Bella Oceana adalah istri kedua dari Alan Elvis. Alan menikahi Bella karena Tevy sudah tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri untuk melayani Alan. Tevy sudah lumpuh sejak tiga tahun terakhir karena kecelakaan. Karena alasan tersebut, Alan menikah lagi dengan wanita yang ia kenal dari sebuah restaurant. Karena pada saat itu Bella adalah Manager Restaurant tersebut. Pernikahan Alan dengan Bella tentunya tidak di ketahui oleh Tevy. Alan sangat menyayangi Tevy, ia tidak akan sampai hati jika harus mengatakan hal yang sejujurnya kepada istrinya. Namun Alan juga pria normal yang membutuhkan sentuhan wanita. Sudah satu minggu ini sikap Tevy begitu berbeda kepada Alan, menjadi sangat manja dan tidak ingin ditinggal terlalu lama. Tentu saja sikap Tevy membuat Alan serba salah karena ia juga harus bekerja dan tentunya menemui Bella, istri keduanya. Setiap Tevy mulai menyentuh tubuh Alan, yang terbayang dalam benaknya adalah wajah Bella, desahan Bella, dan juga erangannya diatas ranjang. Dan itu semua membuat Alan memiliki hasrat berlebih untuk bersama dengan Bella. "Sayang, aku pikir kamu udah gak bergairah, ternyata sentuhanku masih bisa membuat kamu seperti ini" ucap Tevy Seketika mata Alan terbuka, ia menyadari jika yang sedang menyentuh miliknya bukanlah Bella, melainkan Tevy istri sahnya sejak tujuh tahun ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
"Bella, Nanda di terima kerja di kantor konstruksi. Ini kantornya" - Santi
DEG!
"Bukannya perusahaan ini milik Alan juga" gumam Bella
Bella dengan waja paniknya, hanya membaca pesan Ibunya dan tidak kunjung membalas. Alan yang penasaran ia mendekati Bella dan memastikan baik-baik saja.
"Sayang are you okay?" tanya Alan
"Gak. Tapi gak apa-apa"
"Tell me"
"Gak sayang, ini bukan masalah besar kok"
"Sayang, kita suami istri, dan kamu gak pernah sharing apapun yang ada di hidup kamu. Aku dan Tevy sudah mengakhiri semuanya, aku mau kita memulai hubungan yang baik, terbuka satu sama lain"
"Nanda, adikku dia bekerja di kantor kamu" ucap Bella sambil menghela nafas
"Bukannya ini baik? Dia adik kamu, kalian bisa lebih dekat satu sama lain"
"Gak sayang. Hubunganku sama Nanda gak pernah baik, Nanda gak pernah suka sama aku, karena dia iri, dia merasa diasingkan dirumah, padahal Mama dan Papa juga selalu ada di pihak dia"
"Sangat buruk?"
"Sangat buruk sayang. Bahkan dia sempat singgung tentang aku siapa tahu aku punya pekerjaan yg gak baik disini dan masih banyak lagi yang bahkan aku sampai lupa aja aja yang dia bilang"
"Oke, lalu dia di kantorku yang mana?"
"Yang ini"
"Tenang sayang, aku jarang visit kesana mungkin hanya sebulan sekali, dan dia masuk departemen apa?"
"Purchasing"
"Tenang ya, tidak akan terjadi sesuatu. Dan tentang pekerjaan kamu, aku bisa bantu kamu kalau orangtua kamu atau Nanda mulai ragu sama kamu"
"Thank you sayang" ucap Bella langsung memeluk Alan
Ini adalah pertama kalinya Alan mendengar Bella mengeluh tentang keluarganya, ada perasaan senang karena Bella bisa sedikit terbuka, namun ada perasaan sedihnya jika selama ini Bella memendam semuanya sendiri.
"Apapun masalah kamu, tolongjangan di oendam sendiri lagi. AKu bisa bantu kamu sayang"
"Terimakasih sayang"
"Aku ke kantor dulu ya, kamu bisa main ke kantor kalau kamu bosan"
"Kamu belum resmi bercerai sayang"
"Lawyerku mendaftarkan gugatan hari ini. Tapi kamu benar, aku gak mau kamu jadi bahan gosip. Atau kalau kamu bosan, kamu bisa ke mall"
"Oke sayang"
Alan meninggalkan rumah dan menuju ke kantor. Ia berpapasan dengan pembantu Bella yang baru saja datang. Mereka menyapa Alan dengan sopan kemudian segera masuk ke dalam rumah.
"Pagi Bu Bella" ucap Siti dan Ida bersamaan
"Pagi"
"Bapak tumben siang berangkatnya Bu"
"Iya Mbak, hari ini udah gak diluar kota lagi. Dan kantornya juga dekat dari sini"
"Wah udah gak LDR ya Bu"
"Hehe iya, dan Mbak Siti tolong baju putih aku di dahulukan ya. AKu taruh diatas meja"
"Siap Bu" ucap Siti
Semua orang sudah mulai bekerja, mereka yang tadinya berfikir jika Bella adalah selingkuhan, sekarang mereka mulai menghilangkan pikiran tersebut. Mereka benar-benar suami istri dan hanya saja mereka tidak terlalu mengumbar status mereka.
Bella meninggalkan rumah dan memilih pergi ke supermarket di dekat rumahnya. Bella memilih beberapa buah dan sayuran yang ingin dia beli. Selama menikah dengan Alan, meskipun Bella memiliki pembantu, ia tetap belanja kebutuhannya sendiri.
"Ini aja Pa, ini kayaknya lebih seger" ucap perempuan yang berada di samping Bella yang juga sedang memilih buah.
"Hai, pagi" sapanya
"Pagi Tante"
"Belanja sendiri, hebat sih"
"Ahh terimakasih Tante"
"Anak sekarang jarang ada yang mau belanja sendiri, ya kan Ma?"
"Iya Pa. Kamu pertahankan ini ya. Suami akan merasa benar-benar di urusin"
"Hehe Iya Tante. Saya permisi dulu"
"Oke, hati-hati ya"
Bella meninggalkan sepasang suami istri tersebut, jantungnya berdegub sangat kencang, karena Bella tahu jika mereka adalah orangtua Alan.
Bella sengaka menghindar untuk menghindari beberapa pertanyaan yang mungkin tidak bisa ia jawab, jadi Bella memilih untuk menuju tempat sayur kemudian ia menuju kasir untuk membayar semuanya dan segera pulang.
"Cantik ya Pa, seandainya Alan sudah resmi Duda, mama minta nomor ponsel anak itu tadi"
"Mama ini gimana sih, anak kamu itu masih punya istri satu lagi"
"Oh iya, lupa. Gimana caranya kita cari tahu istri ke dua Alan Pa"
"Kita tanya saja sama Alan, kenapa harus cari tahu"
"Papa yakin Alan mau kasih tahu?"
"Ma, kalau Alan gak mau di tahu gak mungkin dia akan se jujur itu dengan Tevy dan kita semua kemarin"
"Iya sih Pa. Alan ini berani sekali menikah lagi tanpa bilang kita"
"Sudah lah ma, itu gak penting sekarang. Yang penting Alan bahagia, perempuan itu juga baik gak banyak bohong seperti Tevy"
"Iya pa, tapi Alan belum jawab dimana dia tinggal. Dia berikan rumah itu sama Tevy?"
"Telepon aja Ma"
Sementara Alan di kantor yang menerima telepon dari orangtuanya, ia ragu untuk menjawab. Karena Alan hawatir orangtuanya akan marah dan mempengaruhi suasana hatinya saat ini.