Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Kevin mengangguk, dan malam itu perang resmi dimulai.
Tiga hari kemudian, perang itu belum sempat muncul di laporan pajak Hendra ketika nama Keira lebih dulu naik ke seluruh layar ponsel Jakarta.
Pukul tujuh pagi, Rio mengetuk pintu ruang kerja Keira dengan wajah yang jarang menunjukkan ekspresi.
"Bos, Anda masuk trending."
Keira sedang membaca laporan awal tentang transaksi mencurigakan Mulyono Group. Ia tidak mengangkat kepala. "Vania lagi?"
"Bukan. Pak Kevin."
Baru kali itu Keira berhenti membaca.
Rio meletakkan tablet di mejanya. Layar menampilkan foto buram tetapi cukup jelas: Kevin membuka pintu mobil untuk Keira di depan Plaza Indonesia. Foto kedua memperlihatkan Kevin memayungi Keira saat hujan rintik, tubuhnya sengaja menutup sisi jalan agar perempuan itu tidak terkena cipratan air.
Judul akun gosip besar tertulis mencolok.
CEO Hartono Group Punya Kekasih Baru? Wanita Misterius Ternyata Mantan Nona Mulyono.
Di bawahnya, tagar #KevinHartonoGirlfriend dan #KeiraMulyono naik cepat.
Keira menatap layar tanpa berkedip.
"Foto kapan ini?"
"Dua hari sebelum acara Vania. Sepertinya paparazzi biasa. Mereka baru berani unggah setelah melihat Pak Kevin beberapa kali muncul bersama Anda."
Komentar mengalir seperti banjir.
Gila, Kevin Hartono akhirnya punya pacar?
Itu Keira Mulyono kan? Yang dulu diusir keluarganya?
Diusir tapi sekarang dapat Kevin Hartono. Hidup memang plot twist.
Jangan-jangan dia memang dari dulu incar orang kaya.
Kalau Kevin mau, berarti dia bukan perempuan sembarangan.
Lihat cara Kevin payungin dia. Aku ikut meleleh.
Keira mematikan layar tablet.
"Turunkan."
Rio mengangkat alis. "Semua?"
"Minimal foto anak-anak jangan sampai ikut terseret."
"Tim sudah memantau. Tidak ada foto anak-anak."
Keira menghela napas. Itu satu-satunya hal yang membuat dadanya tidak langsung mengeras.
Di seberang kota, ruang kerja Kevin di Hartono Group jauh lebih dingin.
Feng berdiri dengan tablet di tangan, keringat tipis muncul di punggung leher.
"Boss, tim PR menunggu instruksi. Bisa kami tekan akun gosip dan hapus tagar dalam satu jam."
Kevin membaca komentar di layar.
Beberapa menyebut Keira perempuan beruntung. Beberapa menyebutnya memalukan. Beberapa memakai kisah pengusiran Mulyono seperti hiburan pagi.
Matanya berhenti pada satu komentar.
Perempuan bekas dibuang keluarga, sekarang numpang hidup ke Hartono.
Udara di ruangan itu turun beberapa derajat.
"Tidak usah dihapus."
Feng membeku. "Boss?"
"Kalau dihapus, mereka akan pikir kita malu."
"Lalu?"
Kevin mengambil ponselnya sendiri. "Buka akun resmi Hartono Group."
Feng hampir menjatuhkan tablet. "Akun resmi perusahaan?"
"Sekarang."
Lima menit kemudian, akun resmi Hartono Group me-retweet foto Kevin dan Keira. Tidak ada penjelasan panjang. Hanya satu kalimat.
Dia pantas mendapatkan yang terbaik.
Jakarta meledak.
Tagar baru naik dalam dua puluh menit.
#DiaPantasYangTerbaik
#KevinHartonoProtectsHer
#KeiraMulyono
Komentar yang tadi merendahkan langsung dibanjiri balasan.
Kalau CEO Hartono Group sendiri bilang begitu, siapa kalian?
Ini bukan panjat sosial. Ini deklarasi.
Mantan keluarga Mulyono pasti panas dingin.
Aku tidak tahu kisah lengkapnya, tapi cara dia berdiri di foto itu elegan sekali.
Beberapa akun bisnis bahkan mulai menulis analisis pendek tentang perubahan arah angin: jika Keira benar berada di sisi Hartono, maka siapa pun yang masih menyerang namanya sedang mengambil risiko yang sangat mahal.
Keira membaca unggahan itu di meja makan rumahnya.
Ethan dan Tiffany duduk di depannya, sama-sama memegang tablet.
Tiffany menjerit kecil. "Daddy tulis Mommy pantas yang terbaik!"
Ethan mengangguk serius. "Strategi bagus. Setelah resmi akun perusahaan bicara, siapa pun yang menyerang Mommy berarti menyerang Hartono Group."
Keira menatap putranya. "Kamu lima tahun."
"Tapi benar."
Rio, yang berdiri di dekat jendela, menahan senyum.
Keira membuka pesan dari Kevin.
Aku tidak akan menghapus fotonya. Tapi kalau ada yang menyentuh anak-anak, aku hapus orangnya dari internet.
Keira menatap kalimat itu lama.
Jawaban yang seharusnya ia kirim adalah marah. Atau setidaknya protes karena pria itu membuat hubungan mereka setengah diumumkan tanpa bertanya.
Namun ujung bibirnya justru bergerak sedikit.
Ia membalas singkat.
Jangan berlebihan.
Balasan Kevin datang hampir segera.
Untukmu, aku belum mulai.
Keira menutup layar ponsel sebelum Tiffany melihat pipinya memanas.
Telepon rumah berdering tidak lama kemudian. Pak Hadi yang menghubungi dari Hartono Estate, tetapi suara Engkong Hartono langsung terdengar setelah sambungan tersambung.
"Keira!"
"Engkong."
"Kapan datang resmi makan malam keluarga lagi? Kalau sudah muncul di internet, lebih baik sekalian dibuat benar."
Keira memejamkan mata. "Engkong, itu hanya foto."
"Foto yang bagus. Kevin terlihat seperti manusia."
Ethan tersedak susu.
Engkong melanjutkan dengan puas, "Besok datang. Aku ingin lihat cucuku mengejar perempuan dengan benar."
"Engkong..."
"Jangan panggil aku dengan nada dokter. Ini urusan hati, bukan tekanan darah."
Setelah telepon ditutup, Keira duduk diam beberapa detik. Rumahnya dipenuhi suara Tiffany yang masih membaca komentar dukungan dan Ethan yang mulai menyaring akun berbahaya.
Di luar, dunia sedang menempelkan label baru padanya.
Mantan nona Mulyono.
Perempuan Kevin Hartono.
Keira tidak menyukai label apa pun. Tetapi untuk pertama kalinya, label baru itu tidak terasa seperti rantai. Lebih seperti payung yang dibuka seseorang di tengah hujan.
Di Rumah Mulyono, suasananya jauh dari hangat.
Hendra melempar ponsel ke sofa begitu melihat unggahan resmi Hartono Group. Layar masih menyala, menampilkan kalimat pendek yang membuat darahnya naik.
Dia pantas mendapatkan yang terbaik.
"Kurang ajar," desis Hendra. "Dia sengaja mempermalukan kita."
Siska duduk dengan wajah pucat setelah skandal Vania belum sepenuhnya reda. "Orang-orang mulai bertanya soal minuman itu. Kalau sekarang Kevin ikut melindungi Keira, kita sulit menekan media."
Vania belum pulang dari perawatan observasi, tetapi pesan suara darinya terus masuk, penuh tangis dan amarah. Hendra tidak membukanya.
"Bukan cuma media," katanya. "Kalau Hartono Group berdiri di belakang Keira, rekan bisnis kita akan menghitung ulang semuanya."
Siska menggenggam ujung selendang. "Lalu kita bagaimana?"
Hendra menatap foto Keira di layar. "Kita buat dia terlihat bukan korban, tapi ancaman."
Sementara itu, di rumah lain, Maya Mulyono memegang ponselnya terlalu erat.
Foto Kevin dan Keira memenuhi layar. Senyum di wajahnya pelan-pelan hilang.
"Dia benar-benar bersama Kevin Hartono," bisiknya.
Di depannya, sebuah map kecil terbuka. Di sudut map itu tertulis satu nama.
Bryan.
Maya menekan nomor yang tidak disimpan di kontak.
Begitu sambungan terhubung, suaranya berubah rendah.
"Rencana kita harus dipercepat. Keira dan Kevin makin dekat. Kalau mereka mulai menyatukan kekuatan, urusan Bryan bisa terbongkar lebih cepat dari perkiraan."
Ia mendengarkan jawaban di seberang, lalu menatap lagi foto Keira yang sedang dipayungi Kevin.
"Tidak," katanya dingin. "Aku tidak akan membiarkan dia mengambil semuanya dariku lagi."
Tidak lagi.