SPIN OFF "SUGAR AUNTY"
Layu sebelum berkembang, mungkin itu istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan Amanda.
Belum sempat perasaannya tumbuh berbunga-bunga, ia malah melihat surat undangan pernikahan, di mana ada nama Saga, lelaki yang dicintainya, di sana.
Habis sudah perasaannya harus ia cabut paksa sampai ke akar saat dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan pesta pernikahan pria pujaannya.
Dan tepat pada hari itu juga, dia merasakan sebuah kesialan karena harus bertemu dengan pria menyebalkan. Seorang pria yang ternyata akan menjadi Boss di tempat magangnya.
Bagaimana kisah mereka akan berlanjut, apakah Amanda mampu bertahan dengan Bossnya yang super galak dan melupakan cintanya terhadap Saga si asisten tampan? Cus kepoin ceritanya di FIERCE BOSS OR HANDSOME ASSISTEN 🤗
Follow Ig @nitamelia05
Salam Anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Aku Tidak Butuh Mereka
Amanda mematung di depan kamar 2069 dengan kedua tangan yang memegang nampan berisi segelas air dan juga obat penurun panas.
Untuk mengetahui Dominic benar-benar sakit atau tidak, dia harus masuk dan memeriksanya sendiri. Andai Dominic berbohong, mungkin Amanda akan memberanikan diri untuk menyiram wajah pria itu dengan segelas air yang ia bawa.
"Baiklah, kita lihat drama apa yang akan dimainkan olehnya," gumam Amanda setelah menghela nafas kasar. Lalu tangannya bergerak untuk mengetuk pintu, sebagai pertanda bahwa dia akan memasuki kamar itu.
Tok Tok Tok ....
"Tuan, ini aku," ujar Amanda setengah berteriak, tetapi tak ada balasan apapun dari dalam sana, sehingga dia pun berpikir untuk masuk tanpa menunggu izin dari Dominic.
Benar apa yang dikatakan oleh Nayla, kamar Dominic tidak dikunci sama sekali, sehingga Amanda bisa masuk dengan mudah.
Dan yang pertama kali ia lihat adalah sosok bertubuh kekar tengah berbaring dengan mata yang tertutup rapat.
Amanda mendekat untuk menaruh nampan terlebih dahulu. Lantas setelah itu dia duduk di sisi ranjang dan menempelkan tangan di kening Dominic. "Apa? Jadi dia benar-benar sakit?"
Gadis itu bergumam saat tangannya merasakan suhu tubuh Dominic yang tak biasa. Ya, karena terlalu banyak begadang untuk menyelesaikan pekerjaan, ia sampai tak memedulikan kesehatan tubuhnya.
"Kamu pikir aku pura-pura?"
Amanda langsung terkesiap saat mendengar suara berat itu, karena ternyata Dominic sudah membuka mata dan menatap ke arahnya.
"Itu semua karena ulahmu sendiri, kamu sering mengerjaiku, jadi aku tidak terlalu percaya," cetus Amanda, kali ini dia tidak akan segan untuk mengutarakan apa yang ada di hatinya.
"Hei, aku ini sedang sakit, kamu malah marah-marah!" Tak terima kalau Amanda berbicara keras padanya, dia pun ikut meninggikan suaranya.
Amanda menghela nafas panjang seraya melirik ke arah meja, di mana makanan sudah terhidang, tetapi belum tersentuh sama sekali.
"Kalau Tuan benar-benar merasa sakit, harusnya jangan mempersulit diri seperti ini. Pelayan sudah menyiapkan makanan, Bu Nayla juga sudah mencoba membujuk anda untuk minum obat. Oh satu lagi, Asisten Lu hampir saja menelpon dokter, tapi apa? Kamu tidak mau menurut, seperti anak kecil saja!" cerocos Amanda, agar pikiran Dominic segera terbuka.
Namun, apa reaksi pria itu? Dia malah menarik bantal dan menutup wajahnya sambil berkata. "Terserahku lah. Aku tidak butuh mereka semua."
Amanda berusaha untuk tidak terpancing. Dia memejamkan mata sejenak untuk menetralisir emosinya yang hampir naik ke puncak ubun-ubun.
Astaga, Domba Tua satu ini minta kujadikan tongseng!
"Bangun!" titah Amanda seraya menarik lengan kekar Dominic. Akan tetapi pria itu tak bergerak sedikit pun, sebab meskipun sedang sakit, tenaga Dominic masih sangat besar. "Ck, kamu ini seperti Domba yang mau disembelihh, susah sekali!"
"Aku tidak mau!" tolak Dominic dengan suara paraunya. Membuat Amanda mendesaahkan nafas kasar dan juga melepas pegangan tangannya.
"Jangan mempersulitku bisa tidak sih? Kalau kamu tidak ingin makan dan minum obat, ya sudahlah, aku akan keluar!"
Akhirnya Amanda menyerah, dengan wajah kesal dia bangkit dari ranjang untuk pergi dari hadapan Dominic, tetapi sebelum ia benar-benar melangkah, tiba-tiba tangannya ditarik begitu kuat hingga dia terjatuh tepat di atas tubuh Dominic.
Tatapan mereka bertemu. Amanda langsung berubah gugup dengan mulut yang terkunci rapat.
Namun, menyadari posisi mereka yang terasa sangat intiim. Amanda bergerak untuk menghindar, tetapi Dominic menahan pinggangnya hingga dia jatuh untuk yang kedua kali, bahkan jarak wajah mereka terasa lebih dekat dari pada yang tadi.
"Kamu gila?" cetus Amanda dengan gigi depan yang saling beradu.
Baru saja Dominic ingin buka suara, tiba-tiba terdengar suara decitan pintu, disusul suara seorang wanita yang berteriak memanggil nama putranya. "Dominic Sayang!"
Sarah langsung menyelonong masuk, tetapi langkahnya terhenti begitu melihat Dominic sedang memeluk seorang gadis di atas ranjangnya.
Sontak saja Sarah melebarkan kelopak matanya dan menunjukkan raut tersipu. "Oh my God. Maafkan Mommy karena masuk dengan sembarangan. Apakah Mommy mengganggu kegiatan kalian?"
Amanda langsung mendelik, berbeda dengan Dominic yang tampak biasa-biasa saja. Dengan gerakan cepat Amanda turun dari tubuh pria itu, dan anehnya Dominic langsung melepaskannya begitu saja.
"Nyonya, tolong jangan salah paham, kami tidak melakukan apapun," ujar Amanda dengan gugup, takut wanita yang ada di hadapannya berpikir ke mana-mana.
Namun, bukannya mendengarkan ucapan Amanda. Sarah justru sibuk menilai penampilan gadis itu. Dia berputar-putar dan detik selanjutnya dia tersenyum lebar.
"Perfect, pilihan Dominic tidak salah," ujar Sarah yang membuat Amanda semakin terperangah.
Apanya yang perfect? Apanya yang tidak salah?
***
Jangan lupa taburan benih-benih cintanyaaaaa dong gaes🙃🙃
Dan jangan lupa mampir ke karya kak Itta Haruka07 ya🤗🤗
Kehidupan Brian yang menjadi pemuda begajulan dan merupakan anggota geng motor, tiba-tiba berubah total saat sang ayah mengusirnya dari rumah. Dia terpaksa belajar mandiri dengan menjadi kurir pengantar makanan untuk menyambung hidup.
Sialnya, malam itu dia terjebak dengan seorang perempuan mandiri bernama Naomi yang mendapat fitnah dari tetangganya. Mau tak mau Brian dan Naomi harus menikah karena fitnah itu.
Namun, baik Brian maupun Naomi tak ada yang mau mengumumkan pernikahan mereka dan merahasikannya sampai waktu berpisah tiba. Akankah mereka sanggup merahasiakan pernikahan itu sampai akhir?