Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. TERBANGUN DI TUBUH YANG SALAH
..."Ketika seorang dokter modern terbangun di tubuh yang salah, di masa yang salah, ia hanya punya satu pilihan: bertahan hidup dengan pengetahuan sebagai senjata satu-satunya."...
...---•---...
Kepala Doni terasa seperti dipukul godam. Rasa sakit berdenyut dari belakang tengkorak, menjalar hingga ke pelipis. Ia mencoba membuka mata, namun cahaya yang menyeruak terlalu menyilaukan. Bau anyir dan amis menyerang hidung. Bukan bau antiseptik rumah sakit yang biasa ia hirup. Ini bau yang lebih kasar: campuran tanah basah, kotoran hewan, dan sesuatu yang membusuk.
"Bangun! Kau pikir aku membiarkanmu tidur seharian, dasar pemalas!"
Suara keras itu disertai tendangan di rusuk. Doni terhentak, napasnya tersedak. Ia membuka mata, kali ini memaksa diri mengabaikan silau. Yang pertama ia lihat adalah langit-langit bambu anyaman, penuh lubang, diterangi sinar matahari pagi yang menembus celah-celah. Dinding bilik dari gedek rapuh. Lantai tanah keras yang dingin.
Bukan kamar tidurnya. Bukan rumah sakit.
Seorang perempuan tua berdiri di hadapnya, bertubuh kurus kering, wajah penuh kerutan dalam. Urat di pelipis berdenyut. Rahangnya mengeras. Ia mengenakan kain jarik lusuh dan kebaya compang-camping. Rambutnya yang memutih diikat asal-asalan.
"Sudah tiga hari!" Perempuan itu menunjuk tumpukan keranjang di sudut, jarinya gemetar karena marah. "Tiga hari kau cuma terbaring seperti mayat! Sementara keranjang-keranjang ini tidak akan menjual diri sendiri!"
Ia meludah ke samping.
"Kalau masih mau tinggal di gubuk ini, kerja! Cari kayu bakar, bantu Pak Karso di sawah, atau..." Suaranya turun, dingin. "...pergi saja dari sini."
Doni mencoba duduk. Tubuhnya terasa asing. Terlalu kurus. Tulang rusuknya menonjol di bawah kulit yang gelap, penuh luka lecet dan bekas gigitan serangga. Tangannya kasar, penuh kapalan yang bukan miliknya. Ia menatap telapak tangannya yang kotor, kuku hitam penuh tanah.
Ini bukan tanganku. Tangan seorang dokter bedah harus bersih, terawat. Steril.
Ia ingat dengan jelas: tadi malam ia menyelesaikan operasi usus buntu darurat di Rumah Sakit Permata Medika. Shift malam yang melelahkan. Lalu ia pulang, mandi, dan tertidur di apartemennya yang nyaman di Jakarta Selatan.
"Jangan melamun," Perempuan tua itu mendekat, wajahnya menukik. Napasnya berbau sirih dan sesuatu yang asam. "Seperti orang gila! Apa kau masih demam? Atau memang otakmu sudah rusak sejak ibumu mati?"
Ibumu mati.
Kata-kata itu menohok sesuatu di kepala Doni. Tiba-tiba gambaran kabur menyeruak. Seorang wanita kurus terbaring di tikar, batuk darah. Tidak ada obat. Tidak ada dokter. Hanya dukun kampung yang membakar kemenyan dan membaca mantra. Wanita itu mati dalam kesakitan, meninggalkan anak laki-laki berusia lima belas tahun sendirian di dunia yang kejam.
Doni menggeleng keras. Itu bukan ingatanku. Tapi kenapa terasa begitu nyata?
"Mbok Sarmi..." Kata itu meluncur dari mulutnya tanpa ia sadari. Suaranya serak, asing di telinganya sendiri. "Maafkan saya."
Mbok Sarmi, bibi dari mendiang ibunya. Perempuan yang terpaksa memberinya tempat tinggal karena tidak ada kerabat lain yang mau menerima anak yatim piatu yang hanya akan menambah beban.
Perempuan tua itu mendengus. "Maaf tidak mengenyangkan perut. Hari ini kau harus pergi ke pasar, bawa keranjang bambu yang sudah kubuat. Jual dengan harga sepuluh duit satu keranjang. Jangan pulang sebelum semuanya laku!"
Ia melempar sebuah keranjang anyaman kasar ke arah Doni, lalu berbalik pergi, meninggalkan jejak kaki telanjang di tanah. Pintu gubuk yang terbuat dari papan reot dibanting tertutup.
Doni terduduk di lantai tanah, keranjang bambu di pangkuannya. Jantungnya berdegup kencang. Napasnya pendek, tersangkut di tenggorokan. Ia mencubit lengannya keras-keras.
Sakit. Sangat sakit. Kulitnya memerah.
Bukan mimpi.
Doni bangkit dengan susah payah. Kakinya gemetar. Ia melangkah ke luar gubuk, menyipitkan mata menghadapi sinar matahari.
Deretan gubuk-gubuk serupa berjejer tak beraturan di sepanjang jalan tanah berlumpur. Orang-orang berkulit sawo matang berlalu-lalang, mengenakan pakaian tradisional Jawa. Para lelaki memakai kain sarung dan baju tanpa kerah, sebagian bertelanjang dada. Para perempuan mengenakan kebaya dan kain batik lusuh, membawa bakul di kepala atau bayi di gendongan. Tidak ada kendaraan bermotor. Hanya gerobak kayu ditarik kerbau dan beberapa ekor ayam yang berkeliaran mencari makan.
Di kejauhan, ia bisa melihat atap rumah-rumah besar bergaya Eropa dengan dinding putih bersih, berkontras tajam dengan gubuk-gubuk kumuh di sekitarnya. Bendera berkibar di salah satu gedung tinggi.
Bendera oranye, putih, dan biru.
Bendera Belanda.
Napasnya tercekat di paru-paru.
Seorang anak laki-laki berlari melewatinya, mengejar ayam. Anak itu berteriak dalam bahasa Jawa, "Pitik! Pitik!" Lalu seorang ibu keluar dari gubuk, memaki dalam bahasa yang sama.
Doni memahami setiap kata. Padahal ia tidak pernah belajar bahasa Jawa secara mendalam.
Sebuah kereta kuda melintas di ujung jalan. Di dalamnya duduk seorang pria Belanda berjas dan topi tinggi, di sampingnya seorang wanita berpakaian mewah dengan payung renda. Mereka menatap ke luar jendela, bibir mengerut, hidung sedikit terangkat saat melewati perkampungan kumuh.
Doni berjalan perlahan di antara kerumunan. Orang-orang meliriknya, beberapa menyapa dalam bahasa Jawa, dan ia menjawab tanpa berpikir. Kata-kata mengalir begitu saja, seolah lidahnya telah mengenalnya sejak lahir.
Ia melewati sebuah sumur, di mana beberapa perempuan sedang mencuci pakaian. Air keruh, bercampur busa sabun dan sesuatu yang lebih gelap. Beberapa meter dari sana, anak-anak bermain di genangan air yang sama, tertawa, saling memercik.
Seorang anak minum langsung dari genangan. Doni berpaling.
Seorang anak perempuan tiba-tiba batuk. Batuk yang dalam, basah. Tubuhnya kurus, tulang belikat menonjol di punggung. Ibunya menepuk-nepuk punggungnya, wajah pasrah.
Tanpa obat, anak ini tidak punya banyak waktu.
Ia berbalik, tidak sanggup melihat lebih lama.
Di ujung kampung, ia berhenti. Memandangi gedung-gedung kolonial yang menjulang megah. Jendela-jendela kaca besar memantulkan cahaya matahari. Taman yang rapi dengan bunga-bunga asing. Pagar besi tinggi yang memisahkan dua dunia.
Di balik pagar, seorang anak Belanda berlari mengejar bola, kulitnya putih bersih, pakaiannya rapi. Tawanya riang, tanpa beban.
Di belakang Doni, anak kampung itu batuk lagi, batuk yang dalam, tak henti.
Doni menutup mata, menarik napas panjang. Paru-parunya terisi udara panas yang berbau tanah dan asap kayu bakar. Ketika ia membuka mata kembali, pemandangan itu masih sama. Tidak berubah. Tidak hilang.
Ini nyata. Bendera itu nyata. Kampung ini nyata. Tubuh ini nyata.
Di suatu tempat jauh di masa depan, tubuh aslinya mungkin sudah dingin di meja operasi. Atau mungkin tergeletak di apartemen, ditemukan berhari-hari kemudian oleh tetangga yang mencium bau busuk.
Tapi di sini...
Di sini ia masih hidup.
Dalam tubuh orang lain.
Di waktu yang salah.
Dan tidak ada jalan pulang.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲