NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Cinta Yang Tersembunyi Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aiza-ra

Berikut deskripsi novel singkatnya.

Jennaira Hanania Mecca Nirankara tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah setelah menerima perjodohan dengan Arshaka Zayd Kalandra, pria dingin pewaris keluarga Kalandra yang sulit percaya pada cinta.

Pernikahan mereka dimulai tanpa kehangatan. Setelah akad, Shaka menetapkan batas yang jelas antara dirinya dan Jenna. Baginya, Jenna hanyalah tanggung jawab, bukan seseorang yang boleh masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Namun Jenna, dengan kelembutan, kesabaran, dan ketulusan hatinya, perlahan membuat pertahanan Shaka runtuh. Dari rasa penasaran, cemburu, hingga perhatian yang tak lagi mampu ia sembunyikan, Shaka mulai menyadari bahwa Jenna bukan sekadar istri yang dijodohkan dengannya.

Ia adalah perempuan yang diam-diam mengubah rumahnya menjadi tempat pulang, dan hatinya menjadi sesuatu yang kembali ingin percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Cemburu yang Tidak Diakui

Shaka kembali duduk di ruang kerjanya setelah Jenna pergi ke kafe.

Di hadapannya, laptop menyala. Beberapa dokumen terbuka. Ada laporan keuangan, ringkasan proyek, dan email dari Rafa yang seharusnya ia periksa sebelum benar-benar mengambil cuti penuh setelah pernikahan.

Namun sejak tadi, tidak satu pun kalimat berhasil masuk ke kepalanya.

Matanya membaca layar, tetapi pikirannya tertinggal pada Jenna.

Pada cara Jenna mengetuk pintu ruang kerjanya dengan pelan.

Pada suaranya yang datar ketika meminta izin pergi ke kafe.

Pada ucapan terima kasihnya yang sopan, tetapi terasa jauh.

Shaka meletakkan pulpen di atas meja dengan sedikit keras.

Ia tidak suka ini.

Ia tidak suka merasa terganggu hanya karena Jenna bersikap dingin kepadanya. Padahal bukankah ia sendiri yang membuat batas? Bukankah ia sendiri yang mengatakan bahwa Jenna tidak perlu mencampuri urusannya? Bukankah sejak awal ia ingin pernikahan ini berjalan dengan jarak yang jelas?

Seharusnya ia merasa lega.

Jenna tidak banyak bertanya.

Jenna tidak menuntut.

Jenna tidak mencoba masuk terlalu jauh ke dalam hidupnya.

Tetapi justru itu yang membuat Shaka merasa tidak nyaman.

Jenna benar-benar mundur.

Dan diamnya jauh lebih mengganggu daripada semua pertanyaan yang mungkin ia ajukan.

Shaka menyandarkan tubuh ke kursi. Rahangnya mengeras. Di kepalanya, kembali terbayang mata Jenna yang terluka setelah akad. Mata cokelat terang yang biasanya teduh itu kini berubah datar setiap kali menatapnya.

Batas yang ia buat ternyata bukan hanya menjauhkan Jenna.

Batas itu juga membuat dirinya merasa bersalah.

Shaka mengambil ponsel dari meja, lalu menghubungi sopir yang tadi ia minta mengantar Jenna.

Panggilan tersambung tidak lama kemudian.

“Pak Shaka?”

“Kamu masih di kafe?”

“Iya, Pak. Saya masih menunggu Bu Jenna.”

“Pulang saja.”

Sopir itu terdengar ragu. “Pulang, Pak? Lalu Bu Jenna bagaimana?”

“Saya yang akan menjemputnya nanti.”

“Baik, Pak.”

Shaka menutup telepon.

Ia menatap layar ponselnya beberapa saat.

Menjemput Jenna sendiri bukan hal besar. Ia suaminya. Wajar jika ia menjemput istrinya. Namun bagi Shaka, keputusan itu terasa seperti sesuatu yang lebih dari sekadar kewajiban.

Ia ingin melihat Jenna.

Ia ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja.

Dan mungkin, meski egonya menolak mengakuinya, ia ingin Jenna tahu bahwa ia tidak benar-benar mengabaikannya.

Sore menjelang Maghrib di Jenna’s Bloom Café terasa hangat.

Langit di luar mulai berubah jingga. Beberapa pelanggan masih duduk menikmati kopi terakhir sebelum pulang. Aroma espresso bercampur dengan wangi bunga segar yang memenuhi sisi kanan kafe.

Jenna sedang membantu Naya menyelesaikan buket pesanan terakhir ketika bel pintu berbunyi.

Ia mengangkat wajah.

Seorang laki-laki masuk dengan senyum ramah. Tubuhnya tinggi, penampilannya sederhana namun rapi. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan lengan digulung, celana kain gelap, dan jam kulit di pergelangan tangan.

Mata Jenna langsung mengenali laki-laki itu.

“Kak Sagara?”

Laki-laki itu tersenyum lebih lebar.

“Assalamu’alaikum, Jenna.”

“Wa’alaikumussalam.” Jenna meletakkan gunting bunga di meja, lalu berjalan menghampirinya. “Kak Sagara tumben ke sini sore-sore.”

Sagara Pramudya adalah pemuda yang sudah lama Jenna kenal. Ia mengelola sebuah yayasan sosial yang fokus membantu anak-anak panti asuhan dan keluarga kurang mampu. Pertemuan mereka terjadi beberapa tahun lalu, saat Jenna ikut kegiatan bakti sosial untuk pertama kalinya.

Sejak saat itu, Jenna sering terlibat dalam beberapa program yayasan Sagara.

Bagi Jenna, Sagara adalah kakak yang baik. Sosok yang tulus, sabar, dan punya kepedulian besar kepada sesama.

Namun bagi Sagara, Jenna lebih dari itu.

Sejak lama ia menyukai Jenna.

Hanya saja, ia tidak pernah benar-benar mengungkapkannya.

Bukan karena tidak ingin, melainkan karena Jenna selalu terlihat begitu jauh untuk digapai. Bukan karena status keluarganya, tetapi karena caranya menjaga diri. Jenna ramah, tetapi tidak pernah memberi celah. Lembut, tetapi tetap memiliki batas. Dekat sebagai rekan sosial, tetapi tidak pernah membuat Sagara merasa punya kesempatan lebih.

Dan sekarang, kesempatan itu benar-benar hilang.

Jenna sudah menikah.

Sagara sempat melihat kabar pernikahan Jenna dari berita dan unggahan media sosial. Pernikahan keluarga Kalandra dan Nirankara terlalu besar untuk tidak menjadi perhatian. Ia tahu Jenna telah menjadi istri seseorang.

Tetapi melihatnya langsung dengan cincin di jari manis tetap memberi rasa nyeri yang sulit ia abaikan.

“Aku sebenarnya mau menghubungi lewat pesan,” ujar Sagara, berusaha terdengar biasa. “Tapi kebetulan lewat daerah sini, jadi sekalian mampir.”

Jenna mengangguk. “Ada apa, Kak?”

“Hari Minggu nanti yayasan akan mengadakan kegiatan bakti sosial untuk anak-anak panti. Ada pembagian paket sekolah, makan bersama, dan kelas kreativitas kecil. Aku mau tanya, kamu masih bisa ikut membantu?”

Mata Jenna langsung tampak lebih hidup.

“Untuk anak-anak Panti Al-Ma’wa?”

“Iya.” Sagara tersenyum. “Mereka juga sempat tanya kapan Kak Jenna datang lagi.”

Jenna menunduk sedikit, matanya melengkung lembut.

“Masyaallah. Jenna kangen juga sama mereka.”

Sagara memperhatikan mata itu dalam diam.

Mata Jenna selalu begitu. Teduh. Hangat. Seolah mampu membuat orang merasa diterima tanpa banyak kata. Dulu, mata itulah yang membuat Sagara mulai memperhatikan Jenna lebih dari sekadar rekan kegiatan sosial.

“Kalau kamu datang, mereka pasti senang,” ucap Sagara pelan.

“Insyaallah Jenna ingin ikut. Tapi Jenna harus lihat jadwal dulu.”

Sagara mengangguk. “Tentu. Aku paham. Sekarang kamu sudah punya tanggung jawab baru.”

Jenna terdiam sesaat.

Tanggung jawab baru.

Kata itu mengingatkannya pada Shaka. Pada rumah baru mereka. Pada kamar yang akhirnya harus mereka tempati bersama karena alasan para pekerja rumah. Pada batas yang masih terasa dingin di antara mereka.

Namun Jenna segera menyembunyikan perubahan kecil di matanya.

“Nanti Jenna kabari Kak Sagara, ya.”

“Baik.”

Sagara tersenyum, tetapi senyumnya kali ini sedikit getir.

“Kamu tetap sama, Jen.”

Jenna menatapnya bingung. “Sama bagaimana?”

“Tetap mudah tersentuh kalau menyangkut anak-anak.”

Jenna menunduk malu.

“Kak Sagara terlalu memuji.”

“Aku hanya mengatakan yang aku lihat.”

Sagara menatap Jenna dengan tatapan kagum yang tidak ia sadari mulai terlalu jelas.

Di dekat meja bunga, Naya memperhatikan mereka diam-diam. Ia tahu Jenna tidak sadar. Tapi sebagai orang luar, Naya bisa membaca tatapan Sagara. Tatapan itu bukan sekadar tatapan seorang rekan kegiatan sosial.

Tatapan itu milik seseorang yang menyimpan perasaan.

Beberapa menit sebelum Maghrib, mobil Shaka berhenti di depan Jenna’s Bloom Café.

Shaka turun dari mobil dengan langkah tenang. Namun ketenangan itu berubah ketika ia melihat ke dalam kafe melalui kaca besar.

Jenna sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria.

Pria itu tersenyum lembut kepadanya.

Dan yang membuat dada Shaka mendadak terasa panas, pria itu menatap Jenna dengan cara yang terlalu mudah dibaca.

Kagum.

Hangat.

Terlalu dekat.

Rahang Shaka mengeras.

Ia tidak tahu kenapa perasaan tidak nyaman itu muncul begitu cepat. Ia tidak suka melihat Jenna berbicara dengan laki-laki itu. Tidak suka melihat laki-laki itu tersenyum kepadanya. Tidak suka melihat Jenna memanggilnya dengan sebutan yang terdengar akrab.

Kak Sagara.

Shaka belum tahu siapa pria itu, tetapi ia sudah tidak menyukai caranya menatap Jenna.

Ia membuka pintu kafe.

Bel kecil berbunyi.

Jenna menoleh.

Matanya sedikit melebar ketika melihat Shaka.

“Mas Shaka?”

Sagara ikut menoleh.

Untuk beberapa detik, dua laki-laki itu saling menatap.

Sagara dengan ekspresi sopan.

Shaka dengan tatapan tajam yang dinginnya langsung terasa.

Shaka berjalan mendekat ke arah Jenna.

“Kita pulang.”

Nada suaranya datar, tetapi ada tekanan yang membuat Naya, Alya, Kevin, dan Amanda otomatis saling melirik.

Jenna menatap Shaka, sedikit bingung.

“Sebentar, Mas. Jenna sedang bicara dengan Kak Sagara.”

Tatapan Shaka bergerak ke arah Sagara.

“Kak Sagara?”

Sagara segera tersenyum sopan dan mengulurkan tangan.

“Sagara Pramudya. Saya rekan Jenna di kegiatan sosial.”

Shaka menatap tangan itu sesaat sebelum menjabatnya.

Genggaman mereka singkat, tetapi tegang.

“Arshaka Zayd Kalandra,” ucap Shaka dingin. “Suaminya Jenna.”

Kalimat itu membuat Jenna terdiam.

Sagara pun sempat membeku sepersekian detik sebelum kembali tersenyum.

“Iya, saya tahu. Selamat atas pernikahannya, Shaka.”

“Terima kasih.”

Jawaban Shaka pendek.

Matanya tetap tajam.

Jenna mulai merasa suasana tidak nyaman. Ia segera menjelaskan, “Kak Sagara datang untuk memberi tahu kegiatan bakti sosial hari Minggu nanti. Untuk anak-anak panti.”

Shaka menoleh kepada Jenna.

“Bakti sosial?”

“Iya.”

“Harus dibicarakan sekarang?”

Nada Shaka tetap dingin, tetapi Jenna bisa merasakan sesuatu yang lain di baliknya. Sesuatu yang menekan. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Sagara menangkap ketegangan itu.

Ia segera berkata, “Tidak apa-apa, Jen. Kita bisa lanjut lewat pesan saja. Aku juga sudah mau pulang.”

Jenna menoleh kepada Sagara.

“Baik, Kak. Nanti Jenna kabari.”

Sagara mengangguk.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Jenna.

Sebelum pergi, Sagara sempat menatap Jenna sekali lagi. Tatapan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat Shaka semakin mengencangkan rahangnya.

Sagara lalu menoleh kepada Shaka.

“Permisi, Shaka.”

Shaka hanya mengangguk singkat.

Setelah Sagara keluar dari kafe, bel pintu kembali berbunyi pelan. Namun ketegangan yang ia tinggalkan masih terasa di udara.

Jenna menatap Shaka.

“Mas Shaka kenapa datang?”

“Saya menjemputmu.”

“Bukannya sopir yang menunggu?”

“Saya suruh pulang.”

Jenna mengernyit. “Kenapa?”

Shaka diam sesaat.

Karena aku ingin menjemputmu sendiri.

Kalimat itu muncul di kepalanya, tetapi tidak keluar dari mulutnya.

Yang ia ucapkan justru, “Sudah hampir Maghrib.”

Jenna menatapnya cukup lama.

Ia tidak tahu harus memahami sikap Shaka sebagai apa. Perhatian? Kontrol? Atau sekadar tanggung jawab yang ia sebutkan sejak awal?

Akhirnya Jenna hanya mengangguk.

“Baik. Jenna ambil tas dulu.”

Ia berbalik menuju meja bunga.

Naya mendekat dan berbisik pelan, “Kak, Mas Shaka kelihatannya serem banget.”

Jenna menatap Naya sebentar.

“Jaga kafe baik-baik, ya.”

Naya langsung mengangguk. “Siap, Kak.”

Kevin dari balik mesin kopi berbisik kepada Alya, “Itu aura cemburu, nggak sih?”

Alya menyikutnya. “Diam. Jangan cari masalah.”

Amanda menahan senyum, sementara Arya yang baru keluar dari dapur hanya menggeleng kecil.

Jenna kembali menghampiri Shaka dengan tas kecil di tangannya.

“Ayo, Mas.”

Shaka membukakan pintu kafe untuk Jenna. Mereka keluar bersama. Beberapa pelanggan sempat menoleh, mungkin mengenali pasangan pengantin yang baru saja menjadi sorotan media.

Di luar, udara sore mulai berubah dingin menjelang Maghrib.

Shaka membukakan pintu mobil untuk Jenna. Jenna masuk tanpa banyak bicara. Setelah itu Shaka duduk di kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil.

Keheningan langsung memenuhi ruang di antara mereka.

Namun kali ini, keheningan itu terasa lebih tajam.

Shaka menatap jalan, tetapi pikirannya masih tertinggal pada Sagara.

Pada caranya menatap Jenna.

Pada cara Jenna memanggilnya Kak Sagara dengan begitu biasa.

Pada kenyataan bahwa Jenna punya dunia yang belum ia ketahui.

Dunia yang mungkin sudah lama diisi oleh orang-orang yang menyayanginya.

“Sejak kapan kamu mengenalnya?”

Jenna menoleh sedikit.

“Kak Sagara?”

Shaka tidak suka mendengar panggilan itu keluar lagi.

“Iya.”

“Sudah lama. Sejak Jenna ikut kegiatan bakti sosial.”

“Dia sering datang ke kafemu?”

“Tidak terlalu sering.”

“Tidak terlalu sering berarti pernah.”

Jenna menatap Shaka.

“Mas Shaka sedang menginterogasi Jenna?”

Shaka diam.

Jenna menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak hangat.

“Bukankah Mas tidak ingin hidupnya dicampuri? Jenna pikir Mas juga tidak perlu mencampuri siapa yang datang ke kafe Jenna.”

Kalimat itu membuat Shaka terdiam.

Lagi-lagi Jenna mengembalikan batas yang ia buat sendiri.

Dan lagi-lagi, ia tidak suka rasanya.

Tapi kali ini, rasa tidak suka itu bercampur dengan panas yang belum mau ia akui.

Cemburu.

Shaka membenci kata itu.

Ia tidak ingin cemburu.

Ia bahkan belum berhak merasa seperti itu setelah semua yang ia katakan kepada Jenna. Ia tidak bisa meminta Jenna menjaga jarak dari orang lain, sementara ia sendiri menolak membiarkan Jenna masuk ke hidupnya.

Namun tetap saja, melihat Sagara menatap Jenna membuat dadanya terasa terbakar.

“Kamu istriku,” ucap Shaka akhirnya.

Jenna menatapnya.

“Iya, Jenna tahu.”

Jawaban itu datar.

Tidak membantah.

Tidak juga menghangat.

Shaka mengencangkan genggamannya pada kemudi.

“Kalau ada laki-laki yang mendekatimu, saya berhak tahu.”

Jenna diam sebentar.

Lalu ia menjawab dengan suara tenang, “Kak Sagara tidak mendekati Jenna. Dia hanya memberi tahu kegiatan yayasan.”

“Dia menatapmu seperti bukan hanya rekan yayasan.”

Jenna terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar tidak menyangka.

“Mas Shaka bicara apa?”

Shaka menatap jalan lurus-lurus.

“Lupakan.”

“Tidak. Mas sudah bicara, jadi jelaskan.”

Shaka diam.

Jenna menatapnya lebih lama.

“Mas cemburu?”

Pertanyaan itu keluar pelan, tetapi tepat.

Shaka langsung menegang.

“Tidak.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Jenna menatapnya beberapa detik, lalu kembali menghadap jendela.

“Baik.”

Hanya itu.

Tidak ada godaan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada usaha memperpanjang percakapan.

Anehnya, justru itu yang membuat Shaka semakin tidak tenang.

Jika Jenna menggodanya, mungkin ia bisa marah. Jika Jenna membantah, mungkin ia bisa berdebat. Tapi Jenna hanya menerima jawabannya dengan datar, seolah apa pun yang Shaka rasakan tidak lagi ingin ia gali.

Mobil terus melaju menuju rumah mereka.

Langit di luar mulai gelap.

Azan Maghrib terdengar samar dari kejauhan.

Di dalam mobil, Shaka dan Jenna kembali diam. Namun diam kali ini dipenuhi banyak hal yang tidak terucap.

Jenna menahan luka.

Shaka menahan cemburu.

Dan di antara keduanya, batas yang dulu Shaka buat untuk melindungi diri sendiri perlahan berubah menjadi dinding yang justru membuatnya terkurung.

Karena untuk pertama kalinya, Shaka ingin bertanya lebih banyak tentang hidup Jenna.

Tetapi ia sadar, mungkin ia sudah terlalu dulu membuat Jenna berhenti ingin menjawab.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!