Callista terkejut bukan main, kala dirinya mendapati kembali jika dirinya telah kembali ke lima tahun lalu..
Dimana dia kembali pada awal pernikahan dengan Darius suami yang di di cintai secara ugal-ugalan.
Namun kini cinta itu telah berubah menjadi kebencian, segala perbuatan Darius di kehidupan lalu selalu di ingat nya.
Kini hanya akan hidup untuk membalas kan dendam nya di masa lalu.
Akan kah Callista mampu membalas dendam nya, yuk kita simak aja cerita nya sama-sama.
Warning, mungkin akan terdapat beberapa typo dan flashback di cerita Mak ini, jadi jangan heran ya😅.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Makmisshalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rekaman Menjijikkan dan Batas Kesabaran
"Ah... Darius..." Suara desahan tertahan yang serak dan sarat akan gairah terlarang menggema di dalam kamar apartemen yang temaram itu.
Suasana malam kian memanas seiring dengan deru napas yang memburu dan suara gesekan kain yang tercelap-celup kasar di atas ranjang.
Darius benar-benar melepaskan seluruh kekang moralnya.
Suara decakan basah, tawa kecil Rose yang terdengar manja namun menjijikkan, serta erangan egois dari Darius yang terus memburu kepuasan, memenuhi setiap sudut ruangan pengap penuh dosa tersebut.
Bagi Darius, suara-suara intens yang tercipta dari pergulatan panas mereka adalah bukti kejantanannya.
Pria brengsek itu bergerak bagai binatang yang kehilangan akal sehat, membenamkan dirinya dalam ilusi bahwa dialah penguasa takdir yang paling hebat di dunia ini.
Namun, suara adegan panas yang begitu vulgar itu tidak hanya menggema di dalam dinding kamar apartemen.
Melalui gelombang sinyal frekuensi tinggi, suara erangan, desahan, hingga decakan menjijikkan dari Darius dan Rose tersalurkan secara real-time ke dalam sebuah mobil van hitam yang terparkir rapi di area basemen apartemen mewah tersebut.
.
.
.
Liz dan Lily sengaja mengikuti Darius, karena mereka tau pria brengsek itu pasti akan bermain gila lagi.
Di dalam van yang dingin karena pendingin ruangan, Lily mendadak membekap mulutnya sendiri.
Wajahnya yang semula tegas kini memucat menahan gejolak hebat yang mendadak naik dari lambungnya.
Suara jepretan gairah dan desahan manja Rose yang terdengar begitu jelas melalui penyuara telinga (earphone) berkualitas tinggi miliknya benar-benar memicu rasa mual yang luar biasa parah.
"Ugh..." Liz melepaskan penyuara telinganya dengan kasar, lalu membungkuk, memegangi perutnya yang bergolak.
"Gila... ini benar-benar menjijikkan. Rasanya aku mau muntah sekarang juga." Di sampingnya, Lily juga merasakan hal yang sama.
Wajah Liz tampak mengeras dengan rahang yang mengatup rapat. Matanya menatap layar monitor yang menampilkan visual temaram pergerakan Darius dan Rose dengan pandangan yang sarat akan kejijikan yang mendalam.
Liz buru-buru menekan tombol volume untuk mengecilkan suara erangan laknat yang keluar dari perangkat audio mereka.
"Pria itu benar-benar seonggok sampah," desis Liz, suaranya bergetar menahan mual sekaligus amarah.
"Bagaimana bisa dia melakukan hal sekotor itu berulang kali dengan bibi dari istrinya sendiri, lalu besok pagi memasang wajah suci di depan Nona Callista? Menjijikkan!" Lily meraih sebotol air mineral, meneguknya cepat untuk menekan rasa mual yang terus mengocok isi perutnya.
"Aku tidak tahan mendengar suaranya. Manusia macam apa yang tidak punya rasa malu sedikit pun seperti mereka? Binatang saja tahu tempat dan batasan!"
……………………………………………
Sementara itu, data audio dan visual menjijikkan itu tidak berhenti di van basemen. Sinyal tersebut memang tersambung ke markas utama, langsung ke hadapan Julian yang tengah duduk diam di kursi kebesarannya.
Di ruangan Julian yang megah, suara erangan samar dari Darius masih sempat terdengar dari perangkat audio komputer sebelum akhirnya diputus sepihak oleh Mario yang berdiri di sisi meja.
Wajah Julian tampak sedingin es. Sepasang matanya yang tajam berkilat oleh kemarahan yang tertahan dan rasa jijik yang teramat sangat.
Tangan Julian yang berada di atas meja mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Setiap kali melihat atau mendengar kelakuan Darius, ingatan Julian selalu ditarik kembali pada kekejaman pria itu di masa lalu saat menghabisi Callista.
"Matikan suaranya, Mario," perintah Julian, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar hebat oleh aura mengintimidasi yang sangat kuat.
"Aku tidak sudi membiarkan telingaku dikotori oleh suara sampah seperti itu."
"Sudah saya matikan, Bos," jawab Mario dengan rahang mengeras.
Pria bertubuh kekar itu, yang biasanya santai, kini memancarkan aura membunuh yang kental.
"Si brengsek Darius itu benar-benar bagaikan binatang yang tidak mengenal rasa lelah. Dia terus saja melakukan hal panas dengan wanita murahan itu tanpa memikirkan apa pun. Benar-benar menjijikkan." Di sudut ruangan, Tomy, Jerry, dan Roy yang biasanya suka bercanda dan bertingkah konyol, kali ini diam seribu bahasa.
Wajah mereka bertiga menunjukkan ekspresi muak yang luar biasa.
"Bos," Roy melangkah maju, memajukan tubuhnya dengan tatapan mata sekeras baja.
"Beri kami izin untuk bergerak malam ini juga. Rasanya tanganku sudah sangat gatal untuk mematahkan leher pria binatang itu dan membuang bangkainya ke tempat pembuangan sampah. Dia sama sekali tidak pantas menghirup udara yang sama dengan Nyonya Callista."
Jerry menimpali dengan nada sinis, kehilangan minat pada keripik pedasnya.
"Betul, Bos. Binatang saja masih punya musim untuk kawin, tapi pria itu? Dia benar-benar tidak punya urat malu. Menjijikkan sekali melihat bagaimana dia memanipulasi semua wanita demi keserakahannya." Julian mengangkat sebelah tangannya, memberikan isyarat agar anak buahnya menahan diri.
Meski dadanya sendiri bergemuruh oleh dendam dan rasa jijik, akal sehat Julian yang telah melewati kejamnya kematian di masa lalu membuatnya tetap tenang dan penuh perhitungan.
"Tahan emosi kalian," ucap Julian, suaranya mengalun dingin namun penuh penekanan yang mutlak.
"Membiarkan dia mati dengan cepat malam ini adalah sebuah kemewahan yang tidak boleh dia dapatkan.
Kematian yang instan terlalu indah untuk pria sekejam dia." Julian berdiri dari kursi kerjanya, melangkah menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah gemerlap kota malam.
"Simpan semua rekaman suara dan video pergulatan panas mereka malam ini dengan sangat rapi. Jangan sampai ada satu detik pun yang terlewat," lanjut Julian, matanya berkilat kejam di balik kegelapan.
"Biarkan dia terus bermain gila dengan Rose dan Caroline. Biarkan dia merasa berada di puncak dunia untuk saat ini. Ketika Callista memberikan aba-aba untuk menghancurkannya, kita akan memutarkan rekaman ini di depan wajah Darma dan seluruh kolega bisnis mereka. Aku ingin melihat bagaimana wajah binatang itu saat semua kedoknya dikuliti habis tanpa sisa."
"Baik, Bos! Kami mengerti!" jawab Tomy, Jerry, Roy, dan Mario serempak dengan semangat membara.
Rasa muak yang semula mengocok perut mereka kini telah berubah menjadi bahan bakar dendam yang siap diledakkan.
Mereka tahu, di balik ketiadaan tindakan malam ini, ada badai penghancuran yang teramat besar yang tengah disiapkan oleh Julian dan Callista untuk menyapu bersih sarang ular keluarga Atmaja dan Darius hingga ke akar-akarnya.
"Bagaimana rasanya, saat Darius tau? Dia dikepung oleh orang-orang yang dia kira bisa dia bodohi? Dia mengira dirinya adalah pemain catur yang hebat, padahal sejak awal, dia hanyalah seonggok sampah yang sedang kami tuntun menuju liang kuburnya sendiri. Binatang sepertinya tidak pantas mendapatkan kematian yang cepat. Aku kembali dari masa lalu hanya untuk memastikan dia membusuk secara perlahan, menyaksikan semua hal yang dia curi hancur tak bersisa. Hingga permainan selesai, Darius. Selamat datang di nerakamu."