NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Kebenaran di Balik Rekaman Dingin

Mansion megah itu masih terasa seperti makam yang sunyi.

Arlan tidak benar-benar pergi jauh; ia hanya berdiri di balik pilar ruang makan yang dingin, mendengarkan isak tangis Kinara yang perlahan mereda dari raungan histeris menjadi sesenggukan kecil yang jauh lebih menyakitkan untuk didengar.

Setiap tarikan napas Kinara yang berat dan tersendat terasa seperti duri yang menusuk paru-paru Arlan, membuatnya sesak seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan tadi.

​Arlan tahu, kata-kata tidak akan lagi mempan. Lidahnya sudah kelu, dan setiap pembelaan yang keluar dari mulutnya hanya akan dianggap sebagai kebohongan baru oleh Kinara yang sedang terluka.

Di titik ini, cinta saja tidak cukup. Ia butuh realitas yang kasat mata—sesuatu yang tidak bisa dibantah oleh prasangka atau hormon kehamilan yang sedang melonjak.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Arlan menyambar ponselnya. Matanya menyala dengan kilatan kemarahan yang dingin, bukan kepada Kinara, melainkan kepada situasi yang hampir menghancurkan dunianya.

Ia menghubungi kepala keamanan gedung Arlan Group dengan suara yang rendah namun penuh ancaman.

​"Baskoro tidak ada, jadi aku tidak mau ada alasan. Kirimkan rekaman CCTV ruang kerjaku dari jam sepuluh pagi sampai jam satu siang kemarin. SEKARANG. Kirim ke tablet pribadiku dalam lima menit, atau aku pastikan seluruh tim keamananmu kehilangan pekerjaan dan referensi kerja selamanya!"

​Lima menit terasa seperti lima abad bagi Arlan. Saat notifikasi file masuk berbunyi, Arlan segera membukanya. Ia menonton video itu sendirian terlebih dahulu di sudut ruangan yang gelap.

Di sana, di layar datar itu, kebenaran terungkap tanpa suara. Ia melihat Clarissa masuk dengan gerak-gerik yang mencurigakan, ia melihat bagaimana wanita itu sengaja memancing momen, dan ia melihat betapa kasarnya ia sendiri mendorong wanita itu saat menyadari ada niat buruk.

​"Ular berbisa," geram Arlan, giginya gemeletuk menahan amarah.

​Arlan tidak langsung menyerbu masuk ke dapur. Ia menunggu hingga Kinara pindah ke ruang tengah.

Ia melihat istrinya duduk termenung di sofa beludru, kedua tangannya memeluk perut buncitnya seolah sedang melindungi bayi mereka dari sang ayah yang dianggapnya berkhianat. Wajah Kinara pucat, pandangannya kosong menatap lantai marmer.

​Arlan melangkah maju dengan perlahan, membawa tablet di tangannya. Suara langkah kakinya sengaja dibuat terdengar agar tidak mengejutkan Kinara.

​"Kinara," panggil Arlan. Kali ini suaranya tidak lagi merengek atau memohon.

Suaranya tenang, mantap, dan penuh wibawa—suara seorang pria yang siap membuktikan kehormatannya.

​Kinara tidak menoleh. Ia hanya memejamkan mata dengan rapat, air mata baru kembali mengalir di pipinya.

"Aku bilang pergi, Arlan. Jangan paksa aku mengeluarkan kata-kata yang lebih kasar lagi. Perutku sakit, aku hanya ingin tenang."

​"Aku tidak akan bicara banyak, Kin. Aku hanya ingin kamu melihat ini dengan matamu sendiri. Setelah ini, jika kamu masih menganggap aku monster dan ingin aku pergi dari hidupmu selamanya, aku akan berangkat tanpa protes sedikit pun. Aku akan meninggalkan rumah ini jika itu memang keinginanmu," Arlan meletakkan tablet itu di atas meja di depan Kinara, lalu ia mundur beberapa langkah, memberikan jarak yang cukup agar Kinara tidak merasa terancam.

​Kinara sempat ingin mengabaikan benda itu, namun dorongan di dalam hatinya—keinginan untuk membuktikan bahwa kecurigaannya salah—membuatnya melirik ke arah layar. Dengan tangan yang bergetar, Kinara menekan tombol play.

​Di sana, video diputar tanpa suara, namun setiap gerakannya berbicara ribuan kata.

​Kinara melihat Arlan sedang sibuk dengan tumpukan berkas. Ia melihat Clarissa masuk membawa kopi dan mulai mencoba menyentuh bahu Arlan, namun di layar itu terlihat Arlan berkali-kali menepis tangan wanita itu dengan gusar.

Kemudian, sampailah pada momen yang menentukan.

Arlan tampak mengucek matanya dengan keras—ia memang sedang kesakitan karena debu. Di saat itulah, Clarissa bergerak licik. Wanita itu mencondongkan tubuh, mendekatkan wajahnya dengan sengaja tepat beberapa detik sebelum pintu terbuka.

​Dan di detik pintu itu terbuka oleh sosok Kinara di dalam video, Kinara melihat reaksi Arlan yang sebenarnya.

Arlan tidak diam saja.

Arlan langsung mendorong bahu Clarissa dengan sangat kasar hingga wanita itu hampir terjatuh menabrak meja. Ekspresi wajah Arlan di video itu bukanlah ekspresi pria yang tertangkap basah, melainkan ekspresi pria yang sangat murka karena privasinya dilanggar.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Kinara. Semua kemarahan yang meluap-luap, semua teriakan histeris tadi pagi, dan semua bayangan pengkhianatan yang menghantuinya sejak kemarin, tiba-tiba runtuh seketika.

​Kinara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tubuhnya lemas, nyaris merosot dari sofa. Air matanya kembali jatuh, tapi kali ini bukan karena benci, melainkan karena rasa sesak yang luar biasa akibat penyesalan. Ia telah membentak pria yang tidak bersalah. Ia telah menghina pria yang bahkan tidak sudi disentuh oleh wanita lain demi menjaga sucinya cinta mereka.

​Arlan masih berdiri di sana, diam membeku seperti patung. Ia melihat bahu Kinara mulai terguncang hebat.

​"Arlan..." bisik Kinara pelan, nyaris tak terdengar.

​Arlan mendekat, langkahnya ragu namun penuh kerinduan.

Ia berlutut di bawah kaki Kinara, menatap istrinya yang kini menatapnya dengan mata yang penuh dengan permintaan maaf yang tak terucapkan.

​"Aku sudah bilang, Kin. Tidak ada orang lain. Bagiku, wanita di dunia ini sudah mati sejak aku menemukanmu kembali," ucap Arlan lirih.

Ia mengambil tangan Kinara yang dingin, mencium punggung tangannya dengan penuh pengabdian.

"Kamu boleh marah padaku karena aku ceroboh, tapi tolong... jangan pernah ragukan bahwa aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri."

​Kinara langsung menjatuhkan dirinya ke pelukan Arlan. Ia mendekap leher suaminya dengan sangat erat, menangis sejadi-jadinya di bahu pria itu.

​"Maafkan aku... Arlan, maafkan aku... aku sudah sangat jahat padamu... aku membentakmu dengan kasar..." isak Kinara di tengah tangisnya yang pecah.

"Aku pikir... aku pikir aku akan kehilanganmu lagi..."

​Arlan memeluk Kinara dengan kekuatan penuh, seolah ingin menyerap semua rasa sakit dan ketakutan istrinya ke dalam tubuhnya sendiri.

"Sshhh... tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kamu sedang mengandung, kamu sedang sensitif, dan aku yang salah karena membiarkan celah itu ada. Jangan minta maaf, Kin. Aku yang harus bekerja lebih keras agar kamu tidak perlu merasa takut lagi."

​"Aku benar-benar gila tadi, Arlan... aku memecahkan piring... aku memukul dadaku..."

​"Kamu tidak gila, Kin. Kamu hanya mencintaiku dengan cara yang luar biasa, sampai-sampai rasa takut kehilangan itu membuatmu kehilangan kendali. Aku mengerti," Arlan mengusap air mata Kinara, lalu ia mencium kening istrinya dengan sangat lama—sebuah ciuman yang membawa kedamaian kembali ke dalam mansion itu.

​Malam itu, dingin yang mencekik seketika mencair, berganti dengan kehangatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Arlan membawa Kinara kembali ke tempat tidur, menyelimutinya dengan penuh kasih, dan tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun.

​"Besok," bisik Arlan sambil mengecup jemari Kinara, "aku akan memasang sistem keamanan sidik jari di seluruh lantai kantorku. Hanya aku, Baskoro, dan KAMU yang bisa masuk. Tidak akan ada lagi sekretaris wanita di radius sepuluh meter dariku. Aku janji, Kin. Aku tidak akan membiarkan ada satu debu pun yang membuatmu ragu lagi padaku."

​Kinara mengangguk, ia memegang tangan Arlan yang tergores pecahan piring tadi pagi. Ia mencium luka itu dengan penuh rasa bersalah dan cinta.

"Sakit, ya? Maafkan aku, Arlan..."

​"Luka ini tidak ada apa-apanya dibanding melihatmu menangis, Kin," Arlan tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang akhirnya kembali menghiasi wajahnya.

​Di bawah naungan malam Jakarta yang kini terasa lebih bersahabat, Arlan dan Kinara akhirnya tertidur dalam dekapan satu sama lain.

Kepercayaan yang sempat retak itu kini disambung kembali dengan lem cinta yang jauh lebih kuat. Penyesalan Arlan telah tuntas terbayar oleh pembuktian, dan kini mereka siap menghadapi hari esok sebagai satu kesatuan yang tak tergoyahkan.

catatan :

gayssss sory ih😭 aku telat uploadnya ih😑 sory yang yang udah nungguin aku upload malah aku telat💔 btwwww tetap sama aku yah??

lvyouuuuuu🤍

1
Ma Em
Akhirnya Kinara mau memaafkan Arlan karena Arlan memang tdk salah cuma salah sangka saja , semoga Arlan dgn Kinara selalu rukun dan bahagia bersama anaknya nanti setelah lahir semakin bertambah bahagia dan tdk akan terpisahkan .
riela_nahak: halloooooo kkkk😻 semogaaaa yah ka ih💐 btwwww tunggu partai selanjutnya yah kk lvyouuuuui🤍🤍💐😻
total 1 replies
Anonim
maso..,,...,...kis
riela_nahak: hallooo kakakakakakakk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!