Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tembakan Pertama dan Teriakan Histeris
Malam di atas kapal pesiar The Majestic Poseidon seharusnya berakhir dengan keheningan romantis di bawah siraman cahaya bulan, tetapi bagi Leon Vancort, kata "romantis" selalu memiliki definisi yang bergeser secara ekstrem sejak Ailen hadir. Saat ini, mereka berdua masih berdiri di dek luar. Ailen, yang sudah membuang sepatu mahalnya ke laut, kini berdiri dengan kaki telanjang yang kedinginan, namun wajahnya tampak sangat puas setelah berhasil menyelundupkan sepotong pizza sisa dari dapur.
"Mas Leon, denger deh. Suara ombaknya kayak lagi bisikin sesuatu," ucap Ailen sambil memejamkan mata, membiarkan angin laut memainkan helai-helai rambutnya yang mulai berantakan.
"Bisikin apa?" tanya Leon, mencoba untuk tidak terpesona oleh profil samping gadis itu yang terlihat luar biasa lembut di bawah rembulan.
"Katanya... 'Ailen, besok makan nasi padang ya, pake rendang yang bumbunya hitam banget'," jawab Ailen serius.
Leon menghela napas. Tentu saja. Di otak Ailen, alam semesta pun hanya peduli soal urusan perut. Namun, sebelum Leon sempat membalas ejekan itu, instingnya sebagai predator dunia bawah mendadak berteriak. Ada perubahan frekuensi di udara—sebuah desisan kecil yang hanya bisa dikenali oleh telinga yang sudah terbiasa dengan kematian.
"Tiarap!" teriak Leon.
Piuw!
Sebuah peluru dari senapan runduk berperedam suara membelah udara tepat di tempat kepala Ailen berada sedetik yang lalu. Leon dengan sigap menyambar pinggang Ailen dan menjatuhkan tubuh mereka ke balik kursi santai yang terbuat dari kayu jati tebal.
"ASTAGA NAGA BONAR! MAS LEON! ITU APAAN?!" teriak Ailen histeris. Suaranya melengking tinggi, sanggup membuat burung camar yang sedang tidur di tiang kapal terjatuh karena serangan jantung.
"Itu tembakan, Ailen! Diamlah!" desis Leon sambil mencabut pistol Glock dari balik tuksedonya.
"SAYA TAHU ITU TEMBAKAN! TAPI ITU DEKET BANGET! RAMBUT SAYA YANG BARU DISALON TADI SORE JADI KENA ANGIN PELURUNYA, MAS! ITU MAHAL TAHU!" Ailen berteriak lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi. Ia tidak tampak takut mati, ia tampak marah karena tatanan rambutnya terancam.
"Fokus, Ailen! Kita dijebak. Moretti atau Black Cobra sepertinya sadar kita memasang sesuatu," Leon mengintip dari balik celah kursi. Di kejauhan, di dek atas yang gelap, ia melihat kilatan lensa dari teropong bidik.
Piuw! Piuw!
Dua peluru lagi menghantam sandaran kursi jati, mengirimkan serpihan kayu beterbangan.
"Mas! Saya nggak tahan! Saya harus melakukan sesuatu!" Ailen mulai merangkak dengan gerakan yang sangat tidak elegan.
"Kau mau ke mana? Tetap di sini!" perintah Leon, tapi Ailen sudah melesat.
Bukannya lari menjauh untuk mencari perlindungan, Ailen justru berlari menuju sebuah meja dekorasi yang berisi vas bunga porselen besar dan... keranjang buah. Dalam situasi hidup dan mati ini, otak Ailen kembali bekerja di luar nalar manusia normal.
"HEI, TUKANG TEMBAK CUPU! NIH MAKAN VITAMIN C!" teriak Ailen.
Dengan kekuatan lengan yang biasanya ia gunakan untuk memanggul karung beras di pasar, Ailen melemparkan sebuah buah apel merah dengan kecepatan peluru meriam. Apel itu meluncur deras ke arah dek atas. Sang penembak runduk yang sedang fokus membidik Leon tidak menyangka akan ada serangan balik berupa buah-buahan.
Plakk!
Apel itu menghantam lensa teropong sang penembak tepat sasaran. Penembak itu terhuyung ke belakang, kaget bukan main. Leon tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berdiri dan melepaskan dua tembakan presisi ke arah bayangan di dek atas.
Dor! Dor!
Terdengar suara tubuh yang jatuh berdebam ke lantai dek. Tembakan pertama Leon malam ini telah memakan korban.
"Mas! Kena nggak? Kena nggak?" tanya Ailen sambil melompat-lompat kecil, masih memegang sebuah pisang di tangan kirinya sebagai cadangan amunisi.
"Kena. Tapi itu baru satu. Penjaga Moretti pasti akan segera ke sini," Leon menarik tangan Ailen. "Kita harus ke sekoci darurat. Sekarang!"
Mereka berlari melintasi dek yang luas. Namun, pintu menuju koridor utama meledak terbuka. Enam orang pria bersetelan jas hitam dengan senapan mesin ringan muncul. Mereka adalah pasukan elit Black Cobra.
"Vancort! Kau tidak akan keluar dari kapal ini hidup-hidup!" teriak pemimpin mereka.
Leon segera menarik Ailen ke balik pilar besar. "Ailen, ini bukan latihan lagi. Mereka menggunakan peluru tajam. Kau punya senjata?"
Ailen meraba-raba balik gaun mewahnya. "Nggak ada, Mas! Tadi kan Mas bilang jangan bawa bawang! Saya cuma bawa ini..." Ia mengeluarkan sebuah garpu perak yang ia curi dari meja prasmanan tadi.
Leon memejamkan mata sejenak, berdoa agar ia diberikan kesabaran ekstra. "Garpu? Kau mau menyuapi mereka sampai mati?"
"Eh, jangan remehkan garpu ini, Mas! Ini garpu stainless steel pilihan! Bisa buat nyolok mata kalau terdesak!" sahut Ailen defensif.
Para musuh mulai menembak secara membabi buta. Tatatatatatata! Pilar beton tempat mereka berlindung mulai terkikis. Debu semen berterbangan. Situasi menjadi sangat kritis. Leon membalas tembakan, menjatuhkan satu orang, tapi amunisinya terbatas.
Tiba-tiba, Ailen melihat sesuatu di dekat kaki para musuh. Sebuah selang pemadam kebakaran yang tergulung rapi di dinding.
"Mas Leon, cover saya! Saya mau main air!" teriak Ailen.
"Ailen, jangan gila!"
Tapi Ailen sudah melesat dengan gerakan zigzag yang mustahil diikuti mata. Peluru-peluru menghujam lantai di sekeliling kakinya, tapi Ailen seolah sedang berdansa. Ia mencapai katup pemadam kebakaran, memutarnya dengan kekuatan penuh, dan mengarahkan moncong selang raksasa itu ke arah enam orang pengawal tersebut.
"SEMPROTAN MAUT RATU SEMPRUL DATANG!"
WUSHHHHHHHHHH!!!!
Air bertekanan tinggi menghantam para mafia itu dengan kekuatan yang sanggup menjebol pintu kayu. Mereka semua terlempar, terombang-ambing di atas dek yang licin seperti cucian yang sedang dibilas. Senjata mereka terlepas, dan mereka berteriak-teriak karena tekanan air yang menghantam wajah.
Di tengah kekacauan itu, Ailen tertawa histeris. "Hahaha! Ayo mandi! Biar dosa-dosa kalian luntur! Mas Leon, liat tuh! Si botak itu meluncur kayak pinguin!"
Leon terpaku melihat pemandangan itu. Pasukan elit yang ditakuti di seluruh Asia Tenggara baru saja dikalahkan oleh seorang gadis dengan selang air. Ia segera keluar dari persembunyian dan melumpuhkan sisa-sisa musuh dengan pukulan di tengkuk saat mereka masih berusaha bernapas di tengah banjir dadakan itu.
"Kerja bagus, Ailen. Sekarang, ayo pergi sebelum—"
Tiba-tiba, alarm kapal berbunyi nyaring. Suara ledakan terdengar dari bagian bawah kapal. BOOM! Kapal berguncang hebat, membuat Ailen terjatuh tepat ke dalam pelukan Leon.
"Mas! Kapalnya mau meledak ya? Aduh, saya belum kawin, Mas! Saya belum ngerasain malam pertama yang katanya seru itu!" teriak Ailen lagi, kembali ke mode histerisnya.
Leon mendekap Ailen erat, mencoba menyeimbangkan tubuh mereka. "Itu sabotase. Moretti sepertinya lebih memilih menenggelamkan kapal ini daripada membiarkan informasi di penyadap itu bocor. Kita harus melompat!"
"Melompat?! Ke laut?! Mas, lautnya gelap banget! Nanti kalau ada hiu yang lagi sariawan terus dia gigit saya gimana?" Ailen memegang kerah baju Leon dengan kencang hingga kancing paling atas tuksedo Leon lepas.
"Lebih baik hiu daripada peluru Black Cobra, Ailen! Percaya padaku!" Leon menatap mata Ailen dengan dalam. "Aku tidak akan membiarkanmu mati."
Ailen menatap Leon. Ketakutan di matanya perlahan mereda, digantikan oleh kepercayaan yang murni. "Oke, Mas. Tapi kalau kita selamat, Mas harus beliin saya nasi padang tiga porsi ya? Pake paru goreng sama bumbu rendang ekstra!"
"Sepuluh porsi pun akan kubelikan! Sekarang, satu... dua... TIGA!"
Mereka melompat dari dek kapal setinggi lima belas meter. Angin malam menerpa wajah mereka saat tubuh mereka meluncur bebas menuju permukaan air laut yang hitam dan dingin.
BYUURRRRRRR!
Air laut yang dingin menusuk tulang segera menyelimuti mereka. Leon berusaha mencari permukaan, tangannya tetap menggenggam erat tangan Ailen. Saat mereka muncul ke permukaan, mereka melihat kapal The Majestic Poseidon mulai miring dengan api yang berkobar di dek tengah.
"Ailen! Kau tidak apa-apa?" teriak Leon di tengah suara ombak.
Ailen batuk-batuk, mengeluarkan air laut dari mulutnya. "Mas... air lautnya asin bener! Kurang gula ya? Terus... gaun saya... gaun saya jadi berat banget, Mas! Berasa bawa karung semen!"
Leon melihat sekoci darurat yang terlempar tidak jauh dari posisi mereka. "Berenang ke sana! Cepat!"
Setelah perjuangan yang melelahkan melawan arus, mereka akhirnya berhasil naik ke atas sekoci karet kecil. Keduanya tergeletak di dasar sekoci, terengah-engah dengan tubuh basah kuyup. Ailen menggigil hebat, gaun merah mewahnya kini hanya nampak seperti kain basah yang menyedihkan.
Leon melepaskan tuksedonya yang juga basah dan menyampirkannya ke bahu Ailen, meski tidak banyak membantu. Ia kemudian menarik Ailen ke dalam pelukannya, mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri.
"Mas Leon..." bisik Ailen pelan.
"Ya?"
"Makasih ya udah nggak lepasin tangan saya tadi."
Leon mengecup puncak kepala Ailen yang masih basah. "Aku tidak akan pernah melepaskannya, Gadis Semprul."
Ailen terdiam sejenak, lalu mendongak menatap Leon dengan wajah pucat tapi mata yang masih jahil. "Mas... ngomong-ngomong soal nggak ngelepasin tangan... itu... Mas tangannya megang apa ya di pinggang saya?"
Leon mengerutkan kening. "Aku hanya memegangmu agar tidak jatuh."
"Bukan, Mas. Itu... di tangan Mas yang satu lagi... itu kan... sisa pizza saya yang tadi!" Ailen menunjuk sebuah plastik kecil yang terjepit di antara jari Leon. Ternyata, dalam kekacauan melompat tadi, Leon secara tidak sadar ikut menyelamatkan sisa pizza Ailen.
Leon menatap plastik itu dengan ekspresi tidak percaya. Ia, Raja Mafia yang paling disegani, baru saja mempertaruhkan nyawa di tengah ledakan kapal hanya untuk berakhir menyelamatkan sepotong pizza dingin.
"Kau benar-benar menularkan kegilaanmu padaku, Ailen," gumam Leon sambil tertawa kecil, suara tawa yang sangat jarang terdengar namun terasa begitu hangat.
Ailen ikut tertawa, suaranya memecah kesunyian laut malam. "Itu namanya cinta, Mas! Cinta itu emang bikin gila. Tapi tenang, pizza ini bakal jadi makanan paling enak yang pernah kita makan di tengah laut."
Di atas sekoci kecil, di tengah lautan luas yang gelap, dengan api kapal yang masih berkobar di kejauhan sebagai latar belakangnya, sang Iblis dan si Gadis Semprul itu duduk bersandar satu sama lain. Tembakan pertama mungkin telah memicu perang besar, dan teriakan histeris Ailen mungkin telah merusak wibawa Leon, tetapi di malam itu, mereka berdua tahu bahwa tidak ada tempat yang lebih aman di dunia ini selain berada di samping satu sama lain.
"Mas Leon?"
"Apalagi, Ailen?"
"Pizzanya bagi dua ya? Tapi saya bagian yang ada dagingnya lebih banyak!"
"Ambil semuanya, Ailen. Ambil semuanya sebelum aku berubah pikiran dan melemparmu kembali ke laut."
Ailen nyengir lebar, melahap pizzanya dengan bahagia, sementara Leon Vancort menatap bintang-bintang, menyadari bahwa hidupnya yang penuh darah kini telah berubah menjadi sebuah komedi yang sangat indah.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍