REVISI
Ini kisahku dengannya, tentang aku dan dia. Tentang dia yang berhasil merebut hatiku dan membuatku sangat takut kehilangannya.
Tentang dia yang selalu membuatku kesal dan bahagia disaat yang bersamaan. Aku bersyukur Tuhan menghadiahkannya untukku, dan tentunya hanya untukku saja.
Saat hari-hariku penuh warna dibuatnya, entah dosa besar apa yang pernah ku perbuat di masa lalu sehingga dengan teganya Tuhan memisahkan aku dengannya.
Aku bingung mengapa Tuhan seolah mempermainkan aku dengan selalu membuatnya datang, pergi, datang lagi, lalu pergi lagi?
Aku hanya bisa menguatkan diriku sendiri dengan takdir yang diberikan Tuhan padaku.
Satu hal yang aku tahu, selamanya aku mencintainya. Seperti katanya
"Aku mencintaimu, selamanya cinta kamu. Sampai kita menua, memiliki anak, cucu bahkan cicit. Aku akan bersamamu dan mencintaimu sampai rambut kita memutih dan sampai aku menutup mata" Arkana.
Aku harap semuanya bukanlah mimpi indah namun sesaat. Aku bahkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vicka Villya Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Bisa Kabur
"Bisa nggak kita jalan dulu sebentar?" pinta Qania saat motor berhenti di depan gerbang rumahnya.
"Sayang, ini sudah sangat larut. Besok aku janji kita bakalan jalan seharian" ucap Arkana sambil membuka helmetnya dan menoleh kearah Qania.
"Janji ya" pinta Qania.
"Iya sayang" ucap Arkana sambil mengacak rambut Qania.
"Aku masuk dulu, kamu langsung pulang aja" kata Qania sambil turun dari motor.
"Iya, salamin sama mama papa" ucap Arkana sambil memasang kembali helmetnya.
"Oke" jawab Qania dengan mengangkat tangannya dan membentuk simbol oke.
"Masuk gih" perintah Arkana yang juga sudah menstater motornya.
"Iya, daa. Hati-hati ya sayang" ucap Qania dengan memberi senyuman manis pada Arkana.
"Iya sayangku, aku pergi dulu ya. Daa" jawab Arkana sambil melambai pada Qania.
Setelah memastikan Qania masuk, Arkana langsung melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, ia berniat bertemu dengan Rizal di taman setelah menerima pesan singkat dari sahabatnya itu.
________
Sementara Rizal yang mendapat telepon dari Arkana langsung bergegas menelepon salah satu rekan tim Galih untuk mengabarkan bahwa Arkana tidak jadi ikut balapan.
"Sorry ya gue nggak bisa berbuat apa-apa. Ini keputusan Arkana" ucap Rizal pada Harlin teman Galih.
"Wah nggak bisa gitu dong, gue dan tim apalagi Galih nggak nerima keputusan ini" tolak Harlin.
"Gue minta maaf, Arkana bakalan bayar uang taruhan itu. Anggap saja dia kalah taruhan" lanjut Rizal.
"Nggak bisa gitu dong, mending sekarang lo ke taman kita ketemuan dan bicarain ini disana" pinta Harlin.
"Ya sudah, gue kesana sekarang" ucap Rizal setuju.
"Oke gue tunggu" sahut Harlin.
Setelah mematikan sambungan telepon tersebut, Rizal bergegas mengendarai motornya dan melaju ke taman untuk menemui Harlin dan tim Galih disana.
"Dasar Bucin, gue kan yang harus ngurusin ini semua" umpat Rizal dalam perjalanan. Ia tak henti-hentinya mengatai Arkana sepanjang jalan.
Rizal telah sampai di taman, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirimkan pesan kepada Arkana.
"Gue tunggu sekarang di taman. Galih sama timnya nungguin" begitulah isi pesan Rizal pada Arkana.
Rizal berjalan mendekati tim Galih yang tengah duduk di anak tangga taman tersebut, tempat dimana biasanya mereka melakukan balapan.
"Nah itu dia datang juga" seru Harlin saat melihat Rizal mendekat.
"Sorry gue nggak bisa memaksa Arkana buat balapan" ucap Rizal saat sampai di kumpulan tim Galih.
"Lo pikir cuma dia doang yang bisa diajakin balapan. Kalau dari awal nggak bisa ya jangan disetujuin dong, buang-buang waktu gue aja" hardik Galih.
"Ya gue nggak tahu kenapa Arkana tiba-tiba batalin ini. Dan nih uangnya, anggap saja kami kalah" ucap Rizal menyodorkan amplop cokelat pada Galih.
Galih menepis amplop tersebut sehingga tangan Rizal tidak sengaja menjatuhkan amplop itu. Galih menatap penuh amarah pada Rizal, ia saat ini sedang dikuasai oleh amarahnya.
"Kalian pikir gue semiskin itu hah, sampai harus nerima recehan kalian karena nggak jadi taruhan" bentak Galih.
"Santai bro, gue juga udah minta maafkan" tegur Rizal.
"Bacot lo. Panggilin Arkana sekarang" teriak Galih sambil mencengkram jaket Rizal.
"Lepasin tangan lo atau gue nggak segan-segan main kasar sama lo" ancam Rizal yang tidak terima dengan perlakuan Galih.
Tanpa aba-aba sebuah pukulan keras mendarat ke wajah Rizal hingga ia tersungkur beberapa langkah kebelakang. Galih tersenyum licik saat berhasil mendaratkan tinjunya tersebut.
"Sialan" umpat Rizal yang kemudian maju dan meluruskan tinjunya tepat di hidung Galih membuatnya mengeluarkan darah segar.
Baru saja Galih akan melayangkan tinjunya kembali, sebuah tangan mengekang lengannya dengan kuat hingga ia meringis karena sakit.
"Jangan berani lo nyakitin sahabat gue" ancam Arkana dengan raut wajah horornya, kemudian menghempaskan tangan Galih dengan kasar.
"Hahaha, akhirnya si pecundang ini nongol juga" tawa Galih meledek pada Arkana.
"Emang kalau gue pecundang lo sendiri apa hah? Pengecut, lo. Main tonjok teman gue saat nggak siap dan beraninya rame-rame" balas Arkana meledek Galih kemudian tertawa.
"Kurang ajar" bentak Galih kemudian meluruskan pukulan kearah perut Arkana namun langsung ditepis oleh kaki Arkana.
Teman-teman Galih yang melihat perkelahian tersebut langsung bergabung dan terjadilah keributan. Untung saja Arkana dan Rizal memiliki ilmu bela diri sehingga mampu melawan teman-teman Galih yang berjumlah sepuluh orang.
Saat tengah melakukan perlawanan, tanpa diduga mobil patroli datang dan dengan sigap para polisi tersebut meringkus mereka tanpa terkecuali, karena tidak ada yang sempat melarikan diri saat polisi datang.
"Bagus para jagoan, sekarang ikut kami. Tunjukkan kebolehan kalian di kantor" ucap salah seorang polisi tersebut.
Arkana dan Rizal terlihat pasrah tanpa perlawanan, sementara Galih terus meronta ingin melepaskan diri.
Tidak lama kemudian satu mobil patroli datang lagi karena mobil pertama tidak bisa menampung mereka semua. Dengan kasar namun sigap para polisi menuntun agar mereka semua naik ke mobil. Arkana duduk bersebelahan dengan Galih dan Rizal dengan posisi Galih ditengah tengah, membuat ketiganya saling menatap tajam satu sama lain.
semangat💪😘
akhirnya arkana wijaya telah kmbali semoga qania selalu bhagia,,,
dan buat s marsya sadar kalau dia bukn tristan anggara...
jangan terlalu lama ya thor up nya💪😘