Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
“Kenapa makanannya tidak dihabiskan?”
Tanya Binar saat melihat Angkasa yang meletakkan kembali sendok dan garpunya di atas piring
sedang masih terdapat cukup banyak nasi dan lauk di piringnya.
“Sudah kenyang, kamu jangan lupa habiskan makananmu”
Binar menatap Angkasa aneh, “Menyuruh orang untuk menghabiskan makanan tapi sendirinya tidak habis”
“Hanya sedang tidak berselera, beda denganmu. Kamu harus banyak makan biar cepat sehat”
“Aku sehat, sangat sehat”
bela Binar
“Hmmm, tapi kaki mu
tidak” jawab Angkasa
“Apa hubungannya”
gerutu Binar sembari menyendok lagi nasi dan sup ayam yang tadi dibawakan oleh
Hadrian. Beberapa saat setelah sendok itu masuk ke dalam mulut dan dikunyahnya
nasi beserta sup ayam tersebut, tiba – tiba Binar ingat sesuatu.
“Ahh benar juga, sup ayam ini” Binar menolehkan wajahnya menatap Angkasa seperti mendapatkan jawaban
kenapa Angkasa tidak berselera makan malam ini.
“Kamu tidak berselera makan karena sup ayam ini?”
Tanya Binar pada Angkasa.
“Kata siapa?”
“Aku”
“Bukan karena itu”
“Trus apa lagi? Kamu begitu tidak menyukai Hadrian, jadi ku pikir karena sup ayam ini”
“Yang pasti bukan karena sup ayam ini, jadi cepat habiskan makananmu lalu minum obat”
Setelah itu Angkasa berdiri dari duduknya
“Kamu mau kemana?” Tanya Binar
“Aku ada sedikit urusan sebentar di luar, jadi setelah ini jangan lupa minum obat dan beristirahatlah di kamar. Mintalah
bantuan mbok Sri jika ada sesuatu yang diperlukan. Telpon aku jika ada kondisi
darurat”
Usai mengucapkan itu Angkasa mengusap kepala Binar pelan lalu pergi keluar meninggalkan Binar
sendiri di meja makan.
“Apa itu, pergi di saat makan malam masih berlangsung”
Binar meletakkan kembali sendok dan garpu di atas piring miliknya
“Dan sekarang aku yang tidak berselera makan” gumam Binar melihat nasi dan sup ayam yang ada di atas
meja
“Non Binar sudah selesai makannya? Ada yang bisa mbok Sri bantu?”
Suara mbok Sri yang baru saja datang ke ruang makan mengalihkan perhatian Binar dari nasi dan sup
ayam yang dipandanginya tadi.
“Ehh mbok Sri, iya nih udah selesai makannya. Mbok bisa tolong bantu Binar ke kamar gak?” Tanya Binar
pada mbok Sri yang langsung dijawab mbok Sri dengan anggukan tanda
kesanggupannya untuk membantu Binar.
Dan setelah itu mbok Sri membantu mendorong kursi roda Binar menuju kamarnya.
***
Angkasa mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya saat ini tertuju pada
sebuah pesan yang masuk ke ponselnya sesaat sebelum makan malam tadi
berlangsung. Pesan yang berisi informasi
tentang kedatangan seseorang yang selama beberapa tahun ini telah hilang kontak
dengannya.
Mobil Angkasa sampai di depan sebuah caffe, setelah memakirkan mobilnya Angkasa
memasuki caffe tersebut. Matanya mengedarkan pandangan ke seluruh isi penjuru
caffe mencari seseorang yang tadi telah mengirimkan informasi padanya. Mata Angkasa
berhenti pada seorang lelaki berkemeja hitam yang sedang melambaikan tangan
padanya, Angkasa dapat melihat lelaki itu duduk sendiri dengan dua gelas kopi
di mejanya.
“Apa kabar, aku memesankan kopi untukmu”
Angkasa menjabat tangan temannya itu lalu duduk di kursi yang terdapat di depannya.
“Baik, bagaimana kabar Amerika?”
“Well sebenarnya tidak cukup baik, semakin hari kebikan – kebijakan yang dibuat oleh
Trum semakin gila” lelaki tersebut bercerita sembari menggeleng – gelengkan kepala.
Angkasa tersenyum simpul, “Bukankah kamu yang dulu bilang tinggal di Amerika adalah hal
yang luar biasa. Negara super power idamanmu”
“Yah, impian dan kenyataan terkadang memang tidak sesuai dengan harapan”
Angkasa terkekeh, “Jadi bagaimana sekarang, lebih nyaman tinggal di ibu pertiwi kan?”
“Hmm ya, kurang lebih seperti itu”
Tawa renyah pun keluar dari keduanya.
“Well, sebenarnya bukan karena Amerika atau ibu pertiwi kan kamu mengajakku bertemu
disini?” Tanya lelaki itu pada Angkasa yang langsung membuatnya terdiam
menghentikan tawanya.
“ku rasa kamu sudah tahu jawabannya Jack” jawab Angkasa
Lelaki yang bernama Jack itu pun menegakkan tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya menatap
Angkasa.
“Kamu benar – benar tidak tahu dia akan segera kembali ke Indonesia?” ucapnya
Angkasa menggelengkan kepalanya, “Kami tidak sedekat itu hingga saling memberikan kabar”
“Hmm
benar juga, tapi dulu kalian lebih dari sekedar kata dekat”
Ucap Jack yang langsung mendapatkan balasan tatapan serius dari Angkasa
“Oke, aku tidak akan membahasnya”
“Kami bertemu pada saat acara pernikahan Kevin, dan disana terjadi mini reuni dari mantan pekerja di maskapai. Kami saling menceritakan masalah pekerjaan yang sekarang kami geluti dan pada saat itu dia
bercerita bahwa dia mendapat penawaran kerja kembali di maskapai Indonesia. Dan
dia menerima tawaran itu, itu tandanya dia akan kembali ke sini lagi kan”
Angkasa diam tampak memikirkan sesuatu, pikirannya melayang ke memori beberapa tahun
yang lalu. di tahun dimana isi memori ingatannya penuh dengan segala sesuatu
tentangnya.
“Ya mungkin saja” jawab Angkasa kemudian, setelah beberapa saat diam
“Apa kamu akan baik – baik saja?” Tanya Jack mencoba memastikan
“Aku akan baik – baik saja, selama ini juga aku baik – baik saja”
Jack menghela napas pelan, “Ku harap kamu benar – benar akan baik –baik saja. Kamu terus
mengingatnya selama ini”
“Terlalu banyak memori tentangnya, mustahil untuk dilupa. Tapi tenang saja aku hanya
akan mengingatnya karena dia adalah salah satu bagian dari cerita masa lalu ku
bukan masa depanku.” Jawab Angkasa setelah itu diambilnya segelas kopi yang
telah mulai dingin itu lalu meminumnya beberapa tegukan.
“Ku harap juga begitu” gumam Jack lirih sembari menatap Angkasa yang sedang meminum kopi pesanannya tadi.
***
Binar mencoba untuk tetap memejamkan matanya akan tetapi tetap saja kedua bola mata
itu susah untuk terpejam.
“Ohh ayolah, mari kita berdamai dan tidur” gumam Binar pada dirinya sendiri
Entah kenapa dari saat setelah mbok Sri meninggalkannya sendiri di kamar hingga saat
ini Binar masih saja sulit untuk tiduk. Perasaannya gusar tak menentu dan itu
membuat kedua matanya lagi – lagi kembali untuk terbuka.
“Dia sudah besar dan dewasa, lagi pula dia laki – laki yang kelihatannya cukup kuat
jadi tidak perlu khawatir akan terjadi apa – apa padanya” Binar kembali
berbicara pada dirinya sendiri mencoba meyakikan pikirannya untuk tidak
memikirkan hal yang aneh – aneh seperti “Apakah ada pejahat yang mencoba untuk
menyerang Angkasa?” atau “Mobilnya baik – baik saja kan?”
Sedari tadi ada saja pikiran tentang Angkasa yang datang padanya.
“Ayolah kamu ini bukan istrinya yang perlu mencemaskan suami yang belum pulang saat
larut malam” ucap Binar
“Tapi aku kan calon istrinya?” ucap Binar lagi lalu mengacak rambutnya karena bingung
dengan pikirannya sendiri.
Binar melihat lagi jam yang berada di atas nakas, di sana terlihat jarum jam
menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tiga puluh menit lagi menuju tengah
malam dan itu membuat Binar makin gusar apa lagi mengingat Angkasa yang tadi
pamit hanya “sebentar” padanya.
“Apa ini sebentar versinya?” gerutu Binar.
Lama Binar menunggu sembari memainkan ponselnya hingga terdengar suara deru mobil yang
datang. Dan Binar dapat memastikan jika itu pasti Angkasa karena setelah bunyi
deru mobil itu tidak ada lagi bunyi lain seperti ketukan pintu atau bel jika
itu memang orang lain selain Angkasa yang datang.
Binar menghembuskan napas lega, “Akhirnya datang juga, sekarang aku bisa tidur”
Binar meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, dan matanya tertuju pada jam yang
sedari tadi terus menjadi perhatiannya.
“Sudah jam setengah satu ternyata”
Setelah itu Binar kembali memposisikan tubuhnya senyaman mugkin di kasur untuk bersiap
tidur, beberapa saat setelah binary memejamkan matanya terdengar suara pintu
kamar yang terbuka.
Binar tahu itu pasti lah Angkasa, dan ingin sekali rasanya keda mata itu terbuka tapi
dengan sekuat tenaga Binar menahannya.
Angkasa berjalan dengan pelan mendekati kasur yang di tempati oleh Binar, setelah
tubuhnya sampai pada bibir ranjang Angkasa berhenti. Matanya menatap wajah
Binar yang sedang tidur. Senyuman kecil terbit di wajahnya setelah itu tangannya
terulur mendekati wajah Binar di usapnya pelan pipi Binar lalu berpindah
membelai pelan rambut Binar.
“Good night” bisiknya pelan setelah itu Angkasa pergi kembali menuju kamarnya.
Kedua mata Binar kembali terbuka sesaat setelah suara pintu tertutup terdengar.
“Good night too” gumamnya lirih lalu kembali menutup kedua matanya menuju alam mimpi.
Tbc.
jangan lupa like, komen dan votenya ya temen - temen ^^
Sebel deh lihat nya