Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Untuk pertama kalinya sejak ia selamat dari hujan, Keira merasa takut pada kemampuannya sendiri.
Lima malam berikutnya tidak membuat rasa takut itu mengecil.
Setiap malam, Mansion Tanuwijaya berubah menjadi pasar tanpa penjual. Semua benda punya pendapat. Semua benda merasa pendapatnya penting. Keira belajar membedakan suara jam dinding dari suara AC, suara kursi makan dari suara remote televisi, suara lampu taman dari suara garpu yang terselip di laci dapur.
Ia juga belajar bahwa kurang tidur membuat dunia terlihat sedikit miring.
Sabtu pagi pukul 07.50, Keira turun ke garasi dengan mata kering dan kepala berat.
Hendry, setelah mendengar Brandon bersikap kasar pada Keira di hari pertamanya, menjatuhkan hukuman yang sangat efektif untuk anak bungsu: Rolls-Royce Phantom Edisi Terbatas yang selama ini dibanggakan Brandon dipindahkan menjadi mobil Keira. Secara resmi, katanya, "supaya Keira bisa mengenal Kota S dengan aman." Secara tidak resmi, garasi sendiri sudah menyebarkan gosip bahwa Brandon semalaman meratap seperti kalah final nasional.
Rolls-Royce Phantom itu langsung menyapa saat Keira mendekat.
"Nona baru! Akhirnya. Mantan tuanku itu nyetirnya emosional. Aku butuh pemilik yang lebih elegan."
Di sudut lain, beberapa mobil sport terkikik.
Keira menyentuh kap mobil. "Aku cuma mau lihat-lihat dulu."
"Lihatlah sepuasnya. Profil kiriku bagus."
Keira hampir tersenyum.
Lalu jeritan lain merobek garasi.
"TOLONG!"
Keira menegakkan tubuh.
Suara itu bukan dari Phantom. Bukan dari mobil sport Brandon. Suara itu datang dari Lexus hitam yang parkir di posisi paling dekat pintu keluar, bersih, rapi, dan tampak siap berangkat kerja.
"TOLONG! Rem gue disabotase! Ada yang ngotak-ngatik brake pad gue tadi malam! Kalau bos naik gue hari ini, dia mati!"
Senyum kecil Keira hilang.
Ia berjalan cepat ke arah Lexus.
"Siapa yang menyentuhmu?"
Lexus terdengar panik. "Nggak kelihatan jelas! Tengah malam. Garasi gelap. Ada bau sarung tangan karet dan minyak asing. Dia buka bagian bawah, cepat banget. Gue mau teriak tapi semua orang tidur. Kamera? Tanya kamera! Kamera sok profesional tapi tadi malam ngantuk!"
Kamera garasi tersinggung. "Aku tidak ngantuk. Sudutku memang tidak menjangkau bawah mobil."
Keira memijit pelipis.
Pukul 07.52.
Ko Darren, menurut jam dinding dan seluruh benda di rumah, selalu berangkat pukul 08.00 tepat, termasuk Sabtu. Ia tidak menerima gangguan mendadak. Ia juga punya aturan absurd tentang janji tiga puluh menit.
Keira berjalan mengelilingi Lexus. Dari luar, tidak ada yang mencurigakan. Mobil itu dipoles sempurna. Ban rapi. Kaca bersih.
"Kalau dia mengemudi di jalan tol?" tanya Keira.
Lexus hampir menangis. "Fatal. Aku mobil bagus, tapi rem rusak tetap rem rusak. Aku nggak mau bunuh bosku. Dia memang perfeksionis nyebelin, tapi dia rutin servis aku. Itu bentuk cinta."
Pukul 07.55.
Keira menoleh ke pintu masuk garasi.
Brandon muncul lebih dulu dengan rambut berantakan dan hoodie kusut, membawa botol minum. Begitu melihat Keira di dekat Lexus, wajahnya langsung berubah.
"Ngapain lo dekat mobil Ko Darren?"
"Mencegah masalah."
"Masalah apa lagi yang mau lo bikin?"
Keira terlalu lelah untuk berdebat panjang. "Brandon, diam dulu."
"Wah, sekarang lo nyuruh gue diam di rumah gue sendiri?"
Rolls-Royce Phantom berbisik, "Mantan tuanku kalau pagi memang agak berisik."
Pukul 07.57.
Langkah terukur terdengar dari lorong. Ko Darren masuk dengan jas navy, sepatu mengilap, dan kunci Lexus di tangan. Bros Kepala Naga di kerahnya tepat di sudut yang sama seperti biasa. Matanya menyapu garasi dan berhenti pada Keira yang berdiri di depan mobilnya.
"Keira."
"Ko Darren, jangan naik mobil itu."
Brandon langsung menunjuk. "Tuh kan! Gue bilang dia aneh. Pagi-pagi ganggu mobil orang."
Ko Darren menatap Keira. "Kamu belum buat janji."
Keira hampir tertawa karena absurditasnya. Hampir.
"Ini soal hidup-mati Ko Darren."
"Definisi hidup-mati harus jelas."
"Rem Lexus disabotase. Jangan dikendarai."
Udara garasi berubah berat.
Brandon melangkah maju. "Lo keterlaluan. Sekarang fitnah mobil juga? Ko Darren, jangan dengar. Ini pasti akal-akalan supaya diperhatiin."
Lexus menjerit, "Aku nggak mau diperhatiin! Aku mau diperiksa!"
Keira menatap Ko Darren, bukan Brandon.
"Kasih aku satu menit. Kalau aku salah, aku pergi dari rumah ini hari ini juga."
Brandon terdiam.
Ko Darren juga berhenti.
Kalimat itu terlalu serius. Bukan ancaman kosong, bukan drama. Dengan kondisi Keira yang jelas kurang tidur, wajah pucat dan mata merah, taruhan seperti itu terdengar lebih berat daripada yang seharusnya.
Ko Darren mengangkat pergelangan tangan, melihat jam.
"Satu menit."
Keira langsung bicara. "Tadi malam ada orang masuk garasi. Bagian brake pad Lexus diutak-atik. Dari luar tidak terlihat. Kalau Ko Darren tetap berangkat dan masuk jalan tol, risiko fatal."
"Bukti?"
"Panggil mekanik pribadi sekarang. Jangan bawa mobil keluar garasi."
Brandon mendengus. "Hebat. Kalau mekanik datang dan nggak ada apa-apa, lo beneran pergi?"
"Ya."
Ko Darren menatap Keira. "Kamu yakin?"
Keira mendengar Lexus di belakangnya berbisik berulang-ulang, "Tolong percaya. Tolong percaya."
"Yakin."
Ko Darren mengambil ponsel.
Teleponnya singkat. Sangat singkat. "Garasi. Sekarang. Periksa sistem rem Lexus. Prioritas satu."
Setelah itu, tidak ada yang bicara.
Pukul 08.04, mekanik pribadi keluarga Tanuwijaya datang tergesa-gesa dengan kotak alat. Wajahnya tampak bingung karena dipanggil darurat untuk mobil yang secara visual sempurna.
Ko Darren hanya berkata, "Periksa rem."
Mekanik itu bekerja cepat. Lexus terus mengomel di kepala Keira dengan nada gugup.
"Hati-hati, Bang. Di bawah. Iya, situ. Jangan cuma lihat permukaan. Aduh, akhirnya ada yang peduli."
Brandon bersandar di tiang garasi, lengan terlipat. "Kalau ini cuma drama, gue yang antar dia keluar."
"Kalau ini benar," kata Keira, "kamu minta maaf pada Lexus."
Brandon menatapnya. "Pada apa?"
"Tidak penting."
Ko Darren tidak bereaksi, tetapi matanya tertahan sepersekian detik pada wajah Keira.
Keira berdiri terlalu tegak agar lututnya tidak terlihat lemah. Lima malam tanpa tidur membuat suara bor kecil dari kotak mekanik terdengar seperti nyamuk raksasa. Bau oli menusuk hidung. Setiap detik yang lewat membuat kepalanya berdenyut lebih keras.
Namun yang paling menyiksa adalah suara Lexus.
"Dia buka roda. Dia buka roda. Bagus. Jangan sampai bautku lecet. Eh, keselamatan dulu, lecet belakangan. Aduh, bos tadi hampir bawa aku keluar. Kalau kita sampai jalan tol, aku nggak akan sanggup ngerem di turunan."
Keira menatap jam digital kecil di dinding garasi.
08.11.
Jika ia tidak turun ke garasi pagi ini, Ko Darren sudah berada di jalan. Dengan kebiasaan presisinya, ia mungkin akan mengambil rute yang sama, kecepatan yang sama, jarak pengereman yang sama. Semua hal yang selama ini membuat hidupnya teratur justru akan membuat sabotase itu sempurna.
Brandon menendang lantai pelan, gelisah tetapi masih keras kepala. "Ko, ini makan waktu. Meeting pagi gimana?"
Ko Darren tidak menoleh. "Meeting bisa mundur. Kematian tidak bisa dijadwalkan ulang."
Kalimat itu membuat Brandon diam.
Untuk pertama kalinya pagi itu, Keira melihat wajah anak bungsu itu kehilangan sedikit keyakinan. Ia masih tidak percaya penuh pada Keira, tetapi ia mulai takut kalau kali ini, seperti semua kali sebelumnya, keyakinannya berdiri di sisi yang salah.
Pukul 08.17, mekanik berhenti.
Ia tidak langsung bicara. Ia mengambil senter, memeriksa sekali lagi, lalu wajahnya berubah.
"Pak Darren."
Ko Darren menatapnya. "Hasil."
Mekanik menelan ludah. "Brake pad belakang kanan ada bekas pengikisan tidak wajar. Selang rem juga ada bekas sayatan kecil, rapi sekali. Belum bocor parah sekarang, tapi kalau mobil dipakai kecepatan tinggi dan tekanan rem meningkat, kemungkinan gagal rem sangat besar."
Garasi hening.
Brandon menurunkan lengan.
Ko Darren bertanya, "Sengaja?"
"Iya, Pak. Ini bukan aus normal. Ini dirusak."
Mekanik menunjuk bagian yang terbuka dengan senter. "Lihat pola goresannya, Pak. Alatnya kecil, kemungkinan cutter khusus atau blade tipis. Orangnya tahu bagian mana yang harus disentuh supaya kerusakan tidak langsung terlihat saat mobil diam. Kalau Bapak hanya jalan pelan di kompleks, mungkin belum terasa. Tapi begitu rem dipakai berulang di kecepatan tinggi, tekanan cairan naik dan selang ini bisa terbuka."
Ia berhenti, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, "Kalau tadi Bapak keluar sesuai jadwal, saya tidak berani bilang Bapak bisa selamat."
Tidak ada yang bergerak.
Rolls-Royce Phantom, yang sejak tadi cukup cerewet, ikut diam. Mobil-mobil lain di garasi menahan suara seperti barisan saksi.
Brandon menatap Keira. Wajahnya pucat. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar. Kesombongannya masih ada, namun sekarang retak oleh hal yang lebih besar: kesadaran bahwa ia nyaris membantu mengirim kakaknya sendiri ke mobil rusak hanya karena ingin melawan Keira.
Lexus langsung menangis lega. "Aku bilang juga apa! Aku bukan drama queen!"
Keira menghela napas perlahan.
Kepalanya masih sakit. Tubuhnya masih menuntut tidur. Tetapi untuk beberapa detik, semua suara benda di garasi terasa menjauh, digantikan kesunyian manusia yang akhirnya memahami nyarisnya maut.
Ko Darren berbalik menatap Keira.
Tatapannya berbeda.
Tidak hangat. Belum.
Tetapi untuk pertama kalinya, tidak ada penilaian dingin yang menempatkan Keira sebagai gangguan jadwal. Yang ada adalah kesadaran tajam bahwa gadis di depannya baru saja menariknya keluar dari garis kematian.
Brandon membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Keira menatap mekanik. "Jangan sentuh terlalu banyak sebelum difoto. Kalau ini sabotase, bekas alatnya mungkin masih ada."
Ko Darren berkata pelan, "Benar."
Satu kata itu membuat Brandon menoleh padanya.
Ko Darren mengambil ponsel lagi. Kali ini suaranya lebih rendah.
"Kunci garasi. Simpan rekaman CCTV. Jangan ada mobil keluar. Dan panggil tim keamanan internal."
Ia berhenti sebentar, lalu melihat Lexus.
"Siapa pun pelakunya, dia tahu jadwalku."
Keira mengikuti arah pandangnya ke mobil yang nyaris menjadi alat pembunuhan.
Di garasi yang tadi penuh suara, pertanyaan itu menggantung lebih berat daripada bau oli.
Siapa yang cukup dekat untuk tahu Ko Darren selalu berangkat pukul delapan tepat?
semangat thor💪