Diana seorang gadis yang tidak pernah kenal siapa orangtua kandungnya bertemu dengan Adi Pramono seorang Presdir secara tidak sengaja bertemu di taman.
****
"Diana." Teriak Beni cukup keras sehingga orang-orang melihat Beni.
Diana tersentak kaget mendengar suara papanya yang cukup keras, tiba-tiba rasa takut menghampirinya.
"Apa papa marah padaku, tidak pernah papa teriak sekeras itu padaku." pikir Diana.
Beni berjalan dengan sangat cepat, dan terlihat Meri tersenyum sangat manis pada Beni.
Seketika Meri merasa ketakutan melihat Rudi masuk bersama polisi. Beni dan Rudi telah melaporkan kejahatannya pada polisi dan bukti yang mereka miliki tidak bisa disangkal Meri meskipun kejadian bertahun-tahun yang lalu.
Meri marah pada Beni karena Diana dan akhirnya melampiaskan kemarahannya dengan mengatakan semua rahasia yang selama ini ditutupi Beni.
"Anak haram, kamu itu anak haram Diana." ucap Meri membuat Diana terkejut dan terpukul hingga memutuskan untuk lari menjauh dari mereka semua. Diana terus berlari sampai dia lelah dan akhirnya berhenti di sebuah taman dan menangis tersedu.
"Hapus air matamu. Kau mau disini terus atau ikut denganku?" ucapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darmayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua empat
Diana merasa kesal dengan ucapan Meri, dan Meri melihat gelagat Diana mulai tidak menyukainya. Melihat itu Meri mengalihkan pembicaraan.
"Diana, rencananya berapa hari disini?"
"Belum tahu tante." jawab Diana ketus.
"Jangan ketus gitu dong jawabnya, ya udah tante minta maaf ya."
"Nggak apa-apa tante."
"Kalau kamu masih lama disini tante mau ajak jalan-jalan, kan sayang jauh-jauh kamu kesini nggak nikmatin daerah ini, rugi lho." tawaran Meri membuat Diana tersenyum melupakan perkataannya tadi.
"Emang boleh tante?"
"Itu sih tergantung kamu mau atau tidak?"
"Boleh tante, lagian Diana juga bosan di penginapan terus."
"Oke, ohya ini kartu nama tante, nanti kamu hubungi tante ya kapan kamu bisa jalan. Tante senang jalan-jalan cuma ya nggak ada teman yang bisa diajak jadi tante suka pergi sendiri."
"Siap tante, tapi Diana izin sama papa dulu ya."
"Emang nanti bakal diizinkan papa jika Diana bilang. Emang papa bolehin Diana pergi sama orang yang baru Diana kenal?"
"Nggak tahu juga tante, karena selama ini Diana jarang keluar rumah untuk main."
"Ya udah besok kabarin tante saja ya, kita janjian didepan penginapan saja."
"Oke tante."
"Ya sudah balik yuk, ini udah cukup lama kita pergi takutnya kamu di cariin papamu."
"Astaga tante, iya Diana lupa pasti papa udah nyari kemana-mana nih, Diana juga lupa bawa telepon genggam lagi."
"Buruan kalau begitu, tante antar kamu ke penginapan lagi."
Kemudian Meri dan Diana pergi ke penginapan. Benar saja di depan penginapan terlihat Beni sibuk mondar mandir sambil melihat ke kiri dan kanan.
"Tante, Diana turun disini saja deh jangan sampai ke depan."
"Emang kenapa Diana?"
"Itu ada papa, Diana takut dimarahi ntar nggak boleh pergi lagi sama tante."
"Apa nggak sebaiknya tante minta maaf sama papamu sekalian tante kenalkan diri."
"Jangan deh tante. Disini saja."
"Ya sudah deh, jangan lupa hubungi tante ya. Da Diana."
"Oke tante, sampai jumpa lagi."
Diana setengah berlari menuju penginapan, wajahnya terlihat khawatir karena takut papa nya akan marah.
Dari jauh Beni melihat Diana berlari-lari kecil.
"Ah anak ini akhirnya nongol juga." ucap Beni.
"Papa." teriak Diana.
"Darimana saja gadis kecil papa ini heh baru pulang, nggak kasih kabar." cecar Beni
"Hehehe, maaf pa. Diana cari makan. Diana lapar pa, penginapan disini nggak nyiapin makanan terpaksa Diana cari keluar. Maaf ya papa."
"Ya sudah, lain kali jangan hilang lagi ini daerah baru bagimu Din nanti terjadi sesuatu bagaimana, lagian tuh telepon mu pake ditinggal segala."
"Maaf pa, Diana lupa bawanya, habis tadi Diana benar-benar lapar jadi mau buru-buru. Ini aja Diana nggak bawa uang."
"Lha nggak bawa uang gimana trus kamu bayar makannya pake apa, apa pake daun Diana."
"Hahaha, papa lucu mana ada bayar pake daun ya pakai uang lah pa. Anu itu tadi ada tante-tante nabrak Diana, eh ternyata tantenya baik lho pa, dia traktir Diana. Hitung-hitung permintaan maaf katanya."
"Ya sudah terserah kamu, ingat lain kali bawa teleponmu."
"Iya pa."
Kemudian mereka berdua masuk ke penginapan, berjalan ke lobi. Beni mengajak Diana ngobrol disana.
"Pa, besok apa boleh Diana pergi sama tante itu lagi. Tante itu mau ngajak Diana jalan-jalan pa lumayan kan pa, selagi ada disini."
"Apa kamu yakin, tante itu baru kamu kenal lho Din."
"Tante nya baik kok pa, papa nggak usah khawatir."
"Eh pa, kita sampai kapan disini?"
"Emang kenapa Din, kamu mau kembali segera?"
"Nggak pa, Diana masih kangen sama mama."
"Rencana papa mau balik sekitar 3 hari lagi, papa juga mau berkunjung ke tempat teman papa."
"O." jawab Diana singkat.
"Pa Diana boleh ya pergi sama tante tadi, boleh ya pa. Diana janji nggak nakal kok pa, dan bawa telepon, nanti Diana akan kabarin papa deh."
"Kamu ini Din. Ya sudah boleh asal kamu pulangnya jangan lama-lama."
"Oke papa, Diana sayang papa."
"Alah kamu Din ada maunya baru bilang sayang."
"Papa mulai deh ngejek Diana."
"Yuk ke kamar, papa mau istirahat rebahan pegal pinggang dan kaki papa berdiri lama nungguin kamu tadi."
lagi vakum nulis novelnya, sekali lagi maafya. mgkn nanti dilanjutkan lagi 🙏🙏🙏