Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang
Pukul sebelas siang, matahari bersinar terang hampir tepat di atas langit Wonosobo. Meski cahayanya terasa terik, hawa khas pegunungan tetap membuat udara jauh lebih sejuk dibandingkan kota-kota di dataran rendah. Langit membentang biru bersih, sementara puncak Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing tampak berdiri kokoh dengan garis-garis lereng yang terlihat jelas di bawah sinar matahari.
Saat itu, Danendra masih duduk sambil memandangi foto pernikahannya, lebih tepatnya memandangi wajah istrinya.
"Pak."
Sekertarisnya kembali masuk ke ruangan.
"Iya?"
"Ada yang perlu ditandatangani." Katanya.
"Taruh di meja."
Dina meletakan beberapa berkas, lalu ragu-ragu sebelum kembali berbicara. "Bapak sudah makan siang?"
Danendra melirik jam tangannya. "Belum."
"Kalau begitu saya minta Bi Sulastri mengantarkan makanan ke ruangan."
"Tidak usah." Tolak Danendra, "aku makan diluar saja."
Dina mengangguk patuh. "Baik, Pak."
Begitu Dina keluar, Danendra menyambar kunci mobilnya. Ia lalu berjalan cepat menuju mobil. Entah mengapa, sejak pagi bayangan Niken terus memenuhi pikirannya. Hingga tanpa sadar, mobilnya melaju ke arah pusat kota Wonosobo.
Di TK Tunas Arunika, anak-anak sedang menikmati bekal mereka masing-masing.
"Bu Niken!" Panggil Dimas.
"Iya, Dimas?"
"Bu Guru belum makan?"
Niken tersenyum. "Nanti setelah kalian selesai."
"Harus makan, ya. Soalnya, kata Mama, kalau nggak makan nanti sakit."
Niken tertawa kecil. "Iya, Dimas. Bu Guru mau makan."
Tak lama kemudian Maya menghampirinya. "Ayo, Nik. Kita makan di ruang guru," ajaknya.
"Ayo." Jawab Niken dengan senang hati.
Mereka baru saja duduk ketika telepon di meja guru berdering. Kemudian Maya mengangkatnya.
"TK Tunas Arunika, selamat siang."
Beberapa detik kemudian, Maya menoleh ke arah Niken.
"Nik, ada yang mencari kamu."
"Aku?"
"Iya."
Niken segera menerima gagang telepon. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Begitu mendengar suara di seberang, mata Niken membulat. "Mas?"
"Iya."
"Ada apa, Mas?"
"Kamu sudah makan?"
Niken terdiam beberapa detik. Tak hanya dirinya, Maya yang duduk di sampingnya pun ikut menatap heran.
"Belum." Jawabnya.
"Kalau begitu keluar sebentar."
"Keluar?"
"Aku di depan sekolah."
Jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. "Mas di depan sekolah?"
"Hm."
"Sebentar." Kata Niken lalu menutup teleponnya.
Maya langsung menyenggol pelan lengan Niken. "Itu suamimu, ya?"
Niken mengangguk pelan.
"Ngapain ke sini?"
"Aku juga nggak tahu."
"Ya sudah, cepat temui." Titah Maya yang dijawab anggukan oleh Niken.
Sebelum keluar, Niken berdiri di depan cermin untuk merapikan jilbabnya. Lalu ia segera keluar dengan langkah ringan.
Begitu sampai di gerbang sekolah, Niken langsung melihat mobil suaminya. Di sampingnya, Danendra berdiri dengan dua kotak makan di tangannya.
Niken menghampiri dengan wajah penuh tanda tanya. "Mas..."
Danendra berdehem pelan. "Aku belum makan," katanya.
Niken mengukir senyum. "Lalu?"
"Makan sama aku." Ajak Danendra.
Niken sampai mengerjapkan matanya beberapa kali. "Di sini?" tanyanya bingung.
"Iya." Jawab Danendra sambil mengangguk.
"Kenapa tidak di kantor?"
Danendra mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu."
Jawaban jujur itu justru membuat Niken tersenyum lebih lebar, hingga membuat Danendra merasa canggung sendiri. Sebenarnya Danendra tahu alasannya datang ke sana, ia hanya ingin melihat Niken, namun lagi-lagi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya.
"Ayo." Kata Danendra sambil membuka pintu mobilnya, "masih ada waktu tiga puluh menit, kan?"
Niken mengangguk. "Iya, masih ada."
Mereka akhirnya duduk di mobil. Kemudian Danendra membuka kotak makan yang dibelinya dari rumah makan langganannya.
"Aku pesan yang nggak pedas."
Niken menatap suaminya. "Mas masih ingat aku tidak suka pedas?"
Danendra sedikit salah tingkah. "Iya, aku tahu dari cerita Ibu."
Padahal bukan. Ada hal kecil yang masih tersimpan di ingatannya, ia masih ingat saat acara lamaran, Niken berkali-kali memilih lauk yang tidak pedas.
Keduanya lalu makan dalam diam. Namun anehnya, meski sama-sama diam keduanya sama-sama merasa nyaman.
Kemudian Danendra membuka obrolan. "Anak-anak di sekolahmu... kelihatanya benar-benar menyayangimu."
Niken tersenyum hangat. "Aku juga menyayangi mereka."
Danendra mengangguk pelan. "Pantas."
"Pantas apa, Mas?"
"Pantas mereka tidak mau jauh darimu."
Kalimat itu berhasil menghangatkan hati Niken, ia menundukkan kepala sambil tersenyum malu, karena itu pujian pertama yang keluar dari mulut Danendra sejak malam pertama mereka.
Danendra melirik istrinya sekilas. Melihat senyum yang kembali menghiasi wajah perempuan itu, ada perasaan lega yang perlahan memenuhi dadanya. Ia memang belum sanggup mengucapkan kata maaf, namun setidaknya mulai hari ini, ia ingin belajar menjadi suami yang lebih baik.
Tanpa mereka sadari, dari seberang jalan, seorang wanita yang baru saja memberhentikan mobil, memandang ke arah mereka dengan tatapan tajam. 'Alana'. Tanganya mengepal pelan saat melihat Danendra tersenyum di hadapan Niken.
"Jadi, kamu mulai luluh juga, Danen?" Sudut bibir Alana terangkat membentuk senyum tipis, "kalau begitu, aku harus datang di waktu yang tepat."
Waktu istirahat hampir usai.
Niken menutup kotak makannya, lalu merapikannya ke dalam kantong kertas yang dibawa Danendra.
"Terima kasih, Mas." Ucapnya.
"Untuk apa?"
"Sudah mau meluangkan waktu datang ke sini."
Danendra hanya menjawab dengan anggukan pelan. Sebenarnya ia ingin mengatakan bahwa sejak pagi pikirannya terus tertuju kepada Niken, namun seperti biasa, gengsi mengalahkan isi hatinya.
"Nanti aku suruh sopir jemput kamu pulang," ucap Danendra.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa pulang sendiri," tolak Niken sopan.
"Hari ini mungkin aku pulang agak malam, ada beberapa berkas yang harus kuselesaikan. Jadi jangan tolak, ya."
Niken akhirnya mengangguk patuh. "Baik, Mas."
Niken lalu keluar dari mobil untuk melanjutkan tugasnya. Sementara Danendra masih memperhatikan istrinya berjalan memasuki halaman sekolah seperti pagi tadi.
Beberapa murid tampak langsung berlari ke arahnya.
"Bu Niken!"
"Iya, Sayang?"
"Bu Guru, ayo main sama kami!"
Niken tertawa kecil, lalu mengandeng dua murid menuju area bermain.
Di dalam mobil, Danendra tersenyum kecil sebelum akhirnya menyalakan mesin mobilnya kembali.
Namun saat baru saja hendak meninggalkan sekolah, sebuah mobil putih berhenti tepat di sampingnya. Kemudian Alana keluar dari mobil itu, lalu menghampirinya.
"Alana?"
Alana tersenyum seolah pertemuan itu hanyalah kebetulan. "Hai, Danen."
Danen tak menjawab, ia justu memalingkan wajahnya menghadap lurus ke jalan di depannya.
"Aku habis dari kantor klien," katanya, lalu tatapan Alana mengarah ke halaman sekolah TK Tunas Arunika. "Itu istrimu?" tanyanya.
"Iya." Jawab Danendra singkat.
"Kelihatanya bahagia sekali."
Danendra tidak menjawab.
Kemudian Alana melangkah lebih dekat. "Danen. Aku dengar proyek kerjasama kita kemungkinan disetujui."
"Kita bahas di kantor saja."
Alana menghela napas pelan. "Kamu berubah."
"Maksudmu?"
"Dulu kamu tidak sedingin ini sama aku."
Danendra tersenyum tipis. "Dulu kamu juga bukan perempuan yang sudah menjadi masa lalu."
Alana terdiam sejenak. Jawaban Danendra terdengar sopan, dan cukup jelas untuk menunjukkan batas.
"Aku hanya ingin kita tetap berteman."
"Kita memang tidak bermusuhan."
"Kalau begitu, malam nanti makan malam bersama?"
"Aku tidak bisa," kata Danendra.
"Kenapa?"
Danen akhirnya menoleh ke arah wanita itu. "Aku sudah punya istri."
Alana tertawa kecil. "Makan malam sama teman saja harus izin istri?"
"Bukan soal izin." Danendra menatap Alana dengan tenang, "aku hanya tidak ingin membuat istriku merasa tidak nyaman."
Kalimat itu membuat senyum Alana perlahan memudar. Baru kali ini ia mendengar lelaki itu mempertimbangkan perasaan seorang perempuan sebelum mengambil keputusan.
Alana memalingkan wajahnya sedikit sambil mengepal pelan. "Ternyata dia memang mulai berarti." Bathinnya.
Danendra tidak menyadari perubahan raut wajah Alana. Ia hanya mengangguk singkat. "Aku duluan."
Mobil Danendra perlahan meninggalkan area sekolah. Sementara Alana tetap berdiri di tempatnya, pandangannya mengikuti mobil Danendra hingga menghilang di tikungan jalan.
Beberapa detik kemudian, matanya beralih ke arah halaman TK. Di sana, Niken tampak masih bermain bersama beberapa anak.
"Jadi kamu perempuan yang dipilih Danen?" Gumamnya pelan, lalu sorot matanya berubah tajam. "Aku penasaran, apa senyummu masih bisa setulus itu kalau rumah tanggamu mulai diguncang."
Tanpa menunggu lama, Alana kembali masuk ke mobilnya. Kemudian sebuah rencana perlahan mulai tersusun di dalam kepalanya. Ia tidak akan menyerang Niken secara terang-terangan, karena ia tahu bahwa perempuan seperti Niken sudah pasti tidak akan mudah terpancing emosi. Oleh karena itu, Alana memilih masuk melalui satu orang yang sejak awal memang belum menerima Niken sepenuhnya yaitu Ratih Maheswari.
...****************...