya akan dimulai empat puluh lima menit lagi.
Ia tidak punya waktu untuk meratapi nasib. Dengan tangan bergetar, ia memungut amplop cokelat yang tadi malam dilemparkan Arlan. Ia harus segera ke rumah sakit.
Namun, saat ia sampai di pintu depan, langkahnya terhenti oleh sosok Bi Minah, asisten rumah tangga senior yang selama ini hanya diam karena takut pada Arlan.
"Non Maya... hati-hati," bisik Bi Minah pelan, matanya menyiratkan rasa iba yang dalam. "Tadi Den Arlan berpesan pada satpam di depan untuk tidak membiarkan Non membawa mobil atau barang berharga apa pun dari rumah ini."
Maya tertegun. "Maksud Bibi?"
"Non dilarang membawa tas selain tas kecil ini... dan Den Arlan menyuruh saya memastikan Non keluar tanpa membawa satu perhiasan pun."
Siksaan Arlan bukan hanya secara mental, tapi kini ia benar-benar ingin memiskinkan Maya. Beruntung, amplop cokelat itu sudah Maya sembunyikan di dalam balik bajunya. Dengan langkah cepat dan kepala tegak meski hati hancur, Maya berjalan keluar melewati gerbang rumahnya sendiri layaknya seorang pencuri.
Maya sampai di rumah sakit tepat saat ibunya akan didorong ke ruang operasi. Ayahnya menyambutnya dengan wajah lelah.
"Maya, kau pucat sekali. Arlan mana? Dia tidak ikut?"
Maya memaksakan senyum yang terlihat lebih seperti ringisan. "Mas Arlan sedang ada urusan mendadak di kantor, Yah. Ini... uang depositnya." Ia menyerahkan amplop cokelat itu, tidak menceritakan bahwa uang itu adalah "bayaran" atas harga dirinya yang telah diinjak-injak.
Selama empat jam operasi berlangsung, Maya duduk di kursi tunggu yang keras. Pikirannya melayang pada Arlan. Ia ingat bagaimana dulu Arlan mengejarnya, berjanji akan menjadikannya satu-satunya ratu di hidupnya. Bagaimana mungkin kematian seorang adik bisa mengubah pria yang ia cintai menjadi algojo yang paling kejam?
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk.
Di bawah foto itu ada pesan singkat.
“Lihat betapa mudahnya posisimu digantikan, Mbak. Jangan kembali lagi, ya. Arlan sudah menganggapmu mati.”
Maya menatap layar ponsel itu hingga pandangannya mengabur. Rasa sakit yang tadi ia rasakan perlahan berubah menjadi sesuatu yang dingin dan keras. Jika Arlan ingin ia menjadi "monster" yang ia tuduhkan, maka Maya tidak akan lagi memberikan air matanya.
Ia menghapus pesan itu, lalu berdiri saat lampu ruang operasi padam. Mulai saat ini, ia akan bertahan hidup bukan untuk Arlan, melainkan untuk dirinya sendiri yang telah lama ia lupakan.