Setelah di jatuhkan talak 6 tahun lalu dalam keadaan hamil yang ternyata tidak mengubah apapun dalam kehidupan Saffana.
Sakit hati yang dia terima membuat Saffana tetap mengakhiri pernikahan itu dengan laki-laki yang pasti dia cintai.
Semua keputusan itu di ambil dengan melibatkan sang pencipta.
Setelah 6 tahun. Saffana yang akhirnya hidup masing-masing dengan mantan suaminya. Tetapi hubungan mereka tetap baik. Karena mereka masih saudara dan juga masih ada anak yang bernama Alisha buah hati mereka berdua.
Hubungan mantan pasangan suami istri itu tetap baik dan kompak dengan merawat Alisha. Tetapi tetap harus berjarak.
Seiring berjalannya waktu, Saffana dan Aksa sama-sama menemukan pasangan hidup mereka masing-masing untuk memulai kehidupan baru setelah 6 tahun lebih sendiri.
Saffana yang sedang dalam proses perencanaan pernikahan.
Bagaimana kehidupan Aksa dan Saffana saat mereka berdua memutuskan untuk memulai kehidupan baru dengan pasangan masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Permintaan Alisha.
Orang tua Saffana, orang tua Aksa yang sekarang menemui Saffana, setelah kondisi Saffana jauh lebih baik.
"Saffana sekarang kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya David yang penasaran.
Saffana terdiam yang tidak mengatakan apa-apa dan terlihat sangat takut. Apalagi dengan semua orang yang sangat penasaran dengan dia yang apa yang telah terjadi.
"Aku tidak mungkin mengatakan kepada semua orang tentang apa yang terjadi sebenarnya," batin Saffana dengan wajah panik.
"Sayang kamu kenapa diam. Ayo katakan apa yang terjadi?" tanya Shofia yay sedikit mendesak Saffana.
"Saffana di rampok Bunda," jawab Saffana bohong.
Aliyah dan Aksa menghela nafas yang mereka geram sendiri dengan Saffana yang ternyata lebih memilih untuk menutupi apa yang terjadi dari pada harus jujur dengan semua orang.
"Saffana, Dokter mengatakan bagian perut kamu mengalami luka yang sangat parah akibat injakan," ucap Rachel.
"Mereka memang melakukan semua itu kepada Saffana. Karena Saffana melakukan perlawanan," jawab Saffana.
Semua orang hanya terdiam yang tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Apa kamu yakin seperti itu. Ayah akan melapor Polis dan di rumah kamu ada cctv. Pasti orang-orang itu akan terekam cctv," sahut David.
"Aku juga berharap Ayah David bisa melakukan semua itu," batin Aliyah.
"Bunda, Ayah. Sudahlah yang terpenting sekarang Saffana dan Alisha baik-baik saja dan masalah ini tidak perlu dibawa ke kantor Polisi. Lagi pula perampok itu juga tidak mendapatkan apa-apa. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan ucap Saffana.
"Tapi Saffana mereka sudah mencelakai kamu," sahut Shofia.
"Saffana sudah baik-baik saja dan sekarang ada di sini," ucap Saffana yang merasa dia sangat baik.
"Kamu yakin Saffana masalah ini tidak perlu di perpanjang?" tanya Adam.
"Iya Pah," sahut Saffana yakin.
"Apa yang membuat Saffana harus menutupi semua ini dan pada dirinya sendiri yang mungkin kejadian ini jika terulang untuk yang kesekian kalinya," batin Aksa yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Saffana.
"Ya sudah, jika kamu memang tidak ingin membawa masalah ini ke kantor Polisi. Tapi Saffana, bagaimanapun semua orang di sini sangat khawatir kepada kamu dan takut terjadi sesuatu kepada Alisha," ucap Shofia.
"Saffana janji Bunda tidak akan terjadi apapun kepada Alisha," ucap Saffana.
Semua orang tidak bisa mengatakan apa-apa dan karena memang semua tergantung pada Saffana dan mereka hanya mendoakan yang terbaik saja.
"Huhhhh, Saffana benar-benar memberikan peluang banyak pada laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu," batin Aliyah dengan penuh kekesalan.
"Kamu dengarkan aku Saffana. Jika kamu sampai membawa masalah yang dilakukan mama dan Tasya ke kantor Polisi. Bukan hanya kamu yang akan mendapatkan semua itu tetapi aku bisa saja melakukan semua itu kepada Alisha. Jadi sekarang kamu sebaiknya jangan mempersulit permintaanku dengan harta gono gini jika kamu ingin bercerai dengan kau dan jika kamu tidak ingin melihatku lagi. Kamu lakukan semua yang aku mau!" tegas Andre.
Ternyata Saffana yang sebelumnya sudah mendapatkan ancaman dari Andre berupa pesan teks. Hal itu yang membuat Saffana bungkam dan tidak bisa mengatakan apa-apa. Karena Saffana yang juga tidak ingin mendapatkan masalah dan takut jika putrinya akan menjadi korban.
Saffana sudah sangat mengetahui bagaimana sifat Andre dan juga keluarganya yang sama saja. Jadi Saffana harus berkorban untuk Alisha. Semua yang di lakukan Saffana hanya demi Alisha. Demi putri kesayangannya. Walau aset yang harus di korbankan.
Aliyah juga tidak bisa apa-apa dan sama dengan Aksa yang sebenarnya sudah tahu apa terjadi tapi dia juga tidak punya hak untuk membuka suara.
********
Kondisi Saffana yang sudah jauh lebih baik dan Saffana yang sudah di perbolehkan pulang. Banyak orang-orang yang sangat sayang pada Saffana dan termasuk keluarga Aksa yang turut hadir untuk kepulangan Saffana.
"Saffana untuk sementara waktu kamu tinggal di tempat Bunda ya. Kondisi kamu masih belum baik-baik saja dan Bunda tidak ingin kamu nanti terjadi sesuatu dan juga tidak ada orang di rumah kalian," ucap Shofia dengan tegas.
"Aku tidak mungkin tinggal di tempat Bunda. Aku harus menyelesaikan perceraian ku dengan Andre dulu," batin Saffana yang terlihat tampak ragu.
"Benar Saffana, kamu lebih baik tinggal di tempat Ayah dan Bunda. Biar ada yang menjaga kamu dan merawat kamu," sahut David setuju.
"Bunda, Ayah. Saffana sudah tidak apa-apa. Saffana jauh lebih dan Saffana pikir tidak apa-apa jika kembali pulang," sahut Saffana.
"Saffana kamu jangan keras kepala seperti itu. Semua yang itu demi kebaikan kamu," ucap Rachel.
"Tapi Saffana memang sudah tidak apa-apa kok Mah!" sahut Saffana yang tetap saja sangat keras kepala.
"Aku akan membawa Alisha untuk sementara tinggal bersamaku," sahut Aksa tiba-tiba. Hal itu membuat Saffana kaget.
Mata Saffana yang langsung melihat ke arah Aksa yang menunjukkan wajah yang sangat dingin. Tatapan mata itu seolah sangat tegas dan terlihat rasa cemas.
"Kenapa Alisha harus tinggal di tempat kamu?" tanya Saffana.
"Kamu belum baik-baik saja dan aku tidak ingin Alisha kenapa-kenapa. Jadi lebih baik dia tinggal bersama ku!" tegas Aksa.
"Ibu Alisha juga mau tempat Ayah. Alisha takut di rumah Ibu. Nanti ada yang sakiti Ibu bagaimana. Jadi kita sebaiknya tinggal tempat Ayah. Bukankah Ayah sudah berjanji kalau Ayah akan menjaga kita," sahut Alisha dengan polos.
Orang-orang yang ada di sana saling melihat mendengar permintaan anak yang tidak tahu apa-apa. Namun, wajah polos itu yang terlihat sangat panik.
"Oma apa boleh Alisha sama Ibu tinggal di rumah oma? tanya Alisha dengan memegang tangan Rachel dengan kepala yang terangkat yang meminta kepastian.
Rachel pasti bingung harus menjawab apa atas permintaan Alisha yang tidak mungkin di kabulkan. Jadi Rachel terdiam tanpa mengatakan apa-apa.
"Hmmm, Alisha sayang dengarkan Oma Shofia!" sahut Shofia yang mengusap pucuk kepala Alisha.
"Sayang Ibu sama Ayah tidak boleh tinggal bersama lagi," Shofia mencoba untuk memberi pengertian dan tidak bisa menjelaskan apa-apa.
Wajah Alisha yang terlihat sangat bingung. Dia sangat menginginkan untuk bisa tinggal bersama Ayah dan Ibunya.
"Saffana sudahlah kamu sebaiknya tinggal sementara dengan kami. Kamu jangan membantah. Alisha saja tidak mau kerumah kamu," tegas Shofia.
"Baiklah Saffana akan tinggal sementara di tempat Bunda sampai Saffana sembuh," ucap Saffana yang mengambil keputusan. Karena apapun itu Saffana tidak ingin Alisha bersama Aksa. Saffana takut Alisha akan banyak bicara pada Aksa.
"Ya sudah kalau begitu itu keputusan yang baik. Jadi Alisha juga bisa ikut sama kamu," sahut Shofia.
"Aksa tidak apa-apa kan. Jika Alisha di tempat Saffana?" tanya Shofia memastikan.
"Jika tinggal bersama Bunda, maka tidak apa-apa. Asal jangan berdua dengan Saffana," jawab Aksa.
"Makanya kamu itu jangan keras kepala Saffana, semua orang itu memikirkan yang terbaik untuk kamu," ucap Rachel menegaskan.
Saffana hanya diam saja. Dia tidak mampu bicara apa-apa. Dia sangat mengerti jika Saffana sebenarnya khawatir dengan Alisha yang akan berbicara banyak pada Aksa. Jadi itu alasan Saffana untuk bungkam.
"Sudah-sudah sekarang sebaiknya kita langsung saja pulang," ucap David yang lain mengangguk setuju. Mereka semua yang bergegas untuk pulang.
Bersambung.
please lah...