Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Musuh Tanpa Wujud dan Keterbatasan Fana
Suara deru badai yang memekakkan telinga mendadak lenyap begitu Awan melangkahkan kakinya melewati ambang pintu perunggu raksasa Menara Warisan Pusat.
Di belakangnya, pintu perunggu itu menutup dengan suara dentuman berat yang menggema, mengisolasinya dari dunia luar. Awan berdiri dalam keheningan yang mencekam. Ruangan di lantai pertama menara ini sangat luas, berbentuk melingkar dengan dinding batu hitam yang dipenuhi ukiran rahasia yang berpendar redup.
Awan menarik napas panjang, mencoba menenangkan sisa-sisa adrenalin di tubuhnya.
Ia menatap telapak tangannya. Meski berhasil menembus Badai Pemotong Tulang tanpa luka luar, ia tidak kebal sepenuhnya. Hantaman angin tingkat tinggi tadi telah menguras staminanya, dan otot-ototnya terasa pegal karena harus terus-menerus menegang dalam mode pertahanan absolut.
"Tubuhku sekeras baja, tapi baja yang terus-menerus dipukul pada akhirnya akan lelah juga," gumam Awan. Ia menyadari satu hal penting: ia mungkin setara dengan kultivator Alam Fondasi Roh dalam hal daya tahan, namun ia tidak memiliki regenerasi energi. Kultivator bisa menyerap Qi alam untuk memulihkan diri, sedangkan Awan hanya mengandalkan kalori dari daging siluman dan waktu istirahat fisik.
Tiba-tiba, ukiran di dinding batu hitam itu bersinar terang. Suara mekanis kuno tanpa emosi bergema dari langit-langit menara.
"Ujian Lantai Pertama. Tantangan Ilusi Tak Berwujud. Menguji Pemahaman Dao. Dimulai."
Begitu suara itu menghilang, udara di tengah ruangan mulai berputar. Asap putih keabu-abuan mengepul dari lantai ubin, perlahan berkumpul dan membentuk sesosok manusia yang terbuat murni dari kabut dan angin. Makhluk itu tidak memiliki wajah, hanya sepasang mata kosong bercahaya biru, dan memegang sebilah pedang yang juga terbuat dari angin kencang.
Itu adalah Roh Penjaga Kabut.
Awan tidak membuang waktu. Di dunia yang kejam ini, menunggu musuh bersiap adalah kebodohan. Ia menurunkan titik berat tubuhnya.
Langkah Besi Jatuh!
DHUM!
Lantai batu di bawahnya retak ringan, dan Awan melesat menembus ruang bak peluru meriam. Jarak tiga puluh meter dipangkas hanya dalam satu kedipan mata. Tangan kanannya mencabut Kayu Besi Hitam dari punggung dan melontarkan tebasan horizontal yang membawa tenaga puluhan ton.
Swushhh!
Pedang kayu itu membelah pinggang Roh Kabut tersebut dengan kecepatan mengerikan.
Namun, tidak ada suara benturan. Tidak ada daging yang robek atau tulang yang patah. Kayu Besi Hitam itu menembus tubuh Roh Kabut seolah Awan hanya memukul udara kosong. Tubuh asap makhluk itu terbelah dua sejenak, lalu segera menyatu kembali dalam hitungan detik, sama sekali tidak terluka.
Mata Awan sedikit melebar. Tebasanku tembus?
Sebelum Awan sempat menarik kembali pedangnya, Roh Kabut itu mengangkat tangannya. Ia tidak menebas menggunakan pedang anginnya, melainkan memukul udara di depan dada Awan.
BOOOM!
Sebuah gelombang kejut yang tidak terlihat secara kasat mata meledak. Itu bukanlah hantaman fisik, melainkan gelombang Getaran Sonik.
Kulit perunggu Awan sama sekali tidak tergores, zirah dagingnya menahan segala bentuk kerusakan luar. Namun, gelombang getaran itu merambat menembus kulit, melewati otot, dan langsung menghantam organ dalamnya.
"Ugh!" Awan terbatuk keras. Darah segar menetes dari sudut bibirnya. Tubuhnya terdorong mundur sejauh lima langkah, kepalanya berdengung hebat seolah baru saja dihantam lonceng gereja dari jarak dekat.
Awan menancapkan pedang kayunya ke lantai untuk menahan tubuhnya. Pandangannya sedikit berputar.
Fisikku memang kuat untuk menahan benturan tajam atau benda tumpul, tapi aku tidak punya lapisan Qi untuk meredam sihir berwujud gelombang suara! batin Awan, menyadari kelemahan fatalnya.
Roh Kabut itu tidak memberinya ampun. Makhluk itu melayang maju dengan cepat, kembali memukul udara bertubi-tubi. Gelombang getaran sonik melesat ke arah Awan dari berbagai sudut.
Awan melompat, berguling, dan mempraktikkan Seni Langkah Besi Jatuh untuk menghindar ke kiri dan kanan. Namun, beberapa gelombang berhasil menyapu sisi tubuhnya. Setiap sapuan membuat gendang telinganya nyaris pecah dan perutnya mual luar biasa.
"Sialan..." Awan mengusap darah dari hidungnya.
Rasa percaya diri yang sempat membumbung tinggi setelah ia membantai kelompok Wu Kang dan menembus badai tadi, kini dipaksa turun kembali ke daratan. Ia diingatkan dengan keras bahwa jalan Dao sangatlah luas. Tenaga otot saja tidak akan cukup untuk menaklukkan langit. Otot dan tulang tidak bisa memukul udara, dan tidak bisa mencekik hantu.
Bagaimana cara seorang pandai besi memukul asap?
Awan terus berlari mengelilingi ruangan, menghindari serangan-serangan sonik yang menghancurkan lantai batu di belakangnya. Matanya yang tajam menatap lekat-lekat pada sosok kabut di tengah ruangan.
Bahkan ilusi atau roh sekalipun pasti butuh wadah inti untuk mempertahankan bentuknya di dunia fisik. Jika aku tidak bisa memukul asapnya, aku harus menghancurkan intinya.
Namun kabut itu terlalu tebal, dan tubuhnya terlalu tembus pandang. Awan tidak bisa melihat di mana letak inti makhluk tersebut.
"Jika aku tidak bisa memukulmu secara langsung..." Awan berhenti berlari. Ia berdiri di sudut ruangan, menyarungkan pedangnya kembali ke punggung. "...maka aku akan menggunakan dunia untuk memukulmu."
Melihat Awan berhenti, Roh Kabut itu segera melesat lurus ke arahnya, bersiap melepaskan gelombang sonik terbesar untuk menghancurkan otak sang manusia fana.
Tiga puluh meter.
Dua puluh meter.
Awan mengepalkan kedua tangannya. Urat-urat di lengan dan lehernya menonjol hingga nyaris meledak. Ia mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, mengumpulkan seluruh sisa tenaga dari hasil rendaman Teratai Magma dan Esensi Darah Angin ke tumitnya.
Bukan untuk melesat. Bukan untuk menendang musuh. Melainkan untuk menolak bumi!
Seni Langkah Besi Jatuh: Hantaman Gunung Pecah!
BHOOOOOOM!
Awan menghentakkan kakinya ke lantai batu menara dengan kekuatan penuh. Ubin batu hitam yang sangat keras itu tak sanggup menahan beban tekanan yang terpusat secara ekstrem. Lantai di bawah Awan meledak seketika.
Pecahan ubin, batu kerikil, dan debu tebal terlempar ke udara setinggi tiga meter, menutupi area di sekitar Awan layaknya tirai batu.
Saat Roh Kabut itu menerjang masuk ke dalam jangkauan lima meter, Awan dengan cepat menarik pedang Kayu Besi Hitamnya. Ia memegang pedang raksasa itu dengan posisi horizontal, layaknya memegang pemukul kasti, dan memutar pinggulnya dengan rotasi penuh yang sangat brutal.
Swush! BAAAM!
Pedang kayu tebal itu tidak diarahkan ke Roh Kabut. Pedang itu menghantam lautan kerikil dan serpihan batu yang melayang di udara di depannya!
Momentum ayunan Awan yang mengerikan mengubah ribuan kerikil dan pecahan batu itu menjadi tembakan proyektil mematikan (shotgun blast). Hujan batu berkecepatan tinggi merobek udara secara massal dan menerjang langsung ke arah tubuh Roh Kabut yang sedang melesat maju.
Asap tidak bisa dipukul oleh satu pedang, tetapi asap akan terdistorsi jika ditembus oleh ribuan batu kecil sekaligus.
Tubuh Roh Kabut itu seketika koyak-moyak tertembus hujan proyektil kerikil. Dan di satu momen yang sangat singkat, saat kabut di bagian dadanya tersapu oleh pecahan batu, Awan melihatnya.
Sebuah kristal seukuran ibu jari yang melayang di tengah dadanya.
Itu dia!
Tanpa menunggu debu mereda, Awan kembali menghentakkan kaki kirinya. Langkah Besi Jatuh! Ia melesat menembus hujan kerikil buatannya sendiri, mengabaikan serpihan tajam yang menggores pipinya.
Tangan kirinya menjulur ke depan menembus dada kabut makhluk tersebut.
Jari-jarinya yang sekokoh tang besi mencengkeram kristal inti tersebut. Hawa dingin yang sangat menyengat berusaha membekukan tangannya, namun Awan tidak melepaskannya. Dengan satu erangan keras, ia meremukkan kristal itu di dalam genggamannya.
KRAAAK!
Seketika, Roh Kabut itu menjerit tanpa suara. Tubuh asapnya meledak menjadi pusaran angin kecil, lalu memudar hingga tak berbekas, menyisakan keheningan absolut di lantai pertama menara.
Awan jatuh terduduk di lantai batu, napasnya menderu hebat bagaikan hembusan angin ribut. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, bercampur dengan darah yang keluar dari telinga dan hidungnya akibat serangan getaran sonik tadi.
Ia menatap telapak kirinya yang melepuh kedinginan akibat meremukkan kristal.
"Hampir saja..." gumam Awan, tersenyum pahit.
Kemenangan ini tidak terasa indah. Jika Roh Kabut tadi bergerak sedikit lebih cerdas dan menjaga jarak alih-alih menyerang mendekat, Awan pasti sudah mati kehabisan darah dari organ dalamnya tanpa bisa menyentuh musuh itu sama sekali.
Fakta menamparnya dengan keras: kekuatan fisik murni memiliki keterbatasan absolut jika berhadapan dengan elemen yang tak berbentuk.
Aku butuh cara untuk memproyeksikan tenaga seranganku. batin Awan. Kultivator menggunakan Qi untuk menyerang jarak jauh. Jika aku hanya bisa menebas apa yang bisa kusentuh, aku akan mati di lantai-lantai berikutnya.
Tiba-tiba, suara mekanis kuno itu kembali bergema.
"Ujian Lantai Pertama diselesaikan. Nilai: Cukup. Hadiah Ujian akan diberikan."
Dari tengah ruangan, sebuah pilar batu kecil perlahan naik dari balik lantai. Di atas pilar itu, terletak sebuah gulungan kulit binatang tua yang sudah menguning, bersama sebuah kotak kayu kecil.
Awan bangkit dengan susah payah, berjalan gontai menghampiri pilar tersebut. Ia mengambil gulungan kulit binatang itu. Judulnya tertulis dalam aksara kuno yang hampir pudar.
[Pemahaman Niat Pedang: Pengantar Menuju Hampa]
Mata Awan bergetar.
Ia membuka kotak kayu di sebelahnya. Di dalamnya hanya terdapat sebuah pil penyembuh luka dalam kualitas menengah. Tidak ada senjata sakti, tidak ada harta karun emas. Namun bagi Awan, gulungan usang di tangannya ini jauh lebih berharga dari seluruh Batu Roh milik Klan Wu.
"Niat Pedang..." bisik Awan.
Kakeknya dulu pernah bercerita. Di dunia kultivasi, ada jenius pedang yang bahkan tanpa menggunakan Qi, mampu membelah sehelai daun yang jatuh hanya dengan tatapan dan ayunan udara kosong. Itu bukanlah sihir, melainkan Niat, murni, sebuah tahap pemahaman di mana pikiran dan tekad si pengguna cukup kuat untuk mengubah realitas fisik.
Kultivator biasa baru bisa mempelajari Niat setelah mencapai Alam Inti Emas. Namun menara ini... baru saja menyajikan pengantarnya di lantai pertama.
Awan memakan pil penyembuh itu dan langsung duduk bersila di samping pilar batu. Sebelum ia melangkah naik ke tangga lantai dua, ia harus memahami gulungan ini. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi samsak daging lagi.