NovelToon NovelToon
MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

Membelenggu Liarmu dengan Mahar

​Shania Ayunda Salsabilla, gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup liar dan pemberontak, dipaksa menikah oleh ayahnya dengan seorang pria religius bernama Zain Malik Muammar. Bagi Shania, pernikahan ini adalah penjara, sementara bagi Zain, ini adalah amanah untuk membimbing jiwa yang tersesat.

​Di malam pertama yang dingin, ketegangan memuncak saat Shania menabuh genderang perang dan menolak tunduk pada aturan agama.

Namun, ia justru dihadapkan pada ketegasan Zain yang tak tergoyahkan oleh provokasinya. Dimulai dari paksaan bangun Subuh hingga aturan berpakaian, Shania bertekad membuat Zain menyerah dan menceraikannya dalam sebulan.

Di sisi lain, Zain memulai misi besarnya: menundukkan keliaran hati Shania bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan prinsip dan keteguhan iman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBELENGGU LIARMU DENGAN MAHAR

BAB 21: "Fajar di Sela Pohon Durian"

​Embun pagi masih betah menggelayut di ujung daun-daun jati ketika adzan Subuh berkumandang dari menara Masjid pesantren Al-Ikhlas . Kediri di jam-jam begini adalah paduan antara dingin yang menggigit dan kehangatan spiritual yang merayap lewat lantunan dzikir yang bersahutan dari asrama santri.

​Zain dan Shania baru saja menyelesaikan dzikir ba’da shalat berjamaah di musala kecil rumah mereka. Shania masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya, merapikan mukena yang sedikit berantakan, sementara Zain sudah berdiri, melipat sajadahnya dengan rapi.

Pagi ini, Zain tidak mengenakan jubah kebesarannya, melainkan hanya sarung samarinda cokelat tua dipadu dengan kaos lengan panjang berbahan katun yang santai.

​"Ayo, Dek. Keburu embunnya hilang, keburu matahari naik tinggi," ajak Zain sambil mengulurkan tangan.

​Shania mendongak, matanya yang masih sedikit sayu karena kantuk tiba-tiba berbinar.

"Jadi, Mas? Benar ke kebun, Abah?"

​"Janji seorang suami itu hutang, apalagi kalau janjinya di depan sajadah," jawab Zain dengan senyum yang membuat jantung Shania berdesir.

Shania segera beranjak ke arah meja rias. Dengan cekatan, ia meraih kain tipis berwarna hitam yang senada dengan jilbab instannya. Ia mengikatkan tali cadar itu di belakang kepalanya, memastikan hanya sepasang matanya yang bulat dan jernih yang tampak.

​Zain memperhatikan dari ambang pintu, menunggu dengan sabar. Ia tahu, di dalam rumah, kecantikan itu miliknya sendiri, namun di luar sana, cadar itu adalah perisai sekaligus bentuk ketaatan istrinya pada aturan main di lingkungan tempat mereka tinggal.

​"Sudah siap?" tanya Zain lembut.

​Shania mengangguk di balik kainnya.

"Sudah, Mas. Ayo, sebelum santri-santri mulai ramai antre mandi di sumur belakang."

​Setelah mengenakan jaket tebal Shania mengekor di belakang Zain. Mereka berjalan melewati jalan setapak yang membelah kompleks pesantren. Di kanan kiri, beberapa santri yang berpapasan menunduk takzim, memberikan salam "Assalamu’alaikum, Ustadz," yang dijawab Zain dengan ramah namun tetap berwibawa. Shania merasa ada kebanggaan kecil yang menyelinap di hatinya, pria hebat di depannya ini adalah miliknya.

"​Aroma Tanah dan Janji yang Berbuah"

​Kebun di belakang Ndalem (rumah utama pengasuh pesantren) adalah oase hijau yang luas. Berbagai pohon buah tumbuh subur di sana, mulai dari mangga, rambutan, hingga primadona yang sedang ditunggu-tunggu, pohon durian.

​Begitu memasuki area kebun, aroma khas tanah basah dan wangi bunga-bunga liar menyambut indra penciuman. Shania menghirup napas dalam-dalam, merasa paru-parunya seperti dicuci bersih.

​"Wah, Mas! Lihat itu!"

Shania menunjuk sebuah pohon durian yang dahan-dahannya merunduk karena beban buah yang cukup besar.

"Benar-benar sudah berbuah! Tapi... apa tidak jatuh menimpa kepala kalau kita di bawah sini?"

​Zain terkekeh, tangannya meraih jemari Shania agar tidak melangkah terlalu jauh ke area yang licin.

"Durian itu tahu kapan harus jatuh, Shania. Dia punya 'akhlak'. Biasanya jatuh di malam hari saat tidak ada orang. Dan Abah sudah memasang jaring di bawah beberapa pohon yang buahnya sudah tua."

​Zain menuntun Shania duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon sawo, sedikit menjauh dari jangkauan jatuhnya durian namun tetap bisa memandangi keasrian kebun. Sinar matahari mulai menerobos sela-sela daun, menciptakan garis-garis cahaya yang indah di sekitar mereka.

​"Shania," panggil Zain lembut.

Ia memutar posisi duduknya agar menghadap sang istri.

​"Ya, Mas?"

​"Semalam kamu sudah menyetorkan hafalan Surah Maryam dengan sangat indah. Tapi, cinta pada Al-Qur'an itu tidak boleh berhenti di lisan saja. Ia harus masuk ke pikiran, lalu menetap di hati."

Zain mengambil sebuah ranting kecil, lalu menggambar garis-garis abstrak di atas tanah.

"Saya, ingin tahu, sejauh mana 'istri liar' saya ini mengenal kitab suci yang dia pelajari setiap malam."

​Shania membenarkan posisi duduknya, mendadak merasa seperti sedang menjalani ujian munaqasyah (sidang hafalan).

"Waduh, ada kuis dadakan ya? Kalau jawabannya benar, hadiahnya durian yang paling besar ya, Mas?"

​Zain tersenyum misterius.

"Deal. Pertanyaan pertama, dasar sekali. Ada berapa surah dalam Al-Qur'an?"

​Shania menjawab dengan cepat,

"Seratus empat belas surah!"

​"Berapa juz?"

​"Tiga puluh juz, Mas. Gampang itu mah!"

Shania menjulurkan lidahnya sedikit di balik cadarnya, merasa di atas angin.

​Zain mengangguk-angguk.

"Baik, levelnya kita naikkan sedikit. Al-Qur'an itu punya 'jantung'. Surah apa yang disebut sebagai jantung Al-Qur'an (Qalbul Qur'an)?"

​Shania terdiam sejenak, mengingat-ingat penjelasan Ustadzah di kelas tahsin dulu.

"Surah Yasin! Benar, kan?"

​"Benar. Lalu, surah apa yang jika dibaca sekali, pahalanya setara dengan membaca sepertiga Al-Qur'an?"

​"Surah Al-Ikhlas," jawab Shania mantap.

Zain tersenyum, lalu memberikan pertanyaan pamungkas untuk menguji ketelitian istrinya.

"Kalau begitu, pertanyaan terakhir untuk jumlah teknisnya. Selain 114 surah dan 30 juz, berapa jumlah total ayat dalam Al-Qur'an yang biasanya kita pelajari?"

​Shania sempat mengerutkan kening, jemarinya mengetuk-ngetuk dagu di balik cadar, lalu menjawab dengan nada penuh keyakinan,

"Enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat, Mas! Angka cantik yang selalu aku ingat dari zaman TPA dulu."

​Zain tampak puas. Ia menatap Shania dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekaguman dan kasih sayang yang mendalam.

​"Pintar. Satu lagi, dan ini yang paling penting untuk kehidupan kita. Surah apa yang menceritakan tentang kemuliaan seorang wanita hingga namanya abadi menjadi nama surah, padahal dia bukan seorang Nabi?"

​Shania tersenyum manis.

"Surah Maryam. Surah yang aku hafal semalam."

"​Mahar yang Tak Pernah Usai"

​Zain meletakkan ranting kayu tadi. Ia meraih kedua tangan Shania, menggenggamnya erat di atas pangkuannya. Suasana kebun yang tadinya ceria dengan suara burung, mendadak berubah menjadi khidmat.

​"Pintar," bisik Zain.

"Shania, kamu tahu kenapa saya menanyakan hal-hal ini? Di bawah langit Kediri pagi ini, saya ingin kita meluruskan niat. Al-Qur'an itu bukan beban hafalan. Ia adalah peta. Jika kamu tahu berapa jumlah surahnya, itu artinya kamu tahu betapa luasnya ilmu Allah. Jika kamu tahu jantungnya, itu artinya kamu tahu di mana pusat kehidupanmu harus berlabuh."

​Shania menunduk, merasakan hangat tangan Zain menjalar ke seluruh tubuhnya.

​"Dulu, saat saya memberikan mahar padamu... mungkin kamu merasa itu adalah belenggu. Sebuah ikatan yang memaksa kamu diam, memaksa kamu berubah menjadi orang lain," lanjut Zain, suaranya kini sedikit serak.

"Tapi lihatlah pohon durian ini. Dia butuh waktu bertahun-tahun, butuh pupuk yang terkadang baunya tidak enak, butuh dipangkas dahannya agar buahnya manis. Mahar yang saya berikan bukan untuk mengikat kakimu agar tidak lari, tapi untuk mengikat hatimu agar kita bisa terbang bersama ke surga-Nya."

​Air mata Shania menggenang. Kata-kata Zain selalu punya cara untuk meruntuhkan tembok pertahanan egonya.

​"Mas Zain... maafkan aku ya. Aku sering merasa ilmu agamaku dangkal, lalu aku menutupinya dengan sikap keras kepala. Aku, takut kalau aku jadi wanita saleha, aku tidak bisa jadi diriku sendiri lagi."

​Zain menggeleng cepat. Ia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang jatuh di pipi di balik cadar Shania.

"Jangan pernah takut. Allah menciptakanmu dengan karakter yang ceria, berani, dan jujur. Itu adalah anugerah. Saya, tidak ingin mengubahmu jadi patung yang hanya bisa berkata 'ya'. Saya, hanya ingin 'liarmu' itu punya arah. Seperti kuda pacu yang hebat, dia butuh penunggang yang mencintainya agar larinya tidak sia-sia menabrak jurang."

​Shania tertawa kecil di tengah isak tangisnya.

"Jadi aku disamakan dengan kuda sekarang?"

​Zain tertawa lepas, suara baritonnya mengguncang keheningan kebun.

"Kuda yang paling cantik di dunia, kalau begitu."

"​Manisnya Buah Sabar"

​Tepat saat itu, suara buk! terdengar cukup keras dari arah jaring di bawah pohon durian yang paling besar.

​"Nah! Itu dia hadiahnya," ujar Zain semangat.

​Ia berdiri dan mengajak Shania mendekat ke arah jaring. Sebuah durian dengan duri yang masih hijau kecokelatan dan aroma yang sangat menyengat—tanda sudah matang sempurna—tergeletak di sana.

​Zain dengan terampil mengambil durian itu menggunakan kain alas agar tangannya tidak terluka. Ia membawanya kembali ke bangku kayu. Dengan sebuah pisau kecil yang memang sudah ia siapkan di saku jaketnya, Zain membelah buah itu dengan cekatan.

​Begitu terbuka, daging buah berwarna kuning mentega tampak sangat menggoda.

​"Bismillah. Suapan pertama untuk makmum saya yang sudah lulus kuis pagi ini," ucap Zain sambil menyodorkan sepotong daging durian yang tebal ke arah bibir Shania di balik cadar.

​Shania sedikit membuka cadarnya, menerima suapan itu dengan malu-malu. Rasa manis, sedikit pahit, dan tekstur yang lembut meledak di mulutnya.

"Enak sekali, Mas! Manis banget!"

​"Sama seperti buah kesabaran, Dek. Awalnya mungkin berduri dan sulit dibuka, tapi kalau kita tahu caranya, dalamnya sangat manis," ujar Zain filosofis, sambil ikut menikmati buah tersebut.

​Mereka menghabiskan pagi itu di kebun Ndalem, duduk berdua sambil sesekali berdebat kecil tentang tafsir ayat atau sekadar menertawakan tingkah laku santri yang mulai terlihat lalu lalang di kejauhan.

​Bagi Shania, pagi ini bukan hanya tentang durian atau kuis Al-Qur'an. Ini tentang bagaimana ia menyadari bahwa "membelenggu" tidak selamanya berarti kehilangan kebebasan.

Terkadang, dibelenggu oleh cinta seorang lelaki yang saleh justru adalah bentuk kebebasan yang paling sejati, kebebasan dari rasa gelisah dan pencarian yang tak berujung.

​Di bawah langit Kediri yang kini mulai membiru terang, Shania menyandarkan kepalanya di bahu Zain. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, bab demi bab kehidupan masih akan mereka tulis. Namun, selama Zain yang menjadi musami’ (penyimak) atas setiap detak jantung dan hafalannya, Shania tidak lagi takut pada apapun.

​"Mas Zain," panggil Shania pelan saat mereka hendak beranjak pulang.

​"Ya, Sayang?"

​"Besok kuisnya lagi ya? Tapi hadiahnya jangan durian terus, aku mau cilok depan pesantren."

​Zain menghela napas panjang, namun matanya memancarkan binar kebahagiaan.

"Ternyata 'liarnya' memang belum hilang sepenuhnya ya. Baik, besok kuis tentang hukum waris, hadiahnya cilok dua porsi."

​Shania tertawa riang, langkah kakinya terasa ringan menyusuri jalan pulang, seiring dengan matahari yang semakin tinggi, menyinari masa depan mereka yang kini terasa jauh lebih terang.

​Bersambung ....

1
Dian Fitriana
up lg thor
falea sezi
katanya ustadz istrinya di gantung klo mau cerai ya cerai malah kabur g bgt sifat ne laki
falea sezi
ustadz kok didikan nya pake kekerasan alon2 talah ustadz hadeh
partini
saling cinta tapi Ego setinggi langit
pak ustadz kamu agak salah caranya secara wanita tuh gampang banget nething
Saniaa96: benar. makasih udah luangkan waktu untuk baca 🙏🙏🙏 semoga sehat selalu. aamiin🤲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!