NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Pembalasan dari Istana Gaib

Pertanyaan Mbah Sariti tidak membutuhkan jawaban lisan. Di dalam gubuk yang pengap oleh bau belerang dan darah hitam, sepasang mata Bintang mengeras sekeras baja peninggalan gurunya. Kematian fana bukanlah sesuatu yang baru baginya, namun membiarkan cangkang suci Sabtu Kliwon diremuk dan dijadikan fondasi abadi di perut bumi oleh Kalingga adalah aib spiritual yang tidak akan pernah dimaafkannya.

"Saya ambil jalan sungsang itu, Mbah," ucap Bintang, suaranya tenang namun bergetar dengan gelombang energi zikir yang memadat di tenggorokan.

Mbah Sariti menatapnya lurus dengan sepasang mata putih susunya yang mengerikan. Wanita tua itu tidak lagi mencegah. Dia tahu, ketika seorang pelindung spiritual telah mengunci niatnya dengan darah, maka takdir hanya menyediakan dua ujung: kemenangan sungsang atau mati membusuk berdiri.

"Kau punya waktu kurang dari dua jam sebelum gerhana batin Sabtu Kliwon mengunci seluruh dimensi," bisik Mbah Sariti, tangannya yang kurus kering bergerak cepat mengambil segenggam abu kemenyan dari mangkuk tanah liat di dekatnya. "Kembalilah ke hilir. Raga sukmamu harus dilepas dari sisi dipan anak itu. Jika kau melepaskannya di sini, jarak spiritual antara hulu dan istana bawah tanah akan mengoyak sukmamu menjadi serpihan sebelum kau sempat menyentuh tangga sisik pertama!"

Tanpa menunggu perintah kedua, Bintang menyambar kembali kebaya katun milik Sekar yang telah ternoda cairan kuning korosif. Dia membungkusnya terburu-buru, lalu berbalik melangkah lebar meninggalkan gubuk kemuning tua tersebut.

Di luar, malam telah berubah total. Angin gunung tidak lagi berembus searah, melainkan berputar membentuk pusaran hawa dingin yang membawa bau bangkai reptil yang membusuk. Ketika Bintang menstarter sepeda motornya, gema desisan jutaan ular tanah dari balik barisan batu nisan tanpa nama terdengar semakin meninggi, seolah-olah seluruh tanah lereng Raung sedang menggeliat, bersiap menelan siapa saja yang berani mengusik tidur sang Penguasa.

Sementara itu, di hilir, waktu di dunia nyata telah merayap melewati pukul sepuluh malam. Keheningan di desa tempat kediaman Rahayu berdiri terasa tidak wajar. Seluruh lampu teras rumah tetangga telah dipadamkan secara paksa akibat korsleting massal yang merusak gardu listrik desa beberapa menit lalu. Kegelapan pekat menyelimuti wilayah itu, hanya menyisakan pendar lampu minyak dan lilin-lilin kecil yang berkedip cemas dari balik kaca jendela penduduk.

Namun, pusat dari segala keabnormalan malam itu tetap berada di kamar belakang rumah Rahayu.

Rahayu masih setia meringkuk di dekat lemari jati yang hancur. Tangannya memegang erat seuntai tasbih murah yang talinya hampir putus karena ditarik-tarik dengan panik. Matanya yang sembap tidak sedetik pun lepas dari raga Sekar yang terbujur kaku di atas ranjang kapuk.

Kondisi Sekar saat ini sudah menyerupai mayat purba yang diawetkan dengan cara yang salah. Lapisan cairan bening yang membeku seperti lilin di wajahnya kini telah menebal, membentuk topeng ghaib yang sempurna. Garis-garis halus wajah manusianya perlahan menghilang, tergantikan oleh permukaan kaku yang berkilat memantulkan cahaya lilin.

Dug......... dug.........

Detak nadi di pergelangan tangannya telah turun ke titik paling kritis: dua detakan per menit. Setiap kali jantung ghaib Kalingga memompa sisa darah di tubuh Sekar, pendaran hijau neon dari jalinan sisik emas di lehernya memancar begitu terang hingga menembus kegelapan kamar, memproyeksikan bayangan jala sisik yang meliuk-liuk di dinding dan langit-langit plafon.

Tiba-tiba, suhu di dalam kamar anjlok drastis ke titik yang menyiksa kulit. Lilin yang menyala di atas meja tegel mendadak berubah warna; apinya yang semula kuning kehangatan perlahan menyusut dan berganti menjadi pendaran hijau keunguan yang dingin.

Greeeeet... greeeeet...

Suara gesekan berat terdengar dari bawah tegel lantai yang retak. Rahayu menahan napas, tangannya membekap mulutnya sendiri agar jeritannya tidak meletus. Dia bisa merasakan getaran masif yang merayap naik melalui pori-pori semen lantai, sebuah tanda bahwa sang pemilik istana di bawah sana telah menyadari adanya usaha penyusupan spiritual yang dilakukan Bintang di hulu.

Kalingga murka besar. Getaran doa dan zikir darah yang ditinggalkan Bintang pada dada Sekar mulai dirasakan sebagai duri ghaib yang mencoba merebut paksa wadah keabadiannya.

PRRAAAKKKK!!!

Kaca jendela kamar Sekar seketika pecah berantakan, hancur menjadi serpihan kecil seumpama dihantam oleh batu raksasa yang tak terlihat. Potongan kaca terlempar ke segala arah, beberapa di antaranya menggores daster Rahayu dan dinding kayu, meninggalkan bekas goyangan energi yang berbau anyir. Anehnya, setelah kaca itu pecah, tidak ada angin malam yang masuk. Udara di luar jendela justru tampak membeku, pekat oleh kabut hitam yang bergulung-gulung rendah di atas permukaan tanah halaman.

"Siapa... yang berani... menyentuh milikku..."

Sebuah suara ganda yang luar biasa berat, berwibawa, namun penuh dengan getaran kebencian purba bergema di dalam kamar. Suara itu tidak datang dari luar jendela, melainkan keluar langsung dari celah bibir Sekar yang terbungkus lapisan lilin ghaib. Rahayu menjerit histeris, merangkak mundur hingga punggungnya mendesak dinding kayu rumah.

Belum sempat Rahayu menguasai rasa takutnya, suara derak halus terdengar dari atas kepala. Kreeek... kreeek...

Plafon rumah yang terbuat dari anyaman bambu tua (gedek) tampak melosot ke bawah di beberapa titik, seolah menahan beban ratusan kilogram yang menumpuk di atasnya. Detik berikutnya, dari celah-celah anyaman bambu yang renggang, sesuatu mulai merembes keluar.

Bukan air hujan. Melainkan ribuan ekor anak ular weling.

Makhluk-makhluk melata berukuran sebesar jari kelingking dengan corak gelang hitam-putih yang sangat kontras itu berjatuhan dari plafon seperti hujan gerimis yang mengerikan. Mereka jatuh bergedebuk di atas lantai tegel, di atas meja, bahkan beberapa ekor mendarat tepat di atas kain seprai putih tempat Sekar berbaring.

Sssss... sssss... sssss...

Desisan kolektif dari ribuan anak ular berbisa mematikan itu menciptakan melodi kematian yang memenuhi ruangan. Mereka bergerak dengan gila, tidak menyerang raga Sekar yang mengeras, melainkan langsung mengarahkan kepala-kepala kecil mereka yang mengilap menuju posisi Rahayu yang tersudut di pojok kamar.

Teror Kalingga tidak lagi membatasi diri di dalam area kamar terkutuk itu. Di luar rumah, kabut hitam yang membawa bisa ghaib mulai meluas, merayap cepat menelusuri jalanan desa menuju fasilitas publik yang paling dekat—sebuah pos ronda dan balai desa yang berjarak seratus meter dari kediaman Rahayu, di mana beberapa warga sedang berkumpul dalam kegelapan menggunakan senter.

Warga yang sedang berjaga mendadak merasakan hawa dingin yang tidak masuk akal menyerang persendian mereka. Udara malam yang semula gersang berubah menjadi pekat, membuat pandangan mata mereka terbatas hanya sejauh satu jengkal.

"Bau apa ini? Kok amis begini?" tanya salah seorang warga, Sukardi, sambil mengarahkan senternya ke arah aspal jalanan.

Detik ketika cahaya senter membelah kabut, Sukardi dan tiga warga lainnya seketika membeku dengan wajah pucat pasi. Jalanan aspal di depan mereka tidak lagi terlihat hitam; permukaannya telah ditutupi oleh ribuan ular tanah dan ular weling yang merayap searah dari arah rumah Sekar. Makhluk-makhluk itu bergerak dalam formasi gila, memenuhi selokan, memanjat tiang listrik, hingga merayap naik ke dinding-dinding luar rumah warga.

"Ular! Banyak ular!! Lari!!" Teriakan itu pecah, memicu kepanikan massal di tengah kegelapan desa yang mati total.

Sementara itu, kembali di dalam kamar Sekar, situasi telah berubah menjadi pembantaian psikologis bagi Rahayu. Ribuan anak ular weling yang jatuh dari plafon kini telah membentuk koloni padat yang merayap di atas lantai tegel, menyisakan jarak kurang dari setengah meter dari kaki Rahayu yang gemetar.

"Bintang... Tolong, Bintang...!" Rahayu menangis sejadi-jadinya, suaranya parau hingga tenggorokannya mengeluarkan darah. Dia mengangkat kakinya ke atas kursi kayu yang tersisa, namun kaki-kaki kursi itu pun mulai dililit oleh puluhan ular tanah yang keluar dari lubang fondasi di bawah dipan.

BUMMM!!!

Pintu belakang rumah Rahayu dihantam terbuka dari luar. Bintang muncul di ambang pintu dengan napas memburu dan pakaian yang basah kuyup oleh kabut gunung. Matanya menyipit ngeri melihat pemandangan di dalam kamar: lantai telah berubah menjadi lautan sisik hitam-putih milik anak ular weling, sementara plafon rumah terus meneteskan makhluk melata tersebut tanpa henti.

"Jangan bergerak, Bu! Tetap di atas kursi!" bentak Bintang dengan suara yang menggelegar, mengalahkan suara desisan ribuan ular di dalam ruangan.

Bintang melompat masuk menembus serbuan ular dengan nekat. Kakinya yang mengenakan sepatu bot kanvas menginjak beberapa ekor ular hingga hancur mengeluarkan lendir hitam berbau belerang. Tangan kanannya bergerak cepat menuju kantong kain di pinggangnya, mengeluarkan segenggam Belerang Sungsang yang telah dicampur dengan serbuk kayu gaharu purba milik gurunya.

Dengan satu gerakan memutar yang kuat, Bintang menyebarkan serbuk itu membentuk lingkaran pelindung baru di sekeliling kursi Rahayu dan di sekitar dipan Sekar.

SREEEET... CHHHSSS!!!

Detik ketika serbuk kuning kemerahan itu menyentuh lantai yang dipenuhi ular, api ghaib berwarna biru pekat langsung menyala lambat, membakar tubuh anak-anak ular weling yang berada di dalam jalurnya. Suara desisan histeris dan bau daging reptil yang gosong seketika meledak, memenuhi ruangan dengan asap tebal yang membuat mata perih dan dada terasa sesak.

Ular-ular yang selamat langsung mundur ketakutan, menjauh dari kobaran api biru spiritual yang dinyalakan Bintang. Namun, Bintang tahu ini hanyalah pengalih perhatian jangka pendek. Pagar itu tidak akan bertahan lama karena dari atas plafon, anyaman bambu terus berderak kaku, bersiap meruntuhkan gelombang ular yang lebih besar.

Bintang melangkah cepat mendekati sisi dipan Sekar. Dia melepaskan jaket kanvasnya, menyisakan kaos hitamnya yang kini telah basah oleh keringat dingin. Dia duduk bersila tepat di samping kepala Sekar, membiarkan lututnya bersentuhan langsung dengan kayu dipan yang dinginnya menyerupai balok es.

"Bu Rahayu, apa pun yang terjadi setelah ini, jangan pernah sentuh raga saya atau raga Sekar!" ucap Bintang dengan nada yang sangat dingin, matanya menatap lurus ke arah langit-langit yang bergetar. "Saya akan melepas sukma saya untuk turun ke Istana Sisik Hitam. Jika dalam waktu satu jam saya tidak kembali, bakar rumah ini bersama raga kami di dalamnya. Jangan biarkan Kalingga membawa wadah ini keluar ke dunia atas."

Rahayu tidak mampu lagi menjawab; wanita tua itu hanya bisa mengangguk dengan tubuh yang lemas di atas kursi, matanya menatap nanar ke arah api biru yang perlahan mulai mengecil di lantai.

Bintang memejamkan matanya. Dia menarik Pisau Sungsang Buwana dari pinggangnya, menggenggam bilah baja hitamnya yang penuh rajah dengan kedua tangan yang diletakkan di atas dadanya sendiri. Bibirnya mulai bergerak cepat, bukan lagi merapalkan zikir perlindungan fana, melainkan Mantra Pelepas Sukma Sungsang Buwana—sebuah ilmu kuno yang dilarang karena tingkat kematian praktisinya mencapai sembilan puluh persen.

Niat ingsun nembus kahanan ghaib, ngluluri getih sungsang, manjing ing jagad sisik...

Udara di sekeliling tubuh Bintang mendadak berputar lambat. Detak jantungnya di dunia nyata mulai melambat drastis seirama dengan detak jantung Sekar. Satu... dua... tiga... Dan pada hitungan keempat, seluruh kesadaran fana Bintang mendadak gelap total, runtuh menembus lantai kamar menuju koridor penuh sisik yang kian bergolak di dasar Istana Sisik Hitam.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!