Tak punya pilihan lain, selain mengikuti apa yang sahabatnya Fani minta. yaitu menikah dengan Fauzan yang notabennya adalah suami Fani.
Fauzan adalah masa lalunya dan Kemala bersama Fauzan memiliki memori yang bisa di katakan tidak baik-baik saja. tetapi Kemala menerimanya dan dia rela menjadi istri kedua supaya sahabatnya itu bersemangat kembali dan mau menjalani perawatan atas penyakitnya, yaitu kanker payudara.
pernikahan yang cukup pelik dan Kemala kira kalau dirinya dan Fauzan tidak akan sejauh itu. mereka hanya menikah demi permintaan Fani saja, akan tetapi tidak untuk Fauzan dan Fauzan menuntut supaya Kemala mau melakukan tugasnya sebagai istri betulan, termasuk melayaninya di atas ranjang.
cekidokttt mohon dukungannya untuk karya saya yang kesekian, terimakasih😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Kata-kata yang Fauzan begitu menusuk hatinya dan membuat perasannya terasa di cabik-cabik. Walau begitu, apa yang di katakan memang sebuah fakta kejam yang harus di terima Kemala sebagai konsekuensi dari pilihannya.
Oleh karena itu, Kemala pun memilih untuk menurut, setidaknya untuk sekarang. Bukan karena Fauzan, tetapi karena sahabatnya dan ya. Ia pada akhirnya pun mengambil cuti selama dua hari dan untungnya bosnya tak banyak bicara dan mengizinkan Kemala, walau terasa cukup aneh, bahkan bosnya sampai menelpon dan bertanya alasan Kemala cuti__mengingat Kemala adalah karyawan yang tidak pernah cuti selama ini. Bukan karena ia teladan, tapi memang Kemala tidak betah saja kalau hanya diam di rumah.
Dan untungnya Kemala sudah di perbolehkan pulang, tetapi dokter Farah pun mewanti-wanti Kemala. Kalau ada apa-apa, Maka Kemala di minta untuk ke rumah sakit lagi dan Kemala menyetujuinya.
“Eumm.. siapa kamu?.“Tanya Kemala pagi itu tatkala melirik dengan penuh tanya saat seorang perempuan paruh baya dengan tas di tangannya dan dia sudah masuk ke dalam rumah milik Kemala.
Lalu tatapan Kemala pun teralih pada sosok di belakang wanita itu dan tidak lain tidak bukan adalah suaminya alias Fauzan.
Lho, Kemala mengira pria itu takan pulang ke rumah ini.
“Bi Lia, beliau ART baru di rumah ini.“Sahut pria itu dan membuat bibir Bi Lia yang sempat terbuka dan terlihat akan menjawab pun menjadi bungkam, majikannya sudah menjelaskan.
“Oh ya, bibi ke belakang ya. Kamarnya ada di sana.“Tukas Fauzan mengusir halus Bi Lia. Dan Bi Lia pun mengerti, setelah pamit pada keduanya Bi Lia pun menuju kamar yang tadi di tunjukan oleh Fauzan.
Fauzan dan Kemala masih saling diam di tempatnya dan kini saling menatap.
Setelah kejadian kemarin, memang tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Fauzan meninggalkannya sendiri di rumah sakit dan Kemala bungkam serta tidak mencegah pria itu pergi. Buat apa? Toh memang Kemala tidak sepenting itu untuk Fauzan, Kemala benar-benar sadar diri. Meski tak di pungkiri kalau hatinya amat sakit sekali. Tetapi biarlah, toh memang Kemala hanya istri sementara Fauzan yang tidak punya hak yang sama seperti Fani, setidaknya itulah yang sudah mereka sepakati berdua__namun saat Kemala hendak pulang, wanita itu cukup terkejut tatkala ada sebuah mobil hitam yang ternyata sudah menunggunya dan Kemala teramat tahu mobil siapa itu, ternyata meski menyebalkan dan sangat mengesalkan, Fauzan suaminya menunggu Kemala__lebih tepatnya supir yang di tugaskan oleh suaminya, tapi tidak apa. Setidaknya Kemala tidak harus menunggu lebih lama untuk sampai ke rumah.
“Untuk apa ART di rumah ini? Saya masih bisa kok untuk beres-beres, masak dan mencuci. Lagi pula saya sudah terbiasa.“Ucap Kemala yang memilih menyebut dirinya sendiri menjadi 'saya' tentu saja menegaskan kalau Kemala tidak menganggap hubungan kedekatan mereka__apa yang Kemala ucapkan tentu membuat Fauzan cukup terkejut, apalagi nada dingin dan sorot mata wanita yang sudah menjadi istrinya itu terlihat begitu datar. Seolah menganggap Fauzan bukan bagian penting dalam hidupnya.
Cihhhh..
“Saya hanya ingin calon anak saya sehat dan tidak kenapa-kenapa.“Sahut Fauzan yang sepertinya memilih untuk tetap mempertahankan egonya.
Kemala tersenyum getir, jadi hanya untuk calon anaknya dan bukan untuk Kemala? Heuh.. harusnya sih Kemala sudah tahu, ya? Tapi masih saja berharap.
“Tenang aja, anak kalian gak akan kenapa-kenapa. Saya jamin.“
“Awas saja jika kejadian kemarin terjadi lagi, Mala. Saya tidak akan mentorerirnya!.“Tukas Fauzan tegas dengan sorot matanya yang terlihat menghunus tajam dan membuat Kemala mendengus kasar.
“Saya akan menjaganya, kamu tidak usah khawatir mas.“Timpalnya, lalu Kemala memilih pergi meninggalkan Fauzan sendiri. Rasanya bersama Fauzan hanya akan menciptakan hawa panas yang membuat tubuh dan hatinya terbakar saja.
“Dasar sialan, bajingan tengik. Brengsek kamu Fauzan..“Ujar Kemala sambil memukul-mukul bantal di kamarnya untuk melampiaskan segala amarah yang ia rasakan untuk pria yang sudah menjadi suaminya itu, cihhh. Bahkan yang di pentingkan pria itu tak lain dan tak bukan hanya calon anaknya, tidak dengan Kemala__huhh. Andai tahu akan begini, mungkin Kemala tidak akan memilih untuk mengiyakan tawaran Fani yang ternyata malah membuat hatinya sakit saja.
Bisa gak sih Kemala memukulinya? Atau setidaknya memberikan tamparan beberapa kali? Sungguh, Kemala benar-benar ingin melakukannya. Dia sangat amat menyebalkan sekali.
Di saat Kemala sedang sibuk dengan aksi memukul-mukul bantal untuk melampiaskan kekesalannya. Di saat itu pintu kamarnya di buka paksa dari luar__dan wanita itu refleks langsung menoleh, kedua pupil matanya makin membesar tatkala melihat kalau ternyata Fauzan pelakunya.
“Kenapa mas bisa masuk ke kamar ini?.“Tanya Kemala dengan nada suara yang agak sedikit menggeram karena marah, wanita itu sudah berdiri dan menatap Fauzan tak kalah tajam.
Fauzan menyeringai”Karena ini.“Ucapnya, memamerkan kunci kamar Kemala yanga da di tangannya. Dengan cepat Kemala pun memeriksa saku celananya dan di saat itulah Kemala menyadari kalau dirinya teramat ceroboh, sampai lupa kalau kunci kamarnya sudah tidak ada lagi dari sakunya.
Tapi bagaimana bisa? Dan rasa-rasanya kamarnya juga sudah di kunci.
“Saya bawakan makan siang.“Tukas pria itu yang sudah melangkah maju dan kini mereka hanya berjarak sekitar beberapa cm saja, bahkan aroma parfum sakura yang sama dengannya masih tercium begitu jelas sekali.
“Kenapa kamu masih memakainya?.“Tanya Kemala yang sama sekali tidak meladeni ucapan Fauzan sebelumnya. Fauzan yang tak mengerti pun menatap Kemala dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Kemala menghela nafas pendek, lalu menunjuk tepat ke arah jas milik pria itu, seakan paham. Fauzan pun menyeringai dengan tatapan yang masih lekat untuk istri keduanya itu.
“Kenapa enggak? Lagian saya suka wanginya.“Tuturnya dan masih mengunci tatapannya. Kemala mendengus kesal. Dia bercanda? Bahkan di masa lalu, Fauzan pernah berucap lantang kalau dia tidak suka, karena katanya wanginya terlalu feminim.
“Tinggalkan saya sendiri, nanti saya makan.“Ujarnya, Kemala lalu memilih untuk duduk di ujung ranjang dan mengambil ponsel, mengotak-ngatiknya dan asik dengan dunianya sendiri, mengabaikan Fauzan. Fauzan yang di abaikan pun terlihat berdecak kesal, lalu pria itu sama sekali tidak menuruti titah Kemala dan malah duduk di samping Kemala yang tentu membuat Kemala kaget sekali.
“Kamu saya udah suruh__.“Kemala tak melanjutkan ucapannya sebab bibirnya sudah di tempeli oleh telunjuk pria itu, kini tatapan Fauzan pun menurun dan fokus dengan bibir merah alami milik Kemala. Kemala yang sadar di perhatikan sedemikian rupa dan tidak mau sampai hal 'itu' terjadi lagi__apalagi ucapan kemarin dan tadi sangat menyebalkan sekali. Enak saja, setelah mengatainya, mengejeknya hingga melukai hatinya. Pria itu bisa bebas menikmati bibirnya, NO! Kemala takan membiarkannya.
Kemala lantas menghempaskan tangan itu dan mendelik tajam ke arahnya.
“Apa-apaan kamu mas?.“Ujarnya terdengar menggeram marah, Fauzan pun mencoba meredam kekesalan dirinya. Walau nyatanya tidak bisa, terakhir kemarin. Bahkan Fauzan dengsn sadar menyskiti Kemala__namun itu semua terjadi karena wanita ini yang memancingnya duluan.
“Kenapa? Kamu kerebatan dengan saya yang ada di kamar ini?“.Ujarnya, Kemala dengan cepat menganggukan kepalanya.
“Tentu, maka dari itu sebaiknya kamu keluar!.“Titah Kemala seraya menunjuk pintu keluar dengan tangannya. Fauzan mendengus, agaknya pria itu bukan menurut malah duduk di samping Kemala dan membuat tubuh Kemala bergeser hingga tubuhnya kepentok tembok.
“Kenapa? Kamu alergi dekat dengan saya?.“
“Tentu saja, kamu sudah seperti virus yang berbahaya buat saya..“Jawab Kemala lugas, dan pria itu bukannya merasa tersinggung dengan ucapan Kemala, malah sebaliknya. Dia merasa tergelitik, sampai sudut bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman miring di sana.
“Oh ya? Virus berbahaya, ya?.“Tanyanya, tubuhnya sedikit di condongkan dan kini menatap Kemala lekat__Kemala pun seakan tak berdaya. Bahkan untuk menelan salivanya pun terasa begitu berat, terlebih tatapan dari pria itu yang seakan menelanjanginya.
“Mala dengar. Saya memang virus yang mematikan buat kamu. Untuk itu___.“Ujarnya pelan, sangat pelan sekali. Namun Kemala masih mendengarnya cukup jelas, perlahan wajah pria itu semakin merendah sampai tak berjarak hingga hidung keduanya bersentuhan, tatapan keduanya saling terkunci dan memancarkan sebuah kerinduan bercampur kabut gairah yang begitu jelas, sampai...
Bibir itu bersiap menjangkau bibir lawannya, akan tetapi Kemala yang sudah mendapatkan kesadarannya pun memalingkan wajahnya ke samping, hingga bibir Fauzan mendarat di pipinya, lalu pria itu terkekeuh dan menegakan tubuhnya.
“Kamu menolak ciuman saya.“Ujarnya dengan nada datar, namun Kemala sangat yakin sekali kalau pria itu amat sangat kesal dan marah karena ciumannya di tolak dan tentu saja Kemala sangat bangga akan dirinya yang benar-benar sadar tidak seperti kemarin-kemarin.
“Ehm.. seperti kata kamu, di sini kita profesional. Saya hanya seorang istri sewaan dan sedang mengandung anak kalian. Seperti kata dokter Farah, kalau kondisi kandungan saya sangat rentan di trimester pertama ini, eum. Kalau mas mau melakukan 'itu' mungkin menyewa lc atau masuk ke tempat pelacuran adalah sebuah solusi.“Tukas Kemala dengan entengnya dan sanggup memanasi bulir-bulir kemarahan yang mulai turun dan bersarang di dada pria itu.
Sialan, dia menganggap Fauzan pria yang seperti itu ternyata.. heuhh. Dan tentu saja harga diri Fauzan terluka, egonya tersakiti.
“Saya bukan pria yang seperti itu. Dan saya melakukannya hanya dengan istri saya!!.“Tegas pria itu mendelik tajam dan dengan nafas memburu__Kemala hanya tersenyum sinis lalu berusaha untuk bersikap tenang, walau nyatanya kakinya gemetar karena cukup takut, apalagi melihat sorot mata Fauzan yang sudah berubah menggelap.
“Makan dan habiskan! Kalau tidak, maka bisa saya pastikan kamu akan menjadi seperti wanita dari rumah pelacuran!!.“
lanjut Thor 👍👍
lanjut Thor 👍👍👍
lanjut Thor 👍👍👍
good job thor 👍👍👍♥️♥️♥️
lanjut 👍👍👍