Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 24
"Hah? Apa?"
Antika seolah-olah mendengar seseorang memanggilnya, tetapi ibu mertuanya saat ini sedang sibuk dengan aktivitasnya, sedangkan Aldri sudah kembali ke kamar.
"Siapa yang manggil aku?" tanya Antika lirih.
"Ada apa, Tika?"
"Eh, Ibu bikin kaget aja. Nggak kok, Bu. Itu apa Ibu barusan manggil aku?"
"Tidak. Kenapa?"
"Oh, nggak apa-apa Bu. Berarti aku salah dengar. Tadi kayak ada yang manggil gitu."
" Kamu pasti kecapean, makanya jadi menghayal. Sudah tinggalkan saja biar ibu yang melanjutkan."
"Nggak, Bu. Aku nggak apa-apa kok, beneran. Biarin aku bantu sampai selesai."
Indira tersenyum. "Ya, baiklah kalau kamu memaksa. Tapi jangan dipaksakan ya sayang." Antika mengangguk.
Malam hadir menggantikan petang. Rasa lelah yang mendera setelah seharian memindahkan barang membuat Aldri diserang kantuk. Pria dengan dada bidang itu merebahkan tubuh lelahnya di kasur empuk Antika. Kamar baru baginya yang kini akan menjadi kamar mereka berdua. Aldri terlelap tak berapa lama.
Antika yang baru saja selesai membantu ibu mertuanya membereskan dapur kini memasuki kamarnya. Kamar itu tampak gelap. Rupanya Aldri belum sempat menyalakan lampu, tetapi sudah keburu tertidur.
"Pules banget boboknya. Jadi nggak tega mau bangunin. Ah biar dah nanti pasti kebangun sendiri." Antika berguman.
Kedua bola mata Antika menetap lekat wajah Aldri. Gadis ke rambut hitam ikal itu tersenyum karena mulai malam ini mereka akan terus bersama. Ia berharap mimpi-mimpi buruknya yang hadir selama ini akan sirna.
Sebelum itu Antika keringat kembali suara seseorang yang seolah-olah memanggilnya tadi. Suara yang sangat familiar. Suara yang hampir selalu ia dengar. Yang selalu memujinya. Atika menggeleng-gelengkan kepala mencoba menepi semua yang ada dalam benaknya. Dirinya hanya ingin fokus kepada Aldri saja saat ini.
Atika kembali menatap suaminya lalu mengejut kening pria itu. Gadis berkulit putih itu memposisikan tubuhnya memeluk sang suami. Usai merapal doa dirinya memejamkan mata. Sama hanya dengan Aldri tak lama berselang Antika telah lelap dibuai mimpi.
Sementara itu di rumah sakit Anggara telah sadar dari, masih menjalani perawatan intensif pasca kesadarannya. Pemuda 19 tahun itu telah terbaring selama 3 bulan di rumah sakit.
"Syukurlah, Nak. Akhirnya kamu sadar juga. Mama bahagia sekali. Terima kasih Ya Allah yang telah mengabulkan doa-doa hambamu ini."
Amara menitipkan air mata. Beban hidup selama ini seakan membelenggu telah diangkat oleh sang Kuasa. Hatinya sudah memasrahkan semuanya kepada Tuhan YME. Setelah sebulan lamanya berharap putranya membuka mata, tetapi tak kunjung sadar juga. Ia hanya mampu berdoa dalam tangisnya dan menanti hingga akhirnya di bulan ketiga putranya tersadar dari koma .
Amara dan suaminya, Andika selalu menemani putranya secara bergantian. Kini mereka duduk di samping putranya menunggunya membuka kembali kedua mata.
Anggara perlahan membuka mata, memicing karena menyesuaikan cahaya yang telah diterima oleh retinanya. Pemuda itu menatap sekelilingnya. Semua tampak asing baginya. Tubuhnya pun terasa sakit semua.
Anggara mencoba mengingat kembali alasan mengapa tubuhnya bisa terbaring di tempat ini. Perlahan - lahan ingatan-ingatan yang terserah itu terkumpul kembali. Sebelum iya sampai pada ingatan tentang Antika lamunannya dibiarkan oleh panggilan namanya.
"Gara, kamu sudah sadar, Nak. Bagaimana perasaanmu sekarang?" Amara bertanya sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Ma-ma."
"Iya, Nak. Ini Mama." kedua tangan Amara meraih tangan Anggara yang masih lemah.
"Apa yang kamu rasakan, Nak?"
"Pa- pa." Andika hanya mengangguk.
"Sudahlah jangan banyak bicara dulu. Mama cukup tenang melihatmu sudah sadar, Nak "
" Mamamu benar. Kita bisa ngobrol lagi nanti. Yang penting kamu sudah sadar dari, kami sangat bahagia, Nak." Amara mengangguk-angguk.
"Ko- ma?"
"Iya, Nak. Kamu , selama 3 bulan di rumah sakit. Kamu mengalami kecelakaan malam itu."
"Sudahlah, Ma. Nanti lagi kita bahas. Sekarang yang penting kamu pulih dulu, Nak "
"Iya, Pa "
"Istirahat lah, Nak. Nanti kita bahas lagi." Andika mengusap kepala putranya.
Anggara menurut ia kembali memejamkan mata karena memang rasanya lelah sekali. Ia hanya ingin tidur saat ini.
Pagi yang tiba menggantikan malam. Samar - samar cahaya masuk dari jendela kamar Antika. Gadis itu terlonjak.
"Hah? Duh, Gusti. Jam berapa ini? Bisa-bisa nya aku telat bangun."
Antika yang hendak bergegas terkejut mendapati suaminya sudah rapi dan bersiap-siap pergi ke kantor.
"Darling, kok nggak bangunin aku, sih?"
Aldri tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku tidak tega membangunkanmu. Tidur mu nyenyak sekali."
"Benarkah? Iya juga sih. Selama ini aku selalu kebangun tengah malam karena mimpi buruk. Tapi, semalam aku nyenyak banget. Bener - bener amazing. Pasti semua karena Darling nemenin aku bobok kan?" Antika tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu tidak mimpi buruk lagi. Sekarang cepat nanti aku tunggu di meja makan." Antika bergegas menuju kamar mandi.
Senyum Aldri memudar ketika Atika memasuki kamar mandi. Pasalnya semalam pria itu tak bisa tidur kembali usai terbangun karena mimpi buruknya. Aldri mengusap wajahnya merasa sangat frustasi.
Aldri ingin terus melangkah, tetapi seolah-olah ada seseorang yang selalu menahannya. Ia sangat ingin menyegerakan resepsi pernikahannya, tetapi mimpi semalam membuatnya khawatir.
"Darling. Kok, belum turun? Katanya nungguin di bawah."
Aldri sedikit terkejut saat Antika tiba-tiba muncul. "Sebentar lagi, Tika. Tika Bagaimana menurutmu tentang resepsi pernikahan?"
Antika terdiam. Rupanya Aldri Tengah memikirkan hal itu. Resepsi pernikahannya. Antika mencoba tersenyum.
"Kalau Darling belum siap mengumumkannya aku sama sekali nggak masalah. Bagiku Darling sudah mau bersama sekamar aja aku udah seneng banget."
Antika mendekat. Harum dari tubuhnya seusai mandi mengeluarkan tertangkap indra penciuman Aldri. Satu hal yang membuatnya lebih rileks.
"Darling aku nggak butuh pengakuan semua orang. Aku hanya butuh kamu di sisi aku. Nggak perduli apa kata orang asalkan kamu bilang mencintaiku udah cukup buatku."
Aldri menyibakkan rambut Antika ke belakang telinga gadis itu. "Aku tahu kamu pasti akan berkata seperti itu. Ada alasan kuat yang saat ini belum bisa aku katakan. Tapi, setidaknya aku ingin semua orang tahu bahwa aku sudah memiliki seseorang. Tika aku ingin perlahan-lahan mengenalkanmu pada dunia."
"Eum. Baiklah apapun itu aku pasti setuju. Lakukan aja sesuai yang kamu yakini, Darling."
"Terima kasih, Sayang." mereka berpelukan.
Di kantor Aldri.
"Al, Al, woy!" Egi membiarkan lamunan Aldri.
"Ada apa, GI?"
"Yang harusnya tanya itu aku. Ada apa? Tidak biasanya kamu seperti ini. Eh, tapi sejak bersama Antika kamu memang begini, sih. Ada apa, Al? Cerita kan saja. Siapa tahu aku bisa bantu."
"Terima kasih, Gi " Aldri pun menceritakan semua yang ada dalam benaknya.
"Jadi begitu."