Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Aku, Bara dan Ardi menuju mobil yang berada diparkiran Hotel. Bara terus memelukku erat, berkali-kali ku lihat mata Ardi menatap kearah kami. Terpancar raut wajah kesedihan yang tidak bisa dia ditutupi.
Ardi mengemudikan mobil itu, sementara aku dan Bara duduk dibelakang. Bara memeluk dan memegangi tanganku seakan begitu takut kehilanganku. Sementara Ardi, wajahnya berkaca-kaca seolah menahan air mata yang akan jatuh membasahi pipinya.
Aku merasa kasihan pada Ardi, kenapa kami harus seromantis ini dihadapannya? Pasti sakit sekali, jika membayangkan jadi Ardi. Tapi, aku tidak mungkin menepis pelukan hangat yang diberikan Bara.
Aku melihat dari kaca spion mobil, Ardi mengusap air matanya. Bagaimanapun aku tidak tega, aku bukan wanita jahat yang tidak punya rasa iba. Hatiku ikut sakit melihat kesedihannya. Aku juga khawatir dengan keadaannya. Kenapa denganku? Apa yang harus aku lakukan?
"Ardi... Menepi sebentar! Kak Bara mau beli air mineral," ucap Bara sambil melepaskan pelukannya dari tubuhku.
"Iya Kak." Ardi menghentikan mobil itu disebuah Mini Market.
"Aku beli minum dulu ya, " bisik Bara padaku.
Aku hanya mengangguk, lalu Bara keluar dari mobil menuju Mini Market. Ardi membalikkan badannya, dia menatap kearah ku dengan sisa air mata di pipinya.
"Kau tahu tidak, melepaskan cintamu itu sangat menyakitkan. Mengikhlaskan dirimu untukku Kakakku, begitu melukaiku. Tapi melihat kau bermesraan dihadapanku bersama Kak Bara, itu benar-benar menghancurkan aku. Aku sakit Chika, hatiku sakit!" ucap Ardi sambil meneteskan air matanya.
"Maaf..." Hanya itu yang bisa ku ucapkan pada Ardi.
"Kau tidak salah, mungkin perasaanku yang salah. Aku masih mengharapkan cintamu. Aku begitu bodoh karena tidak bisa melupakanmu. Biarkan saja hatiku hancur, selama ini aku bisa melewati sakit dan luka ini. Aku bahagia, melihat kau bahagia bersama Kakakku." Ardi mengusap air matanya lagi.
Sementara aku, aku terpaku menatap kearah Ardi. Air mataku ikut mengalir membasahi pipiku. Rasa bersalahku pada Ardi semakin besar, mendengar ucapan yang keluar dari bibir Ardi.
Aku menggenggam tangan Ardi, masih menatap penuh haru kearah Ardi.
"Carilah pengganti ku, kau juga berhak bahagia! Aku ikut merasakan sakit, jika kau terus seperti ini. Pelan-pelan saja, nanti kau akan terbiasa. Lupakan aku, lupakan semua kenangan kita."
"Menurutmu semudah itukah? Melupakan kenangan cinta kita yang sudah kita jalani lebih dari tiga tahun. Kau lupa janji cinta kita ditepi pantai waktu itu? Kita akan bersama, sampai maut memisahkan."
Aku terdiam, teringat kembali masa-masa itu. Saat hati dan cintaku, ku berikan hanya untuk laki-laki yang ada dihadapanku ini. Kami pernah saling mencintai dan saling menyayangi. Selama bersama dengan Ardi dulu, aku selalu merasa bahagia. Bahkan kami berjanji, akan bersama sampai maut memisahkan. Tapi itu kan masalalu. Aku sudah menikah dengan Bara, dan aku bahagia.
Aku mengusap air mataku yang membasahi pipiku, aku menatap kearah Ardi penuh harap. Memohon agar dia bisa meneruskan hidupnya kembali. Aku mau melihat mantan pacarku bahagia juga!
"Lupakan aku! Aku sudah menikah. Lupakan janji-janji itu, kita tidak ditakdirkan untuk bersama," ucapku sambil menangis.
Ardi menghapus air matanya, menatap sedih kearah ku.
"Kau mau aku melupakanmu? Baiklah Chika," ucap Ardi sambil kembali ke posisinya semula.
Apa Ardi marah padaku? Apa dia membenciku? Bukankah lebih baik begitu! Biarkan Ardi membenciku, agar dia lebih mudah melupakanku.
Bara masuk kembali kedalam mobil, membawa dua botol air mineral. Bara menatap wajahku yang terlihat habis menangis.
"Kenapa sayang? Apa kau masih marah karena kejadian tadi di Hotel? Aku minta maaf, aku benar-benar telah membuatmu kecewa!" ucap Bara.
Wajah Bara seketika berubah sedih, ada penyesalan yang terlihat jelas dimatanya. Aku begitu mencintai Bara, rasanya aku ingin memeluk erat tubuhnya. Tapi aku harus bisa menjaga perasaan Ardi, bukan karena aku masih mencintai Ardi. Aku hanya merasa begitu jahat, jika harus melukai hatinya untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak apa-apa!" ucapku sambil tersenyum.
"Aku akan bicara pada Kakek, agar Raina dipecat dari kantor itu!" ucap Bara.
Hatiku begitu lega mendengar ucapan dari bibir Bara, setidaknya berkurang beban dipundak ku. Raina memang lebih baik disingkirkan. Niatnya begitu buruk, ingin menghancurkan pernikahanku dengan Bara.
Mobil itu berhenti tepat didepan rumah mereka. Ardi tak bicara, hanya tersenyum lalu masuk kedalam rumah.
Bara menuntunku masuk, memeluk tubuhku erat. Matanya terus menatapku tanpa berkedip. Entah kenapa ada kebimbangan dihatiku, ada rasa sedih setiap kali menatap wajah Bara. Rasa sedih, mengingat kejadian Bara tidur bersama Raina di Hotel.
Aku kecewa, aku merasa dikhianati! Biar bagaimanapun, aku punya hati dan perasaan. Tidak bisa semudah itu melupakan kejadian buruk itu begitu saja. Ibu tersenyum menatap kearah kami, dia menggendong Alghi dalam dekapannya. Aku menghampiri Ibu, lalu menggendong Alghi kedalam pelukanku.
"Alghi tadi menangis, padahal biasanya dia anteng. Apa dia bisa merasakan sakit yang dirasakan Ibunya? Biar bagaimanapun dikhianati itu sangat menyakitkan bukan?" ucap Ibu sambil melirik kearah Bara.
Aku tidak menjawab, aku hanya diam mendengar Ibu menyudutkan Bara. Bara menundukkan kepalanya, merasa jika Ibu sedang menyindirnya dengan kata-kata halus.
"Maafkan Bara, Ibu!" ucap Bara.
"Kenapa minta maaf pada Ibu? Kau tidak menyakiti Ibu, yang kau sakiti itu istrimu. Minta maaf pada Chika! Ibu ikut kesal, jika mengingat kecerobohan mu. Kenapa kau bisa terjebak oleh sekertaris mu itu? Ibu mau kau memecat wanita itu. Wanita yang sudah mengganggu dan berniat merusak pernikahan kalian." Teriak Ibu marah.
"Maafkan aku Chika! Aku tidak akan pernah mengulangi kecerobohan ini lagi. Maaf... Aku juga akan segera mengeluarkan Raina dari kantor," ucap Bara.
Aku tersenyum sambil mengusap wajah Bara, "Aku sudah memaafkan mu, jangan pernah mengulanginya ya!" ucapku. Ibu tersenyum menatap kearah kami, lalu kami pamit untuk beristirahat dikamar.
Aku menidurkan Alghi diatas tempat tidur, bayi kecil itu terlihat begitu sedih. Padahal biasanya dia ceria dan tidak pernah menangis. Tapi hari ini, dia menangis keras. Aku membuatkan susu, tapi tidak diminum. Aku memberi minyak telon ke seluruh tubuhnya, takut kalau dia masuk angin atau sakit perut. Tapi tangisnya tidak berhenti, apa yang harus aku lakukan?
Bara mendekat kearah ku, lalu merebut tubuh Alghi untuk digendong olehnya. Alghi masih menangis, tapi Bara tidak menyerah.
"Kenapa anak Ayah menangis? Jagoan Ayah, kau tidak boleh cengeng. Anak laki-laki itu harus kuat," ucap Bara sambil tersenyum.
Seketika tangis Alghi berhenti, dia menatap wajah Bara begitu antusias.
"Kenapa menangis sayang? Apa Ibu Chika menyakitimu? Apa pelukannya tidak hangat, karena dia sedang marah pada Ayah?" tawa Bara sambil menatap kearah ku.
"Kenapa aku?" bisikku pelan.
"Lihat sayang! Alghi berhenti menangis digendong olehku. Berarti, seorang bayi sekalipun, bisa merasakan suasana hati orang yang ada didekatnya. Dia tahu jika kau sedang sedih, itu yang membuat dia ikut merasakan kesedihanmu. Aku mohon maafkan aku, berhentilah bersedih untuk anak kita," ucap Bara.
Aku tersenyum kecil, lalu menatap wajah bayi kecil yang digendong Bara. Alghi benar-benar tidak menangis, dia malah terlihat begitu senang berada di gendongan Bara.
Bahkan bayi sekecil Alghi pun bisa merasakan, betapa hangat dan lembutnya hati Bara. Laki-laki yang selalu menghadapi sikapku dengan penuh kesabaran. Maafkan aku suamiku, aku akan melupakan semua kejadian hari ini. Aku percaya, laki-laki sebaik dirimu, tidak mungkin mengecewakan aku.
Tetap beri dukungan untuk Author ya, tinggalkan Like atau Jempol juga Vote. Terimakasih sudah membaca karyaku, salam santun Author..❤️❤️
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂