NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: Hasutan sang Pengganti

Fajar pasca malam Sabtu Kliwon merekah dengan warna merah pekat yang tidak wajar, seolah langit lereng Gunung Raung sedang memuntahkan sisa darah ghaib semalam. Sisa asap belerang dari hembusan napas Kalingga masih mengendap tipis di sudut-sudut dapur. Di atas lantai semen yang lembap, tiga ekor bangkai anak ayam yang hancur mulai dikerubuti lalat-lalat besar berkepala hijau. Bau anyir berbaur bacin mendominasi udara, memutus paksa sisa kewarasan yang dimiliki penghuni rumah lapuk tersebut.

Bintang masih berdiri mematung di ambang pintu dapur. Telapak tangan kirinya meraba sisa racun batin di dadanya, sementara tangan kanannya yang menggenggam Pisau Sungsang Buwana bergetar hebat. Racun Wisa Sengkolo di dalam aliran darahnya kembali bergolak, menciptakan sensasi terbakar yang merayap dari pergelangan tangan hingga ke pangkal leher.

Di lantai, raga Sekar tergolek miring seperti seonggok daging tak bernyawa. Rambutnya yang panjang dan kusut masai menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Sisa-sisa darah ayam yang mengering membentuk kerak kehitaman di sekeliling bibir dan dagunya.

"Nduk... Sekar..."

Rahayu merangkak perlahan, mengabaikan rasa mual yang sempat menguras isi perutnya beberapa jam lalu. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya yang kempot dan kotor oleh abu tungku. Dengan jemari yang gemetar hebat, dia meraih kepala anak perempuannya, memangkunya di atas lutut dengan penuh kasih sayang yang bercampur aduk dengan kengerian mendalam.

"Bintang... tolong angkat anakku ke kamar, Le... Tolong..." ratap Rahayu, suaranya parau nyaris habis.

Bintang melangkah maju dengan hati-hati. Setiap jengkal batinnya berteriak waspada. Dia tahu, ambruknya raga Sekar setelah jam Kliwon berlalu bisa jadi hanyalah sebuah taktik pengalihan. Namun, melihat kondisi Rahayu yang sudah berada di ambang histeria massal, Bintang tidak punya pilihan lain. Dia menyisipkan pisaunya ke pinggang, lalu membungkuk untuk mengangkat tubuh gadis itu.

Begitu lengan Bintang menyusup di bawah tengkuk dan lipatan lutut Sekar, sebuah sensasi ganjil langsung menyengat kulitnya. Tubuh Sekar terasa seringan kapas, seolah-olah seluruh kepadatan tulang dan daging manusianya telah menguap, menyisakan struktur berongga yang rapuh namun dingin. Lebih mengerikan lagi, saat Bintang mengangkatnya, dia bisa merasakan getaran halus dari balik tulang rusuk Sekar—bukan detak jantung manusia yang ritmis, melainkan ketukan konstan yang cepat, mirip dengan kepakan sayap ribuan serangga ghaib yang terperangkap di dalam sangkar daging.

Mereka membaringkan Sekar di atas kasur kapuk kamar belakang yang pengap. Bau bunga kenanga busuk yang sempat mereda kini kembali menguar kencang dari pori-pori kulit Sekar, memenuhi ruangan sempit itu hingga membuat mata perih.

Rahayu bergegas mengambil seember air sumur dan selembar kain lusuh. Dengan telaten namun gemetar, dia menyeka sisa-sisa darah dan bulu ayam yang menempel di wajah serta leher anaknya. Perempuan paruh baya itu terus merapalkan doa-doa pendek yang terputus-putus, mencoba mengusir sisa-sisa hawa terkutuk yang masih menggelayuti kamar tersebut.

Uhukk... uhukk...

Tubuh Sekar tiba-tiba tersentak. Dia terbatuk kecil, memuntahkan segumpal cairan bening berlendir yang berbau belerang ke atas lantai tegel yang retak. Kelopak matanya yang kaku perlahan-lahan bergerak, terbuka sedikit demi sedikit.

"Sekar? Nduk? Ini Ibu, Nak..." Rahayu mendekatkan wajahnya, berharap melihat binar mata anak perempuannya yang dulu—gadis desa yang lugu dan penuh senyum.

Namun, begitu sepasang mata itu terbuka sepenuhnya, tidak ada lagi pupil vertikal milik reptil ghaib. Mata Sekar kembali normal. Bagian hitam dan putihnya berada di posisi yang tepat. Namun, sorot mata itu kini dipenuhi oleh ketakutan yang luar biasa mendalam, air mata langsung merebak memenuhi pelupuk matanya, mengalir membasahi pipinya yang dihiasi bekas keloid keunguan.

"I-Ibu..." bisik Sekar. Suaranya terdengar sangat lemah, parau, dan bergetar—sepenuhnya suara asli Sekar, tanpa ada lapisan gema bariton Kalingga maupun desisan ular.

"Iya, Nduk! Ini Ibu! Kamu sudah sadar, Nak?" Rahayu langsung memeluk tubuh anaknya, menangis sejadi-jadinya. Dia merasa seolah-olah keajaiban baru saja terjadi dan anak perempuannya telah kembali dari jurang kutukan.

Di ambang pintu kamar, Bintang tidak bergeming. Alih-alih merasa lega, bulu kuduk di sekujur tubuhnya justru berdiri kian tegak. Mata batinnya melihat sesuatu yang salah. Aura di sekeliling tubuh Sekar tidak lagi berwarna hitam legam seperti semalam, melainkan berubah menjadi warna kelabu pucat yang redup—sebuah warna yang melambangkan tipu daya, kepalsuan, dan kabut ghaib yang sengaja diciptakan untuk mengelabuhi indra manusia fana.

Sekar berpaling dari pelukan ibunya, menatap langsung ke arah Bintang yang berdiri di kegelapan ambang pintu. Detik itu juga, tubuh Sekar menyentak mundur hingga membentur dinding tripleks. Dia berteriak histeris, menunjuk ke arah Bintang dengan jari-jarinya yang gemetar.

"Jangan... Jangan biarkan dia mendekat, Ibu! Tolong Sekar...! Dia... dia mau mengambil sisa nyawaku...!" jerit Sekar dengan nada penuh penderitaan yang luar biasa murni.

Rahayu tersentak, menoleh bergantian antara anak perempuannya yang histeris dan Bintang yang berdiri mematung. "Nduk... apa maksudmu? Bintang ini yang menolongmu... Dia yang berjuang menarik sukmamu dari Wates Ghaib..."

"Bukan, Ibu! Dia bohong...!" air mata Sekar mengalir kian deras, tubuhnya meringkuk, memeluk kedua lututnya di sudut ranjang persis seperti posisi bertenggernya semalam, namun kali ini dengan gestur seorang korban yang teramat ketakutan.

"Dia yang menjatuhkan Sekar ke dalam sumur gelap itu, Ibu... Selama ini... selama ini Bintang yang menggunakan ilmu hitam untuk mengikat batin Sekar! Dia sengaja membuat Sekar sakit, membuat Sekar gila, supaya... supaya Sekar ketergantungan dan menyerahkan seluruh hidup Sekar pada dia...!"

"Sekar, jaga ucapanmu," potong Bintang, langkahnya maju satu tindak. Suaranya ditekan serendah mungkin, mencoba mengendalikan gejolak amarah dan rasa perih di dadanya. "Aku mempertaruhkan nyawaku di jembatan ghaib. Tubuhmu dikendalikan oleh Kalingga. Jangan biarkan sisa energinya memanipulasi pikiranmu!"

"Kau yang manipulasi semuanya, Bintang...!" teriak Sekar kian kencang, suaranya melengking tinggi hingga memantul di langit-langit kamar yang rapuh.

"Ibu... lihat di bawah tikar tempat dia sering bersila di ruang tamu! Di sana... di sana dia mengubur kain kafan hitam berisi potongan kuku dan rambut Sekar! Dia memakai Ilmu Lintrik dan Kolo Cokro Terbalik untuk merusak sukmaku! Semalam... semalam di dapur, dia memasukkan sesuatu yang amis ke dalam mulutku... Dia memaksaku menelan bangkai-bangkai itu untuk mengunci jin peliharannya di dalam perutku...!"

Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anaknya, wajah Rahayu mendadak berubah drastis. Ingatannya langsung berputar pada kejadian beberapa jam lalu—suara kunyahan basah di dapur, rahang Sekar yang bergeser turun, dan bagaimana Bintang berdiri di sana dengan pisau terhunus tanpa melakukan tindakan fisik untuk menghentikan Sekar.

Naluri seorang ibu yang telah hancur oleh trauma dan kelelahan mental yang ekstrem mulai goyah. Kabut kecurigaan yang sengaja ditiupkan oleh "Sekar" mulai merayap masuk, meracuni logika sehatnya.

"Bintang... apa... apa itu benar?" Rahayu membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Bintang. Pandangan matanya yang semula penuh rasa terima kasih dan hormat, kini perlahan-lahan meredup, digantikan oleh kilatan syak waswas yang dingin.

"Bu, jangan percaya. Itu bukan Sekar yang berbicara. Itu adalah Hasutan Sengkolo. Kalingga tahu dia tidak bisa mengalahkan saya dengan fisik di dunia nyata, maka dia menggunakan lidah Sekar untuk memutus pertahanan spiritual terakhir rumah ini—yaitu kepercayaan batin kalian!" Bintang mencoba menjelaskan, suaranya bergetar menahan desakan darah racun yang kian naik ke tenggorokannya.

"Kau bohong...! Ibu, usir dia...! Kepalaku sakit setiap kali dia merapalkan mantra di dekatku...!" Sekar menjerit lagi, kali ini dia mulai mencakar-cakar sela-sela lantai di sisi dipan, kuku-kukunya yang patah meninggalkan bekas guratan dalam di antara sela tegel tua yang lembap dan berlumut. "Rajah di belikatku... dia yang membuatnya semakin panas! Dia ingin Sekar mati agar jiwaku bisa dia jual kepada penguasa lereng Raung untuk menambah kesaktian ilmunya...!"

Rahayu berdiri dari dipan. Langkah kakinya mundur, menjauh dari Sekar namun juga menjauh dari Bintang. Kebingungan yang luar biasa meremukkan dadanya. Di satu sisi, Bintang adalah pemuda yang selama ini datang sebagai penolong. Namun di sisi lain, sosok yang sedang menangis darah di atas kasur itu adalah anak kandungnya sendiri—darah dagingnya yang tidak mungkin berbohong dalam kondisi sekarat seperti itu, atau begitulah logika manusianya berpikir.

"Bu..." Bintang melangkah maju, mencoba meraih tangan Rahayu untuk menyalurkan sedikit sisa energi murni agar perempuan itu bisa melihat kebenaran.

"Jangan sentuh saya...!" jerit Rahayu tiba-tiba, menepis tangan Bintang dengan kasar.

Wajah perempuan paruh baya itu kini dipenuhi oleh ketakutan murni kepada Bintang. "Sejak kamu datang ke rumah ini... suasana tidak pernah tenang! Rumah saya hancur, anak saya gila, dan semalam... semalam saya melihat anak saya makan seperti binatang...! Jangan-jangan... jangan-jangan apa yang dikatakan Sekar benar? Kamu sengaja membawa badai ghaib itu ke sini agar kamu bisa tampil sebagai pahlawan?!"

Hantaman kata-kata Rahayu terasa lebih menyakitkan bagi Bintang ketimbang patukan ghaib Kalingga di jembatan Wates Ghaib. Dadanya terasa sesak, seolah seluruh pasokan udara di lereng Gunung Raung mendadak lenyap. Pengorbanannya, darah yang dia tumpahkan, dan hancurnya pusaka leluhurnya sendiri... semuanya lenyap dalam sekejap mata, terbakar oleh jalinan fitnah ghaib yang dirajut dengan sangat rapi oleh entitas di dalam tubuh Sekar.

Bintang melirik ke arah Sekar. Di balik tangisan histeris dan tubuh yang bergetar ketakutan itu, seulas senyuman yang sangat tipis—nyaris tak kasat mata—terukir di sudut bibir Sekar yang berdarah. Pupil matanya berkejap cepat, memancarkan kilatan kepuasan ghaib yang dingin. Kalingga berhasil. Dia tahu betul bahwa senjata paling mematikan untuk menghancurkan seorang ksatria spiritual bukanlah ajian pemutus raga, melainkan pengkhianatan dari orang-orang yang dilindunginya.

"Pergi kamu, Bintang... Pergi dari rumah ini...!" Rahayu menunjuk ke arah pintu keluar dengan tangan yang gemetar hebat. "Jangan pernah dekati anak saya lagi! Bawa semua barang-barang mistismu dari rumah ini! Saya tidak mau melihatmu lagi!"

"Bu, kalau saya pergi sekarang, pertahanan tempat ini runtuh. Malam Kliwon berikutnya, raga Sekar akan..."

"PERGI...!!!"

Jeritan Ibu Rahayu menggila, bergema keluar menembus dinding-dinding rumah yang jebol. Dia menyambar sebuah mangkuk tanah liat yang kosong di atas meja, lalu melemparkannya ke arah Bintang. Prang...! Mangkuk itu hancur berkeping-keping di dekat kaki Bintang, menyisakan serpihan tajam yang menggores pergelangan kakinya.

Bintang berdiri diam untuk beberapa detik. Dia tahu, berdebat dengan manusia yang batinnya telah dikuasai oleh kabut trauma dan ketakutan hanya akan sia-sia. Dengan sisa-sisa harga diri dan keteguhan batinnya, Bintang menarik napas dalam-dalam. Dia membungkuk, memungut kain mori berisi patahan Keris Tirto Menggolo di ruang tamu, lalu menyisipkan Pisau Sungsang Buwana dalam-dalam di balik bajunya.

Bintang membalikkan tubuhnya, melangkah keluar melewati pintu depan rumah Sekar. Begitu kakinya menapak di atas tanah pekarangan yang basah oleh embun fajar, angin dingin pegunungan langsung menyergap wajahnya. Langit kian terang, namun kegelapan sejati justru baru saja berpindah tempat—masuk dan menetap di dalam rumah yang baru saja dia tinggalkan.

Dari balik jendela kamar yang terbuka kecil, Bintang bisa melihat sosok Sekar yang kini berdiri tegak di balik tirai. Gadis itu tidak lagi menangis. Dia berdiri kaku, menempelkan wajah pucatnya pada kaca jendela yang berdebu.

Sepasang matanya tidak berkedip, menatap punggung Bintang yang berjalan menjauh menyusuri jalan setapak lereng gunung. Bibirnya bergerak tanpa suara, namun batin Bintang bisa mendengar dengan jelas kalimat kemenangan yang dikirimkan melalui frekuensi ghaib:

“Kau... kalah... cacing... tanah... Raga... ini... milikku... sepenuhnya...”

Bintang tidak menoleh ke belakang. Dia terus berjalan menjauh, menembus kabut kelabu Raung dengan dada yang bergemuruh. Satu-satunya pelindung raga Sekar kini telah terusir oleh tangan keluarganya sendiri. Di dalam rumah yang lapuk itu, Rahayu kini tinggal berdua saja dengan sosok yang dia kira adalah anak perempuannya... tanpa menyadari bahwa dia sedang mengunci dirinya sendiri di dalam kandang bersama seekor siluman ular yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menelan seluruh sisa keturunannya hingga habis tak bersisa.

1
Tina Martince
anak kandung loh 🤭,penasaran ikutin cerita ini ya...😍
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
ibu nya sekar aneh ...
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wajah tampan kalingga terlalu mempesona yaa sekarr😂
Tina Martince: 🤭 ya terlalu mempesona
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
perjanjian apa ,
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
lahir nya sekar tibo weton wingit
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
harusnya ibu nya sekar lebih jujur
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!