"Aku ingin mati saja, buat apa aku hidup toh semuanya sudah berakhir. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi dari diriku. Semuanya telah hancur. Keluargaku akan hancur bila mengetahui ini semua, akulah kebanggaan mereka tapi kini leyaplah semua" ucapku dengan melempar buku-buku. Aku duduk terdiam dengan fikiran menerawang entah apa yang aku fikirkan. Aku gak punya semangat lagi, seakan semuanya musnah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 UNGKAPAN PERASAAN FAREL
Najwa pun segera masuk kamar untuk membersihkan badan yang sudah terasa lengket. Setelah selesai Najwa merebahkan badannya karena Najwa begitu lelah. Tak berselang lama Najwapun menemui mimpi.
*********
Ditempat lain, Farel habis mandi dan dirinya memilih merebahkan badannya sambil senyum-senyum sendiri bila ingat Najwa.
"Naj kamu benar-benar lucu. Entah sampai kapan aku akan menunggu Naj, apa aku harus segera mengungkapkan perasaanku padamu sebelum ada orang lain yang mendahuluinya. Tapi apa kamu akan menerimaku? " Farel hanya bisa bertanya-tanya karena dia masih ragu untuk mengungkapkan perasaannya. Namun perlahan lahan Farel mulai terlelap.
Keesokan paginya Farel bangun pagi dan sudah siap, rencana pagi ini Farel akan menjemput Najwa karena motornya masih di bengkel. Sejak menarih perasaan pada Najwa, Hari-hari Farel terasa happy, dia selalu semangat untuk kekantor. Rasanya ada yang kurang kalau tidak melihat pujaan hati yang selama ini hanya bisa mencintai dalam diam. Farel segera memasuki mobilnya dan segera meninggalkan halaman rumahnya. Dia mengendarai mobilnya sambil bersiul-siul, entah kenapa mood dia hari ini sangat bagus, hatinya begitu bahagia yang sebentar lagi akan melihat senyum Najwa yang selalu mengganggu pikirannya. Perlahan mobil memasuki halaman rumah Najwa, Farel dikagetkan dengan adanya mobil yang sangat dia kenal yaitu mobil arif.
"Ngapain arif kesini, kurang ajar dia sudah berani deketin Najwa. Awas kamu rif" Batin Farel geram. Farel turun dan melihat arif yang sedang duduk diruang tamu. Arif kaget karena melihat atasannya yang juga ada di rumah Najwa.
"Loh pak Farel juga disini? " Tanya arif agak kaku karena arif tahu akan perasaan atasannya selama ini.
"Kenapa kamu juga ada disini? " Farel balik bertanya dengan tatapan tajam.
"Owww itu... Tadi Najwa telfon minta dijemput pak" Jawab arif lagi dengan wajah tegangnya.
"Oke tapi sekarang sudah ada aku jadi kamu bisa kekantor duluan aja, lagian aku sama Najwa nanti mau ke bengkel dulu mau melihat motornya, satu lagi jangan coba-coba deketin Najwa kalau kamu gak mau cari gara-gara sama aku. Kamu dari dulu sudah tau gimana perasaan aku sama Najwa, kalau kamu tetap deketin dia jangan salahkan aku kalau aku bisa bertindak tegas sama kamu. Sekarang kamu kekantor duluan" Bisik Farel ditelinga arif, arif langsung diam membisu melihat raut wajah atasannya yang sudah emosi.
"Saya gak bermaksud untuk mengkhianati bapak, saya cuma ingin bantu Najwa ketika dia butuh bantuan saya, saya minta maaf kalau sudah lancang dekat sama Najwa pak" Ucap arif lagi menjelaskan agar atasannya tidak salah paham.
"Kamu...... " Belum selesai Farel bicara, Tiba-tiba Najwa datang.
"Loh pak Farel juga ada disini? Maaf Pak tadi saya minta tolong mas arif buat jemput saya karena saya berniat mau minta anter juga ke bengkel" Najwa menjelaskan kepada bosnya yang super dingin kayak kulkas berjalan.
"Oww begitu tapi sama saya saja ke bengkelnua soalnya arif ada sesuatu yang harus dia urus, bukannya begitu Rif" Ucap Farel minta persetujuan arif.
"Iya Pak. Maaf Naj tadi aku lupa kalau aku harus ngurus sesuatu, yaudh aku pergi duluan ya maaf gak bisa antar kamu" Arif mengundurkan diri dn segera masuk kedalam mobilnya dan segera meninggalkan kontrakan Najwa.
"Kenapa kamu tidak telfon saya, tadi malam kan saya sudah bilang kalau mau jemput kamu Naj" Tanya Farel dengan suara selembut mungkin agar Najwa tidk merasa ketakutan.
"Saya gak enak kalau harus merepotkan bapak" Senyum Najwa untuk menutupi kegugupan nya.
"Yaudah ayo berangkat" Farel bergegas keluar dn membukakan pintu untuk Najwa. Najwa masuk dengan perasaan kacau karena bosnya hari ini sangat berbeda. Biasanya bosnya ini sikapnya dingin dan cuek, Tiba-tiba hari ini es itu cair dan juga lembut banget suaranya. Najwa merasa ada yang beda dengan hatinya cuma Najwa berusaha menepis nya karena dia belum bisa melupakan sosok suaminya. Meski sudah 4 tahun panji pergi meninggalkannya tapi bagi Najwa sosok panji sulit untuk tergantikan. Entahlah sampai kapan dia bisa bertahan dengan kesendiriannya. Tapi Najwa tidak menutup diri, siapapun nanti yang bisa membuatnya nyaman mungkin Najwa akan membuka hatinya. Sepanjang perjalanan Najwa dan Farel hanya diam dan sibuk dengan fikiran masing-masing. Najwa melihat-lihat kearah luar, Najwa heran karena jalannya beda bukan kearah bengkel yang memperbaiki motornya.
"Pak perasaan ini bukan jalan yang menuju ke bengkel ya?" Tanya Najwa heran.
"Emang bukan" Jawab Farel singkat.
"Kita mau kemana pak? " Najwa masih diliputi rasa penasaran karena sebelumnya bosnya ini tidak memberitahukan kalau mau pergi kelain tempat. Najwa masih melihat kearah bosnya yang hanya senyum saja menanggapi pertanyaan Najwa.
"Udh ikut aku aja, nanti kamu juga akan tahu" Jawab Farel yang masih dengan senyum manisnya, siapapun yang melihat senyumnya akan hilang ingatan sakit manisnya sampek teler. (Hiiiiiiiii kayak apaan aja ya. )
Mobil Farel berhenti di suatu tempat yang benar-benar indah tiada tara. Tempatnya diatas bukit yang apabila melihat kebawah seakan akan melihat seluruh rumah-rumah penduduk Indonesia. Najwa dibuat takjub melihat pemandangan yang baru kali ini dia lihat. Dia jadi teringat akan kampung halamannya.
"Saya jadi kangen kampung halamannya saya pak" Najwa merasa sedih karena dia sudah lama tidak pulang.
"Yaudah besok kita kekampung kamu aja" Ucap Farel dengan santainya. Najwa dibuat kaget mendengar ucapan suaminya. Dia masih belum percaya kalau bosnya itu bisa bicara seperti itu.
"Yeee bapak mah ada-ada aja, mana bisa saya pulang kampung kan saya belum dapet cuti"
" Ngapain pakek nunggu cuti, kan perginya sama aku, aku pemilik kantor itu jadi jangan khawatir" Najwa dibuat kaget kembali.
"Maksud bapak? " Najwa belum selesai kaget, sekarang dibuat kaget kembali saat Farel meraih kedua tangan Najwa. Hati Najwa dah dig dug gak karuan.
"Naj mungkin saat ini waktunya aku mengungkapkan semuanya. Selama ini aku menyukai kamu Naj, cuma aku hanya bisa diam karena aku memberi kamu waktu untuk bisa menerima kepergian suamimu. Namun sekarang sudah 4 tahun kamu sendiri menurut aku sudah cukup kesendirian kamu. Aku sudah tidak mampu lagi menahan rasa ini Naj, aku berharap kamu mau memberikan aku kesempatan untuk bisa membahagiakan kamu. Mungkin aku tidak bisa seromantis pria lainnya tapi demi kamu aku memberanikan diri untuk mengungkapkan ini semua" Ucap Farel dengan wajah penuh pengharapan.
"Saya gak tau pak harus bilang apa karena saya masih kaget. Beri saya kesempatan untuk mempertimbangkan semuanya ya pak" Najwa masih ingin meyakinkan lagi perasaannya.
"Baiklah... Minggu depan aku akan menunggu kamu di cafe dekat kontrakan kamu. Kalau kamu datang berarti kamu memberikan kesempatan untuk kita lebih dekat lagi" Farel menatap Najwa meminta persetujuannya. Najwa pun menganggukkan kepala tanda setuju. Merekapun duduk dan menikmati makanan yang tadi sempat Farel pesan. Mereka diam membisu karena masih grogi gara-gara percakapan tadi. Najwa masih berusaha tenang walau sebenarnya hati dan gilirannya kagi kacau.
"Pak apa tidak apa kalau kita telat kekantor nya, takut karyawan lain menilai saya gak disimpan karena datang telat"
"Kamu kan lagi sama aku Naj, siapa yang berani komplin"