Kondisi keluarga yang berantakan, membawa Freya menjadi sosok anak yang berandal.
Freya kerap menghabiskan waktunya di club dan menjerumuskan dirinya kedalam obat-obatan terlarang.
Sean Bagaskara hadir di saat Freya nyaris dilecehkan.
Setelah pertemuan itu, takdir seolah terus mengikat keduanya hingga perasaan cinta tumbuh dihati mereka.
Sayangnya, disaat cinta itu kian menggebu, Freya harus mengetahui kenyataan pahit bahwa Sean adalah seorang gigolo, lebih tepatnya Gigolo ibu tirinya sendiri.
Selanjutnya, apa yang akan dilakukan Freya?
Simak ceritanya hanya disini guys!!!!
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN SUBSCRIBE YA!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus Kepikiran.
"Freya!" bentak Morgan menatap putrinya penuh peringatan, ia merasa tidak enak tatkala melihat ekspresi wajah dari keluarga Maheswari yang langsung berubah begitu kesal.
"Apalagi Ayah? Aku berkata jujur, aku memang tidak sudi menikah dengan pria culun ini," sergah Freya to the point, baginya lebih bagus jika keluarga Reyhan akan membencinya dan akan segera membatalkan perjodohan konyol itu.
"Jaga bicaramu Frey, berani sekali kau mengejek anakku culun. Kau tahu? Banyak sekali wanita yang ingin menikah dengannya, bahkan ada yang lebih cantik darimu. Kau jangan terlalu sombong," ujar Nyonya Maheswari geram tentunya, anak kesayangannya malah diejek culun.
"Oh benarkah? Mereka semua pasti buta, sampai tidak bisa melihat mana pria yang tampan atau tidak. Atau mungkin saja mereka hanya cinta kepada yang anak Anda," ucap Freya asal saja.
"Freya! Hentikan ini," bentak Morgan, sekali lagi memperingatkan putrinya itu.
"Aku sudah selesai, dengan ini aku rasa keluarga mereka juga sudah paham. Terima kasih atas kunjungannya, pintu keluarnya ada disana jika ingin pergi." Bukannya menghentikan sikapnya yang kurang ajar, Freya justru membuat keluarga Maheswari merasa begitu terhina.
"Cukup! Sudah cukup penghinaan yang kalian berikan, kami akan pergi sekarang juga. Tuan Nasution, perlu aku katakan, aku akan mengingat hari ini baik-baik dan akan membalasnya nanti," ujar Tuan Maheswari langsung bangkit dari duduknya, tatapannya begitu nyalang pada sosok Freya yang memasang wajah angkuh itu.
"Tuan Maheswari, tenang dulu, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Freya masih kecil dan dia-" Morgan mencoba mencegah tamu-tamunya agar tidak pergi.
"Dia bukan anak kecil, tapi memang tidak tahu sopan santun. Sudah Pah, kita pergi saja, tidak ada ruginya kita tidak menikahkan putra kita dengan wanita arogan itu," tukas Nyonya Maheswari langsung saja mengajak putranya Reyhan pergi meninggalkan rumah Freya, tatapan matanya begitu sinis pada Freya yang hanya memasang wajah santai.
"Mah, tapi aku mau-" Reyhan masih tidak rela saat ingin diajak pergi. Rupanya anak itu mulai menyukai Freya yang menurutnya begitu cantik.
"Mau apa kau? Sudah, ikut saja kata Mama, setelah ini Mama akan mencarikan wanita yang lebih cantik dari dia," sergah Nyonya Maheswari membentak putranya itu.
Reyhan diam seribu bahasa, ia menurut saja saat Mamanya membawanya pergi, ia sesekali masih melirik Freya dan dibalas acungan jari tengah oleh wanita itu, membuat Reyhan segera mengalihkan pandangannya.
"Sungguh menggelikan," ucap Freya mengangkat bahunya dengan ekspresi jijik yang tidak ditutupi.
"Freya, apa kau tidak bisa bersikap baik sebentar saja? Kau benar-benar membuatku malu," bentak Morgan langsung meluapkan emosinya kepada anaknya itu.
"Itu semua salah Ayah, kita hidup di jaman modern, bukan saatnya ada perjodohan antara orang tua," sahut Freya.
"Ayah melakukan ini juga demi kebaikanmu, sudah saatnya kau menata hidupmu kembali. Apa kau mau menjadi anak berandalan terus menerus?" ujar Morgan memijat kepalanya yang mendadak berdenyut begitu pusing.
"Terbaik untuk Ayah, bukan berarti terbaik untukku. Aku sudah dewasa, dan aku berhak memutuskan pilihanku sendiri. Lagipula aku masih kuliah, kenapa Ayah begitu ngotot ingin aku menikah? Apa semua ini karena wanita ini?" tukas Freya melirik Andriana dengan tatapannya yang mematikan.
Andriana gelagapan, pasalnya memang ia yang telah membuat suaminya merencanakan perjodohan ini. "Freya, apa yang dikatakan oleh Ayahmu itu benar. Kau itu seorang wanita, alangkah baiknya jika kau memiliki pendamping yang bisa menjagamu," tutur Andriana, seperti biasa, penuh kepura-puraan yang memuakkan.
"Cih, jangan sok mengajariku Andriana. Meskipun aku nakal, aku tidak sepertimu yang suka membuka kakinya untuk semua lelaki diluar sana. Entah sudah berapa lelaki yang melihat tubuhmu, mungkin Ayahku lelaki yang ke sera-"
Plak Plak Plak
Tiga tamparan langsung mendarat sempurna dipipi mulus Freya sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Freya tentu sangat terkejut dan ia mengangkat wajahnya, menatap sang Ayah yang menatapnya begitu murka.
"Cukup! Sudah cukup sejak tadi aku membiarkanmu terus berbicara omong kosong, kali ini kau tidak bisa dimaafkan lagi. Katakan apa yang kau mau, uang? Harta? Katakan semuanya biar aku bisa memberikannya dan kau bisa pergi dari rumah ini," ujar Morgan berteriak begitu berang, sudah tidak bisa mentolerir lagi apa yang dilakukan Freya kali ini.
"Mas ...," Andriana menegang tangan suaminya, wajahnya begitu syok dengan keputusan yang dibuat oleh suaminya itu.
Sedangkan Freya tertawa hambar, terlihat sekali wanita itu begitu terluka. "Ayah mengusirku?" ujar Freya sama sekali tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ayahnya.
"Ayah mengusirku hanya karena membela wanita ini? Wow, bagus sekali," kata Freya menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Bukannya itu yang kau inginkan? Kau ingin hidup bebas 'kan? Lakukanlah sekarang juga, tapi jangan pernah kau menyebut diriku sebagai Ayahmu lagi," ujar Morgan, beradu tatapan tajam dengan Freya.
"Tidak akan, aku tidak akan pergi dari rumah ini Ayah. Semua yang aku lakukan ini tidak merugikan Ayah 'kan? Sebaiknya Ayah diam saja dan urusi saja istri Ayah ini. Aku bukannya takut akan hidup menjadi gelandangan, tapi aku tidak rela jika rumah Ibuku akan dikuasai oleh ja la ng ini. Dengarkan itu baik-baik Andriana, kau selamanya tidak akan bisa menguasai rumah ini," kata Freya begitu tegas dan menantang, hingga membuat Morgan dan Andriana langsung bungkam seketika.
Freya sendiri langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rumah yang membuatnya seperti tinggal di neraka.
******
Sean memainkan ponselnya dengan malas, sesekali ia meminum anggur ditangannya dan menatap rumahnya yang sepi. Belakangan ini, Sean merasa ada yang kurang dari hidupnya setelah kepergian Freya. Padahal belum genap dua Minggu wanita itu pergi, tapi Sean sudah memikirkannya terus menerus.
"Hah, kenapa aku jadi seperti ini? Bukannya aku tidak boleh memikirkannya lagi?" gumam Sean menghela nafas panjang, benar-benar tidak mengerti perasaannya saat ini.
Bahkan yang lebih membuat Sean heran adalah, setiap ia melepas adrenalin dengan para wanitanya, ia selalu terbayang-bayang wajah Freya yang men de sah dibawahnya. Ia tidak mungkin terkena syndrome keperawanan Freya bukan?
"Tidak, tidak, mungkin aku hanya terlalu memikirkannya. Lebih baik aku pergi saja daripada terus kepikiran wanita itu," ucap Sean menggelengkan kepalanya, tidak mau terus-menerus memikirkan Freya. Lebih baik ia bekerja dan menghasilkan banyak uang agar bisa secepatnya membelikan rumah untuk Ibunya dan mereka akan tinggal bersama di ibukota.
Sean mengganti pakaiannya dengan kemeja berwarna hitam, ia juga memakai pomade dan wewangian untuk menarik lawan mainnya nanti. Saat dirasa sudah cukup penampilannya, Sean bergegas turun dan keluar rumahnya.
Akan tetapi, saat ia membuka pintu seketika ia begitu terkejut karena melihat Freya berdiri didepan rumahnya.
"Freya?" ucap Sean spontan, bibirnya juga reflek langsung mengulas senyum yang tidak bisa ditahan lagi.
Freya meringis malu, ia mendadak begitu gugup karena bertemu dengan Sean. Sejak tadi ia sudah berjalan lontang-lantung kesana kemari. Dan entah kenapa ia malah ingin datang ke tempat pria ini.
"Ada apa Freya?" tanya Sean berdehem pelan, mencoba mengontrol ekspresi wajahnya yang cukup berlebihan.
"Aku ... sangat lapar, kau pasti punya makanan 'kan? Ayo berikan aku makan, soalnya aku sedang bertamu ke rumahmu," sahut Freya berbicara sangat cepat, ia langsung ngeloyor masuk begitu saja meski Sean tidak belum memberinya izin.
Sean mengangkat alisnya, terkejut tentunya dengan ucapan Freya. Tapi berbohong rasanya jika ia mengatakan tidak bahagia. Bibirnya bahkan sudah mengulas senyum manisnya setelah bertemu dengan Freya.
"Hei, apa kau ingin diam saja disana?" terdengar suara Freya berteriak membuat Sean tersadar dari lamunannya.
"Iya aku datang, kau ini kenapa tidak sopan sekali?" Sean menyahut seraya berpura-pura menggerutu, padahal sebenarnya ia hanya begitu senang. Sepertinya malam ini tidak akan menjadi malam yang kelabu lagi bagi Sean.
Happy Reading.
TBC.
kaya dirinya paling benar aja...
anak zaen