"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Uang Berdarah dan Rumah di Atas Awan
Darah hangat menciprat ke pipi kiri Thomas, menetes perlahan menembus kain kemeja hitamnya. Di depannya, seorang gadis Jepang berseragam sekolah terkulai tak sadarkan diri di atas jok belakang mobil van hitam. Di balik kemudi, rekannya sesama anggota sindikat tertawa terkekeh sembari menyalakan rokok.
"Kerja bagus, Thomas. Petinggi di Jakarta pasti ketagihan lagi dengan yang satu ini. Berapa bayaran kita kali ini?" tanya pria itu dalam bahasa Indonesia yang kasar.
Thomas tidak menjawab. Tangannya yang mengenakan sarung tangan kulit menyapu noda darah di pipinya. Matanya menatap dingin keluar jendela, memperhatikan bayangan SMA Fujimi yang perlahan menghilang di balik kegelapan malam.
Sudah hampir satu tahun sejak ia terbangun di dunia ini—dunia yang sangat tidak asing baginya, Highschool of the Dead.
Saat pertama kali menyadari bahwa ia bereinkarnasi sebagai pemuda asal Indonesia bernama Thomas yang terjebak dalam jaringan sindikat perdagangan manusia internasional, Thomas tidak menangis atau merutuki nasib. Sebagai seseorang yang tahu persis apa yang akan terjadi tepat 365 hari kemudian, ia tahu satu hal: moralitas adalah kemewahan bagi orang mati.
Para petinggi jahat di negerinya memanfaatkan posisi untuk memesan 'komoditas' dari Jepang, dan Thomas memanfaatkan kegilaan para pejabat itu untuk mengumpulkan modal. Setiap rupiah dan yen berdarah hasil penculikan itu tidak ia hamburkan untuk wanita, alkohol, atau pesta.
Semuanya ia alihkan ke satu tujuan: Kelangsungan Hidup Mutlak.
Dua bulan lalu, konstruksi benteng pribadinya selesai. Terletak di puncak bukit berhutan lebat tepat di belakang area SMA Fujimi, sebuah mansion bergaya bunker berdiri megah. Terisolasi, tidak mencolok dari udara, tetapi dibangun dengan beton tebal bertulang baja, kaca tahan peluru, generator bertenaga surya, sistem penyaringan air mandiri, serta suplai makanan kaleng yang cukup untuk bertahan hidup sendirian selama belasan tahun.
Tidak hanya itu, persediaan senjata api, amunisi, dan belasan parang machete baja perisai yang diimpor khusus dari Indonesia tersimpan rapi di dalam safe room milik Thomas. Benteng itu dirancang agar bisa dioperasikan sepenuhnya oleh satu orang saja.
"Hei, Thomas! Kau dengar tidak?" gertak temannya, jengkel karena diabaikan.
"Uang bagianku sudah masuk ke rekening penampungan," jawab Thomas datar, suaranya tenang tanpa emosi. "Turunkan aku di persimpangan depan."
"Hah? Kau mau ke mana malam-malam begini? Kita harus mengantar barang ini ke pelabuhan!"
"Urusanmu. Bagianku culik menculik sudah selesai malam ini," potong Thomas dingin. Tangannya merogoh balik jaketnya, menyentuh gagang pisau komando yang terselip di pinggangnya.
Gaya bicara dan sorot mata Thomas membuat rekannya merinding. Tanpa banyak bicara lagi, van hitam itu melambat dan berhenti di pinggir jalan yang sepi, tak jauh dari lereng gunung. Thomas melangkah keluar, menutup pintu van dengan dentuman keras, lalu membiarkan kendaraan beracun itu berlalu membawa mangsanya.
Thomas berdiri sendirian di bawah remang lampu jalan. Ia menengadah menatap langit malam yang kelam.
"Tinggal beberapa jam lagi..." bisiknya pelan.
Di dunia lama, orang-orang mendewakan uang, gelar, posisi politik, dan wajah tampan atau cantik. Para pejabat rela membayar miliaran yen demi menikmati tubuh wanita-wanita muda. Para wanita mengandalkan kecantikan mereka untuk mendapatkan perlindungan dan gaya hidup mewah.
Namun Thomas tahu betul, sebentar lagi, semua tatanan palsu itu akan runtuh menjadi debu.
Ketika mayat-mayat hidup mulai berjalan dan mengoyak leher manusia, kecantikan seorang wanita tidak akan membuat zombie berhenti menggigit. Ketampanan seorang pria tidak akan mengenyangkan perut yang kelaparan. Dan kekuasaan seorang pejabat tidak akan bisa membeli sebotol air bersih ketika peradaban telah hancur.
Hanya ada tiga hal yang akan menjadi dewa di dunia baru: Makanan, Air, dan Kekuatan.
Thomas membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam jalur bukit pribadi yang menuju mansionnya. Langkah kakinya mantap, parang baja tebal yang sudah terasah tajam menempel di samping paha kanannya.
Ia tidak peduli pada dosa-dosa penculikan yang telah ia lakukan dalam satu tahun terakhir. Di dunia yang akan segera neraka ini, menjadi penjahat yang bertahan hidup ribuan kali lebih baik daripada menjadi pahlawan bermoral tinggi yang membusuk di dalam tanah.
Hari kiamat sudah tiba, dan Thomas siap menyambutnya sendirian.