Cinta tidak pernah salah.
Yang salah… hanya waktunya.
Zara mencintai Kenzy dengan cara yang tenang.
Seperti rumah yang selalu menunggu untuk ditinggali.
Seperti doa yang diucapkan pelan setiap malam.
Ia tidak pernah menuntut masa lalu Kenzy.
Ia hanya ingin menjadi masa depan yang dipilihnya.
Namun takdir tidak pernah sesederhana itu.
Karena sebelum Zara… ada Eve.
Perempuan yang pernah menjadi dunia Kenzy.
Yang mencintainya ketika hidup belum dipenuhi luka.
Yang menggenggam tangannya sebelum badai menghancurkan segalanya.
Eve tidak pergi karena tidak mencintai.
Ia pergi karena mencintai terlalu dalam.
Dan ketika ia kembali,
Ia tidak datang untuk merebut.
Ia hanya datang dengan hati yang belum selesai.
Kenzy berdiri di antara dua perempuan yang sama-sama mencintainya dengan cara yang berbeda.
Satu adalah masa lalu yang penuh pengorbanan.
Satu adalah masa kini yang penuh ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Senin pagi...yang indah dan cerah.
Gedung Maheswara Corp seperti biasa terlihat megah, sibuk, dan profesional.
Tapi hari itu…
Udara berbeda.
Bisik-bisik terdengar bahkan sebelum jam kerja resmi dimulai.
Semuanya bermula dari satu orang.
Seorang karyawan bagian marketing yang kebetulan jogging di taman Sabtu pagi itu.
Dan tanpa sengaja melihat,
Zara.
Kenzy.
Dan Presiden Direktur Maheswara Corp.
Tuan Jonathan Maheswara.
Bersama.
Tertawa.
Dekat.
Seperti keluarga.
Dan bagi otak orang yang haus drama…
Itu sudah cukup.
“Aku lihat sendiri,” bisik seorang pegawai.
“Serius? Sabtu pagi?”
“Iya. Di taman kota. Mereka bareng.”
“Bareng gimana maksudnya?”
“Ya bareng! Ketawa-ketawa. Deket banget.”
Wajah-wajah mulai berubah.
Nada mulai tajam.
“Oh… pantes.”
“Pantes apa?”
“Ya pantes dia bisa jadi asisten pribadi. Baru tiga bulan sudah dekat sama Pak Kenzy dan Presdir.”
“Masak sih?”
“Ya jelas ada apa-apanya.”
Kalimat itu mulai berubah bentuk.
Berubah nada.
Berubah arti.
“Dia pasti merayu Pak Kenzy.”
“Penjilat.”
“Cari muka sampai jogging bareng Presdir.”
“Dasar wanita nggak benar.”
Dan seperti virus.
Gosip itu menyebar lebih cepat dari lift gedung Maheswara.
Dari lantai 3.
Ke lantai 7.
Ke lantai 15.
Bahkan sampai ke ruang HR.
Zara masuk kantor seperti biasa.
Ceroboh kecil.
Senyum lebar.
“Selamat pagi!”
Biasanya ada yang menyahut.
Hari itu…
Sepi.
Beberapa orang hanya melirik.
Beberapa berbisik pelan.
Beberapa bahkan terang-terangan memandang sinis.
Zara berhenti di depan mejanya.
“Kenapa ya AC rasanya lebih dingin dari biasanya…”
Ia tidak tahu.
Belum tahu.
Sampai dua orang lewat di belakangnya.
“Cantik sih. Tapi ya gitu.”
“Modal muka doang.”
Zara mendengar.
Ia diam.
Masih mencoba berpikir positif.
Mungkin cuma salah dengar.
Atau yang dimaksud bukanlah dirinya.
Tapi saat masuk ruang Kenzy,
Suasana bahkan terasa lebih tegang.
Sekretaris senior menyerahkan berkas dengan wajah datar.
“Pak Kenzy sudah di dalam.”
Nada yang biasanya sopan kini terdengar… berbeda.
Zara mengetuk pintu.
“Masuk.”
Kenzy menatapnya seperti biasa.
Tenang.
Tapi ia langsung sadar.
“Kamu kenapa?”
Zara tersenyum tipis.
“Pak… saya kayaknya jadi artis.”
Kenzy mengernyit.
“Maksudnya?”
“Saya belum tahu gosipnya apa, tapi kayaknya trending topic.”
Kenzy terdiam.
Beberapa menit kemudian Rendi masuk dengan wajah serius.
“Pak Ken. Ini sudah menyebar.”
Kenzy menatap tajam.
“Menyebar apa?, Virus?”
Rendi menghela napas.
“Gosip soal Zara. Sabtu pagi.”
Hening.
Zara langsung tahu.
Oh…
Itu…
Zara duduk pelan.
Tangannya dingin.
“Pak… mereka pikir saya merayu Bapak?”
Kenzy tidak langsung menjawab.
Itu sudah cukup jadi jawaban.
Zara tertawa kecil.
Tapi tawanya aneh.
“Hebat ya. Saya jogging saja bisa naik jabatan dua level.”
Kenzy berdiri.
Rahangnya mengeras.
“Siapa yang mulai?”
Rendi menyebut satu nama.
Kenzy langsung melangkah keluar ruangan.
Zara kaget.
“Pak? Mau ke mana?”
“Membereskan.”
Zara cepat berdiri dan menahan lengannya.
Sentuhan refleks.
“Jangan pak.”
Kenzy menatap tangan zara yang masih memegang lengan jasnya.
Zara buru-buru melepas.
“Saya nggak mau Bapak terlihat membela saya. Nanti gosipnya makin jadi.”
Kenzy menatapnya lama.
“Dan kamu mau diam saja?”
Zara menelan.
Matanya berkaca sedikit tapi tetap tersenyum.
“Sudah tiga bulan saya di sini, Pak. Saya tahu kemampuan saya. Kalau mereka tidak tahu… itu bukan urusan saya.”
Kalimat itu ringan.
Tapi hati siapa yang benar-benar kebal?
Kenzy bisa melihatnya.
Zara mungkin ceria.
Mungkin kuat.
Tapi ia tetap manusia.
Dan gosip itu pasti melukai.
Di luar ruangan, gosip makin liar.
“Dia pasti ada main.”
“Makanya Presdir kelihatan akrab.”
“Jogging bareng keluarga Maheswara? Siapa coba yang bisa?”
Beberapa bahkan mulai sengaja berbicara keras saat Zara lewat.
Zara berjalan dengan kepala tegak.
Tapi langkahnya lebih pelan dari biasanya.
Kenzy memperhatikan dari balik kaca ruangannya.
Tangannya mengepal.
Untuk pertama kalinya,
Ia marah bukan karena bisnis.
Tapi karena seseorang Wanita baik-baik di fitnah di tempat ia berjuang mencari nafkah.
Saat kantor mulai sepi, Zara masih duduk menyelesaikan laporan.
Kenzy keluar dari ruangannya.
“Pulang.”
“Sebentar lagi, Pak.”
“Saya bilang pulang.”
Nada itu bukan marah.
Tapi protektif, memerintah.
Zara berdiri.
Mereka berjalan bersama menuju lift.
Beberapa mata masih menatap.
Kenzy tiba-tiba berhenti.
Menoleh ke seluruh ruangan terbuka itu.
Dan berkata dengan suara cukup keras.
“Mulai hari ini, semua urusan Asisten Pribadi saya adalah tanggung jawab saya langsung. Kalau ada yang merasa keberatan, silakan ajukan surat pengunduran diri secara resmi.”
Hening.
Sunyi.
Tidak ada yang berani bicara.
Zara menatapnya kaget.
Lift terbuka.
Mereka masuk.
Pintu menutup.
Zara menatap Kenzy.
“Pak… itu bikin makin heboh.”
Kenzy menatap lurus ke depan.
“Biarkan.”
Zara terdiam.
Lalu pelan berkata,
“Terima kasih.”
Kenzy menoleh.
Untuk pertama kalinya hari itu, senyumnya lembut.
“Tidak ada yang boleh meremehkan orang yang saya percaya.”
Deg.
Lift sampai di lantai dasar.
Dan gosip hari itu mungkin belum selesai.
Tapi satu hal sudah jelas.
Zara tidak sendirian.