Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Oma di Koridor
Eve keluar dari kamar 666 setelah Feli kembali dengan wajah aneh.
"Kamu pucat," kata Eve.
"Aku? Tidak. Mungkin lampunya."
"Lampu restoran membuat orang pucat?"
"Lampu mahal kadang dramatis."
Eve tertawa, lalu berjalan ke arah toilet. Golden Lotus menata koridornya seperti galeri kecil, dengan lukisan tinta, vas bunga segar, dan lantai marmer yang terlalu mengilap. Musik klasik mengalun pelan dari langit-langit.
Saat berbelok, ia melihat seorang perempuan tua berdiri sedikit membungkuk. Sapu tangan jatuh di dekat kakinya. Lantai di sana baru saja dipel, masih licin. Dari arah berlawanan, Calista Sia berjalan cepat dengan wajah kesal.
Perempuan tua itu menghalangi jalannya.
Calista tidak berhenti.
Bahunya menyenggol lengan perempuan tua itu. Tubuh tua itu oleng.
Eve berlari.
"Oma, hati-hati!"
Ia menangkap lengan perempuan itu tepat sebelum kakinya tergelincir. Jantung Eve ikut melonjak. Tulang lengan di tangannya terasa ringan, tetapi genggaman perempuan tua itu masih kuat.
Calista berhenti dan menoleh dengan wajah terganggu.
"Jalan jangan di tengah-tengah."
Eve menatapnya. "Dia hampir jatuh karena kamu."
"Aku cuma lewat."
"Kalau cuma lewat, kamu bisa bilang permisi dan menunggu dua detik."
Calista tertawa sinis. "Kamu lagi? Hobi sekali ikut campur."
"Kalau melihat orang tua hampir jatuh disebut ikut campur, iya. Aku ikut campur."
Mata Calista menyipit. "Kamu tahu sedang bicara dengan siapa?"
"Dengan orang yang tidak minta maaf setelah menyenggol orang tua."
Udara koridor mengeras.
Perempuan tua di samping Eve tiba-tiba menepuk tangannya. "Sudah, Nak."
Suaranya tidak keras, tetapi ada wibawa yang membuat Calista menutup mulut sejenak.
"Orang seperti itu," lanjut perempuan tua itu tenang, "biasanya bukan pertama kali lupa sopan santun."
Wajah Calista berubah. Ia jelas ingin membalas, tetapi sesuatu pada mata perempuan tua itu membuatnya ragu. Akhirnya ia mendengus dan pergi.
Eve menghela napas, lalu membantu perempuan itu duduk di kursi kecil dekat jendela.
"Oma tidak apa-apa?"
Perempuan tua itu menatapnya lekat. Matanya tajam, tetapi hangat. Rambut putihnya disanggul rapi, kebaya modern berwarna hijau gelap membuatnya tampak seperti seseorang yang biasa dipatuhi tanpa perlu meminta.
"Tidak apa-apa. Terima kasih, Nak."
"Lantainya licin. Oma sebaiknya minta staf bersihkan lagi."
"Kamu kerja di sini?"
Eve tersenyum. "Bukan. Saya makan dengan teman."
"Nama kamu siapa?"
"Evelina Lim. Panggil Eve saja juga boleh." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan seperti kebiasaan lama yang muncul otomatis saat bertemu orang tua. "Mama saya dulu bilang, Eve artinya awal yang baru. Semoga setiap hari selalu bisa jadi awal yang baik."
Tatapan perempuan tua itu berubah sangat halus.
"Mama kamu?"
Senyum Eve melunak. "Sudah meninggal beberapa tahun lalu."
"Namanya?"
Pertanyaan itu terdengar biasa, tetapi Eve merasakan perhatian yang tidak biasa.
"Lilian Ong. Setelah menikah, Lilian Lim."
Jari perempuan tua itu berhenti di atas sapu tangan.
Hanya sebentar.
Lalu ia menggenggam tangan Eve dan menepuknya pelan. "Anak baik. Mama kamu pasti bangga."
Hidung Eve mendadak perih. Ia sudah lama tidak mendengar orang asing menyebut Mama Lili dengan nada sehangat itu, meski perempuan di depannya belum tentu mengenalnya.
"Terima kasih, Oma."
"Kamu makan di kamar mana?"
"666."
Kali ini perempuan tua itu hampir tersenyum terlalu cepat. "Oh."
"Oma?"
"Tidak apa-apa. Nomor bagus."
Eve mengantar perempuan itu sampai pelayan datang, lalu kembali ke kamar. Saat masuk, Feli langsung menegakkan badan.
"Lama sekali. Kamu baik-baik saja?"
"Aku bertemu Oma yang hampir jatuh."
Sendok Feli jatuh ke piring.
Eve terkejut. "Feli?"
"Tidak apa-apa. Tanganku licin."
Di koridor, perempuan tua itu menunggu sampai Eve benar-benar masuk ke kamar 666. Begitu pintu tertutup, kelembutan di wajahnya berubah menjadi ketajaman seorang pemimpin keluarga.
Ia mengeluarkan ponsel dengan huruf besar dan menelepon Feli.
Di dalam kamar, ponsel Feli bergetar. Ia melihat nama Oma, lalu hampir menjerit tanpa suara.
"Aku ke toilet lagi," katanya cepat.
Eve menatapnya aneh. "Kamu baru dari toilet."
"Teh oolong."
Feli keluar dan mengangkat telepon di ujung koridor.
"Oma..."
"Yang kamu bilang istri Edric, namanya Evelina Lim?"
Feli menutup mata. "Iya, Oma."
"Oma baru bertemu dia."
"Di toilet?"
"Di koridor. Dan dia baru saja membela Oma dari Calista Sia."
Feli mengisap napas. "Calista melakukan apa?"
"Menunjukkan kenapa dia tidak pantas masuk keluarga ini."
Feli menggigit bibir agar tidak bersorak.
Oma Kho memandang tangan yang tadi ditopang Eve. "Dia mirip Lilian. Cara bicara, cara menahan sedih, bahkan cara memperkenalkan diri."
"Oma kenal Mama Eve?"
"Cerita lama."
"Oma suka dia?"
Liana Kho diam sejenak. Di ujung koridor, Calista berjalan menjauh tanpa tahu bahwa satu sikap kasarnya baru saja menutup pintu yang selama ini ia kira masih bisa dibuka.
"Oma suka," kata Liana akhirnya. "Tapi jangan bilang Edric dulu."
"Kenapa?"
"Karena Oma harus mengatur cara yang tepat untuk mengenal cucu mantu Oma sendiri."
"Oma mau bikin rencana?"
"Feli, Oma sudah tua, bukan berarti Oma tidak bisa bermain."
Telepon ditutup.
Feli menatap layar, lalu menatap pintu kamar 666.
Di dalam, Eve sedang menuang teh tanpa tahu bahwa ia baru saja memenangkan hati orang paling sulit di keluarga Kho.
Di koridor, Oma Kho tersenyum tipis.
Sekarang ia hanya perlu membuat pertemuan berikutnya terlihat seperti kebetulan.