" Nak. Ayo kita pulang, tak baik loh melamun di waktu senja, apalagi kamu melamun nya di bawah pohon randu." Tegur wanita tua, lembut dan tersenyum hangat kepada pemuda berusia 20 tahun.
" Ehk. Nek... Ayo.." Jawab pemuda itu tak beraturan ucapannya. Lalu bangkit dari tempat duduk di bawah pohon itu.
" Kamu kenapa Nak. Akhir akhir ini Nenek perhatikan kamu suka melamun seorang diri?"
" Gak kenapa-kenapa kok Nek." Jawab nya.
" Hmmmmmmm.." Gumam Nenek tak puas dengan jawaban dari pemuda yang kini berjalan berbarengan pulang ke rumah nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
EPISODE 34: JARAK YANG DIJAGA
Subuh telah menyingsing, cahaya matahari baru mulai menyebar lembut menyentuh genteng rumah-rumah kampung. Udara masih segar dengan bau dedaunan dan embun pagi yang menyegarkan paru-paru.
Langit keluar dari rumahnya dengan langkah pelan, tangan kanannya menyentuh pagar bambu yang sudah sedikit lapuk. Dia melihat ke arah timur, di mana cakrawala mulai berubah warna dari jingga muda ke kebiruan yang cerah.
"Pagi yang baik untuk memulai langkah baru," bisiknya pelan, sambil melangkah menuju jalan tanah yang sedikit licin akibat embun. Jarak ke rumah Intan hanya beberapa meter saja – bisa dilihat jelas dari sini, di mana tirai kain putih di depan pintu masih sedikit terbuka.
Saat mendekati pagar bambu berwarna hijau tua milik Intan, Langit menghentikan langkahnya sejenak. Dia melihat ke arah kamar kecil di samping rumah yang biasanya digunakan oleh anak kembar untuk bermain.
"Hari ini kita akan mulai mengungkap apa yang tersembunyi," gumamnya, lalu mengetuk pintu pagar dengan nada yang lembut namun pasti. Suara ketukan itu terdengar jelas di tengah kesunyian pagi yang masih belum terganggu oleh aktivitas warga.
Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka perlahan. Intan muncul dengan baju rumah berwarna biru muda, rambutnya masih sedikit berantakan karena baru saja bangun. Wajahnya langsung menunjukkan ekspresi terkejut namun hangat ketika melihat Langit berdiri di luar pagar.
"Langit? Kok kamu datang pagi-pagi begini ya?" ucap Intan dengan suara yang masih lembut, lalu segera membuka pagar untuk mengundangnya masuk. "Sudah sarapan belum? Aku baru saja mau memasak bubur."
Langit memasuki halaman rumah Intan, mata nya menyapu sekitar melihat tidak ada tanda anak kembar yang biasanya sudah bermain di halaman. "Belum, tapi tidak usah repot ya Teh Intan. Aku datang kesini hanya untuk menyampaikan pesan nenek Wati dan keinginan ku saja.
"Pesan apa itu Ngit, kok aku jadi berdebar jantung ku." Intan menatap Langit sangat serius.
"Santai atuh Teh, kok kesannya jadi aku yang gak enak sih lihat tatapan Teh Intan begitu." Langit berkerut keningnya.
Uh............... " Ini bocah malah membalikkan keadaan." Kesal hati teh Intan, itu membuat Langit tersenyum renyah.
"Iya kamu ada pesan apa dari nenek Wati, dan keinginan apa. LANGIT BOCAH SABLENG, atau kamu ingin Teteh Cium." Intan sangat kesal namun kesukaannya selalu menggoda Langit.
"Cium Wow. Mau dong hehehehe." Kekeh Langit, menanggapi godaan dari Ibu beranak dua itu." Maksud kedatangan Langit ke sini, esok sidang pertama Teh Intan di pengadilan, biar nenek Wati yang menemanimu. Lalu keinginan Langit, ingin memasukan Adel dan Adi ke TK bukankah mereka usianya hampir menginjak 6 tahun dah itu sudah pas untuk memasukkan mereka ke TK.
Langit buru buru memindahkan topik pembicaraan nya ke tujuan datang ke rumah Intan, Ia tak mau di pagi hari ini rusak atas rencana mesumnya itu, walaupun Langit menginginkan hubungan dengan Teh intin ke lebih intim tapi saat ini dia masih status suami orang.
Mendengar kata-kata Langit, wajah Intan yang tadinya masih menunjukkan rasa kesal dan ingin menggoda, tiba-tiba menjadi tenang. Mata nya yang tadinya sedikit menyipit karena kesal, perlahan mulai memerah dan mengumpulkan air mata di sudut kelopak matanya.
Dia mengangkat tangan perlahan untuk menutupi bibirnya yang sedikit bergetar, ekspresi wajahnya berubah total – dari kesal menjadi penuh keharuan yang tak bisa disembunyikan. Beberapa detik kemudian, air mata itu mulai mengalir perlahan di pipinya yang cerah.
"Ng... Ngit..." ucap Intan dengan suara yang terengah-engah, kemudian dia mendekat dan memeluk Langit erat dari sisi, menyematkan wajahnya ke bahu muda itu. "Aku... aku memang khawatir banget tentang sidang esok hari. Aku takut sendiri, takut apa yang akan terjadi... tapi kamu bahkan sudah memikirkan itu dan menyuruh Nenek menemani aku."
Dia melepaskan pelukan sedikit, mengelus air matanya dengan telapak tangan, namun senyum hangat sudah muncul di wajahnya. "Dan tentang Adel dan Adi... aku memang sudah berencana memasukkan mereka ke TK, tapi uangku saja belum cukup untuk biayanya. Padahal mereka sering bilang pengen sekolah seperti teman-teman mereka yang sudah masuk TK."
Intan menatap Langit dengan mata yang masih berkaca-kaca namun penuh rasa syukur. "Kamu selalu memperhatikan kita dengan saksama ya, meskipun kamu selalu terlihat cuek dan sibuk dengan urusanmu sendiri. Aku benar-benar sangat terharu, Ngit. Terima kasih banyak..."
Mendengar kata-kata Intan dan merasakan pelukannya, Langit sedikit mengerutkan kening dan perlahan menjauh sedikit dari pelukan tersebut. Wajahnya yang tadinya sedikit riang karena godaan Intan, kini kembali menunjukkan ekspresi cuek dan tenang seperti biasanya.
Dia mengangkat bahu dengan santai, lalu menggeser posisi tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Intan. "Jangan salah paham Teh Intan," ucap Langit dengan nada yang datar dan tidak menunjukkan emosi sama sekali. "Saya hanya melakukan kewajiban saya untuk menjaga kamu dan keluarga yang perlu dilindungi. Itu saja."
Dia melihat ke arah belakang rumah, seolah-olah sedang mencari sesuatu, menghindari tatapan Intan yang masih berkaca-kaca. "Untuk biaya TK Adel dan Adi, saya sudah menyisihkan uangnya. Nanti saya serahkan langsung ke Nenek Wati saja, agar tidak ada salah paham. Saya tidak ingin orang-orang kampung berbicara buruk tentang kita.
" Maaf ya Teh aku reflek mendorong tubuh Teh Intan untuk tidak memelukku, karna aku takut di lihat warga dan di cap sebagai perusak rumah tangga teh Intan, tahu kan insiden yang terjadi masalah yang lalu ketika malam itu aku melantunkan syair Dewi Bulan dan Raja Malam, Suamimu berani membayar mahal Pardi untuk memantau gerak gerik mu hingga sampai terjadinya insiden yang tak di inginkan di saung tepi sungai itu.
"Maaf sekali lagi Teh Intan, status mu saat ini masih milik orang lain, dan aku tidak bisa leluasa bergerak ke dalam keintiman, takut sungguh takut, tapi kamu tenang saja, walaupun aku terkesan dingin dan cuek atau kadang polos aku selalu memperhatikan mu, menyayangi Adel dan Adi. Aku ingin kamu cepat selesai urusan mu dengan suamimu, menagih janji rahasia yang pernah kamu ucapkan.
Panjang lebar Langit memberi masukan dan saran agar Intan tahu posisi saat ini, dan tujuannya Langit berbicara itu secara rasionalisasi, untuk tujuan yang lebih besar.
Intan temenung sesaat berpikir keras di hati dan pikirannya saat ini." Apakah Langit harus tahu tentang masa laluku TERJERAT dalam keadaan yang tak bisa di lepas.
Tapi setelah aku perhatikan gerak gerik Langit, menyelesaikan masalah yang menimpa dirinya maupun diriku, bahkan mengusik ketenangan nenek Wati, Langit mempunyai kekuatan untuk menyelesaikan nya dengan mudah." Apakah aku harus percaya pada bocah yang dulu aku ingin menjerat nya menjadi budakku.!
CATATAN PEMBACA:
SESUDAH MEMBACA JANGAN LUPA KLIK LIKE YA!
SYUKUR-SYUKUR DAPAT VOTE DAN GIFT KALAU KALIAN SUKA DENGAN CERITA INI.
JANGAN LUPA JUGA ADD KE LIBRARY / FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN UPDATE SELANJUTNYA!
SALAM DARI ANAK KAMPUNG,
ARIS.
Bersambung.