Arindi Azzahra adalah gadis cantik berusia 22 tahun bekerja sebagai pemilik usaha catering. Ia menikah dengan seorang CEO muda berumur 27 tahun akibat perjodohan terselubung yang berkedok kesalahpahaman.
Bagaimana jadinya ya? Apakah mereka bisa saling menerima atau sebaliknya?
follow ig: @xxpfrk_12
Mau tau bagaimana kelanjutan ceritanya, stay terus ya di karya pertama ku🌼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elgaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Weekend kali ini Rama dan Riri hanya menghabiskan waktu dirumah saja karena besok hari minggu Mama mertua Riri yaitu Shinta akan berkunjung kerumah.
Rama dan Riri tengah duduk santai diteras depan rumah sambil menikmati cemilan dan beberapa buah buahan. Mereka duduk diatas kursi yang dibatasi sebuah meja kecil tempat meletakkan cemilan dan didepan rumah juga terdapat pohon pohon yang dilingkari oleh pagar yang menjulang tinggi dan tertutup. Meskipun desain rumah yang minimalis, Rama sangat mengutamakan keamanan rumah. Ia juga memasang beberapa CCTV di setiap sudut rumah mereka.
"Mas, Apa mama jadi berkunjung kesini besok?" Tanya Riri sambil menyuapi Rama sepotong buah yang telah dipotong membentuk dadu.
"Sepertinya jadi." Jawab Rama menerima suapan dari Riri.
Secara bergantian sekarang giliran Rama yang menyuapi Riri buah buahan.
"Aku mau makan cemilan aja Mas." Tolak Riri yang lebih memilih sebuah cemilan keripik kentang rasa BBQ itu.
"Kamu ingat kan kata dokter Windi, harus mengkonsumsi makanan sehat." Imbuhnya dengan mempertegas kata kata itu.
"Tapi Mas... Aku bosan-"
Tak sempat melanjutkan kalimatnya Rama sudah membungkamkan mulut Riri dengan memasukkan potongan buah yang sedikit besar kedalam mulutnya, sehingga membuat Riri tak dapat membantah.
"Cerewet lagi?" Ledek Rama tersenyum jahat.
Riri menggeleng gelengkan kepalanya sembari mengunyah isi mulutnya.
"Gimana kalau besok aku mau masakin sesuatu buat Mama."
Rama mengangguk tanda setuju, "Mau masak apa emangnya?"
"Mas tau makanan kesukaan Mama?"
"Mas kurang tau juga sih. Tapi setau Mas, Mama itu paling suka masakan masakan rumahan gitu."
Riri menjentikkan tangannya, "Aha! Pas banget Mas! Aku mau masak Semur Ayam, pasti Mama suka." Seru Riri.
"Emangnya kamu bisa?" Tanya Rama mengernyitkan dahinya.
"Mas meragukan seorang Arindi Azzahra hah?" Jawab Riri berkacak pinggang didepan Rama.
"Gimana coba?" Tanya Rama seolah olah meragukan kepandaian Riri dalam memasak.
"Itumah kecil mas!!! Panaskan minyak, tumis bumbu bumbunya, masukin ayam sekalian sama penyedap rasa trus-"
"Stop stop stop! Mas jadi lapar." Sela Rama saat Riri tengah semangat semangatnya menjelaskan tutorial membuat Semur Ayam.
"Tuh kan! Baru bayangin aja udah lapar, apalagi udah ngerasain." Balas Riri mengangkat sebelah alisnya.
"Ayo kita masuk, sepertinya sebentar lagi akan hujan." Ucap Rama menunjuk ke arah langit.
Sore ini matahari yang tadinya bersinar dengan gagahnya kini sudah mulai ditutupi gumpalan gumpalan awan. Awan hitam juga sudah mulai mendominasi warna langit, bahkan terasa rintik hujan beserta hembusan angin yang menyelinap kedalam kulit juga sudah mulai terasa.
Keputusan yang tepat Rama mengajak Istrinya untuk masuk kedalam rumah, karena tak lama setelah itu hujan lebat yang diiringi gemuruh pun menghiasi sore itu.
.
.
.
Didalam sebuah kamar bernuansa abu abu ada seorang pria tampan meratapi kegalauannya yang tengah menatap keluar dari balik jendela. Memperhatikan tetes demi tetes air hujan yang perlahan membasahi tanah.
Sayup sayup terdengar suara musik yang ia putar, menunjukkan bahwa suasana hatinya sedang dirundung pilu.
Saat kau pergi~
Berlinanglah air mataku~
Betapa singkat kurasakan kebahagiaan itu kini lenyaplah sudah~
Tak pernah ku inginkan~
perpisahan ini terjadi~
Ku hanya bisa merelakan jika memang kau fikir inilah yang terbaik~
Tak perlu kau beri alasan mengapa kau ingin pergi meninggalkan diriku
Meninggalkan diriku~
Karena ku yakin mungkin semuanya
Itu bisa membuatmu bahagia~
Sepenuhnya ku menyadari~
Bahwa cinta itu
Tak mesti harus memiliki~
Namun ku akan selalu menyanyangimu
Setulusnya hatiku~
-Nanda Pov-
Sudah seminggu lamanya aku tak mendapatkan kabar darinya. Aku tak tau apa yang sedang Dia lakukan saat ini, dimana dia berada?, bersama siapa?, dan aku juga ingin tau apa alasan dia pergi begitu saja tanpa memberitahuku terlebih dahulu.
Ku ambil kembali ponselku yang untuk mengecek apakah ada balasan pesan darinya ataukah tidak. Ah ternyata hasilnya sama seperti hari hari sebelumnya, dia tak membalas pesanku dan juga tidak mengangkat telponku.
Jika memang dia merasa tidak nyaman disaat aku mendekatinya, apa salahnya memberitahu kepadaku soal itu. Bukannya malah pergi menghilang tiba tiba tanpa kabar seperti ini.
Apakah ini memang nasib yang sudah di takdirkan tuhan kepadaku. Ditinggalkan oleh semua orang yang aku sayang. Mulai dari kedua orang tua, adik, Arindi Azzahra mantan kekasihku yang kini menjadi istri dari sahabatku, dan kali ini aku kehilangan lagi orang yang aku cintai. Memang benar apa kata orang orang 'Cinta tak harus memiliki'.
Ting!
Suara notifikasi di ponselku kembali berbunyi, aku berharap bahwa pesan itu berasal dari Aisyah, ternyata dugaan ku salah. Ternyata itu hanyalah pesan dari operator yang menyuruhku untuk melakukan pengisian ulang.
Aisyah! Apakah aku harus benar benar melepaskanmu?
-Nanda Pov End-
.
.
.
Sekitar pukul 11 siang Mama Shinta sudah sampai didepan rumah Rama, Ia diantar oleh sopir pribadi keluarga mereka.
"Sudah sampai Nyonya." Ucap Mang Asep.
"Terimakasih ya Mang, Mang Asep boleh pulang. Jangan lupa jemput saya nanti sore sekitar pukul 5."ucap Mama Shinta sambil membuka pintu mobil.
"Baik Nyonya."
Shinta langsung masuk ke perkarangan rumah Rama dengan menenteng tas branded ditangannya. Sengaja pintu pagarnya tidak dikunci karena mereka sudah tau Mama nya akan segera datang.
"Assalamu'alaikum." Panggil Shinta yang masih berdiri diambang pintu.
"Wa'alaikumsalaam." Jawab keduanya dari dalam dapur.
Rama keluar menyambut Shinta.
"Mama kesini sama siapa?" Tanya Rama setelah mencium punggung tangan Mamanya.
"Tadi diantar sama Mang Asep."
"Trus Mang Asep nya kemana." Tanya Rama sambil melihat kearah luar.
"Mang Asepnya Mama suruh pulang, soalnya rumah gak ada yang jagain."
"Ohh." jawab Rama ber oh ria.
"Oh iya, Istri kamu dimana."
"Lagi didapur Ma, lagi masak buat makan siang bareng Mama."
"Kalo gitu kita langsung kedapur aja deh, kebetulan Mama udah lapar." Ucap Shinta cekikikan.
Sesampainya di pintu dapur.
"Sayang, ada Mama nih."
"Eh Mama." Riri langung meletakkan spatula masaknya kemudian mengelap asal tangannya di celemek, lalu cipika cipiki.
"Kamu masak apa?" Tanya Mama Shinta sedikit mengintip kearah wajan.
"Ini Ma, Riri masak semur ayam untuk makan siang."
"Silahkan duduk dulu Ma." Sahut Rama mempersilahkan Mamanya untuk duduk dan Ia dengan telaten mempersiapkan perlengkapan untuk makan siang.
"Nah ini dia." Riri meletakkan masakannya yang sudah dipindahkan kedalam mangkok keatas meja.
"Hmmm wanginya aja udah menggoda! Mama memang gak salah pilih mantu." Celetuk Shinta.
"Mama bisa aja. Silahkan dimakan Ma."
Mereka bertiga menikmati makan siang yang diselingi dengan bercerita, sesekali tertawa mendengar cerita Mama Shinta tentang masa kecil Rama.
...----------------...
Hai Readers!!! Semoga masih terhibur dengan karya Author yang gaje ini. Jangan lupa Like, Vote, Komen supaya ceritanya tidak gaje lagi😂
maaf baru feedback sekarang hehe 😅, aku udah like sama rate 5 ya 😁
always spirit 💪😄
salam hangat dari MACAC dan RTBAC ✌️😆
Ditunggu bab selanjutnya y thor..
Salam dariku Jadi Bodyguard Janda Cantik
Feedback karyaku juga ya.. Makasih
Salam dari _Until we found the lost memory
jangan lupa feedback ya😊