DALAM PROSES EDIT, MOHON MAAF ATAS KETIDAK NYAMANANNYA
mature content 💏
harap bijaksana dalam membaca, usia diharapkan diatas 18++
menjadi istri kedua bukan keinginanku, karena sejatinya aku tak ingin berbagi
~alana mahen~
aku mencintai sahabat masa kecilku disaat aku juga memuja wanita lain
~narendra sakabumi~
yang suka baper akan cerita poligami lebih baik melewatkan cerita ini
~author~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nophie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24. Kejutan part 2*
Setelah telepon ditutup oleh Saka, dan Lio sudah memerintahkan anak buah yang lain yang stand by di heli
untuk menjemput Saka di Singapura, kembali ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk.
“Hmm..” jawab Lio setelah ia tahu kalau yg menghubungi adalah anak buah yang disuruh
mencari info pemeriksaan apa yang Alana jalani di Rumah Sakit Ibu dan Anak.
“…”
“Kirimkan salinan hasil pemeriksaan dan hasil USG nya ke email ku. Segera!!” perintah Lio sambil menutup teleponnya sepihak.
Lio menimbang nimbang, enaknya langsung ngomong ke tuannya atau tidak, melihat
kondisi tuannya yang sedang ingin makan orang, maka Lio memutuskan untuk
bercerita saja, daripada nanti dirinya yang kena getahnya.
Lio segera menelepon tuannya, dan langsung diangkat oleh tuannya.
“Apa yang ingin kau laporkan?” tanya Saka dengan nada dingin.
“Ibu Alana hamil sekitar 4 - 5 minggu!” jawab Lio tanpa basa basi.
“Apa? “
“Ibu Alana hamil sekitar 4 - 5 minggu!” ulang Lio lagi.
“Kamu tidak perlu mengulangnya, aku tidak tuli, Lio. Aku hanya kaget, karena ini kejutan buatku!”
katanya sambil tersenyum. Tentu saja Lio tidak dapat melihat senyum Saka, tapi Lio merasa suara tuannya menjadi antusias dan gembira pastinya.
“Mungkin ibu Alana memang ingin membuat kejutan buat tuan?” tanya Lio.
“Hmm, mungkin begitu Lio! Oke kutunggu jemputanmu! Jangan beritahu Alana, biarkan aku memberi kejutan balik.”
“Baik! Orang kita sudah otw, saya tunggu tuan di kantor ini!” sahut Lio lagi.
“Aku bakal jadi bapak, Lio! Kamu sudah minta salinan hasil periksa Alana tadi?” tanya Saka
lagi dengan nada gembira.
“Sudah , bahkan saya juga mendapatkan salinan hasil USG nya... akan saya kirim langsung ke email pribadi tuan!” sahutnya lagi.
“Bagus!! Aku langsung cek email. Sampai ketemu di kantor. Tetap awasi ibu Alana. Saya gak mau dia kenapa kenapa!” kata Saka lagi lagi sambil kembali menutup teleponnya sepihak.
***
“Pak, kita langsung pulang saja kerumah mama, saya mau jemput Genta dulu. Saya lelah!” kata Alana memerintah pak Sonny untuk segera menuju rumah mamanya, setelah pertemuannya yang cukup lama dengan dokter Clara tadi, hampir 3 jam.
“Baik, bu!”
“Pak Sonny sudah makan siang?” tanya Alana lagi sambil memijit mijit keningnya yang tiba
tiba sakit.
“Sudah bu. Ibu terlihat sangat pucat. Apa ibu sudah makan?” tanya supir itu dengan nada
khawatir. Karena tadi Lio sudah memerintahkan pak Sonny untuk lebih
memperhatikan dan menjaga nyonya bosnya itu. Dan perintah itu langsung datang
dari tuannya.
“Saya sudah makan siang, tapi emang gak banyak, karena saya gak selera makan. Kepala saya tiba tiba pusing sekali.” Jawab Alana sambil menyenderkan kepalanya ke sandaran mobil, karena kepalanya begitu berat.
“Apa ibu langsung pulang aja, nanti Hartin sama den Genta biar saya aja yang jemput.
Kasihan ibu Alana. Apa ibu mau saya antar ke dokter atau balik ke rumah sakit
tadi?” saran pak Sonny, karena ia sudah mendapat mandat untuk lebih ekstra
memperhatikan ibu bosnya.
“ Saya gak pa pa, paling saya kecapean, saya tadi sudah minum obat dan vitamin kok! Saya
langsung pulang saja, nanti si Hartin sama Genta, pak Sonny aja yang jemput
ya?” sahut Alana lemah. Dia seperti mau pingsan. Perutnya bergolak, kepalanya
pusing. Dia tahu kalau dia sedang berbadan dua. Mungkin dia terlalu lelah
sedari pagi sudah keluar dan akhirnya menunggu dokter Clara makan siang dan
ngobrol sampai hampir 3 jam , sehingga kondisi tubuhnya drop.
“Baik bu, saya nyetirnya pelan kok!” jawab pak Sonny lagi sambil melirik spion belakang,
mencuri curi pandang kondisi ibu bosnya yang tampak sangat lemas.
Saat berhenti di lampu merah pak Sonny bahkan juga memberitahukan kondisi Alana yang sudah sangat lemas kepada pak Lio, meminta saran apa yang harus dia lakukan
dalam kondisi seperti ini. Kabar tentang kondisi Alana langsung disampaikan Lio
kepada Saka yang baru saja nyampe dikantor.
Pak Sonny masih mencuri lihat kondisi Alana yang sangat lemas. Langsung berinisiatif memutar arah mobilnya menuju rumah sakit.
“Bu… Bu Alana.” Panggil pak Sonny saat melihat Alana memejamkan mata begitu lama.
“Wah gawat ini….” Pak Sonny langsung memencet no telpon Lio dan mengabarkan kalau dia akan balik ke rumah sakit yang tadi, karena Alana kayaknya pingsan.
Saka yang baru saja sampai ke kantor sontak menjadi khawatir dan menyuruh Lio untuk
segera mengantarnya ke rumah sakit itu.
Dan Saka tiba duluan, karena rumah sakit tersebut sangat dekat dijangkau dari kantor
Saka.
“Lala… sayanggg, kamu kenapa.?” Tanya Saka khawatir saat melihat Alana didalam mobil
yang dikendarai pak Sonny baru saja masuk area lobby rumah sakit.
Saka langsung menggendong Alana dan menaruhnya ke brankar yang sudah disediakan disana.
“Lio, kamu urus semua administrasi dan minta dokter Clara langsung menangani Alana.” Perintah Saka kepada Lio yang langsung dikerjakan Lio tanpa banyak bertanya.
“Lala… sayanggg, bangunnn. Ini aku sayanggg” ujar Saka sambil menggoyang goyangkan bahu Alana yang tertidur di brankar menuju ruang gawat darurat.
“Maaf pak! Bapak tunggu dulu sebentar, biar pasien kami tangani.” Potong suster muda yang melarang Saka untuk mengikuti Alana masuk ke ruang tindakan gawat darurat.
“Sus, tolong… istri saya sedang hamil.” Sergah Saka sambil mengacak rambutnya lagi
dengan frustasi.
“Bapak tenang dulu. Kami sedang membantu istri bapak.” Kata suster sambil menutup
ruang gawat darurat, sehingga Saka hanya bisa mondar mandir di ruang tunggu UGD,
yang sesaat kemudian disusul oleh Lio yang sudah mulai sibuk menelepon.
“Siapa yang kamu hubungi?” tanya Saka dengan nada ketus.
“Saya memberitahu mama Lina supaya Genta disana saja, karena mommynya lagi sakit.”
Sahut Lio dengan nada datar.
“Mama tahu Alana di rumah sakit?” tanya Saka.
“Iya tuan, saya bilang tuan Saka juga sudah datang kemari menunggu ibu Alana. Dan ibu Lina gak usah khawatir” Sahut Lio lagi.
“Tapi mama belum tahu kalau Alana hamil kan?” tanya Saka lagi.
“Belum, tuan! Saya juga sudah menghubungi tuan besar dan nyonya besar.” Lanjut Lio.
“Tapi kamu tidak kasih tahu kalau Alana hamil kan?” tanya Saka lagi dengan nada tinggi.
“Belum, tuan!”
“Bagus! Biar aku saja yang kasih tahu.” Lanjut Saka, sambil masih mondar mandir kesana
kemari dengan gelisah.
“Bos… “ panggil Lio dengan nada ragu.
“Apa???” sergah Saka dengan suara ketus.
“Duduklah dulu bos. Jangan khawatir, ibu Alana pasti kuat dan tidak kenapa kenapa.” Lanjut Lio dengan maksud
menghibur tuannya.
“Hmmh!”
“Keluarga ibu Alana..”
“Saya suaminya..”
“Istri bapak sudah sadar, cuman kelelahan dan kurang nutrisi, karena istri anda kan sedang hamil.” Jelas dokter pria yang berkacamata menjelaskan keadaan Alana yang tiba tiba pingsan.
“Saya tahu… apakah saya perlu berkonsultasi dengan dokter Clara? Karena tadi siang istri saya sudah menemui dokter Clara untuk memeriksakan kandungannya.” Jelas Saka kepada dokter yang berkacamata tadi.
.
.
.
TBC