NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Rani membuka pintu dengan perlahan, tangannya yang sehat gemetar hebat. Pemandangan di hadapannya terasa seperti belati yang menghujam jantung:.

Laila duduk bersandar dengan tangan yang menggenggam erat lengan Yudiz, seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa pria itu kini miliknya.

Rani menarik napas panjang, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang terasa menyempit. Ia tidak marah, ia hanya merasa kosong.

"Abi, aku pulang dulu," ucap Rani dengan suara datar, tanpa emosi, namun mampu membuat Yudiz tersentak dan melepaskan pegangan tangan Laila dengan paksa.

"Rani, tunggu! Abi antar kamu," ujar Yudiz panik, hendak berdiri mengejar istrinya.

Namun, Rani segera mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat agar Yudiz tetap di tempat.

Mata Rani beralih pada sosok gadis muda yang baru saja masuk ke ruang tamu dengan wajah bingung melihat suasana yang kacau itu.

"Lilis!" panggil Rani pada adik bungsu Yudiz.

Lilis menghampiri dengan raut wajah cemas.

"Mbak Rani? Ada apa ini? Kenapa Mbak Laila..."

"Lis, tolong antar Mbak pulang ke rumah. Mbak capek," potong Rani lirih.

"Mas Yudiz masih ada urusan di sini. Dia harus menemani istri barunya."

Lilis membelalak kaget, menatap kakaknya dan Laila bergantian, lalu kembali menatap Rani yang tampak sangat rapuh dengan gips di tangannya.

Tanpa banyak tanya, Lilis langsung merangkul pundak kakak ipar kesayangannya itu.

"Ayo, Mbak. Kita pulang. Lilis yang nyetir," jawab Lilis tegas, memberikan tatapan tajam pada Yudiz yang hanya bisa terpaku di tempatnya.

Rani melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan keheningan yang menyakitkan di rumah Kyai Abdullah.

Di belakangnya, Laila tersenyum penuh kemenangan, sementara Yudiz merasa jiwanya ikut pergi bersama langkah kaki Rani yang menjauh.

Yudiz tidak tahan lagi. Baginya, setiap detik yang ia habiskan di rumah itu tanpa Rani terasa seperti siksaan.

Tanpa mempedulikan ucapan selamat dari para tamu atau panggilan Umi Salmah, Yudiz langsung melangkah lebar menuju mobilnya.

"Abi, tunggu aku!" teriak Laila sambil berlari kecil mengejarnya.

Ia tidak mau ditinggal di hari pernikahannya, meskipun statusnya hanya istri kedua.

Dengan cepat, Laila membuka pintu depan mobil dan langsung duduk di samping kursi pengemudi tempat yang biasanya ditempati oleh Rani.

Yudiz yang baru saja masuk ke kursi supir membeku. Rahangnya mengeras saat melihat Laila duduk di sana.

"Pindah ke belakang. Itu tempat Rani," ucap Yudiz dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan.

Laila tersentak, wajahnya memerah karena malu dan kesal.

"Tapi Abi, aku kan sekarang istrimu juga! Kenapa aku harus duduk di belakang seperti pembantu? Lagipula wanita sialan itu sudah pergi duluan dengan Lilis!"

BRAK!

Yudiz memukul setir mobil dengan tangan kirinya, lalu ia perlahan menoleh dan melirik ke arah Laila dengan tatapan mata yang begitu tajam dan mematikan.

Kilatan amarah di mata Yudiz membuat nyali Laila menciut seketika.

"Sekali lagi kamu menghina Rani, atau mencoba mengambil tempatnya, aku tidak akan segan-segan mengembalikanmu pada ayahmu sekarang juga," desis Yudiz.

"Pindah. Sekarang."

Laila gemetar. Ia baru menyadari bahwa pria yang sangat ia puja ini bisa menjadi sangat mengerikan jika menyangkut Rani.

Tanpa berani membantah lagi, ia segera turun dari pintu depan dan pindah ke kursi belakang dengan wajah cemberut dan air mata yang mulai menggenang.

Yudiz segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Pikirannya hanya satu kalau ia harus sampai ke rumah sebelum Rani mengunci pintu hati untuknya.

Ia tidak peduli pada wanita di kursi belakang, karena baginya, rumahnya hanya memiliki satu ratu, dan itu adalah Rani.

Lilis sebenarnya berat hati meninggalkan kakak iparnya sendirian dalam kondisi fisik dan mental yang hancur seperti itu. Namun, Rani meyakinkannya berkali-kali bahwa ia hanya butuh waktu untuk sendiri dan ingin beristirahat.

"Mbak benar tidak apa-apa sendirian? Mas Yudiz mungkin sebentar lagi sampai," tanya Lilis cemas di depan pintu.

"Nggak apa-apa, Lis. Terima kasih ya sudah antar Mbak," jawab Rani dengan senyum paksa yang sangat tipis.

Setelah mobil Lilis menjauh dari halaman, Rani menutup pintu rumah dengan sisa tenaganya.

Rumah hitam-putih yang tadinya terasa seperti surga kecil bagi mereka berdua, kini terasa begitu dingin dan luas.

Setiap sudut ruangan seolah mengejeknya tentang janji-janji manis Yudiz tadi pagi.

Rani melangkah gontai menuju kamar utama. Rasa nyeri di tangannya yang patah mulai menjalar hebat ke seluruh tubuh, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibanding sesak di dadanya.

Kepalanya berdenyut kencang, pandangannya mulai kabur dan berputar.

"Abi..." rintihnya pelan.

Baru saja ia mencapai tepi ranjang, dunianya mendadak gelap.

Tubuh lemah itu ambruk ke lantai yang dingin, tidak sempat mencapai kasur.

Rani jatuh pingsan dalam kesunyian rumah, dengan air mata yang masih membekas di pipinya, tanpa ada seorang pun yang tahu bahwa "Ratu" rumah itu tengah terkapar tak berdaya.

Beberapa menit kemudian, suara deru mobil Yudiz terdengar memasuki halaman rumah.

Yudiz keluar dari mobil dengan terburu-buru, bahkan tidak mempedulikan Laila yang terseok-seok mengikutinya dari belakang.

"Rani! Rani, Sayang!" teriak Yudiz sambil membuka pintu rumah dengan kunci cadangannya.

Laila mendengus kesal melihat kepanikan suaminya.

"Mas, pelan-pelan dong. Ingat, aku juga ada di sini," keluh Laila, namun Yudiz sama sekali tidak menoleh.

Langkah Yudiz terhenti di depan pintu kamar yang tertutup. Perasaannya mendadak sangat tidak enak.

Yudiz menendang pintu kamar yang tidak terkunci itu hingga terbuka lebar.

Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat tubuh Rani tergeletak tak berdaya di lantai dingin, tepat di samping tempat tidur.

"RANI!" pekik Yudiz histeris.

Ia langsung berlutut dan mengangkat kepala istrinya ke pangkuannya.

Wajah Rani sangat pucat, sedingin es, dan napasnya pendek-pendek.

Laila yang baru saja sampai di ambang pintu kamar, melipat tangan di dada sambil mencibir.

"Paling juga pura-pura pingsan, Abi. Dia cuma cari perhatian supaya Abi merasa bersalah dan makin sayang sama dia. Trik lama wanita seperti itu."

Yudiz menoleh dengan tatapan yang sanggup membunuh siapa pun yang melihatnya.

Urat-urat di lehernya menegang, amarah yang ia tahan sejak di pondok tadi akhirnya meledak.

"DIAM!" bentak Yudiz dengan suara menggelegar yang membuat Laila tersentak mundur dan nyaris terjatuh.

"Keluar dari sini! Jangan berani-berani kamu menginjakkan kaki di kamar ini!"

"Tapi Abi—"

"KELUAR!"

Laila yang ketakutan melihat amarah Yudiz yang belum pernah ia lihat sebelumnya, segera lari menuju ruang tamu dengan wajah pucat.

Tanpa membuang waktu, Yudiz segera menggendong tubuh ringan Rani dan memindahkannya ke atas tempat tidur.

Ia menutup pintu kamar dengan tendangan keras dan menguncinya dari dalam, memutus akses siapa pun—termasuk Laila—ke dalam ruang privasi mereka.

Yudiz kembali ke sisi Rani dengan tangan gemetar. Ia mengusap pipi istrinya, mencoba memberikan kehangatan.

"Rani, bangun, Sayang. Maafkan Abi. bangun, Rani!"

Air mata Yudiz jatuh mengenai pipi Rani. Ia merasa menjadi pria paling brengsek sedunia karena telah membiarkan istrinya yang sedang terluka menghadapi kenyataan sepahit ini sendirian.

Ia segera mengambil minyak kayu putih dan memijat telapak kaki Rani yang bebas dari gips, sambil terus membisikkan doa dan kata-kata maaf di telinga istrinya yang masih tak sadarkan diri.

Rani mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatan dengan cahaya lampu kamar.

Hal pertama yang ia tangkap adalah wajah Yudiz yang sangat dekat, tampak kuyu dengan mata yang memerah.

"Abi..." bisik Rani lemah. "Maaf, aku pingsan lagi."

Yudiz segera menggenggam tangan kiri Rani dan mengecupnya berkali-kali.

"Abi yang minta maaf, Sayang. Abi yang salah, Abi yang sudah membuatmu seperti ini. Harusnya Abi lebih tegas tadi..."

Rani menggelengkan kepalanya pelan. Tatapannya menerawang ke arah langit-langit kamar. Rasa sakit di hatinya ternyata jauh lebih melelahkan daripada rasa sakit di tubuhnya.

"Abi, boleh aku pulang ke rumah?" tanya Rani lirih.

Yudiz mengernyitkan dahi, hatinya mencelos.

"Rumah? Ini rumah kamu, Rani. Kita sudah sepakat akan mulai dari nol di sini."

"Bukan, aku ingin pulang ke rumah orang tuaku. Rumah Abi Husein dan Umi Siti," jawab Rani dengan nada memohon yang sangat dalam.

Ia merasa butuh pelukan ibunya untuk menyembuhkan luka yang baru saja ia terima.

Yudiz terdiam sejenak. Ada ketakutan besar di hatinya jika ia membiarkan Rani pergi, Rani mungkin tidak akan mau kembali lagi ke sisinya.

Ia mencoba mencairkan suasana yang kaku itu dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Yudiz menggelengkan kepalanya perlahan.

"Nggak boleh. Kalau kamu pulang, lalu siapa nanti yang akan membakar dapurku?"

Rani tersentak, lalu tawa kecil yang serak keluar dari bibirnya.

Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat ia mencoba memasak dan hampir menghanguskan wajan karena terlalu asyik memikirkan teknik balapan.

"Abi..." Rani memanggil dengan nada manja yang bercampur haru.

"Tetap di sini, ya? Hanya di rumah ini kamu adalah ratunya. Abaikan siapa pun yang ada di luar kamar ini," bisik Yudiz sambil mengelus rambut Rani.

"Abi janji, Abi tidak akan membiarkan dia menyentuh apa pun yang menjadi milikmu. Termasuk waktu dan perhatian Abi."

Rani menatap mata Yudiz, mencari kejujuran di sana.

Meskipun hatinya masih perih mengetahui ada wanita lain di rumah yang sama, candaan Yudiz tentang 'membakar dapur' sedikit memberikan kekuatan padanya.

"Tapi Abi, dia kan sekarang istrimu juga. Apa nggak dosa kalau Abi cuekin dia?" tanya Rani polos.

Yudiz menghela napas panjang, ia mendekatkan wajahnya ke dahi Rani.

"Itu urusan Abi dengan Allah. Sekarang, urusan Abi adalah memastikan istri pertama Abi ini makan dan minum obat."

1
kalea rizuky
lampir g taubat jg
my name is pho: sabar kak🤭🥰🙏
total 1 replies
kalea rizuky
MC nya tolol males deh Thor
kalea rizuky
klo q jd ortu nya Rani uda q masukin. penjara si. layla ini kriminal.
kalea rizuky
males deh
kalea rizuky
kapok salah sendiri g tegas sama pelakor sama emak mu jg yudis
lin sya
gpp thor klo nyai salmah dan laila bikin badai buat rmh tangga yudiz dan rani biar rani jd istri tangguh, klo suatu saat kbngkar, berharap sih kyai Abdullah dan yudiz, jg laila ksih pelajaran yg woww gtu biar diinget seumur hdup🤭, org tua rani jg gk akan tinggal diem💪
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
lin sya
hihi..enakan akur jd kluarga Cemara dripd saling ego, smga gk ada drama pelakor, hempaskan, fokus yudiz dan Rani bikin baby 💪
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!