Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Bahagia yang Menyedihkan
Angin malam waktu itu terasa sangat dingin. Hembusannya menggoyangkan tirai jendela berwarna merah muda, seperti melambai mengucapkan selamat menikmati malam sendiri. Di sudut meja kamar, Emma duduk memangku tangannya. Sorot matanya lurus mengarah foto-foto yang tergantung rapi membentuk lengkungan setengah lingkaran.
"Kak..." Bisiknya membelai salah satu fotonya bersama Emina di Pantai. Keduanya tampak bahagia tanpa mengetahui nasib malang yang akan menimpa setelahnya.
"Kurasa sekarang aku lebih nyaman menjadi dirimu. Nggak apa-apa kan?" Emma menitihkan bulir-bulir kenangan bahagia dan sedihnya akan kakak tercinta.
"Kenapa waktu itu kamu mau aja pergi ke Pantai? Padahal kamu kan nggak suka. Apa karena aku yang merengek?" Air matanya mengalir tak terhenti.
"Maaf, kalau saja aku nggak memintamu menemaniku, pasti sekarang kamu masih disini."
Emma sejenak menatap kasurnya yang biasanya berantakan karena ulah kakaknya yang suka menjahilinya. Ini lah satu-satunya alasan kenapa Emma jarang sekali mau pulang kampung. Dia merasa kecelakaan yang dialami kakaknya itu karena tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Ada apa Ma? Kenapa menangis?" Bayangan itu tiba-tiba tersenyum ke arah Emma menambah pedih di hati.
"Bagaimana kakak bisa tersenyum seperti itu? Apakah kakak sudah bahagia disana?"
Bayangan itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum, menatap Emma dengan mata biru berbinarnya.
"Tenang saja kak, sebentar lagi kita akan bertemu. Nanti kita bisa bermain bersama di Pantai seperti waktu itu."
Bayangan itu masih saja tersenyum tanpa dosa lalu, menghilang.
Duk!
Emma meletakkan kepalanya yang berat ke meja kamarnya. Ingatannya menjelajah ke masa kelam itu. Masa dimana dia kehilangan satu-satunya saudara yang ia sayangi.
Lima tahun yang lalu, Emma dan Emina sedang asyik bermain di Pantai setelah hampir setengah jam memohon pada Pak Izul.
Pak Izul awalnya melarang keduanya pergi karena Emma sedang sakit demam. Namun karena Emma dengan wajah pucatnya itu terus merengek, maka dengan terpaksa Pak Izul mengizinkannya.
"Kamu itu ya, kalau ada maunya pasti harus diturutin," kata Emina duduk lesehan di pasir Pantai yang putih. "Tolong ingat umur, kamu udah 23 tahun!" Lanjut Emina, memeluk kedua lututnya yang tertekuk.
"Biarin wlee.... Mumpung lagi cuti, kenapa nggak jalan-jalan sekalian." Ucap Emma cengengesan.
"Hey... Kamu cuti sakit ya, eh malah buat jalan-jalan! Kalau atasanmu ngamuk, gimana coba?" Emina mendorong pelan adiknya itu karena gemas dengan kelakuan absurdnya.
"Bodoh ah! Kayak nggak pernah dimarahin aja. Udah biasa kali!"
"Hahahaha, dasar bocah!"
Mereka tertawa bersama, seolah hari itu adalah hari yang paling bahagia di hidup mereka.
Mereka bermain kejar-kejaran, membuat istana pasir, sampai pakaian mereka basah kuyup.
"Brr dingin banget sumpah!" Emma memeluk tubuhnya sendiri yang telah berubah biru karena kedinginan.
"Aku ambilin baju bentar, kamu tunggu disini," ucap Emina menyuruh adiknya duduk di musholla, sedangkan tempat parkir mobil mereka ada di seberang jalan.
"Emang aku anak kecil? Aku bisa ambil sendiri. Kakak aja yang tunggu disini!" Celetuk Emma.
"Oke! Cepetan ya! Ambil punya kakak juga!" Teriak Emina setelah Emma berjalan lima meter darinya.
"Haish! Sh*bbal!!!"
Meski menggerutu, Emma tetap berjalan lurus menuju mobilnya tanpa melihat kanan dan kiri. Kecerobohannya itulah yang menyebabkan mala petaka itu terjadi.
Terlihat ada mobil BMW hitam melaju sangat cepat dari arah kanan. Emma yang memang sedang sakit, ditambah tubuhnya yang kedinginan sepertinya tidak mendengar suara mobil yang semakin mendekat. Dia dengan santai menyebrang menuju tempat parkir.
Emina yang sebenarnya mengikuti adiknya itu karena khawatir sewaktu-waktu dia pingsan, terkejut dengan keberadaan mobil yang melesat cepat.
Tanpa berpikir panjang, Emina berlari sekuat tenaga dan mendorong Emma dari tengah jalan.
"Emmaaaaa!!!!"
Emma yang tidak tahu apa-apa terpental ke pinggir jalan dan...
Brakkkk!!!! Ciiiitttt!!!!
Mobil itu menabrak Emina.
Emma yang masih tersungkur di bahu jalan, mencoba untuk menegakkan badannya. Kepalanya masih terasa berdengung. Trotoar tampatnya terjatuh tiba-tiba berputar seirama dengan kepalanya yang akhirnya membentur ke aspal.
Di sampingnya, ia melihat kakaknya yang juga tergeletak. Cairan merah mengalir deras dari kepalanya sedangkan tubuhnya sedikit kejang-kejang.
'apa yang terjadi?' batinnya yang masih setengah sadar.
Emma berusaha membuka matanya lebar-lebar, memohon agar dirinya tidak pingsan.
Dengan sekuat tenaga, ia menggerakkan tangannya untuk meraih tangan kakaknya yang sebenarnya berjarak jauh darinya. Matanya mencoba fokus—meskipun sudah mulai memburam— ke wajah kakaknya.
Sepersekian detik ia melihat Emina mengucapkan beberapa kalimat tanpa suara, namun dirinya tidak bisa mengartikan perkataannya itu.
Tap tap tap!
Dari rambatan jalan, Emma mendengar seseorang berjalan mendekat. Langkahnya berat namun lambat, sepertinya dia terkejut dengan apa yang terjadi.
Emma bisa melihat dengan jelas bahwa orang itu berpakaian serba hitam, namun sayangnya saat ia ingin melihat wajahnya, matanya tiba-tiba menjadi berat. Sangat berat hingga ia akhirnya tak sadarkan diri.
.
.
.
Sampai sekarang, Emma masih menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada kakaknya. Andaikan saja waktu itu dia tidak merengek untuk pergi ke Pantai. Andaikan saja dia tidak ceroboh dan hati-hati menyebrang jalan, pasti kakaknya sekarang masih tertawa bersamanya.
"Dasar bodoh!!"
Tiba-tiba Emma mendengar teriakan seseorang yang mirip dengan kakaknya. Seketika ia terbangun dari lamunan menyedihkan itu.
"Aku tidak akan memaafkannya!!" Ucapnya, hampir meremas foto yang berada di tangannya.
Walaupun orang yang telah menabrak Emina sudah mendekam di penjara, namun dalam hati ia tak sepenuhnya memaafkannya. Bahkan kalau bukan karena dia seorang polisi, dia sudah melakukan hal yang termaafkan kepadanya sebelum tertangkap.
Tapi dia tidak melakukannya. Satu-satunya yang Emma bisa lakukan hanyalah menjalani hidup dengan baik, sebagai penghormatan terakhir untuk kakaknya yang telah menyelamatkan nyawanya. Walaupun ternyata hidupnya juga tidak akan lama lagi.
.
.
.
Setelah melewati jam-jam membosankan di kantor Guru, akhirnya Emma memutuskan untuk mengunjungi rumah Dion sepulang kerja.
Berbekalkan catatan dari Bimo dan people map atau bertanya kesana kesini, akhirnya ia menemukan rumah Dion.
Bergegas, Emma melangkah kakinya ke rumah bercat biru muda dengan pagar kayu di depannya. Rumah itu tampak sunyi seperti tak berpenghuni, namun ketika Emma mengetuk, ada suara wanita yang menjawabnya.
"Permisi Bu, saya...."
Sebelum Emma menyelesaikan kalimatnya, Ibu Dion terbelalak dan langsung mempersilahkannya masuk.
'mungkinkah Ibu Dion masih mengingatku?'
"Bukankah kamu yang ada di rumah sakit waktu itu?" Tanyanya.
"Iya, saya sebenarnya seorang Polisi," Emma mengaku begitu saja.
"Saat saya mendengar berita tentang Dion, saya terkejut. Saya merasa ada yang ganjal."
Emma ingin melanjutkan bujukannya, namun Ibu Dion terisak.
"Kenapa baru sekarang? Saya sudah memohon pada kalian. Saya sudah memohon, tapi kalian tetap tidak mendengarkan."
Tangis Ibu Dion seperti pisau tajam yang membelah hati Emma menjadi bagian kecil-kecil.
"Maafkan saya Bu, seharusnya saya lebih cepat...." Emma memeluk Ibu Dion dan menepuk punggungnya.
"Baiklah Bu Polisi, apa yang bisa saya lakukan untuk membuka kasus ini lagi?" Ucap Ibu Dion setelah puas menangis.
"Saya butuh sikat gigi, sisir, atau apapun yang masih ada jejak Dion."
"Kebetulan saya sudah menyimpan semua milik Dion. Saya tidak bisa membuang semua barang Dion begitu saja. Saya merasa kalau membuangnya, sama saja membuang anakku satu-satunya," ucap Ibu Dion dengan suara bergetar.
"Sebentar, saya akan ambilkan." Tambahnya bergegas pergi ke kamar ujung rumah.
Sembari menunggu, Emma melihat-lihat foto berbingkai yang diletakkan di atas bufet ruang tamu. Dia melihat foto Dion yang tersenyum dengan pose V. Semua fotonya tampak ceria, membuat hati Emma teriris.
Akan tetapi, mata Emma terbelalak ketika melihat satu foto yang berada di sisi bufet lainnya. Jantungnya berdetak kencang, darahnya naik ke ubun-ubun, dan kepalan tangannya bergetar hebat.
"Apa hubungan anda dengan dia?"
Emma menunjuk pada foto paling ujung dan menunjukkan tatapan tajam ke arah Ibu Dion yang sedang membawa sekardus penuh barang Dion.
"Tentu saja dia...."
.
.
.