Dipaksa untuk pulang oleh sang ayah dengan ancaman atas nama pacarnya, Daniel. Membuat Elleta harus pulang ke Indonesia. Entah kesepakatan apa, papanya tega menjualnya ke laki-laki bernama Steve, pewaris utama Danendra group. Fakta baru yang ia tau, Steve pernah menikah.
Hanya untuk keamanan sang pacar, Elleta rela setuju. Akankah Elleta bisa menjalaninya, atau justru masuk lebih dalam ke kehidupan laki-laki itu.
"Selamat datang di kehidupan barumu, Elleta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Permainan Api di Kolam Renang
Mobil Royce-Roll hitam itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang terlihat belum jadi. Banyak pekerja yang mondar-mandir melakukan pekerjaannya.
Mata Steve menatap gedung itu di balik kaca mobilnya. “Ini gedung barunya, Theo?” tanya Steve yang duduk tepat di samping di kursi pengemudi di samping Theo. Dengan cepat Theo mengangguk.
“Mick!” teriak Steve dengan lantang.
Michael yang merasa namanya dipanggil, menghentikan langkahnya dengan sebuah dokumen di tangannya, ia menolehkan kepalanya.
“Ngapain kesini? Tahu dari mana lokasi gedung ini!” Steve menatap tajam yang kakak iparnya itu, mata Steve menatap ke dokumen di tangan laki-laki itu.
“Kamu tidak perlu tahu, Steve. Ini urusanku dengan Papa,” hardik Michael hendak melangkah pergi, Steve mencengkram bahunya.
Michael menghempaskan tangan adik iparnya itu dengan kasar. “Tunggu, jangan lawan Yuda dengan tangan kosong. Aku sebagai suami Elleta, aku paham. Kita sama-sama sedang melindungi Elleta.”
Michael yang arah mata adik iparnya, langsung menyembunyikan dokumen di balik badannya. “Enggak! Aku enggak butuh bantuanmu!” Michael tetap dalam pendiriannya, ia melenggang pergi.
Steve menghela napas, dalam sekali tarik napas. “Aku tahu, Papamu mau menjual Elleta lagi!”
Michael yang mendengar ucapan Steve langsung menghentikan langkahnya. Membalikan badannya menatap Steve dengan tanda tanya besar. “Bagaimana kamu tahu, Steve? Apa kamu tahu rencana Papaku?”
Steve mengangguk cepat, meraih dokumen di tangan Michael. “Kita harus bekerja sama untuk menghentikan Papamu. Dengan itu Papamu tidak bisa melakukan hal keji ke Elleta.”
Michael mengulurkan tangan, mungkin memberi kesempatan kerjasama dengan adik iparnya akan berbuah hasil. “Oke, kita rekan kerja sekarang.”
Steve menjabat tangan Michael dengan senyuman tipis. “Dengan senang hati kakak ipar.”
Theo yang melihat pemandang itu tersenyum haru. Kalau Nona Elleta tahu akan berbeda ceritanya.
“Lihat Nona Elleta, suamimu dan abangmu terlihat akur sekarang,” bisik Theo pelan, mengeratkan tablet di dekapannya.
...***...
Elleta menatap cermin dengan wajah yang cerah, dress berwarna biru laut. Melirik ke layar ponselnya yang menyala. Tangannya mengetik dengan cepat, mengirim pesan ke abangnya.
Michael : Hati-hati, El. Barang yang diberikan, Steve. Semuanya ada kamera tersembunyi yang tidak bisa terdeteksi.
Elleta : Siap Bang.
Michael tahu hanya memberi peringatan kepada Elleta. Mungkin laki-laki itu tahu bagaimana watak Steve yang begitu protektif kepadanya.
Elleta mengambil obeng dari walk in closet yang ia sembunyikan. Kalau ia menaruh obeng di saku dressnya saat di kamar , Elleta bakal ketahuan oleh cctv yang dipasang oleh suaminya.
Gadis itu menarik kalung itu dengan sekali tarikan kasar. Dan mencopot semua cincin pernikahan hingga cincin pertunangan menyimpannya di laci riasnya.
Sebelum pergi Elleta menatap cctv di atap kamarnya dengan tatapan tajam, seakan menantang suaminya. Seperti biasa gadis itu berada di belakang rumah di hadapannya sebuah taman. Pelayan rumah itu seperti sudah hapal kegiatan istri dari pemilik rumah, setiap jam 8 pagi selalu standby dengan peralatan melukis.
Informasi saja, setelah Elleta selesai melukis hasilnya selalu di taruh entah kemana. Atau mungkin menjadi koleksi Steve.
Elleta melirik kanan dan kiri tangannya sudah menari-nari di atas kanvas putih itu. Mencari waktu yang pas untuk pergi dari sana. Lukisannya jadi tepat jam 12 siang. Dimana itu waktu semua pekerja di rumah suaminya istirahat.
“Ini saatnya, aku bereaksi,” bisik Elleta pelan, matanya yang melirik kanan dan ke kiri memastikan tak ada orang di dekatnya. Matanya menatap loteng itu.
Kakinya kanan menggantung, tangannya mencari tumpuan hingga akhirnya bisa terduduk di tembok loteng itu. Kaki kirinya menyusul, melupakan dirinya memakai dress tidak bisa menghentikan aksi gadis itu.
Meraih obeng dari sakunya mulai mencongkel jendela kayu itu, gadis itu mengerutkan dahinya. Kenapa susah ditembus. Elleta menutup matanya dan mengatupkan bibirnya.
“Apa Steve tahu?” monolognya ke diri sendiri, matanya mencari cctv di sekitarnya. Namun, tidak ada. Loteng itu tidak ada cctv yang terpasang.
Elleta teringat dengan pesan abangnya yang mengatakan kalau kalung dan cincinnya kemungkinan ada kamera yang tersembunyi.
Gadis itu mengelus dadanya, merasakan kelegaan aksinya tidak akan ketahuan. “Tapi kenapa susah aku buka? Akh! Gagal lagi,” keluh Elleta, menundukkan kepalanya lalu mengacak-acak rambutnya.
“Nona, kenapa disana! Ayo turun, jika kulit Anda tergores, saya yang kena marah,” teriak salah satu pengawal yang berada di bawah, menatap Elleta di loteng itu.
“Sial, kenapa mereka cepat istirahatnya.” Mau tak mau Elleta turun dengan melompat sampai ke bawah.
Pengawal itu tertegun melihat istri tuannya ini begitu liar. Padahal terlihat dari penampilan Elleta yang mencerminkan gadis elegan dan Feminim.
“Nona itu bahaya, kalau Tuan Steve tahu. Yang kena malah kita,” tutur pengawal yang bernama Jack itu.
Elleta yang mendengar itu memutarkan bola matanya. “Itu urusanmu, bukan urusanku,” ketusnya meninggalkan Jack yang terdiam.
Elleta berjalan ke arah kamarnya melewati ruang kerja suaminya, tapi pintu itu terbuka sedikit.
“Ada yang habis masuk kesini?” batin Elleta dalam hati. Rasa penasaran yang mendobrak hatinya. Gadis itu masuk ke dalam dengan langkah hati-hati.
Aroma sandalwood dan citrus menyapa indra penciumannya. Aroma khas milik semuanya, ruangan itu serba warna hitam dan coklat moka. Sesuai kepribadian Steve yang dingin dan misterius.
“Dimana Steve taruh dokumen penting,” gumam Elleta sambil membuka laci yang terbuka, hanya kertas kosong dan logo nama suaminya.
Elleta berjongkok di bawah meja, ada kertas yang terlihat masih baru. Dokumen itu mencuri perhatian gadis itu, ia meraihnya membuka secara perlahan.
Membuka kertas dokumen itu, matanya menangkap dokumen tentang bukti-bukti yang tidak Elleta mengerti.
Banyak foto-foto tentang Papanya yang bekerja, Papanya yang ke club, Papanya yang ke sebuah gedung. Elleta mencoba mencerna maksudnya.
Elleta hendak membuka kertas itu, ada surat yang terjatuh. Elleta mengambil kertas itu dan membacanya.
“Buka dokumen itu, kamu bakal tahu kebusukan suamimu”
Elleta membuka dokumen itu, matanya membelalak dimana surat itu tercantum bahwa gedung baru yang dituduhkan Steve kepadanya ternyata rekayasa laki-laki itu, dimana stempel bertuliskan Steve Athariz Danendra.
Elleta meremas kertas itu hingga tangannya memutih. Karena buktinya belum valid. Elleta keluar dari ruang kerja suaminya dengan napas yang memburu.
Langkah kaki Elleta ke kamarnya, ia butuh refreshing, memijat kepalanya. Menatap matahari yang cerah, ia memilih untuk berenang mengganti bajunya dengan bikini dan celana dalam saja. Melangkah keluar dari kamarnya.
Pengawal yang melihat pemandangan yang tak lazim itu menundukkan pandangannya. “Mau kemana, Non?” tanya Bik Ina, salah satu pelayan di rumah suaminya itu.
“Cuaca bagus gini enaknya berenang bik.” Elleta melenggang pergi tanpa menunggu Bik Ina menjawab.
“Gimana Tuan Steve enggak jatuh cinta, modelnya aja kayak Nona Elleta,” gumam Bik Ina melihat penampilan Elleta yang berani.
“Jangan lihat! Atau kalian bisa mati di tangan, Tuan Steve,” bisik Jack masih menundukkan kepalanya, teman pengawal lainnya mengikutinya dengan menundukkan kepalanya.
Elleta tak merasakan perasaan apa-apa tentang penampilannya, menurutnya pakaian bikini miliknya tidak aneh, di amerika itu hal lumrah.
Kaki Elleta memasukkan ke dalam kolam renang, air yang dingin membuatnya rileks. Dengan lincah Elleta berenang tanpa beban menghilangkan pikirannya tentang dokumen itu.
“Seger banget,” kekeh Elleta riang.
Langkah kaki pantofel yang menggema ke lantai marmer, aroma sandalwood dan citrus yang khas.
Sorot mata Steve yang tajam, menelisik wajah pengawalnya yang bersemu merah. Bik Ina datang menyambut kedatangan Steve.
“Elleta dimana, Bik?” tanya Steve, melonggarkan dasinya yang mencekik lehernya.
“Nona Elleta ada di kolam renang, Tuan.” Bik Ina menunduk sopan lalu pamit pergi.
“Tumben, Elleta berenang,” monolog Steve melangkah ke belakang rumahnya, sound lagu pop inggris yang merdu membuat senyuman tipis itu terbit.
Saat Elleta keluar dari kolam meminum jus jambunya, laki-laki itu melihat penampilan Elleta memalingkan wajahnya.
Steve berdehem merasakan gatal di tenggorokannya. “Gila Elleta, apa ini membuat pengawalnya jadi mati kutu.”
Laki-laki itu mendekati Elleta, melepas jasnya menyelimuti di bahu gadis itu. Steve mencoba menetralkan detak jantungnya.
“Apa menurutmu ini di Amerika, Elleta? Pakaianmu mengundang kucing lain yang lapar,” cerca Steve menatap Elleta dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Elleta terkekeh renyah, menurutnya Steve sedang mode siaga. “Kenapa? Ini baju renang, aku bisa memakai ini.”
Elleta membuang jas itu, ia meninggalkan Steve yang terdiam. “Elleta! Apa kamu mau mengumbar yang seharusnya aku saja yang melihatnya!”
Elleta menceburkan badannya ke kolam, mengedikkan bahunya acuh. “Terserah! Kamu mengurungku seperti burung, jangan salahkan aku.”
Steve merasakan Elleta tak mendengarkan perkataannya, Steve membuka kemeja dan celananya, menyisakan celana mirip seperti celana renang.
“Akh Steve! Kalau mau ganti ya di kamar atau kamar mandi, bukan di sini,” sinis Elleta melihat suaminya tidak tahu malu.
Steve yang merasa tertantang dengan santai menceburkan dirinya ke kolam renang. Elleta yang melihat sikap Steve memilih mundur hingga ia terpojok ke pinggiran kolam.
“Jangan mendekat, aku bisa lebih galak. Steve!” Laki-laki itu tetap mendekat ke Elleta dan tidak memberi ruang untuk gadis itu kabur.
Steve meraih pinggang Elleta mencengkramnya dengan erat, lalu berbisik di telinga gadis itu. “Aku tahu, kamu mencoba berusaha mencongkel jendela perpustakan dan masuk tanpa izin ke ruang kerjaku, wahai istriku apa yang kamu cari?”
Tubuh Elleta menegang, darahnya berdesir. Merasakan nafas Steve di telinganya. “Ehm, enggak! Mana ada aku kesana? Aku melukis, Steve!” kilah Elleta, dengan raut wajah kebingungan.
Steve tertawa renyah, mata laki-laki itu sampai menyipit. Bagi Elleta ini ketawa mengejeknya karena aksinya gagal dan ketahuan.
“Kamu kira aku bodoh? Setiap rumah ini ada mata-mata yang enggak akan bisa kamu lihat, El. Kamu kira aku bodoh?” Steve menaikkan alisnya dengan wajah angkuh.
Elleta mengatupkan giginya, tangannya mengepal hingga memutih. “Kalau caramu mencintaimu dengan mengurungku, kamu enggak akan bisa menembus pintu hatiku, Steve. Coba aja kurung aku, tapi jangan menyesal nantinya.”
Mata Elleta menangkap kalung kunci yang melingkar di leher laki-laki di hadapannya ini. Elleta tersenyum miring. “Apa mungkin ini kunci perpustakaan,” batin Elleta dalam hati.
“Jangan macam-macam, El. Gerak-gerikmu bakal terbaca semuanya, apalagi kamu masuk ke kandang singa,” pesan Steve dengan nada penekanan.
Elleta melingkarkan tangan ke leher suaminya. Steve mendadak membeku, detak jantungnya berdetak kencang. “Pantau aja terus aku, suamiku. Sampai kamu puas.” Elleta memberikan senyum paling manis ke Steve, sambil membuka kalung itu dengan hati-hati.
Kalung logam itu sudah berada di genggamannya, senyuman lega terpatri di wajah gadis itu. Steve yang lengah, Elleta memanfaatkannya untuk naik ke atas kolam. “Selamat bersenang-senang suamiku.”
Elleta tersenyum kemenangan dalam hati, walaupun jantungnya berdetak tidak karuan. Gadis itu masih melihat suaminya yang berlanjut berenang tanpa dirinya.