Kisah cinta segitiga antara Dika, Ranti dan Vika. Semua berawal dari ketidaksengajaan hingga menjadi cerita cinta yang cukup pelik. Menguras airmata dan juga emosi Ranti yang akhirnya mengetahuinya setelah hubungan rumah tangganya dengan Dika telah menginjak tahun kelima dengan dikaruniai buah hati cantik berusia 2 tahun. Sementara Vika adalah sahabat baiknya semasa SMA. Semua rasa dihatinya bercampur aduk, bergejolak membuatnya dilema antara menjaga keutuhan rumahtangganya dan juga mempertahankan harga dirinya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi cinta dan kesetiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fifie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KABAR BAIK ATAUKAH KABAR BURUK?
Vika mengusap wajahku. Membuat aku terperanjat. Aku ikut terlelap disamping Vika. Kulihat jam tanganku. Pukul 03.25. Sudah sore. Sepertinya kami tertidur cukup lama sekembali dari Polsek Tamansari.
"Mas! Ada yang mau aku sampaikan!" kata Vika terbata-bata. Aku bangun dari tidurku lalu duduk menunggu Vika yang mengambil sesuatu dilaci meja riasnya.
Ia memberiku sesuatu. Amplop putih.
"Apa ini?"
"Bukalah!"
"Testpack??"
Aku seperti merasakan setruman listrik yang menghentak. Testpack? Tes untuk kehamilan. Dua garis biru?...
....
Aku tercekat. Entah harus gembira atau sedih. Kabar baik ataukah kabar buruk? Semua membuatku tidak bisa berkata-kata.
"Ka kamu...hamil, Vika?"
Vika hanya menunduk. Airmatanya menetes.
Lengkap sudah kebiadabanku. Membawa kabur istri orang. Menyetubuhinya. Dan kini istri orang tersebut hamil karena perbuatanku.Ya Tuhan! Ternyata orang seperti inilah aku!
Aku menelan ludah. Memejamkan mata meminta pertolongan Tuhan. Apa yang harus kulakukan? Satu masalah masih belum selesai. Kini ada lagi masalah baru yang datang menghadang.
"Aku, baru sadar kalau udah 3 bulan ga halangan!"
"Bukankah, kita selalu pakai pengaman?" tanyaku ragu-ragu.
"Sepertinya ini terjadi diawal hubungan kita. Saat itu kamu ribut sama Ranti lalu pergi minum-minum. Itu awal kita berhubungan, mas!" Aku menunduk.
Hhhhh..... Aisssh! Aku tak berani berteriak melampiaskan emosiku. Aku pria dewasa berumur hampir 40 tahun. Aku harus bisa mengontrol diriku.
"Kita ke dokter kandungan ya?" ajakku membuat Vika tersenyum dan mengangguk.
"Lalu kita harus bagaimana, mas?" katanya tiba-tiba kembali ragu.
"Aku juga bingung, Vika! Status kamu, masih istri orang juga. Lalu, haruskah kita menikah siri untuk menutupi status anak kita yang terjadi diluar nikah? Aku juga bingung!"
"Haruskah aku gugurkan kandunganku, mas?"
"Jangan, Vika! Aku ga mau menanggung beban sebagai orangtua jahanam yang membunuh anaknya bahkan sebelum anakku dilahirkan kedunia."
"Lalu kita harus bagaimana, mas?"
"Tolong, beri aku waktu Vika! Kita bereskan semua masalah satu persatu. Kita yang berbuat, kita juga harus berani bertanggung jawab!" Vika memelukku erat. Tangisnya pecah. Ia mengucapkan banyak kata terima kasih, karena telah menjadi pendampingnya yang setia.
Aku sebenarnya bingung dengan semua kondisi ini. Membuatku susah bernafas dan hampir mati rasa. Tapi daripada sibuk membela diri atau melarikan diri, aku juga punya andil atas segala dosa dan kesalahan yang kuperbuat.
"Vika! Apa kamu tetap akan berdiri disamping aku apapun yang terjadi?" tanyaku dengan suara parau.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu mas! Dalam suka maupun duka. Bahkan dalam kesedihan dan penderitaan sekalipun. Asalkan kamu tetap seperti ini, menyayangiku dengan tulus ikhlas. Aku rela mas!"
Kudekap tubuh Vika. Kami menangis bersama. Menyesali segala perbuatan kami, tapi juga mensyukuri rasa cinta ini. Semua memang sulit dimengerti. Bahkan dijelaskan dengan akal sehatpun, banyak orang pasti tak bisa mengerti. Bahwa kami, dua orang dewasa yang terjerat cinta rahasia. Hubungan terlarang hingga karma yang berbuah yang harus kami tanggung pada akhirnya.
Susah untuk dijelaskan. Aku dan Vika memang sama-sama bersalah. Sama-sama salah melangkah. Tapi apa boleh buat, kami harus bertanggung jawab atas apa yang telah kami perbuat.
Pukul 5 sore kami pergi ke dokter kandungan. Memeriksakan Vika dan calon bayi kami. Seperti kata Vika, janinnya sudah berumur 13 minggu. Itu artinya kurang lebih 3 bulan. Dalam keadaan baik bersemayam hidup dirahim Vika.
Setelah itu kami berinisiatif pergi kekantor firma untuk mencari pengacara. Aku khawatir ancaman Arif tidak main-main. Urusan Vika dengan orang itu harus benar-benar diselesaikan. Untuk itu orang hukumlah yang lebih tau langkah apa yang harus Vika ambil sebelum Arif bertindak cepat.
Kami memutuskan menyewa beberapa pengacara difirma itu untuk mengurus masalah Vika. Ternyata urusan hukum cukup membuat kami terkejut. Lumayan besar kocek yang harus Vika korbankan untuk mengurus permasalahannya. Padahal semuanya belum clear terselesaikan. Prosesnya masih panjang hingga ketuk palu sidang perceraiannya resmi berbunyi. Hhh... Untungnya jatuh tempo perjanjian dengan sang artis yang membeli rumah Vika tinggal 2 bulan lagi.
Ranti menelponku beberapa kali. Ia bilang Cecil mengabarinya kalau aku izin pulang karena ada panggilan dari kepolisian. Ranti terdengar begitu cemas.
Aku hanya minta pengertian Ranti untuk menungguku dirumah sampai aku menjelaskan permasalahannya. Ranti hanya berpesan agar aku hati-hati menjawab polisi karena salah-salah memberi keterangankita yang ditangkap, begitu katanya.
Aku sedih. Aku telah pandai membohongi Ranti. Semuanya telah berubah. Semuanya kini tak lagi sama seperti yang dulu. Kini sudah bukan saatnya lagi untuk saling menyalahkan. Karena nasi sudah menjadi bubur.
"Mas! Tidurlah malam ini disini!" pinta Vika membuatku menggeleng.
"Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, Vika! Ranti menungguku dirumah dengan cemas! Ia juga menunggu penjelasanku. Maaf, Vika!"
"Meskipun saat ini aku tengah mengandung anakmu, mas?"
"Vika, tolong.... jangan mendesakku untuk sesuatu hal yang sudah kamu ketahui sejak dulu. Aku harus menjelaskan dulu pada Ranti. Mengertilah!"
"Aku mengerti, mas! Sangat mengerti, meskipun hatiku sakit,...airmataku tumpah semua,...aku hanyanya wanita simpanan kamu!"
"Vika! Berapa kali aku bilang, kamu dan Ranti adalah dua wanita spesial yang sama nilainya bagiku. Jangan paksa aku memilih satu diantara kalian! Hari ini aku lelah sekali, aku ga mau juga bikin hati kamu tambah sakit dengan kata-kata kasarku. Jadi, tolong...berhenti memintaku memilih diantara kalian!" Vika tertunduk. Airmatanya lagi-lagi jatuh.
"Ada pak Iksan, mas Manto juga Ciko. Mereka akan siaga 24 jam menjaga kamu. Aku pulang, ya?" kukecup kening Vika. Tiba-tiba Vika ******* bibirku. Membuatku berdebar dan terangsang oleh sentuhan gairahnya. Tapi cepat-cepat kudekap tubuh Vika.
"Maaf, aku harus pulang malam ini! Maaf honey, kamu tau bagaimana aku. Besok siang kita makan bersama, ya?"
"Sungguh kamu tega tinggalin aku sama calon bayi kita?"
"Vika, please.... Aku ga bisa memilih! Jangan jadikan bayi kita sebagai ancaman buatku! Masalah kita menunggu diselesaikan. Jangan merajukku seperti itu. Kumohon, kali ini... jadilah wanita yang bisa kubanggakan. Aku sudah berusaha bicara halus!"
Vika cemberut menatapku. Tapi ia mengantarku hingga balik pintu. Sebenarnya aku tahu, hormonnya menjadikannya wanita sensitif yang ingin dimanja. Tapi apa daya, aku punya istri dan anak yang menantiku dirumah.
Ranti sedang duduk disofa ruang tamu. Ia menoleh dan menghambur kedalam pelukanku ketika tahu akulah yang masuk kedalam rumah. Ia berderai airmata.
"Aku takut, kalau tiba-tiba mas ditahan!"
"Polisi ga bisa sembarang menangkap orang, sayang! Harus cukup bukti dari pelaporan seseorang, baru bisa ditahan dan dijebloskan ke penjara."
"Mas Dika! Jangan ngomong begitu!" pekiknya keras seraya memelukku. Aku tertawa senang. Ranti begitu mengkhawatirkan aku.
"Jingga mana?"
"Hari ini Jingga rewel banget mas! Mungkin juga ikut resah karena kuatir papanya kenapa-napa!"
"Kamu harus bisa menahan emosimu, yang! Kasian Jingga, ia masih begitu kuat kontak bathinnya karena masih menyusui. Tapi ngomong-ngomong, kenapa Jingga belum juga disapih yang? Biar ia minum susu formula aja. Umurnya khan udah 2 tahun?"
"Katanya kalo disapih, malah mancing punya adik lagi. Aku ga mau KB tapi belum siap punya baby lagi, mas!"
"Hahahaha, kata siapa?"
"Kata orang begitu koq! Eh, mas...koq malah bahas sapih Jingga!? Aku mau denger kenapa sampe kamu dipanggil polisi, mas?"
"Hhhh.... Itu, gara-gara suaminya Vika!"
"Mantan suaminya itu? Mereka ketemu? terus?"
"Ya, mereka ketemu. Ribut dijalan, akhirnya diciduk polisi tamansari."
"Lalu mas?"
"Dia menuduh Vika melarikan diri dengan lelaki lain ketika ia sedang susah dan bangkrut. Sementara Vika memberi keterangan bahwa aku, hanya menolongnya saja dari siksaan suaminya itu. Polisi menelpon meminta aku datang memberikan keterangan. Yaaa...seperti itu, hhhh....! Orang itu licik, licin seperti ular. Berbahaya!"
"Terus polisi percaya terus kamu dibebasin gitu aja khan?"
"Itu urusan lain lagi, sayang! Kalau si Arif itu bersikeras mau memenjarakan aku, ia akan cari bukti kesana kemari untuk cari kesalahanku. Sementara Vika sudah siap untuk mengurus perceraiannya dengan lelaki itu. Ia sudah menyewa pengacara."
"Baguslah! Semoga kamu ga terbawa-bawa terlalu dalam keurusan mereka."
"Aku sudah terlalu dalam terbawa urusan mereka, yang! Kamu tau kata polisi? Aku bisa saja didakwa karena membawa kabur istri orang dan merusak rumah tangga orang lain. Dan hukumannya bisa sampai 3-4 tahun."
Ranti kembali memekik seraya menutup mulutnya.
"Naudzubillahi mindzalik!"
Aku memeluk Ranti. Mengelus rambut panjangnya. Berusaha menenangkannya walaupun sebenarnya hati ini juga gelisah tak tenang.
Banyak sekali masalah akhir-akhir ini. Aku menyadari sepenuhnya masalah ini berawal dari diriku sendiri. Dari ketidaktegasanku dalam bersikap. Dari keplin-plananku dalam mengambil keputusan hidupku. Dari semua dosa-dosa yang kutuai.
Hhhh....
Bersambung-
hidup bkn hny melulu seneng, tp jg ada sedihnya...
smoga Dika tenang disisiNya...
jd laki koq gitu amat...
sapa coba yg g sakit hatinya...
dari awal baca udah greget ma sikap Dika..