NovelToon NovelToon
Kau Pilih Selingkuhanmu, Aku Pilih Adikmu

Kau Pilih Selingkuhanmu, Aku Pilih Adikmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hashifa

“Aku akan bantu ungkap perselingkuhan suamimu, tapi setelah itu, ceraikan dia dan menikahlah denganku.”

Sekar tak pernah menyangka kalimat itu keluar dari mulut adik iparnya, Langit Angkasa. Lima bulan menikah dengan Rakaditya Wiratama, ia tengah hamil dan merasa rumah tangganya baik-baik saja. Sampai noda samar di kemeja suaminya dan transfer puluhan juta rupiah ke rekening-rekening asing membuka satu per satu kebohongan yang selama ini tersembunyi.

Sekar harus memilih: bertahan dalam luka, atau menyetujui ide gila yang bisa menghancurkan semuanya.

Dan ketika balas dendam berubah menjadi pernikahan, siapa yang sebenarnya akan terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hashifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua garis pengkhianatan

Anita tersenyum dari kejauhan saat melihat Raka mendekat.

“Selamat malam, Pak Raka. Selamat, ya ….” Wanita itu mengulurkan tangan dengan tenang.

Raka tidak menyambutnya langsung.

“Anita, kamu ngapain di sini? Kamu sudah gila?!”

Suaranya rendah, ditekan agar tidak terdengar orang lain. Anita tetap tersenyum, seolah tidak terusik dengan kegusaran Raka.

“Loh, kenapa, Mas? Mereka di sini, kan, nggak tahu hubungan kita. Di mata mereka, kita cuma rekan bisnis. Bukan begitu, Pak Raka?”

Ia menyapu pandangan ke sekitar, santai. “Rileks saja. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan.”

Tangannya membenarkan kerudung yang hanya disampirkan di bahu, tanpa benar-benar rapi. Raka menghela napas kasar.

“Tapi di sini ada Langit. Kamu nggak seharusnya datang ke acara ini.”

Anita tidak menjawab. Justru matanya bergerak pelan, menangkap sesuatu di belakang Raka.

“Loh, kok, tamunya nggak diajak masuk?” Suara Sekar terdengar di belakang.

Raka menegang. Dari arah belakang, Sekar muncul dengan anggun dan tenang seakan tidak tahu apa-apa.

“Sepertinya kita pernah bertemu,” ujar Sekar, sedikit mengingat.

Anita menoleh, lalu tersenyum sopan. “Selamat malam, Bu Sekar.”

Ia mengulurkan tangan.

Sekar menyambutnya hangat. “Ah iya … saya ingat. Mbak yang waktu itu ketemu kami di Hawaii, kan?”

Sekar melirik sekilas ke arah Raka, lalu menggamit lengannya pelan, seolah tanpa sadar mempertegas posisi.

“Benar, kan, Mas?”

Raka tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum kaku.

Anita mengangguk pelan. “Benar, Bu. Saya senang Ibu masih ingat.”

“Ingat, dong. Soalnya jarang Mas Raka kenalkan rekan kerja ke saya.”

Kalimat itu terdengar ringan. Tapi ada sindiran tersirat dibalik ucapannya itu.

Anita tersenyum tipis. “Sekali lagi selamat ya, Bu. Semoga acaranya lancar.”

“Panggil Sekar saja, Mbak. Kita beda umur juga sepertinya. Saya jadi nggak enak kalau dipanggil begitu.”

Sekar membalas senyum itu, lalu menoleh ke Raka.

“Mas, acaranya sudah mau mulai. Tamunya diajak masuk dulu, ya.” Nada suaranya tetap lembut. Tapi tegas.

Ia membungkuk kecil ke arah Anita sebelum melangkah pergi. Sebelum benar-benar menjauh, tangannya sempat mengusap perutnya yang membuncit.

“Berani-beraninya kamu ngundang dia datang ke acara kita, Mas! Dasar manusia gatal dua-duanya!” bisiknya pelan.

Raka menatap punggung Sekar sejenak. Lalu wajahnya mengeras. Begitu Sekar cukup jauh, suara Raka turun.

“Jangan bikin keributan di sini, Anita. Masuk sekarang. Dan jangan buat masalah.”

Anita menatapnya balik, masih dengan senyum yang sama.

“Tenang saja, Mas. Aku cuma datang memberi selamat,” ujarnya sebelum mengikuti langkah Raka.

***

Suara ustaz terdengar tenang menyampaikan tausiah setelah pembacaan ayat-ayat suci. Suasana di dalam rumah Raka terasa khusyuk, para tamu duduk rapi menyimak.

Di tengah keramaian itu, Langit menangkap pandangan Bagas dari kejauhan. Ia memberi kode singkat. Bagas mengangguk kecil sebagai tanda mengerti.

Pelan-pelan, Bagas berpindah posisi dengan alasan membantu panitia. Tidak lama kemudian, Langit juga ikut bergerak menjauh dari area utama, seolah ingin mengambil udara.

Keduanya bertemu di taman belakang yang tertutup pepohonan.

“Kamu alihkan perhatian, biar saya menyelinap ke ruang kerja Raka. Tempat itu satu-satunya harapan kita untuk mendapatkan bukti. Setidaknya informasi apa pun.”

Bagas tampak ragu. “Tapi, Pak … ini berbahaya. Apa tidak sebaiknya saya saja?”

“Jangan,” potong Langit cepat, lebih dingin dari sebelumnya. “Kalau kamu ketahuan, kamu tidak punya alibi. Kalau saya yang ketahuan, saya bisa bilang bosan di luar. Kamu cukup awasi saja.”

Bagas akhirnya mengangguk sebelum mereka berpisah.

***

Acara terus berlanjut. Para tamu mulai menikmati hidangan prasmanan, suasana perlahan mencair. Suara-suara para tamu berbincang terdengar ramai.

Sekar bergabung dengan para tamu bersama Ayunda. Sementara Raka duduk tak jauh dari mereka, berbincang dengan salah seorang rekan kerjanya.

Di sisi lain, Bagas tetap mengamati Raka dari jauh. Ia memastikan posisi pria itu tidak bergerak mencurigakan, sambil sesekali memperhatikan arah Langit yang sudah tidak terlihat di area utama.

Pria itu sudah bergerak. Ia menyelinap masuk ke ruang tengah, lalu terus bergerak menuju ruang kerja dengan hati-hati, memastikan tidak ada yang melihat gerak-geriknya.

Cklek!

Pintu terbuka sempurna. Gelap. Langit menyalakan lampu dinding yang temaram.

“Semoga aku bisa menemukan sesuatu di sini.”

Ia mulai bergerak cepat, memeriksa seluruh berkas. Satu per satu sudut ruangan ia telusuri. Bahkan ia memastikan apakah ada ruang tersembunyi di balik panel atau lemari.

Sementara di depan, suasana terlihat normal. Tidak ada yang menyadari Langit telah menghilang dari kerumunan tamu.

“Nak, kandungan kamu sudah makin besar. Kalian tidak mau cari ART? Kasihan kalau kamu kerjakan semuanya sendiri,” Ayunda menegur Sekar pelan.

Ia lalu menoleh ke Raka.

“Raka, carikan ART untuk istrimu. Kasihan dia.”

Raka tersenyum. Ia mengusap lengan Ayunda pelan.

“Iya, Ma. Besok Raka carikan. Sebenarnya dari kemarin juga sudah mau cari, tapi menantu Mama ini keras kepala. Katanya takut banyak drama,” ucapnya sambil mengusap kepala Sekar yang tertutup jilbab.

“Tapi tetap saja kasihan, Raka. Mau, ya, Nak. Pakai ART. Kamu, kan, kuliah juga, nanti kelelahan.”

“Tuh, kan, Sayang. Mama juga minta kamu pakai ART. Besok Mas carikan, ya. Mau yang pulang pergi atau yang menginap?”

Sekar tersenyum kecil. “Yang pulang pergi saja, Mas. Kerjaan di rumah juga nggak banyak.”

Obrolan itu mengalir hangat, tanpa mereka tahu sepasang mata mengawasi dari kejauhan. Anita.

Wajahnya tenang, tapi tatapannya tajam.

Ia meraih ponsel, lalu mengetikkan pesan. [Mas, aku harus bicara sekarang.]

Klik. Pesan terkirim. Di seberang sana, Raka menatap layar cukup lama. Rahangnya mengeras tipis.

Lalu ia membalas. [Jangan sekarang. Ini bukan waktu yang tepat.]

Belum sempat layar padam, pesan baru masuk. Sebuah foto testpack dengan dua garis yang jelas. Wajah Raka memucat perlahan. Ia menggeram pelan.

“Kenapa, Mas?” tanya Sekar pelan, alisnya mengernyit.

Raka cepat mengunci layar. Senyumnya dipaksakan.

“Bukan apa-apa. Mas ke toilet dulu, ya.”

Sekar mengangguk pelan, meski ada rasa curiga yang tertinggal di matanya. Matanya menyapu sekeliling. Dan saat menyadari seringaian kecil di bibir Anita, ia tahu Raka bukan ke toilet.

Bahkan untuk menunggu besok saja kalian nggak sanggup, Mas? gumamnya dalam hati.

Raka berjalan cepat menuju sisi rumah yang lebih sepi. Jantungnya tidak benar-benar tenang, tapi pikirannya lebih kacau.

Di tengah langkahnya, ia berhenti sejenak. Mengeluarkan ponsel lalu jari-jarinya bergerak cepat mengirimkan pesan.

[Temui aku di halaman samping. Sekarang!]

Ia menunggu dengan gelisah di halaman samping seolah ini adalah penantian terpanjangnya.

“Mas,” ucapnya Anita begitu tiba. Ia berusaha mendekat.

Raka langsung menghindar. “Ikut aku. Di sini nggak aman,” jawabnya singkat.

Matanya bergerak cepat, memastikan tidak ada yang memperhatikan. Ia membuka pintu kecil di sisi bangunan, jalur yang biasa dipakai untuk akses belakang. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, ia menarik Anita masuk.

Langkah mereka mengendap-endap menuju lorong di mana ruang kerja Raka berada.

Sementara itu, di dalam sana, Langit masih bergerak cepat. Tangannya membuka satu per satu laci, memeriksa berkas tanpa jeda. Nafasnya mulai tidak teratur, tapi ia memaksa tetap tenang.

Tidak ada yang mencurigakan. Semua hanya dokumen bisnis biasa. Ia beralih ke rak buku. Jari-jarinya menyusuri punggung buku, mengetuk pelan, mencari celah atau tempat tersembunyi. Matanya tajam, bergerak cepat, seperti sedang dikejar waktu. Namun tetap nihil.

Langit berhenti sejenak. Menutup mata singkat.

“Nggak mungkin kosong. Aku yakin pasti ada sesuatu di sini …,” bisiknya lirih.

Ia beralih ke meja utama. Menarik laci paling bawah dengan sedikit kasar. Matanya tertumbuk pada satu bagian laci yang sedikit tersembunyi di balik panel dinding.

Namun, belum sempat ia menyentuhnya, langkah-langkah kaki terdengar dari luar.

“Sial,” gumamnya pelan.

Dengan cepat ia mematikan lampu tempel dinding. Tubuhnya bergerak sembunyi ke balik lemari buku di sudut ruangan.

Sunyi untuk sesaat hingga terdengar suara pintu terbuka. Langit semakin merapatkan tubuhnya ke dinding.

Raka masuk lebih dulu, menyeret Anita di belakangnya.

“Aah … pelan-pelan dong, Mas,” suara Anita terdengar ringan, bahkan nyaris menggoda.

Raka menutup pintu dengan cepat lalu menyalakan lampu. Wajah mereka terdengar dengan jelas dari sudut ruangan di mana Langit bersembunyi.

“Pesan itu maksudnya apa, Anita?! Kamu sudah gila?!“

Suara Raka terdengar tajam, tertahan emosi.

Anita menatapnya datar. “Aku hamil, Mas. Aku sudah periksa ke dokter.”

Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya, lalu menyodorkannya. Raka merebutnya cepat. Membaca singkat lalu wajahnya mengeras. Ia mengusap rambutnya kasar.

“Kenapa kamu bisa hamil?! Bukankah kita sudah sepakat pakai pengaman? Kamu sendiri yang bilang tidak mau punya anak!”

Di balik lemari, Langit tersentak. Anita hamil?

“Aku sudah minum obatnya, Mas,” jawab Anita tenang. “Tapi kenyataannya aku hamil sekarang.”

Raka menatapnya tajam. “Lalu sekarang apa?“

Anita tidak ragu. “Aku mau kamu tanggung jawab, Mas. Nikahi aku.”

Hening untuk sesaat.

Raka tertawa kecil, lebih terasa hambar.

“Nikah? Kamu gila. Aku nggak pernah mau menikah dengan kamu, Anita. Kita sudah sepakat, kan? Istri aku cuma Sekar!!“

“Tapi aku hamil, Mas. Kamu nggak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.”

Suara Anita mulai mengeras.

“Gugurkan.”

1
bintang laut🌟
drpd milih opsi menikahi Anita apa Raka akan melenyapkan Anita🤔
Hashifa: kita lihat yaa😎
total 1 replies
Yuli Yulianti
aduh Raka kali ini penyesalan tidak akan berguna cuma nunggu giliran terbongkar aj
bintang laut🌟
astoge Raka kenapa pake masuk ruang kerja sih. kan bang Langit belum nemuin bukti2 ny🤭
Hashifa: kalau di kasih tahu langsung bukannya dinikahin malah di penjara kak😅
total 2 replies
bintang laut🌟
syukurin lu Rak selamat datang huruhara kehancuran mu😂
bintang laut🌟
itung2 latihan napa bang Lang, ntar kalu Sekar hamil anakmu km gak kaget lagi ngadepin ngidam ny bumil😂
Hashifa: 🤣🤣🤣🤣 ga ngefek kak 🙈🙈🙈
total 5 replies
Yuli Yulianti
anita kamu mau mengakui dirimu selingkuhan Raka dihari pengajian 4 bulanan Sekar malah memudah kan Sekar lho kamu nggak tau aj berapa banyak perempuan nya Raka yg ad kamu sendiri syok
Hashifa: mereka sama-sama licik kak 😌
total 1 replies
bintang laut🌟
astoge ini anak nya Raka atau yg pacar aslinya. duh mana lupa nama😂
gile nih ulet bulu ya kali bikin rusuh dipengajian 4 bulan an
bintang laut🌟: 😂😂 nama ny juga ulet bulu gak ada yg bener. ntar juga mereka lama2 pd nyungsep itu nunggu panen ny atas kelakuan yg tidk bermoral😂
total 5 replies
bintang laut🌟
kalau dulu ada kisah antara Kania n Langit...lah proses terjadi Zayn gimana gak sengaja ap salah satu ada yg mabok..thor aku lupa kisah nya pernah di spil belum sih di bab seblumnya🙈
Hashifa: udah pernah di Spil cuma baru secuil. dulu si Kania ini pacarnya Langit tapi direbut sama Raka. Pas hamil, ditinggalin tuh, malah disuruh gugurin kandungannya 😌😌😌
jahat banget ya si Raka tuh
total 1 replies
bintang laut🌟
duh sayang teh nya masih utuh😂
bintang laut🌟
apah ini. ada kisah dimasa lalu ternyata🤭
Hashifa: iyaa... tapi pas udah sama Sekar dia juga main sama Anita. bahkan honeymoon aja dia bawa tuh gundik. kurang edan apalagi coba 😌😌
total 3 replies
bintang laut🌟
huaaaa baru juga baca udah dibikin mewek😭
bintang laut🌟: ho'oh apalgi proses ada ny Zayn diluar pernikahan apa gak dobel2 nyesek nya tuh si Zayn. Zayn km awet aj jd bocil biar gak sakit terima kenyataan
total 2 replies
bintang laut🌟
semangat Gas, semoga cepet dpt informasi dan video nya...
bang Langit kau dimana ih lagi sibuk ama mahasiswa mu kah😂
Hashifa: tenang... part selanjutnya muncul kok. dan siap2 baper sama istri orang 🤣🤣🤣
total 1 replies
bintang laut🌟
apah. serius Zayn bapakmu macam Raka. kok aku gak ikhlas km punya bapak Raka😭😭😂
bintang laut🌟: wkwkwk. kan jdi penasaran🙈😂
ok siap menunggu bab selanjutnya😂
total 5 replies
bintang laut🌟
hoh ternyata Raka tak direstuin ama bapak nya Sekar ish kongkalikong ini am yg buat kecelakan bapak ny Sekar
Hashifa: ada alasan kenapa ga setuju bapaknya. wait yaaa... nanti terbuka satu persatu 😁
total 1 replies
bintang laut🌟
oh jadi video potongan ini ya thor yg waktu itu Raka bilang ama Anita kan ya kalau Bagas berani bicara maka Bagas bisa masuk penjara
Hashifa: yess... betul.. ketemu kan benang merahnya 😎
total 1 replies
bintang laut🌟
ini yg ngirim file rekaman gak bisa ditelurusi kah waktu itu. minta bantuan tim IT gitu🤭🙈
Hashifa: buntu Kak, penjelasan di next part yaaa
total 1 replies
bintang laut🌟
duh rekaman video opo maneh iki🙈😂
Hashifa: hampir benar... next bab yaa... kebuka dikit2 🤭
total 3 replies
bintang laut🌟
ini kan....
ap mungkin foto Kaina Raka🙄
ish kebiasan si othor😂
Hashifa: wkwkwk... sabarr
total 1 replies
bintang laut🌟
belum jd bini, udah perhatian aj nih bang Lang🙈
Hashifa: ya gimana dong... calon-calon bucin 🤭🤣
total 1 replies
Endang Supriati
lagian ngapain kirim pesan ke Raka!!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!