Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 ~ Rasanya itu la-la-la
Rasa pusing dan panas yang mendera membuat Loui nyut-nyutan, berapa kiranya dosis yang Cameron taruh untuknya, si alan! Bitcchhhh!
Sekilas ia melihat senyum menyeringai Cameron, wanita itu membukakan pintu kamar hotel pesanan mereka.
Oscar tak yakin akan hal ini, ia sampai berjaga di pintu bersama dua anak buah lainnya yang sebelumnya sudah ia panggil.
"Datanglah padaku, Lou...nikmatilah aku untuk yang terakhir kalinya," seringai Cameron sudah menggeliat layaknya cacing kena air garam, namun saat ia telah membuka pakaiannya setengah telan jankk dan mendorong Loui ke atas ranjang serta merangkak menaiki Lou, seketika Loui membalikan posisi mereka, diantara rasa sakit yang menyerang, Loui mengungkung dan mencekik Cameron.
"Kau pikir aku tak tau, bitttchhh! Jika kau sedang menjebakku. Apa kau tak tau, sekarang sedang menggali kuburanmu sendiri karena sudah berani berurusan denganku?!"
"Aa--" Cameron mendadak membeliak karena cekikan kencang Loui dan hampir kehabisan oksigen, suaranya tercekat di tenggorokan dan badannya melengkung.
Loui menyeringai, "go to the hell jaa lankk." Loui mencabut pisau lipat yang dibawa Cameron di bawah kakinya yang ternyata sejak awal pertemuan mereka dibawanya di balik gaun kurang bahannya itu.
"Sampaikan pada malaikat kematian, jika aku tak bisa mati bersamamu untuk saat ini..."
Loui mengecup dan menji lat cuping kuping Cameron lalu berbisik, "karena aku akan menjadi seorang ayah..." Loui melempar pisau itu hingga membuatnya tertancap di pintu toilet kamar tersebut layaknya panah.
"Oscarrr!" teriak Loui, membuat pintu terbuka menampakan Oscar di sana.
"Bereskan ja lankkk ini, apakah Rinjani sudah kau jemput?!"
Oscar mengangguk. Loui melepaskan cengkraman tangannya di leher Cameron sehingga wanita itu menge rang kesakitan dan bernafas kembali, namun itu tak berlangsung lama karena sepeninggal Loui, kini giliran Oscar yang melakukan aksinya bersama anak buah Loui yang lain, sementara Loui keluar dan memasuki kamar sebelahnya.
Ia sempat terjatuh di lantai kamar karena rasa pening dan hawa panas serta sakit yang mendera, tapi ia beruntung memiliki asisten seperti Oscar yang gesit dan cekatan.
Mengetahui Loui yang mengonsumsi obat perang sang dalam dosis cukup banyak, Oscar segera bertindak. Ia juga mengetahui jika semua itu adalah perangkap untuk membunuh Loui dari gelagat Cameron yang mencurigakan, saat Cameron menempel padanya Loui dapat merasakan jika wanita itu menyembunyikan pisau di betisnya.
Sesegera mungkin saat Loui meminta pulang dan mengambil mobil, Oscar meminta Stainley membooking 2 kamar hotel dan beberapa anak buah lainnya, serta Mathew membawa Jani untuk Loui.
Jani masih diam melihat Mathew, namun dering telfon jelas tak bisa diabaikan.
"Holla?"
Alis Jani naik ketika tatapan Mathew beralih padanya meskipun telinganya masih mendengarkan lawan bicaranya di sebrang sana berbicara.
"Ya." tutupnya.
"Ada apa Mat?"
"Tuan Lou meminta nona untuk datang ke suatu tempat," jawab Mathew menghela nafasnya, sudah ia duga dan Mathew tau resikonya menjatuhkan hati pada Rinjani akan begini.
"Loui? Ada apa? Bukankah ia sedang bersama wanita uget-ugetnya?!" cebik Jani mendadak kesal dan melipat kedua tangan di dadha setelah sebelumnya menaruh mangkuk gellato.
"Tuan Lou meminta nona untuk berangkat segera," ujar Mathew lagi, Jani menatap Mathew ragu namun tak urung ia beranjak, "aku tak mau lama-lama disana, bilang itu pada tuanmu." Jawab Jani.
.
.
.
"Ini hotel?!" Jidat Jani berkerut mendongak melihat gedung di depannya.
"Apa yang ingin ia lakukan?!" seru Jani sewot, pikiran buruk dan bayang-bayang hal yang tidak-tidak mulai menari-nari di otak Jani.
"Apa dia gilaa?!! Mau pamer gaya atau bagaimana?!!" sewot Jani sudah dilanda emosi dengan pipi yang menggembung macam ikan fugu. Mathew tersenyum, "aku tak tau. Tuan sudah menunggu di dalam, nona."
"Dasar lelaki si alan! Breng sek'nya diabisin sendiri!" umpat Jani sepanjang langkahnya memasuki hotel diikuti Mathew.
"Dimana lelaki terkutuk itu berada sekarang, biar ku sunatt?!" tanyanya menyalak.
"Biar aku tunjukan," Mathew memencet tombol lift yang membawa mereka ke lantai atas.
"Borokokok, cih!" kembali ia mengoceh di dalam lift kalo hotel tuh bawaannya kan negatif thinking, Mathew melirik Jani yang sejak tadi mengumpati Loui dengan kata lelaki breng sek dan borokokok, mungkin pikiran Jani dan dirinya berbeda, jika Jani berpikir Loui akan pamer bojo, maka yang dipikirkan Mathew adalah Loui yang akan mengajak Jani untuk melakukan lagi kesalahan yang indah bersama.
Hening, setelah Jani menghentikan ocehannya. Hingga terdengar suara denting pintu lift yang terbuka menampakan koridor hotel sepi dengan karpet tebal dan suasana nyaman khas hunian sementara bintang 5.
Hanya terdengar suara langkah teredam karpet yang mengisi pendengaran, netra Jani dapat melihat dua sampai 4 orang anak buah Loui di depan kamar.
Ia menoleh ke samping, saat Mathew menghentikan langkahnya, "tuan Lou sudah berada di kamar." ucapnya meredup.
"Apa aku harus masuk? Bagaimana jika aku hanya dijadikan penonton adegan kurang aj ar yang tak mendidik?!" tanya Jani, Mathew mengulas senyumnya tanpa berkata apapun.
Tangan-tangan lentik itu membuka handle pintu kamar. Perlahan-lahan sosok cantik Jani hilang ditelan pintu kamar, Mathew lantas meneruskan langkahnya, "dimana Oscar dan Stainley?" tanyanya pada salah satu anak buah.
"Di kamar 508."
Jani mengernyit, kesan pertamanya adalah hening dan gelap, semua tirai tertutup, meskipun cahaya dari luar tetap dapat masuk sedikit.
"Apa-apaan nih, gelap begini?" gumamnya mengedarkan pandangan, ia mengeratkan cengkramannya pada tali tas selempangnya.
"Lou..." panggil Jani, tak ada jawaban dari lelaki gila itu, Jani berinisiatif mencari saklar lampu, namun dengan mulai meraba dinding di sampingnya. Agar tak terpentok, Jani berjalan sedikit demi sedikit.
Grep!
Tiba-tiba Jani dikejutkan dengan sesuatu yang dingin memeluknya, kulit basah dan beraroma maskulin yang sangat Jani kenali.
Sejenak ia terdiam demi menetralkan keterkejutannya, namun rupanya makhluk yang sedang memeluknya itu sudah merambah nakal menyusuri tengkuk yang terhalangi rambut.
"Rinjani, tolong aku." bisiknya membuat kulitnya meremang. Wanita itu memutar badannya demi melihat siluet sosok yang ia kenali, "Lou, apa yang---" Loui langsung membungkam mulut Jani dengan mulutnya.
Dan terjadi lagi, mencum bu Jani tanpa ijin dan aba-aba, membuat Jani memukul-mukul dadha telan jankk Loui.
Loui berat melepas paguu tannya itu, namun ia sadar untuk saat ini ia sedang meminta tolong pada Rinjani, entah perasaan yang datang darimana, namun itu mengatakan jika ia harus menghargai Jani untuk kali ini, meskipun hawa panas dan pening itu belumlah reda padahal Loui sudah mencoba meredakannya dengan merendam badannya di bathtube berisi air es, Loui juga mengonsumsi ibuprofen demi mengurangi rasa sakit di kepala, namun rasa horr nnyy itu tak kunjung reda.
"Loui!" sentak Jani mendorong dan menahan dadha Loui ketika lelaki itu sudah memeluk Jani erat.
"Apa yang kau lakukan!" bayangan malam itu kembali terputar di otak Jani.
"Aku dijebak Rinjani, bisakah kau menolongku kali ini..." ujarnya memohon.
"Apa maksudmu? Dijebak bagaimana?!"
Namun sungguh Loui tak ingin ceramah apalagi kumur-kumur saat ini, rasa hawa panas yang mendera ingin segera ia tuntaskan dan salurkan. Sampai manapun otaknya berputar, akan kembali pada nama Rinjani, sungguh hanya Rinjanilah wanita yang tepat untuknya menyalurkan haz ratt.
"Layani aku, kalaupun kau meminta bayaran akan kubayar berapa pun yang kau mau...aku janji melakukannya dengan pelan dan lembut," mohonnya, meskipun gelap, namun Jani tetap bisa melihat sorot mata memohon dari Loui lewat cahaya yang menyelinap dari celah-celah gorden karena hari yang masih siang.
"Please," Loui memohon, tubuhnya menghianati hati dengan mengangguk setuju, otaknya kini tak bekerja sesuai kemauan, Jani mengangguk setuju dengan sikap sopan Loui, meskipun ia tau itu salah.
Tanpa harus menunggu sampai liberty joget caesar Loui segera melancarkan aksinya menuntaskan libi do.
Ditangkupnya kedua rahang Jani lembut untuk selanjutnya ia tenggelamkan dirinya dalam kehangatan dan rasa manis Rinjani.
"Katakan jika aku menyakiti kalian berdua," Loui berkata setelah melu cuti pakaian Jani dan handuknya lalu membaringkan Jani di peraduan.
Dan setelah itu yang terdengar hanyalah suara kenikmatan dunia dari kedua insan ini. Loui begitu menjaga agar tak menyakiti Jani dan calon putranya kali ini.
.
.
.
.
.
.
.
etdah teh sih itu hadiah ga slah ampe 10 pintu tuh kulkas😂😂