NovelToon NovelToon
The Doctor’S Darkest Obsession

The Doctor’S Darkest Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Gangster / Dokter
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Satu malam tragis mengubah seluruh hidup Liana. Niat hati ingin menolong seorang pria yang tak berdaya tetapi lelaki itu menutup matanya dan mengambil kesucian liana sebagai satu-satunya jalan keluar. Trauma dan kalut, ia melarikan diri dan berharap takdir tidak akan pernah mempertemukan mereka lagi.
Namun, takdir punya rencana lain. Beberapa bulan kemudian, Liana melangkah ke rumah sakit dengan hati hancur untuk mengakhiri kehamilan yang tak diinginkannya. Di sana, Kenzo melihat wanita yang akan menolongnya malam itu.
Liana tidak tahu bahwa di balik jas putihnya, Kenzo adalah pemimpin geng motor yang disegani dan tak kenal ampun dan lelaki yang telah melakukannya dengannya. Mengetahui Liana mengandung darah dagingnya, Kenzo tidak akan membiarkan wanita itu pergi.
Perburuan pun dimulai—bukan hanya untuk mengklaim anaknya, tapi juga untuk memiliki Liana seutuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Setelah Dokter Sinta memberikan lampu hijau dan melepaskan sisa infus di pergelangan tangannya, Kenzo langsung membawa Liana keluar dari rumah sakit.

Alih-alih langsung pulang ke mansion yang penuh dengan hiruk-pikuk penjagaan anak buahnya, Kenzo memberikan kejutan manis.

Ia membawa Liana pergi jauh ke daerah puncak untuk menjalani bedrest di vila pribadinya yang sejuk, asri, dan tenang, agar istrinya itu tidak merasa bosan selama masa pemulihan.

Perjalanan itu menyuguhkan pemandangan indah yang menenangkan.

Di sepanjang jalan menanjak yang mulai berkabut tipis, suasana di dalam mobil terasa begitu hangat.

Kenzo menyetir dengan satu tangan yang terampil, sementara tangan satunya menggenggam erat jemari Liana yang masih agak dingin, menyalurkan kehangatan yang menjalar langsung ke hati wanita itu.

Di tengah keheningan yang nyaman, Kenzo menatap Liana sekilas dari balik kemudi.

Wajahnya yang biasa tegas kini melembut, lalu ia bertanya dengan nada bariton yang serius namun terselip kelembutan yang teramat dalam.

"Apakah kamu sudah mencintai aku, Liana?"

Mendengar pertanyaan yang teramat tiba-tiba itu, jantung Liana sempat berdegup menyentak.

Ia menoleh, menatap pahatan samping wajah suaminya yang begitu menawan.

Liana tersenyum tipis, ada sedikit rasa gengsi yang menggelitik egonya.

Ia lalu menjawab dengan nada menggoda, "Hm, sepertinya belum."

Kenzo tidak marah. Pria itu justru merespons dengan seringai tampan nan misterius yang menjadi ciri khasnya.

Genggaman tangannya di jemari Liana semakin erat, seolah menyiratkan sebuah janji dalam hati bahwa ia akan membuat wanita di sampingnya ini bertekuk lutut dan berpasrah pada pesonanya secepat mungkin.

"Aku yakin kalau suatu saat kamu akan jatuh cinta denganku, pimpinan geng Cobra," ucap Kenzo penuh rasa percaya diri yang mutlak, melirik Liana dengan tatapan intens yang mengunci pandangan.

Liana tertawa kecil mendengar kesombongan suaminya yang tidak pernah pudar itu, sambil menggelengkan kepalanya gemas.

Di dalam hati, Liana tidak bisa menampik bahwa dinding pertahanan yang ia bangun perlahan mulai terkikis oleh perhatian demi perhatian yang diberikan oleh sang dokter sekaligus ketua geng motor tersebut.

Setelah menempuh perjalanan membelah kabut, mobil mereka akhirnya berhenti di sebuah tebing pandang yang sepi dan privat di area puncak.

Tempat itu merupakan area tersembunyi milik Kenzo, jauh dari keramaian turis.

Begitu pintu mobil dibuka, udara sangat dingin langsung menyergap kulit dan angin berembus kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di sekitar mereka.

Melihat Liana yang sedikit menggigil dan merapatkan pelukan pada tubuhnya sendiri, Kenzo dengan siaga bergerak cepat.

Ia melepas jaket tebal yang dikenakannya, lalu memakaikannya ke tubuh mungil Liana hingga menenggelamkan separuh tubuh istrinya.

Tak cukup sampai di situ, Kenzo melangkah ke belakang Liana, melingkarkan lengan kekarnya dan memeluk wanita itu erat-erat dari belakang untuk menyalurkan kehangatan tubuhnya.

Liana tidak menolak. Matanya justru terpukau melihat pemandangan jurang yang megah dan hamparan perbukitan hijau berselimut kabut putih di bawah mereka.

Rasa penat dan trauma dari rumah sakit seketika menguap.

"Indah sekali di sini..." gumam Liana damai, menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzo dengan perasaan tenang yang luar biasa.

Kenzo tersenyum mendengar bisikan istrinya. Merasa momen ini terlalu berharga untuk dilewatkan, Kenzo mengambil ponsel dari saku celananya.

Ia mengarahkan kamera ke depan, lalu memotret mereka berdua dengan latar belakang jurang berkabut.

Di dalam foto itu, Liana tampak tersenyum manis dengan jaket kebesaran, sementara Kenzo menatapnya penuh binar cinta.

Namun, kedamaian itu pecah seketika.

BRMMMM! ROARRR!

Keheningan puncak terkoyak oleh suara deru raungan mesin motor kopling yang keras dan memekakkan telinga.

Suara itu menggema di dinding-dinding tebing, terdengar saling bersahutan dengan beringas.

Sebelum Kenzo sempat menarik Liana kembali ke mobil, beberapa motor besar bersuara gahar langsung melesat cepat dan mengerem mendadak, menciptakan kepulan asap ban yang membubung.

Hanya dalam hitungan detik, mereka telah mengepung area tebing pandang tersebut, menutup satu-satunya jalan keluar bagi mobil Kenzo.

Dari jaket kulit hitam dengan lambang tengkorak merah di punggung mereka, Kenzo langsung mengenali siapa mereka.

Geng Red Skull datang dengan jumlah yang sangat banyak, bersenjata lengkap, dan tatapan mata yang haus akan darah.

Roy turun dari motornya bersama belasan anak buahnya.

Ia berjalan pongah mendekat ke arah Kenzo dan Liana dengan senyum licik, membawa aura permusuhan yang pekat di antara kepulan asap knalpot.

Roy sengaja memprovokasi Kenzo dengan menatap Liana dari atas ke bawah, tatapan matanya begitu intens dan penuh dengan niat melecehkan.

Tanpa rasa takut, Roy semakin mendekat dan mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuh dagu Liana, sembari menggoda wanita itu secara verbal dengan kata-kata yang merendahkan.

"Jadi ini mainan baru sang ketua Black Cobra? Cantik juga," ucap Roy dengan seringai menjijikkan.

Sebelum Kenzo sempat bertindak, Liana yang merasa teramat jijik dan terancam langsung bergerak berani.

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan menginjak kaki Roy dengan sangat keras menggunakan tumit sepatunya tepat di bagian punggung kaki pria itu.

CRACK!

Roy meringis kesakitan, memegangi kakinya sejenak sebelum wajahnya berubah menjadi murka yang luar biasa.

Ia mundur selangkah, menunjuk Kenzo dengan kasar.

"Jaga wanitamu, Kenzo! Atau aku sendiri yang akan menyeretnya ke ranjangku dan melenyapkannya!"

Mendengar ancaman langsung terhadap istri dan calon anaknya, kilatan membunuh langsung terpancar dari mata Kenzo.

Aura dokternya yang tenang dan penuh wibawa hilang total dalam sekejap, digantikan oleh sisi kejam dan berdarah dingin dari seorang pimpinan tertinggi Black Cobra. Kenzo melangkah maju, mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga sendi-sendinya berbunyi nyaring, siap menghajar Roy habis-habisan di tempat itu juga tanpa memedulikan jumlah musuh yang mengepung mereka.

Melihat suaminya dikuasai kemarahan yang membakar, Liana panik setengah mati.

Ia tahu kondisi Kenzo sedang tidak membawa pasukan. Liana langsung menghambur, memeluk lengan kekar Kenzo dengan sangat erat, menahan tubuh suaminya yang sudah bersiap melayangkan pukulan maut.

"Kenzo, sudah! Jangan dihiraukan!" seru Liana dengan mata berkaca-kaca menahan rasa takut yang amat sangat.

"Ayo kita pergi dari sini, cari tempat lain. Kumohon... demi anak kita, Kenzo."

Kenzo tertegun. Ia menatap ke bawah, tepat pada sepasang mata Liana yang dipenuhi ketakutan dan air mata yang hampir tumpah.

Permohonan istrinya berhasil menyentuh sisi rasionalnya.

Mengembuskan napas berat, Kenzo mencoba meredam amarah yang bergejolak di dadanya demi keselamatan sang istri tercinta.

Namun, saat Kenzo merangkul pundak Liana dan mereka berbalik untuk masuk ke dalam mobil,

Roy diam-diam memberikan tatapan kode rahasia kepada anak buahnya di belakang.

Seringai penuh arti terukir di bibir Roy saat melihat punggung Liana—sebuah isyarat tersembunyi yang menegaskan bahwa pencegatan di tebing ini barulah permulaan dari rencana besar yang telah ia susun bersama Kania untuk menjebak dan melenyapkan Liana.

Kenzo dan Liana segera masuk ke dalam mobil. Tanpa membuang waktu, Kenzo langsung menginjak pedal gas, melesat membelah jalanan puncak untuk meninggalkan area tebing pandang itu dan mencari tempat lain yang lebih aman dan tenang.

Suasana di dalam kabin mobil sempat hening dan menegang.

Rahang Kenzo masih mengeras, dan kedua tangannya mencengkeram setir dengan sangat kuat, menahan amarah yang masih bergejolak di dadanya.

Liana yang menyadari suaminya masih diselimuti emosi, menggeser duduknya mendekat.

Ia menyentuh lengan Kenzo lembut. "Kenzo, sudah. Jangan kamu hiraukan," ucap Liana menenangkan. "Semakin kamu menghiraukannya, semakin ia menjadi-jadi."

"Tapi Liana, aku takut kalau lelaki itu..." Kenzo menggantung kalimatnya. Suara baritonnya terdengar bergetar oleh rasa cemas yang mendalam.

Sebagai pimpinan geng, ia tahu betul seberapa licik dan berbahayanya Roy jika sudah mengincar sesuatu.

"Kenzo, lihat aku," sela Liana lembut namun penuh penekanan, membuat Kenzo menoleh sekilas ke arahnya.

Liana menatap sepasang mata suaminya dengan lekat dan tulus.

"Aku saja belum mencintai kamu, dan tidak mungkin aku mencintai lelaki lain. Jadi kamu tidak perlu khawatir."

Mendengar perkataan Liana, ketegangan di wajah Kenzo perlahan sedikit mengendur, namun guratan posesif di matanya justru semakin terlihat jelas. Ia menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang sepi dan rindang.

Kenzo memutar tubuhnya menghadap Liana, lalu meraih kedua tangan istrinya dan menggenggamnya erat.

"Janji, Liana? Cintamu hanya untuk aku, meskipun sekarang kamu belum mencintaiku?" tanya Kenzo dengan tatapan intens yang menuntut kepastian mutlak.

Melihat kesungguhan dan gurat kerapuhan di mata pria yang biasanya selalu tampak tangguh ini, hati Liana menghangat.

Rasa gengsinya perlahan mencair. Sambil tersenyum manis, Liana menganggukkan kepalanya dengan pasti.

"Iya, Kenzo. Aku janji," jawab Liana lirih, memberikan ketenangan yang selama ini dicari oleh sang pimpinan Black Cobra.

1
Bunga Andthea
triple hp dungs kak
Bunga Andthea
yok yok bisa up lagi
seru ni
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍😍
Alex
sweet bgts
Bunga Andthea
seru
up lgi kkak
Bunga Andthea
double up dungs kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
Muft Smoker
jgn terpengaruh dg omongan ulat bulu tu liana ,, org yg terpojok biasa ny akan melakukan berbagai macam cara tuk menang ,, meski dg cara licik sekali pun 😒😒😒😒
Muft Smoker
aaaaaa meleleh adek bang ,,
Alex
oh sweet bgtsss
Muft Smoker
nah kan di marahin ma mak ,, makany jgn punya fikiran mcm2
Muft Smoker
jgn mcm2 kania ,, liana mungkin org biasa ,, tp anggora black cobra semua melindungi serta menghargai dirinya ,,
Muft Smoker
lanjuuut kaak ,,
Muft Smoker
lanjuut kaak ,, makiin seruuuu
Muft Smoker
ngeri juga yx ,, jd incaran ketua gangster ,, 😲😲😲😲😲
Muft Smoker
lanjuuut kak
Bunga Andthea
ayok kak up lagi
Bunga Andthea
up lgi yuk kak
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
baru Kali ini dapet cerita ketua geng motor profesi ny dokter kandungan ,,
biasa ny kn CEO perusahaan ,,

tp aq suka ma cerita ny kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!