Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Selena dan Adrian tiba di negara Eropa Timur, tempat Pangeran Adrian seharusnya menghadiri pertemuan diplomatik yang berujung pada kekacauan. Mereka tiba di istana kepresidenan dengan suasana yang sangat tegang. Beberapa pengawal istana tampak gugup, seperti mereka tahu masalah besar sudah dekat.
“Ada apa dengan tempat ini?” tanya Selena sambil menatap sekitar.
Adrian menggaruk lehernya dengan canggung. “Kau tahu... aku kira ini akan menjadi acara yang damai. Ternyata, aku benar-benar hampir menciptakan perang.”
Selena mengerutkan kening. “Apa yang kau katakan? Apa yang sebenarnya terjadi?”
Adrian menjelaskan secara singkat. “Jadi, saat aku tiba, mereka langsung mengajakku berbicara tentang perdamaian, tapi ada satu pangeran muda yang, entah kenapa, salah dengar aku. Aku bilang, ‘Aku bisa mengalahkanmu kapan saja,’ maksudku untuk bercanda. Tapi di tempat mereka, itu terdengar seperti tantangan duel.”
Selena memijat pelipisnya. “Kau benar-benar bisa menantang duel hanya dengan kata-kata?”
Adrian tersenyum gugup. “Aku tidak berniat begitu, tetapi... nampaknya kata-kataku lebih tajam dari yang kupikirkan.”
Mereka akhirnya dibawa ke ruang pertemuan, di mana sang pangeran muda yang tadi disebutkan sedang duduk, terlihat tak sabar dan tegang. Ratu dan para diplomat lainnya sudah menunggu.
“Baiklah, mari kita selesaikan ini dengan baik-baik,” kata Selena sambil melangkah maju, wajahnya serius.
Pangeran muda itu berdiri. “Jadi, kau yang disebut sebagai penasihat kerajaan yang terbang jauh hanya untuk membenarkan perkataan pangeran kami?”
Selena menatapnya dengan tajam. “Kami di sini hanya untuk memastikan bahwa semuanya berdasarkan kesalahpahaman, dan tidak ada yang perlu dilakukan dengan cara kekerasan.”
Pangeran muda itu tampak ragu, lalu melirik Adrian. “Kau benar-benar bercanda?”
Adrian mengangguk pelan, mencoba tetap tenang. “Saya minta maaf jika kata-kata saya diartikan salah. Itu tidak pernah bermaksud seperti yang kalian pikirkan.”
Suasana mulai sedikit mencair, tetapi ketegangan masih tetap ada. Selena berpikir sejenak sebelum berkata, “Mari kita bicarakan ini dengan lebih jelas dan tanpa emosi. Saling memahami akan lebih baik daripada memutuskan untuk bertindak gegabah.”
Para diplomat yang hadir saling melirik, mulai memahami bahwa memang ada kesalahpahaman besar. Perlahan, mereka semua duduk dan mulai merundingkan bagaimana menyelesaikan masalah diplomatik tersebut tanpa menyebabkan kerusakan lebih lanjut.
Selena memimpin pembicaraan, membimbing mereka untuk menemukan solusi damai. Setelah beberapa jam, akhirnya sebuah perjanjian ditandatangani, dengan kedua belah pihak setuju untuk memaafkan insiden tersebut sebagai sebuah salah paham.
Saat itu, Selena merasa lega, tetapi ada perasaan tidak nyaman yang masih menggantung di udara. Pangeran Adrian mendekatinya, tersenyum. “Terima kasih, Selena. Kau benar-benar menyelesaikan semuanya tanpa membuatku semakin terperosok.”
Selena menatapnya, sedikit lebih lembut dari biasanya. “Kau beruntung. Kalau tidak, aku mungkin akan lebih memilih untuk mengabaikanmu, dan membiarkanmu terjebak.”
Adrian terkekeh. “Tapi kau tidak bisa.”
“Jangan terlalu yakin,” jawab Selena dengan senyum tipis.
Mereka berdua saling bertukar pandang sejenak, dan meskipun ada sedikit ketegangan, Selena merasa lega bahwa semuanya telah selesai. Kesalahpahaman itu akhirnya dapat diluruskan, dan situasi berbahaya itu berhasil dihindari berkat ketenangannya dalam menangani permasalahan.
Namun, saat mereka berjalan keluar dari ruang pertemuan, Adrian berkata, “Kau tahu, kita bisa pergi minum sekarang. Aku akan traktir, sebagai ucapan terima kasih.”
Selena menoleh, menatapnya dengan tajam. “Hanya jika kau berjanji tidak akan menantang siapapun untuk duel lagi.”
Adrian tertawa, “Deal.”
Dengan itu, mereka berdua berjalan keluar istana, meskipun perasaan canggung masih ada, namun setidaknya mereka tahu satu hal: mereka akan selalu bisa menangani masalah bersama—meski dengan cara yang sedikit aneh dan tak terduga.
"hei Selena... tidak kah kau ingin berjalan jalan disekitar ini?."
"Tidak."
"lalu? kita pergi begitu saja?."
"....Dari sini ke Turki berapa lama?."tanya Selena
"Sekitar lima jam.. mungkin."balas Adrian mengangkat bahunya
"aku-ingin ke Turki..."dia mengatakan nya dengan tenang tetapi ada perasaan yang sangat aneh terpancar.
"Baiklah...kita akan pergi ke Turki."
Perjalanan menuju Turki dimulai dengan keheningan yang sedikit lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Selena duduk di samping Adrian, matanya sesekali melirik keluar jendela pesawat Pemandangan luar yang berganti dengan kilatan cahaya malam membuat pikirannya terlarut dalam kenangan dan perasaan yang tak bisa dijelaskan.
Adrian memandangnya sekilas. "Selena, ada yang ingin kau ceritakan? Mengenai kenapa kau memilih Turki?" tanyanya dengan lembut.
"Hanya ingin saja.."Balas nya melihat ke bawah jendela.
hanya ingin?
"ngomong ngomong...aku tidak tahu kau sangat suka dengan cincin kuno..."melirik cincin Selena.