perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saka keturunan Pendekar Tongkat Sakti
Perjalanan menuju lembah Kematian tidaklah semudah yang dibayangkan. Meski Raka dan Anggun telah memiliki ilmu kanuragan yang mumpuni, medan menuju Lembah Kematian harus melewati jalur-jalur terpencil yang jarang dijamah orang. Jalur ini dikenal sebagai "Jalur Air Mata", karena desa-desa yang bertebaran di sepanjang jalan tersebut hidup dalam ketakutan di bawah bayang-bayang para pendekar sesat yang memanfaatkan kekacauan dunia persilatan
Desa pertama yang mereka temui adalah Desa Angin Sunyi. Sesuai namanya, desa itu tampak mati. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, dan hanya suara gagak yang menyambut kedatangan mereka. Saat melewati pasar desa, mereka melihat sekumpulan orang berpakaian serba hitam sedang menyiksa seorang pedagang tua.
"Mana upeti untuk bulan ini, Tua Bangka?! Kau pikir perlindungan dari Kelompok Gagak Hitam itu gratis?" teriak salah satu pendekar sesat yang membawa parang besar.
" Hentikan!" bentak Anggun yang tak tahan melihat itu.
"Siapa kau?!" teriak pemimpin kelompok itu. tetapi begitu ia menengok ke arah suara yang membentaknya matanya berbinar melihat sosok Anggun yang cantik jelita dengan bentuk tubuh yang menarik
" he he he kakang, wanita ini cantik sekali, bagaimana jika dia kita suruh menemani kita malam ini" timpal seorang anak buahnya
" Baiklah, aku akan mengampunimu, tetapi lkau harus melayaniku malam ini"
" Kurang Ajar!" Anggun berteriak marah
" Hiaaaat"
wuuut
plaaaak
Aaaaargh
pemimpin gerombolan itu menjerit saat pukulan tangan kosong Anggun mengenai dadanya.
" Seraaaaang!" melihat pemimpin mereka tumbang salah satu dari anak buah itu berteriak mengkomando yang lainnya
Hiaaaaat
hiaaaaaat
wuuut
swiiing
Anggun dan Raka tentu saja tak tinggal diam , dengan gerakan santai mereka menyongsong serangan itu
" syuuut"
" Wuuut"
"Wuuut'
Plaaak
desh
bugh
Aaaaaargh
Aduuuh
satu persatu mereka terkena serangan Raka dan Anggun yang bergerak bagai bayangan
" ampun ampuni kami, kami hanya di perintah ketua kami" pemimpin gerombolan itu menjadi ketakutan , dan memohon ampun pada Anggun dan Raka
" Katakan siapa yang yang menyuruhmu!" bentak Raka , membuat pemimpin itu mengkeret
" Ketua kami, di sana " ucapnya sambil menunjuk satu rumah yang besar di ujung desa
" Kita tuntaskan sekalian" ajak Raka pada Anggun yang berniat menumpas pemeras keringat penduduk
" Baik aku juga setuju, orang macam mereka tak pantas di biarkan hidup!" sahut Anggun , lalu dengan gerakan kilat ia mencabut pedangnya
Swiiing
Crash
Crash
Crash
pedang anggun bergerak cepat menebas leher mereka satu persatu hanya menyisakan satu orang untuk penunjuk jalan menemui ketua Gagak Hitam
Penduduk desa yang semula bersembunyi mulai keluar.
" Paman maaf bisakah kalian mengurus mayat mayat ini, kami akan memberantas ketua Gagak Hitam" ucap Arya meminta tolong agar mengurus mayat mayat anak buah Gagak Hitam yang mati di pedang anggun
" Bisa den, biar kami yang mengurusnya" ucap Mereka sambil menangis haru dan berterima kasih.
" terima kasih paman, aku akan membawa dia untuk membuka pintu" ucap Raka sambil meyeret anak buah Gagak Hitam yang masih hidup itu
" kami yang berterima kasih, aden sudah membebaskan kami dengan menyingkirkan mereka" sahut seorang warga
" Sama sama paman , itu sudah menjadi kewajiban kami para pendekar penegak keadilan" sahut Raka sambil berjalan kerumah yang di jadikan sarang gagak hitam, saat sampai di gerbang Rumah besar itu Raka menendang dengan keras
Blaaaang
" hei, siapa yang membuat keributan!" dari dalam rumah tiga orang dengan wajah seram penuh brewok keluar
" wuuut"
" braaaak"
Tanpa menjawab Raka melemparkan anak buah yang ia bawa sampai menabrak meja di halaman rumah itu sampai berantakan
" Siapa kalian, mengapa membuat onar di rumahku!" ketua Gagak Hitam berteriak marah.
" Rumahmu!? bukankah ini rumah kepala desa yang kau rebut?" sahut Raka dingin
" Matilah kau"
" Hiaaaaat"
" Wuuut"
karena malu ketua gagak hitam langsung menyerang raka ,
Traaaak
Raka menangkis serangan itu dengan santai , dengan kekuatan tenaga dalam Rajeg wesinya tentu saja serangan itu tak berarti apa apa karena ilmu dan tenaga dalam milik ketua Gagak Hitam jauh di bawahnya
Wuuut
Dug
aaaargh
Raka membalas dengan satu serangan cepat, membuat ketua gagak Hitam menjerit kesakitan
Hiaaaat
sriiing
crash
crash
Anggun juga tak tinggal diam ia bergerak dengan serangan pedang nya langsung menebas dua orang yang bersama ketua gagak hitam, yang langsung tewas tanpa mengeluarkan suara sama sekali saking cepatnya pedang Anggun
Setelah membebaskan desa itu dari cengkraman gagak hitam, Raka dan anggun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju lembah kematian
setelah beejalan beberapa hari, kini mereka memasuki Desa Batu Karang, sebuah desa yang letaknya di kaki bukit berbatu sebelum memasuki wilayah hutan lebat menuju Lembah Kematian. Desa ini terlihat lebih kacau. karena ada yang berkelahi, tepat di Sebuah kedai besar di tengah desa, satu pertarungan berat sebelah terjadi , kedai itu nampak hancur, di depannya, seorang pemuda sedang dikeroyok oleh belasan pendekar bersenjata rantai.
Hiaaaat
trang
trang
denting suara rantai beradu terdengar , walau pemuda itu cukup sakti, tetapi mengahadapi lawan dengan jumlah banyak membuat pemuda itu kewalahan. pemuda itu menggunakan sebuah tongkat panjang berwarna hitam legam yang mengeluarkan bunyi berdenging setiap kali beradu dengan senjata lawan.
"Gerakan itu..." Raka bergumam, matanya menyipit memperhatikan teknik tongkat pemuda tersebut. "Itu adalah Jurus Tongkat Delapan Penjuru!"
Anggun menoleh cepat. "Bukankah itu jurus legendaris milik Paman Wirya, sahabat ayah kita?" Anggun terkejut dan balik bertanya
Raka mengangguk. Tanpa membuang waktu, ia mencabut pedangnya dan melompat ke tengah kerumunan. "Mundur, kawan! Biar kami bantu!"
hiaaaat
traang
traaaang
bugh
desh
Dengan bantuan Raka dan Anggun, para pengeroyok itu segera dipukul mundur. Pemuda pemegang tongkat itu terengah-engah, tubuhnya penuh luka memar, namun sorot matanya tetap tajam dan penuh harga diri.
"Siapa kalian? Mengapa membantu seorang asing seperti aku?" tanya pemuda itu sambil menyandarkan tongkatnya ke tanah.
Raka menjatuhkan pandangannya pada ukiran naga di pangkal tongkat tersebut. "Aku Raka, putra dari Bandung Gila. Dan ini Anggun putri Paman pendekar Bunga. Jika aku tidak salah, tongkat yang kau pegang adalah milik Paman Wirya."
Pemuda itu tersentak. Wajahnya yang tegang mendadak melunak. "Kalian... anak dari mendiang Paman Arga? dan Paman Bandung?" Namaku Saka. Ayahku, Wirya, adalah orang yang kalian sebut tadi." sahutnya kaget
Suasana mendadak haru. Saka bercerita bahwa ayahnya, sang Pendekar Tongkat Sakti, juga tewas di tangan Hantu Berkabut beberapa tahun yang lalu saat Hantu berkabut datang untuk membalas kekalahannya dulu. Sejak saat itu, ia berguru pada ki Geni , dan setelah berhasil ia berkelana untuk mencari jejak pembunuh ayahnya sambil membantu orang-orang yang tertindas sepanjang jalan.
"Hantu Berkabut telah merenggut terlalu banyak nyawa yang kita sayangi," ujar Saka dengan suara berat. "Aku telah mendengar dia tinggal di Lembah kematian, dan di sana juga ia memiliki sebuah perguruan yang cukup besar hanya saja tak banyak orang mengetahui
" Ya, kami sedang memburunya " sahut Raka
"Kalau begitu, tujuan kita sama," sahut Anggun. "Mari kita berjalan bersama. Tiga senjata tentu lebih baik daripada dua."
Kini, perjalanan dilanjutkan oleh tiga orang pendekar muda yang terikat oleh takdir dan dendam yang sama. Kehadiran Saka memberikan warna baru dalam kelompok tersebut. Jika Raka memiliki kecepatan dan Anggun memiliki kelincahan, Saka memiliki pertahanan yang luar biasa dan jangkauan serangan tongkat yang luas.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menolong desa-desa yang mereka lalui. Di Desa Lumpur, mereka membebaskan budak-budak tambang. Di Desa Hutan jati, mereka mengusir kawanan perampok yang meresahkan warga
Namun, semakin dekat mereka dengan Lembah Kematian, suasana semakin berubah. Langit selalu tertutup awan mendung, dan hawa dingin yang tidak wajar mulai menusuk sumsum tulang. Kabut tipis mulai sering muncul di antara pepohonan, pertanda bahwa Hantu Berkabut sudah dekat dan mungkin sedang mengamati mereka.
"Hati-hati," bisik Saka sambil menggenggam erat tongkat saktinya. "Hawa di depan sangat tidak enak. Seolah-olah tanah ini sendiri menolak kehadiran manusia."
Raka menatap lurus ke depan, ke arah lembah yang diselimuti kegelapan abadi di kejauhan. "Dia sengaja membiarkan kita lewat. Dia ingin kita sampai di sana agar dia bisa menghabisi kita semua sekaligus dan menyerap energi dendam kita untuk menyempurnakan pusaka itu."
Anggun menggenggam gagang pedangnya, matanya berkilat penuh tekad. "Biarlah dia menunggu. Dia mungkin merasa kuat dengan pusaka itu, tapi dia lupa bahwa kekuatan sejati tidak datang dari sisik naga, melainkan dari kebenaran yang kita bawa."
Dengan langkah yang mantap, ketiga pendekar muda itu memasuki perbatasan Lembah Kematian. Angin menderu kencang, membawa aroma belerang dan besi yang samar. Mereka tahu, di ujung lembah ini, akhir dari segalanya sedang menunggu. Apakah itu pembalasan dendam yang manis, atau kehancuran total, hanya waktu dan ketajaman senjata mereka yang akan menentukan.
Saat mereka tiba di mulut lembah, mereka dihadang oleh gerbang batu raksasa yang dijaga oleh murid pasukan bayangan milik Hantu Berkabut.